PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 306. Memindahkan Jiwa Ma


__ADS_3

Selesai beristirahat, sesuai pembicaraan dengan Sulaiman, mereka memilih tempat untuk dijadikan rumah oleh Leon. Bagaimanapun Leon perlu pendapat Sulaiman agar nanti tempat tinggalnya tak bermasalah.


Mereka melihat beberapa tanah yang pemiliknya telah meninggal dalam hantaman ombak beberapa tahun lalu. Sementara lahan lain, keturunan pemiliknya masih ada, namun pindah ke kota. Leon tak mau mengambil resiko itu. Dia ingin tinggal dengan tenang bersama Jane.


Akhirnya Leon dan Jane mendapatkan tempat idaman mereka. Tempat itu letaknya lebih tinggi dari tempat Sulaiman. Dari situ, Jane bisa melihat laut. Dia anak pantai. Jadi akan selalu merindukan laut.


Setelah mendengar keterangan Sulaiman bahwa tempat itu juga tidak ada pemiliknya, maka semua sepakat untuk membantu Leon membangun rumah. Itu akan dimulai besok. Dan karena kesulitan kayu, maka tak ada pilihan lain, selain membangun rumah dari batu.


Sebelum sore hari, Dean, Sunil dan Alan menghilang. Ketiganya pergi ke arah rumah-rumah panggung yang mereka temukan sebelumnya.


Ketiganya mengumpulkan atap seng dan asbes yang masih bisa mereka gunakan. Beberapa tiang kayu juga masih mungkin untuk dipakai. Kayu-kayu lain yang tak mungkin digunakan lagi, dimanfaatkan sebagai kayu bakar.


Bahan bangunan yang dikumpulkan, di letakkan di atas bukit yang ingin ditempati Leon. Sementara kayu-kayu patah, dibawa ke tempat mereka bermalam. Mereka butuh kayu bakar utk masak dan menahan dinginnya angin.


*


*


Malam dilewatkan untuk mematangkan rencana.


"Dean, karena salah satu dari kita memilih tinggal di sini, ku kira sudah waktunya bagi kita menguburkan jasad teman-teman kita yang sudah tiada," ujar Robert tiba-tiba.


Semuanya tersadar, bahwa mereka menyimpan jasad Penasehat Ma, Jenderal So, Penguasa Cahaya dan juga Michael.


Dan tentang Michael...," Sunil menjeda kalimatnya.


"Mungkin bisa kita coba memindahkan jiwa Ma pada Leon. Entah itu akan berhasil atau tidak, yang penting dicoba dulu.


"Kenapa Leon?" tanya Alan.


"Karena dia memutuskan tinggal di sini. Dan kita menitipkan jasad penguasa dalam penjagaannya. Setidaknya, dia harus punya kemampuan," balas Sunil.


"Ku kira, pendapat Sunil ada benarnya. Kemampuan lebih itu dibutuhkannya untuk bertahan hidup di tempat ini." Dokter Chandra menyetujui.


Dean, Robert, Alan Dan Sunil saling berpandangan. Bagaimanapun, Penguasa Cahaya sudah bertitah. Maka itu artinya perintah.


"Bagaimana denganmu, Leon? Apa kau bersedia? Ini mungkin juga tidak berhasil. Dan jiwa Penasihat Ma, tidak memiliki kekuatan fisik yang hebat. Tapi kamu mungkin bisa lebih tercerahkan dengan pengalaman dan kebijaksanaannya," tanya Dean.


"Aku gak terlalu mengerti tentang kekuatan kalian. Tapi jika memindahkan jiwa itu dianggap penting, maka lakukan saja," jawab Leon.


Maka malam itu dikeluarkanlah jasad Michael. Darah Leon diteteskan ke dahi Michael. Semua tegang menunggu reaksi tubuh Michael. Mungkinkan pemindahan jiwa yang kedua ini akan berhasil? Mereka belum pernah melakukan itu sebelumnya.


Cukup lama, baru sinar ungu di dahi Michael muncul. Semua tegang menunggunya. Terlebih lagi Leon, yang masih belum memahami cara kerja pemindahan kepingan jiwa itu.


Makin lama, sinar ungu kecil itu makin besar dan memadat. Dia mengenali darah Leon yang diteteskan di dahi Michael. Cahaya itu kemudian masuk ke dahi Leon dan menyelubunginya.


Anggota tim itu menunggu proses penyatuan yang sepertinya cukup menyakitkan. Beberapa kali Leon menjerit dan tubuhnya menegang serta melayang ke udara.


Jane menangis ketakutan melihat apa yang menimpa Leon. Tapi Widuri memeluk dan membujuknya.

__ADS_1


Indra yang melihat kondisi Leon, bergidik ngeri.


"Sesakit itukah pemindahan jiwa Bangsa Cahaya?" pikirnya ngeri.


Setengah jam Leon dalam kondisi itu. Tubuhnya terhempas jatuh saat cahaya ungu itu tiba-tiba lenyap. Sunil berhasil menahan, agar Leon tak langsung jatuh ke batu hitam.


Mereka membaringkannya dengan baik. Lalu memaksakan air abadi masuk ke tubuhnya. Kemudian menyirami seluruh tubuhnya hingga basah kuyup. Sekarang mereka hanya bisa menunggu. Jane terlihat khawatir. Tangannya tak lepas menggenggam tangan Leon.


Semua orang mundur dan membiarkannya menunggui Leon yang belum sadar.


Hari sudah larut. Yang lain pergi beristirahat. Tp tetap ada yang bergantian jaga seperti biasa.


Subuh hari, pondok itu sedikit ricuh.


Leon tersadar dan melihat Jane memeluknya. Tangannya mendorong Jane hingga jatuh ke belakang, yang membuat wanita itu menjerit kaget.


"Ada apa?" tanya Sunil yang sedang berjaga dekat perapian di luar.


"Siapa dia? Beraninya memelukku!" seru Leon marah.


Semua orang di gubuk kini sudah bangun sepenuhnya. Suara Leon yang marah terdengar kemana-mana di pagi buta.


"Leon ...."


Jane shock dengan perlakuan Leon yang tak disangkanya.


"Istri apa? Aku tidak punya istri!" Mata Leon berkilat keunguan. Dia juga marah.


"Ma! Kau itu menumpang di tubuh suaminya! Apa kau lupa kalau kita sudah mati di penjara!" Robert ikutan marah.


Penasehat Ma sepertinya tidak menyadari keadaan.


"Bagaimana dia bisa beristri? Kapan? Aku tidak mau!"


Dokter Chandra mendekat. Dengan kilauan cahaya sebening berlian di matanya, Ma terdiam dan menunduk.


"Penguasa ...."


"Sebelumnya kau berada di tubuh Michael. Tapi dia sudah tewas. Kami berinisiatif memindahkanmu ke tubuh Leon. Dia sudah punya istri. Jika kau keberatan, maka kembalilah ke tubuh Michael. Kami akan mengubur semua jasad besok. Jangan memperkeruh suasana. Bangsa kita sudah punah. Hanya sisa jiwa kita yang sedikit ini yang ingin dipertahankan. Tapi kalau kau keberatan, kami takkan memaksa."


Penguasa Cahaya itu bicara panjang lebar. Tak seorangpun berani membantah. Bahkan Ma yang arogan pun, terdiam membisu.


"Jadi, bagaimana?" tanya Penguasa Cahaya.


"Aku bersedia, Yang Mulia," jawab Ma patuh.


Dokter Chandra menganggukkan kepala. Kau tidak boleh menguasai tubuh Leon. Kau hanya bertugas membantunya. Jika dia perlu kekuatan untuk terbang, maka terbanglah. Jika dia butuh bantuan, maka bantulah. Bantu dia sesuai kapasitasmu. Jangan bersikap coklat dan sombong. Karena sejatinya, bangsa kita sudah punah ribuan tahun yang lalu," pesan Penguasa Cahaya.


"Iya, Yang Mulia. Saya mengerti,"

__ADS_1


Sinar ungu di mata Leon perlahan memudar. Leon jatuh terduduk dengan kepala sakit.


"Ughhh!" keluhnya sambil memegangi kepala.


Alan mendekati Leon dan mengangsurkan secangkir air.


"Ayo minum dulu. Ma sudah dapat peringatan dari Penguasa. Dia takkan berani macam-macam lagi nanti," hibur Alan.


Tak ada yang tertidur lagi selepas kehebohan subuh itu. Semua orang melakukan aktifitasnya masing-masing.


Di dalam pondok, Jane masih belum berani mendekat. Tapi dia tatap mengawasi Leon dengan tatapan khawatir.


"Ke sinilah," panggil Leon sambil melambaikan tangannya.


Jane terlihat ragu.


"Apa kau sudah baik-baik saja?" tanyanya khawatir.


"Aku sudah tidak apa-apa," jawab Leon tersenyum. Tangannya masih terentang.


Jane mendekat dengan hati-hati. Leon merengkuh pundak Jane dan membawa ke pelukannya.


"Maafkan aku," bisiknya lembut.


Jane menggeleng, kemudian mengangguk dalam pelukan Leon.


"Jadi apa maksud gelengan dan anggukan itu hmm?" tanya Leon.


"Apa kau tidak menafikan aku?"


Leon memegang pundak Jane dan mendorongnya sedikit lebih jauh. Dipandangnya Jane dengan mata membesar.


Jane masih menggeleng. Dia terlihat bingung.


"Menggeleng itu artinya tidak!" kata Leon.


Jane cepat-cepat menggeleng.


"Bukan!" sergahnya.


"Lalu?" Leon masih menunggu jawaban dengan mata membulat.


"Aku- aku memaafkanmu. Tadi itu bukan kau!" jawab Jane sambil menunduk.


Leon tersenyum senang. Dipeluknya lagi Jane sambil berucap, "Terima kasih sudah memaafkanku."


Jane mengangguk pelan. Hatinya lega sekarang. Leonnya telah kembali. Sekarang, rencana mereka untuk tinggal di sini bisa dilanjutkan. Dia bahagia sekali.


*******

__ADS_1


__ADS_2