PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 55. Penggembala Domba (+ ilustrasi)


__ADS_3

Keesokan pagi, Dean dan Alan segera keluar setelah sarapan. Mereka ingin memeriksa tungku yang dibuat kemarin. Bila itu berhasil, maka hal selanjutnya adalah membuat beberapa mangkuk kecil untuk tempat melelehkan biji besi. Mereka sangat bersemangat pagi ini.


**


Contoh tungku mini smelter untuk mencairkan bijih besi.


Dibuat dari campuran tanah lempung, wood ash dan batang-batang jerami atau vern sebagai filler/pengikat/penguat.



**


Sunil dan Dewi memasuki gua untuk mengangkut keluar batu-batu. Mereka mulai kekurangan batu bara juga. Nastiti dan Widuri bertugas mengumpulkan bahan makanan dan menjinakkan domba-domba.


Pagi saat sarapan Dean membagi tugas dan menekankan pentingnya susu domba itu untuk mengimbangi pola makan mereka yang minus garam. Jadi widuri harus bisa menjinakkan beberapa domba betina yang dalam masa menyusui untuk dipelihara agar dapat diperah.


"Bagaimana caranya menjinakkan domba-domba itu? Dia hanya memberi tugas yang dia yakin aku gagal melakukannya. Dia cuma ingin menunjukkan kekuatannya" gerutu Widuri sepanjang jalan.


"Kau jadi terlihat seperti pacar yang kolokan dan manja," sindir Nastiti santai.


"Apa maksudmu? Pacar apa?" Widuri tak senang.


"Di tim ini, semua orang harus mengerjakan tugasnya. Tak usah menggerutu terus seperti gadis kecil yang manja. Hampir semua kita yang terdampar, melakukan banyak hal yang pertama kalinya disini. Kita semua baru belajar hidup mandiri. Jadi jangan protes terus." Nastiti sudah sangat kesal melihat sikap Widuri beberapa hari ini.


Nastiti mempercepat langkahnya meninggalkan Widuri yang masih ingin berdebat.


"Apa aku sungguh bertingkah begitu? Gadis kecil yang manja?" gumam Widuri sambil mengekori Nastiti di belakang.


"Apa kau pernah disakiti pria? Makanya ketika rasa cinta menghampirimu, kau jadi sangat marah?" Nastiti bertanya sambil terus jalan.


"Hah?!"


Widuri terkesiap. 'Cinta?' batinnya.


"Siapa yang jatuh cinta?" Widuri membantah.


"Heh. Kalau begitu jangan menyesal saat aku mendekatinya." Nastiti melangkah dengan wajah cerah.


"Ahh, si tampan itu. Aku bersedia menemaninya tinggal di sini, jika dia memang ingin menetap."


Nastiti mulai berangan-angan. Suaranya riang dan langkahnya terlihat lincah seperti kijang melompati beberapa kelompok rumput.


'Dia tampak bahagia' batin Widuri yang mengamati dari belakang.


'Heh, apa peduliku jika dia sungguh jatuh cinta pada Dean. Kenapa aku harus menyesal? Emangnya siapa dia?' Widuri terus bicara dalam benaknya sendiri.


"Kita sampai. Tugasmu adalah menjinakkan binatang-binatang itu. Aku mengambil sayur dan merapikan di sini. Mana bibit sayur yang tadi ingin kau tanam?" tanya Nastiti setelah mereka tiba di kebun sayur.


Widuri memandang domba-domba di kejauhan.


"Mereka masih jauh di sana, biar ku bantu dulu di sini." Kata Widuri.


"Baiklah."


Mereka berdua mulai sibuk merapikan kebun sayur. Mencabut beberapa sayur untuk memberi jarak tanam agar sayur-sayur itu tumbuh lebih subur.


"Guano di gua itu sangat bagus jika dijadikan pupuk." Kata Nastiti.


"Benarkah? Kalau begitu besok kita bisa membawanya kemari untuk memupuk tanaman." Widuri antusias.


Nastiti mengangguk. Mereka membuat bedeng sayur baru untuk bibit wortel, tomat dan cabai yang dimiliki Widuri.


"Sebaiknya aku kembali ke gua dan mengambil sedikit guano untuk dicampur dengan tanah ini." Nastiti bangkit melihat hasil kerja keras mereka. Dia tampak puas.

__ADS_1


"Kau urus domba-domba itu saja selagi aku pergi. Nanti baru kita tanam bibitnya." Nastiti berlalu ke arah kebun buah dan akhirnya menghilang di sana.


Widuri meletakkan sekop dan garpu tanah kecil di dekat bedengan, lalu mengambil dan membawa rumput-rumput serta dedaunan sayur yang baru mereka bersihkan ke arah domba-domba.


"Sayaaang, ini makanan lezat untuk kalian," sapa Widuri pada kawanan domba sambil menyodorkan tangannya yang berisi dedaunan.


Widuri menumpuk dedaunan lainnya dan duduk menunggu mereka mendekat sambil terus mengulurkan tangan. Salah satu domba mendekat dan mengendus tangannya sebelum mencaplok rumput yang disodorkan. Saat domba itu mengunyah, Widuri mengelus punggungnya dengan halus.


"Hei, dimana temanmu yang gendut kemarin? Kenapa dia tak ikut merumput pagi ini?" tanya Widuri sambil terus mengelus dengan sayang. Domba itu membiarkan saja dan terus makan.


"Kalian tinggal dimana kalau malam? Jika hujan apa gak kebasahan di luar? Nanti sakit hloo kalau terus kehujanan," Widuri terus bicara.


"Embeeekkk," suara domba itu seperti membalas kata-kata Widuri.


"Hahaha, kau mengerti kata-kataku rupanya," Widuri memeluknya sambil terus mengelus.


Seekor domba lain yang sedikit lebih kecil ikut mendekat dan makan di dekat Widuri.


"Kau mau?" Widuri menyodorkan rumput dengan tangannya.


Domba itu segera melahapnya sambil mengangguk-angguk.


"Embeekkk."


"Hahaha. Kalian lucu sekali." Widuri terlihat bahagia memeluk kedua domba itu di kanan dan kirinya


Dean memperhatikan hal itu dari tempat dia membangun tungku. Dia tersenyum tipis sambil melanjutkan pekerjaan membuat mangkuk untuk keperluan di gua. Dean memperkirakan, para wanita akan butuh mangkuk untuk masak dan jika ingin memerah susu, maka akan butuh mangkuk lain lagi. Jadi setidaknya dia harus buat 2 mangkuk dengan ukuran memadai untuk itu.


Alan melintasi padang rumput itu sambil membawa beberapa potong kayu yang diikat tanaman menjalar.


"Untuk apa kayu-kayu itu?" tanya Widuri menyapa Alan.


"Untuk memagari kebun sayurmu." Alan menjawab sambil tersenyum lebar dan melanjutkan langkahnya ke kebun sayur.


"Hei, jangan gigit bajuku," kata Widuri saat seekor domba yang baru datang menggigit dan menarik bajunya.


"Apa kau mau bermain? Baiklah. Mari kita bermain lari-lari," Widuri bangkit dari duduk dan mengejar domba yang tadi menggigit bajunya sambil tertawa.


"Hahaha.. mau lari kemana kau. Tadi mengajakku main, sekarang kabur yaa.. Kalau tertangkap bakal ku uwel-uwel," Widuri terus mengejar sambil tertawa gembira.


Dean mengerutkan kening melihat itu. Dia segera bangkit dari duduk lalu mengejar Widuri.


"Alan, kesini!" teriak Dean sambil terus lari.


Alan melempar kayu-kayu yang sedang dipegangnya dan mengejar Dean. 'Ada apa sih?' pikirnya tak mengerti.


"Eh, dimana Widuri?" gumam Alan saat melewati kawanan domba tempat tadi Widuri duduk.


"Dean, dimana Widuri?" teriak Alan sambil mengejar Dean.


"Dia mengikuti domba itu. Ayo cepat." Sahut Dean tak menghentikan laju larinya. Widuri sudah hampir hilang dari pandangan.


"Jika terjadi sesuatu padanya gara-gara domba itu, maka yang lainnya akan kujadikan sate!" Janji Alan pada dirinya sendiri.


"Sial! Dia menghilang!" Dean memaki dengan kesal dan nafas terengah-engah.


Alan menyusul di belakang.


"Di mana Widuri?" tanya Alan.


"Cepat cari. Tadi dia menghilang dekat sini. Cepat banget larinya. Sial!"


Dean menyibak beberapa semak untuk melihat ke sebaliknya. Alan mencari berputar-putar dekat situ. Mereka kesulitan mencari karena itu bukan jalan yang biasa mereka lalui. Dan hari tidak hujan, jadi cukup sulit mencari jejak di tanah yang kering.

__ADS_1


"Ahh, kau di sini rupanya. Apa yang terjadi padamu?"


Sayup-sayup terdengar suara Widuri di balik semak belukar.


"Di sana!" kata Dean yang segera menyibak dedaunan untuk mencari keberadaan Widuri. Alan mengikuti di belakang.


"Widuri, kau di mana?" teriak Dean memanggil.


"Aku di sini," terdengar jawaban.


Dean bergegas ke arah suara itu. Dia melihat seekor domba tergeletak di sana. Tempat itu lebih rendah sedikit. Dean dan Alan turun dengan hati-hati.


"Dia sakit. Temannya mengajakku kemari. Mungkin dia minta kita membantu saudaranya," suara Widuri tertahan. Matanya tampak sedih dan berkaca-kaca.


"Baik, mari kita angkat dia ke atas." Dean tak tahan melihat mata Widuri seperti itu.


"Alan, bantu aku. Hati-hati, mungkin dia jatuh tergelincir dari atas." Kata Dean.


Alan dengan sigap membantu Dean mengangkat domba yang tergeletak itu. Suara mengembiknya terdengar lemah.


"Widuri, kau naik lebih dulu. Hati-hati." Alan mengingatkan.


"Ya," jawab Widuri. Dia naik pelan sambil berpegangan pada rumpun-rumpun tanaman liar yang memenuhi tempat itu.


Mereka akhirnya sampai ke padang rumput dekat kawanan domba yang terus memperhatikan.


"Embeekkk," seekor domba mengembek dan mendekati Dean dan Alan yang sedang menggotong saudaranya.


"Kita tinggalkan di sini atau bawa ke gua?" tanya Alan.


"Bawa ke gua saja. Dia sakit. Siapa yang urus dia di tempat terbuka begini? Bisa-bisa dimakan binatang buas saat malam." Widuri memutuskan.


"Oke. Ayo Alan, kembali ke gua," kata Dean.


Mereka baru berjalan melintasi padang rumput saat Sunil, Dewi dan Nastiti tiba membawa guano.


"Ada apa? Mau dibawa kemana domba itu?" tanya Sunil.


"Dia jatuh tergelincir tak bisa bangun. Kami mau membawanya ke gua untuk dirawat," jawab Widuri.


"Ooh," jawab Sunil sambil meletakkan guano yang dibawanya menggunakan daun-daun keladi yang ditemukannya dekat pancuran samping gua.


"Sunil, bisa kau gantikan aku membawanya ke gua? Ada yang sedang tanggung ku kerjakan," tanya Dean.


"Bisa. Sini ku bantu."


Akhirnya Alan dan Sunil yang menggotong domba itu ke gua. Dean melanjutkan kerjanya membuat mangkuk yang baru setengah jadi.


"Saudara kalian ku bawa ke gua dulu untuk dirawat. Apa kalian mau ikut?" tanya Widuri pada kawanan domba yang terus mengekorinya sejak tadi.


"Embeekkk," domba-domba itu ramai-ramai mengembik dan mengangguk.


Melihat percakapan aneh itu, Dewi dan Nastiti tak bisa menahan tawa, hingga terpingkal-pingkal.


"Hahaha.. Kau sudah diangkat jadi ratu domba Widuri. Selamat," canda Nastiti.


"Hahaha.. Kamu pakai ilmu apa sampai mereka ngerti kata-katamu?" Dewi juga ikut menggoda sambil tersenyum lebar.


Widuri hanya bisa menggaruk rambutnya mendengar ledekan keduanya.


"Rahasia," balasnya tertawa.


Widuri melanjutkan langkah untuk kembali ke shelter, diikuti belasan domba di belakangnya. Mereka berjalan beriringan.

__ADS_1


Dean melihat pemandangan itu, membuatnya teringat gambaran para penggembala domba di pegunungan. Dean tersenyum simpul dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


***


__ADS_2