PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 350. Pulau Aneh


__ADS_3

"Sudah siap semua? Sudah waktunya untuk melanjutkan perjalanan," dokter Chandra mengingatkan.


"Oke."


Ketiga orang itu bangkit dari duduk. Dean menyimpan semua lempeng batu yang mereka pakai untuk berteduh. Persediaan makan dan minum juga disimpan kembali.


"Ayo!" ujar Dean.


"Ke arah mana kita?" tanya Robert.


"Indonesia itu ada di bagian timur India. bagaimana kalau kita mencari ke timur?" usul Dean.


"Tapi ini kan bukan India lagi," bantah Robert.


"Meskipun sudah bergeser, tak ada salahnya untuk mengikuti arah timur hingga kita menemukan pulau lainnya. Dari situ kita cari arah yang tepat," Dean menjelaskan alasannya.


"Kalau seperti itu, bukannya sama saja jika memilik arah manapun?" sanggah Robert lagi.


"Bagaimana menurut Anda, Dok?" tanya Dean dan Robert.


"Cari pulau terdekat saja. setelah itu kita tentukan lagi mau pilih arah mana."


Dokter Chandra melesat tinggi ke atas. Dean dan Robert mengikutinya. Dari ketinggian, mereka mencari keberadaan pulau lain untuk dikunjungi.


"Apa kalian melihat pulau itu?" tunjuk Robert.


"Kecil sekali. Apa mungkin ada penghuninya?" sela Dean.


"Itu satu-satunya yang terlihat dari sini. Bagaimana?" Robert minta pertimbangan teman-temannya.


"Ya. Tak ada pulau lain sejauh mata memandang. Nanti dari sana, kita cari yang lainnya lagi saja!" Dokter Chandra setuju.


"Baik kalau begitu. Kita ke sana." putus Dean.


Mereka terbang melintasi lautan luas yang tampak kehitaman di bawah sana. Tak terlihat satu kapal pun yang berlayar di lautan ini.


"Hei, bukankah harusnya yang melintas berkelip-kelip di atas itu adalah pesawat?" tunjuk Robert ke arah ketinggian.


"Sepertinya benar. Tapi itu terlalu tinggi dan jauh." Dean menyahuti.


Mereka kembali fokus menuju pulau yang sebelumnya. Jaraknya ternyata sangat jauh. Itulah sebabnya jadi terlihat kecil. Setelah cukup dekat, barulah terlihat nyata. Pulau itu lebih besar dari pulau yang mereka tinggalkan tadi.


Tiga orang itu melayang di ketinggian dan mengamati pulau dengan seksama. Malam yang gulita tanpa bulan, sangat menguntungkan. Kegelapan dapat menyamarkan kehadiran mereka dari pandangan siapapun yang mungkin ada di bawah sana.


"Tampaknya tak ada siapapun di sini," ujar Dean.


"Yah, kita sudah melihat ke sekelilingnya. Pulau tak berpenghuni!" timpal Robert.


"Bagaimana pendapat Anda, Dok?"


Dean dan Robert memalingkan pandangan ke arah dokter Chandra. Pria tua itu sedang melihat ke sekitarnya.


"Tak ada pulau lain lagi yang terlihat di sini. Ini kita ada di mana? Letak pulaunya sangat berjauhan!" lirih dokter Chandra.


"Gimana kalau istirahat dulu?" tawar Robert.


"Kau benar. Setelah istirahat satu jam, kita bisa terbang mencari pulau lain lagi." Dean setuju.

__ADS_1


"Bagaimana Dok?" tanya mereka pada dokter Chandra.


"Sepertinya kita ada di lautan luas. Tempat ini jauh dari manapun. Itu sebabnya tak berpenghuni," terka Robert lagi.


"Mungkin saja." Dean mengangguk.


"Baiklah. Mari istirahat dulu. Untuk mengantisipasi adanya orang diantara pepohonan, baiknya kita turun di tepi pantai saja," saran dokter Chandra. Dia akhirnya setuju untuk melihat-lihat pulau itu.


Ketiganya turun di pinggir pantai. Tempat itu sunyi. Tak terdengar hanya suara deburan ombak yg memecah bebatuan kasar di pantai itu.


Mereka menyusuri pantai berbatu. Tempat ini ditumbuhi rumput-rumput tinggi yang gatal dan menempel pada ujung celana panjang. Ketiganya hanya memeriksanya sambil lalu. Kemudian lanjut naik ke ketinggian, untuk mencapai pusat pulau yang dirimbuni pepohonan.


"Biar ku periksa sekitar sini," ujar Robert.


"Aku periksa ke sini," sambung Dean.


"Aku periksa ke sana. Nanti kita bertemu di sini lagi," putus dokter Chandra.


"Oke!"


Tiga orang itu pun, berpencar untuk memeriksa. Itu akan makan waktu sedikit lebih lama, karena dokter Chandra tak mengijinkan mereka terbang. Jadi hanya bisa memeriksa sambil jalan kaki.


Satu jam kemudian.


"Di sini ada cukup pepohonan. Hanya saja tidak ada sumber air tawar," ujar Robert.


"Jika pulau ini mau kita jadikan sebagai alibi, maka harus ada sumber air tawar natural seperti sungai, kolam dengan mata air, atau danau kecil. Sangat tak masuk akal jika menggali sumur tanpa peralatan penggali," tambah Robert lagi.


"Kau benar." Dean sepakat dengan pendapat Robert.


"Apa yang anda temukan, Dok?" tanya Dean.


Robert dan Dean duduk di sebatang pohon yang rebah di tanah. Sementara dokter Chandra masih berjalan-jalan di sekitar, seperti mencari-cari sesuatu.


"Tidakkah kau merasa tempat ini sedikit janggal?" Robert memicingkan mata.


"Apanya yang janggal?" Dean balik bertanya.


"Aku tak tau. Tapi aku merasa agak janggal saja." Robert kembali melihat sambil memicingkan mata, ke sekeliling tempat itu.


Dean juga mengamati dengan lebih teliti lagi. Namun dirinya masih tak menemukan kejanggalan yang dimaksud oleh Robert.


"Kalian menemukan sesuatu?" tanya dokter Chandra.


"Aahhh!"


Dean dan Robert terpekik kecil, karena tiba-tiba mendengar suara di belakang mereka.


"Mengagetkan saja!" gerutu Robert.


Dokter Chandra menatap dua temannya dengan heran. Kalian ini sedang apa?" tanyanya ingin tahu. "Kelihatannya sangat serius. Sampai aku datang pun, kalian tak menyadarinya!"


"Tadi Robert bilang, dia merasa tempat ini janggal. Tapi aku tak melihat kejanggalan apapun!" jelas Dean.


Dokter Chandra yang sedianya ingin duduk dan sudah membungkuk, membatalkan keinginannya. Tubuhnya kembali tegak dan melihat sekeliling dengan seksama.


"Aku juga merasa ada yang tak beres dengan tempat ini. Itu sebabnya mencari tahu lagi. Tapi belum nenemukannya," beber dokter Chandra.

__ADS_1


Dean terhenyak. Jika ada dua orang yang merasakan aneh, maka itu bukan lagi hanya perasaan semata.


"Pasti ada sesuatu," pikirnya. Sekarang dia mulai menganalisa.


Mereka ada di tengah pulau yang dikelilingi pepohonan tinggi. Duduk di sebatang pohon yang rebah di tanah berumput. Di depan mereka hanya ada tanah kosong berumput hampir tiga ratus meter persegi. Rumput di sini, berbeda dengan yang di tepi pantai. Di sana rumputnya tinggi dan gatal. Tapi di sini...."


"Aku tahu!" seru Dean dengan wajah cerah.


"Apa yang kau tau?" tanya dokter Chandra.


"Rumput di sini sepertinya dirawat secara teratur—"


"Artinya, ada orang yang kerap datang ke pulau ini!" sambung Robert.


"Apakah ini pulau pribadi? Di tengah samudera ada pulau pribadi yang hanya ditanami rumput?" tukas Dean tak percaya.


"Apa kau percaya, pemiliknya datang hanya untuk memangkas rumput seharian, lalu pergi lagi dengan membawa peralatannya? Lihat! Bahkan pondok untuk tempat istirahat pun, tak ada!" sambungnya lagi.


"Kau benar!" Robert ikut berdiri dan mulai waspada. Dia bahkan mengamati dahan-dahan pohon di dekat mereka.


Kemudian, terdengar bunyi mesin menderu, Tanah tempat mereka berpijak, bergetar.


"Mereka di bawah tanah!" teriak Robert mengingatkan.


Dia sudah ingin terbang, ketika dokter Chandra menarik tangan Robert dan Dean. Keduanya kembali berdiri di samping kiri dan kanan dokter Chandra.


"Dok!" protes Robert.


"Apa kalian ingin mengungkapkan jati diri kita yang sebenarnya?" Pertanyaan dokter Chandra memasuki telinga keduanya.


"Lalu bagaimana menghadapinya?" tanya Dean.


Di tengah pulau, tanah berumput itu telah naik tinggi menjadi atap sebuah bangunan yang sangat besar dan megah.


"Mengapa ada bangunan seluas dan semegah ini dibangun di tengah pulau dan disembunyikan di bawah tanah?" tanya Dean heran.


"Itu pasti karena...."


Ucapan Robert terputus saat melihat sepuluh orang berseragam hitam dengan senjata lengkap di tangan, keluar dari dalam bangunan.


"Karena mereka orang jahat? Komplotan perampok? Bajak laut? Atau pemberonta?" terka Dean.


"Mereka tidak terlihat punya niat baik, Dok. Kita harus melawan!" desak Robert.


"Penguasa! Anda harus segera membuat keputusan!" Dean ikut mendesak.


"Tapi, nanti mereka hanya akan membedah kita! Tidakkah kalian kasihan pada manusia yang kita tempati?" debat dokter Chandra.


"Tetapi, jika tak dilawan, kita mungkin akan ditangkap!" bantah Robert.


"Bukankah ini cara untuk menemukan jalan pulang? Kita katakan saja bahwa kita adalah korban yang selamat. Hanya kita bertiga! Jangan ungkit yang lainnya, hingga kita yakin bahwa mereka orang baik. Bagaimana?" tanya Dokter Chandra.


"Hello, who are you?"


Seorang bersenjata yang paling depan, membuka helm pelindung kepalanya dan bertanya.


Dean, Robert dan dokter Chandra sedikit tak menyangka akan disapa dengan bahasa Inggris. Ketiganya berpandangan. Terlebih lagi ketika melihat rambut jagung orang di depan itu.

__ADS_1


"Kami tersasar di mana lagi, ini?" batin Dean.


*******


__ADS_2