
Kang mencari menggunakan ketajaman mata dan penciumannya. Akhirnya mereka menemukan salah satu kelompok Vivian yang melarikan diri dari serangan Kang.
Wanita itu terbaring di tanah. Masih berusaha untuk bisa duduk. Darah segar sudah membasahi seluruh bajunya yang kotor kehitaman. Bercampur darah kering dan sisa gosong sambaran api Kang sebelumnya.
Dia menatap Kang dengan marah. Tak ada rasa takut di matanya.
"Heh! Kau hebat juga bisa kabur dari kepungan api meski terluka separah ini."
Kang bicara dengan suara menggelegar. Lidah api menyembur dari mulutnya, menyambar-nyambar wanita itu.
Wanita itu berusaha mengelak dan menutupi wajahnya dari sambaran api.
"Setelah membantu kalian berkali-kali, Kalian malah menusuk kami. Kalian melukai istri dan teman-temanku. Maka kau harus berakhir di sini, hari ini!"
Wanita itu mulai berteriak kala Kang mendekat. Api yang keluar dari mulut Kang menyambar-nyambar kulitnya, setiap kali Kang buka mulut. Tapi Kang bahkan tak merasa iba sedikitpun. Dia terus menyemburkan api dari mulutnya.
Sunil bisa melihat, serangan cahaya jarak jauhnya telak mengenai dada wanita itu. Membentuk luka bakar mengerikan. Sunil tau itu bukan luka bakar biasa. Dengan cahaya birunya yg memberi efek nuklir jika diledakkan, maka selarik cahaya tadipun, tidak kurang bahayanya. Efek cahaya birunya akan merusak dari dalam. Membakar setiap organnya satu demi satu.
Namun, seperti juga Kang, Sunil tak merasa iba sedikitpun. Mereka tak pantas dikasihani. Jadi, dibiarkannya saja Kang melampiaskan kemarahan dengan menyambar tubuh wanita itu sedikit demi sedikit.
Beberapa saat kemudian, keadaan wanita itu semakin parah. Kini dia benar-benar tak bisa duduk lagi. Bulu di kedua sayapnya telah luruh semua. Menyisakan kulit gosong menghitam. Tubuhnya juga sudah hampir menghitam seluruhnya. Menyisakan sebagian wajahnya yang selalu dilindunginya dengan tangannya. Namun tubuhnya terus menggeliat, seperti menantang Kang untuk melakukan lebih dari itu.
"Akhiri saja Kang!" teriak Dean, mengatasi gelegar suara kemarahan Kang.
Kang mendengus jijik pada wanita itu. Diangkatnya kaki besarnya ke atas tubuh musuhnya. Lalu Kang menginjak kedua si wanita.
Krakkk... krakkkkk!
"Aaaaaaaaaaahhhhhhhhh...!"
Terdengar suara tulang hancur, bersaing dengan suara lengking jeritan yang membuat tengkuk siapapun yang mendengar, jadi meremang.
Dean dan Robert bahkan tak menyangka Kang akan mematahkan tulang wanita itu satu demi satu. Hingga kedua tangannya terkulai tak berdaya. Kedua sayapnya dipatahkan. Dan ketika wanita itu sudah tak dapat lagi merespon, Kang menginjak kepalanya hingga hancur.
Keduanya bergidik ngeri melihat kesadisan Kang. Lebih baik jangan membuat permusuhan dengannya.
"Apa kau sudah selesai?" tanya Sunil.
Kang meludahi tubuh yang sudah hancur itu dan mendengus. Lalu ditinggalkannya tempat itu begitu saja. Kang menghilang ke arah padang rumput.
"Hahhh... dia mengerikan!"
Dean menghela nafas. Sunil melihat mayat yang hancur itu sejenak. Lalu selarik cahaya biru keluar dari matanya, menyambar tubuh yang sudah tak lagi berbentuk itu. Beberapa saat, api biru membungkus onghokan daging gosong dan tulang belulang. Memakannya hingga habis dan menjadi debu.
"Ayo kita kembali!" ajak Sunil.
Dean dan Sunil terbang kembali ke tempat yang lainnya menunggu.
__ADS_1
"Itu mereka!" tunjuk Dokter Chandra ke arah Dean dan Sunil di kejauhan.
"Sudah sore. Kita harus segera kembali," ujar Dean.
Dokter Chandra mengangguk. Dia menoleh pada Nastiti.
"Hiduplah dengan baik di sini. Ada Laras dan Liam di kota mati. Kalian harus saling berkunjung dan menjaga persahabatan," ujar Dokter Chandra dengan perasaan berat.
"Kami titipkan Nastiti di tanganmu, Kang. Jadi kau harus menjaganya dengan baik. Seumur hidupmu!" ujar Sunil menekankan maksudnya.
Kang mengangguk.
"Kami kembali dulu, Nastiti. Kalian bisa datang besok, sebelum kami pergi ke kediaman Ketua Kota," kata Dean.
Nastiti menatap Kang, dan Kang mengangguk setuju.
"Kami akan ke sana besok," ujar Nastiti sambil tersenyum.
Dean, Robert, Sunil dan Dokter Chandra melayang naik ke arah celah dunia mereka. Lalu menghilang dari pandangan.
*
*
"Apakah semua persiapan hari ini sudah selesai?" tanya Dean.
"Daging dan ikan asap sudah siap. Granola bars juga sudah siap. Besok kami akan siapkan beberapa roti isi untuk perjalanan." Marianne melaporkan pekerjaan para wanita.
"Bagus."
"Aku sudah menyiapkan cukup banyak kelapa muda, siap untuk dinikmati," ujar Alan.
"Maksudmu?" tanya Michael heran.
Alan mengeluarkan sebutir kelapa yang kulitnya sudah dibersihkan.
"Maksudku seperti ini. Tinggal membuka sedikit dengan pisau, maka sudah bisa dinikmati," ujar Alan bangga.
"Ini harus dibuktikan dulu."
Indra mengulurkan tangannya ke arah buah kelapa.
Syuutt!
Buah kelapa itu menghilang dari pandangan. Yang lain jadi tertawa melihat keduanya.
"Alasanmu itu, siapa yang tidak faham," sungut Alan.
__ADS_1
"Ku fikir, Menyiapkan roti isi untuk perjalanan itu, sangat bagus. Kita tak mungkin masak di atas kapal. Jadi harus makanan siap santap."
Robert mengapresiasi kinerja para wanita.
"Dan Air kelapa yang segar, sangat baik untuk mengobati mabuk laut," tambah Dokter Chandra.
"Tapi, penyimpanan semua itu harus dibagi-bagi. Mengantisipasi jika kita terpisah," kata Indra ragu.
"Apa maksudmu terpisah?" tanya Michael bingung.
"Yah... seperti yang kami alami waktu itu, kami jadi tercerai-berai," ujar Indra.
"Tapi kan laut yang dilalui kapal ini berbeda dengan perjalanan kalian. Mereka sudah rutin melaluinya." Widuri membantah.
"Indra ada benarnya. Mengantisipasi kejadian yang tak diinginkan. Mungkin lautnya tak masalah, tapi kita tak tau apa yang akan kita hadapi di kota Rawa nanti." Dean menjelaskan maksud Indra.
"Oohh, baiklah aku mengerti." Widuri mengangguk.
"Jadi kalian siapkan tas ransel masing-masing. Untuk memuat keperluan pribadi dan bekal secukupnya," ujar Dean.
"Aku sudah tak punya ransel," kata Robert.
"Aku juga!"
Michael, Indra dan Niken mengangkat tangan mereka.
"Kau masih punya tas?" tanya Michael pada Marianne.
"Nastiti memberikan tasnya untukku," jawab Marianne.
Dean mengeluarkan tas ransel dan tas laptopnya dari ruang penyimpanan.
"Aku tidak butuh tas dan ransel. Kalian bisa pakai," ujar Dean.
Alan dan Sunil melakukan hal yang sama. Sekarang semua orang punya tas dan ransel masing-masing. Satu masalah terpecahkan.
Mereka menyiapkan perbekalan. Membagi rata makanan yang sudah diawetkan. Dan buah kelapa seorang satu, untuk persediaan darurat masing-masing.
Semua orang mendapatkan persediaan yang cukup. Sisa bahan makanan di meja, disimpan oleh Dean, Alan dan Sunil secara merata. Termasuk persediaan gandum dan tepung, kelapa, soba serta keju dan mentega. Semua puas dengan pengaturan ini.
"Oke, urusan malam ini sudah selesai. Lebih baik tidur lebih awal. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan lagi besok," ujar Dean.
Para wanita membereskan meja dan peralatan makan sebelum mulai beristirahat.
Langit, dengan bulan di hari ke 12, mengintip malu-malu di balik awan. Cahaya lindap menutupi malam itu. Angin dingin berhembus melewati batang-batang pohon. Menyelusup masuk melewati celah pintu dan jendela.
Sesekali suara gemuruh terdengar di langit. Awan gelap dan berat menumpahkan isinya dari langit. Membasahi seluruh area jangkauannya.
__ADS_1
Kompleks rumah di tepi tebing itu sangat sunyi. Bahkan Cloudy meringkuk malas di pelataran rumah, agar terhindar dari guyuran hujan. Kabut yang mulai muncul dan cahaya obor yang meliuk-liuk dipermainkan angin. Menciptakan suasana sunyi yang misterius.
******