
Pagi saat sarapan, mereka berdiskusi seperti biasa. Membuat rencana-rencana lalu mengambil
keputusan bersama.
"Jadi bagaimana Dean?" tanya Robert.
Apanya yang bagaimana? Kita kan tetap harus mencari jalan keluar. Menemukan desa dan melaporkan keberadaan kita. Itu pun kalau kita memang benar berada di Indonesia," jawab Dean.
"Oke. Kalau begitu, apakah kita berangkat setelah sarapan?" tanya Sunil.
"Ya! Jadi yang lainnya bersiaplah telah semua beres, kita langsung berangkat," sahut Dean.
"Horee kita pulang!" seru Niken senang.
Widuri tersenyum melihatnya. para wanita langsung membereskan peralatan makan dan menyimpannya di tempat penyimpanan.
"Ke mana arah yang kita tuju Dean?" tanya Alan.
"Sebentar," kata Dean.
Dia lalu melesat naik ke atas untuk melihat keadaan di sekitar. Pandangannya menatap jauh ke depan ternyata tempat itu jauh dari mana-mana. Di ujung kolom-kolom ikan itu adalah garis pantai yang biru. Sementara di ujung lainnya ternyata masih semak belukar. Dean turun kembali dan menemui teman-temannya.
Tempat ini terbengkalai dan jauh dari mana-mana. Tampaknya kita masih harus berjalan jauh untuk mencari pemukiman terdekat. Jadi bersiaplah, sebentar lagi kita berangkat," kata Dean.
"Dean, bagaimana kalau kita terbang hingga menemukan desa terdekat? Jadi tidak perlu jalan kaki terlalu jauh lagi," saran Robert.
"Oke! Begitu juga bagus," sahut Dea.
"Lalu kami bagaimana? cloudy, kuda Leon dan ternak-ternak kita bagaimana?' tanya Niken.
"Sebaiknya kalian kembali ke dalam. Bagaimanapun itu jauh lebih aman, karena kita masih belum tahu kita berada di mana," Sunil menimpali.
"Emangnya ini bukan Indonesia ya?" ujar Marianne kecewa.
"Kita harus memastikannya dulu," sahut dokter Chandra.
"Sudah ... ayo kita siap-siap berangkat." Dean menengahi pembicaraan.
Tm itu lalu sibuk membereskan peralatan masing-masing. Kemudian Dean, Alan, Sunil, Robert dan dokter Chandra menyembunyikan teman-temannya di kalung penyimpanan masing-masing.
"Mari pergi!" ujar Sunil bersemangat. Dia segera melayang naik dan menunggu teman-temannya datang. Alan mencoba naik lebih tinggi untuk mendapatkan patokan arah.
"Di sana!" tunjuknya ke satu arah. Lalu dia turun menemui teman-temannya.
"Kau menemukan sesuatu?" tanya Robert.
"Ya, aku melihat sebuah gedung di sebelah sana," jawab Alan
"Bagus. Kita ke sana dulu," putus Dean.
"Baiklah, mari kita berangkat."
"Let's go!"
Alan dan Sunil sudah tak sabar. Mereka terbang lebih dulu. Dokter Chandra menggeleng melihat keduanya.
__ADS_1
"Ayo kita susul mereka," ajak Robert Ketiganya lalu menyusul alam dan Sunil yang sudah terbang lebih dulu.
Tak lama mereka sampai di tempat yang ditunjuk Alan. Memang bener di sana ada sebuah bangunan. Rumah panggung yang mirip, juga sudah ditinggalkan penghuninya. Tempat itu kosong sama sekali. Tapi yang paling mengherankan adalah, tidak terlihat ada satupun kolam ikan ataupun empang di sekitar situ.
"Lalu, apa fungsi bangunan ini?" gumam Dean.
Tim kecil itu memeriksa ke sekitar bangunan. Mencari petunjuk apapun yang bisa didapatkan. Namun tak ada apapun. Tampaknya bangunan itu sudah lama ditinggalkan. Sebagian tiang dan dindingnya juga sudah roboh.
Deab melesat naik lebih tinggi lagi dan memeriksa ke sekitar. Lalu dia melihat ada jalan jauh di ujung sana.
"Sunil bisakah kau ke sini? Coba kau lihat apa itu!" panggil Dean.
Sunil melesat naik menyusul Dean.
"Yang mana?" tanyanya.
"Itu!" tunjuk Dean. "Apa kau lihat itu? Menurutmu itu apa?" tanya Dean memastikan.
Sunil melihat ke arah itu untuk memastikan. "Itu seperti jalan."
"Bagaimana kalau kita ke sana?" tanya Dean.
"Oke ... tak ada salahnya dicoba." Sunil mengangguk setuju.
Tak lama Robert ikut naik.
"Apa kalian menemukan sesuatu?
"Kami melihat itu. Rasanya itu seperti jalan ya. Tapi aku heran, kenapa tidak ada satu bangunan lain pun. Tidak ada penduduk, tidak ada rumah dan hanya ada dua bangunan yang roboh ini.
"Apa kau merasa ada yang salah, Robert?
Robert menatap Dean dengan mimik serius.
"Bagaimana menurutmu. Tidakkah kau merasa ini janggal?"
Alan dan dokter Chandra ikut naik ke atas. Dia melihat berkeliling.
"Kalian tahu? Aku merasa ini aneh," kata Alan.
Tiga temannya menatapnya dengan heran. a
"Apa maksudmu?" tanya Sunil.
"Dalam ingatanku, Indonesia itu sangat padat. Rasanya tidak mungkin ada tempat kosong seluas ini, tanpa ada penghuninya sama sekali!" jawab Alan jujur.
"Alan benar," timpal dokter Chandra. "Rasanya ini bukan Indonesia. Atau mungkin negara lain," sambung dokter Chandra.
"Baiklah. Bisa jadi bahwa ini bukan Indonesia. Tapi, bagaimanapun kita tetap harus mencari penduduk yang ada. Dan menanyakan pada mereka di mana ini sebenarnya. Bukankah itu lebih baik daripada bertanya-tanya di sini," kata Robert.
"Oke, sekarang tujuan pertama kita adalah jalan itu. Kita lihat apakah di sana ada rumah penduduk atau bangunan lainnya. Setelah itu baru kita putuskan mau melakukan tindakan apa selanjutnya." Akhirnya Dean membuat keputusan.
"Ayo pergi!" teriak Alan. d
Dia sudah melesat lebih dulu ke arah jalan itu. Yang lain bergegas mengikuti. Mereka juga sudah tak sabar dan ingin tahu dimanakah tempat ini sebenarnya.
__ADS_1
Alan berhenti tepat di atas jalan raya yang sudah rusak dan retak di mana-mana. Rumput-rumput tinggi di sepanjang tepi jalan. Bahkan beberapa tumbuh di antara aspal yang mengelupas. Alan menyusurinya sebentar. Di beberapa tempat terlihat runtuhan rumah.
"Apa yang sebenarnya sudah terjadi di sini?" gumamnya heran.
Sunil dan yang lainnya akhirnya tiba mereka juga heran melihat kondisi jalan itu.
"Jalan ini seperti sudah bertahun-tahun tidak dilewati," cetus dokter Chandra.
Robert mengerutkan kening. "Tempat ini seperti tempat yang terisolir. Lihatlah rumah-rumah yang runtuh begitu saja dimakan usia."
"Tempat apa ini sebenarnya?" kata Dean bingung.
Robert kembali melesat naik dia memandangi lagi keliling tempat itu.
"Hei ... aku melihat asap di sana!" tunjuk Robert ke satu arah.
"Asap apa?" tanya Dean yang ternyata sudah berada di dekatnya.
Robert menggeleng. "Kau lihat itu? Menurutmu itu asap apa? Apakah asap pembakaran sampah atau asap perapian di rumah?"
"Bukankah seharusnya kita pergi ke sana agar bisa memastikan itu asap apa!" tukas Alan pedas.
"Ayo kalau begitu," kata Sunil.
Mereka terbang lagi menuju sumber asap di kejauhan.
Tak lama ....
"Bukankah itu rumah? Apa kalian bisa melihatnya?" tanya Robert.
Yang lain ikut memperhatikan dengan jelas. Rumah itu terlihat sunyi. Namun di halamannya tumbuh subur dan teratur aneka sayuran.
"Ya, itu memang rumah. Kita harus ke sana dan bertanya pada penghuninya," Alan kembali bersemangat.
"Ayo cepat kita ke sana." Alan sudah tak sabar sekali.
"Hei, tunggu!" panggil Dean.
'Kita tidak boleh terbang ke sana. Atau itu akan mengagetkan penghuninya."
"Ya ... kau benar. Kenapa aku bisa melupakan hal itu." Alan menepuk dahinya sendiri.
Akhirnya kelima orang itu turun ke jalan raya. Dan melanjutkan dengan berjalan kaki menuju rumah kecil yang mereka lihat tadi.
"Ah, akhirnya kita bisa bertemu dengan penduduk di sini. Rasanya tidak mungkin kan kalau desa ini tidak ada penghuninya sama sekali," ujar Alan.
"Hemmm ...."
Dean hanya berdehem menyahuti Alan.
Mereka berjalan dengan santai. Dan mulai bisa melihat kebun sayur di kanan kiri jalan. Tanaman-tanaman itu tumbuh dengan subur.
Melihat kondisi ini, mereka optimis akan menemukan manusia yang bisa ditanyai tentang dunia ini.
******
__ADS_1
1 Bab 🙏