
Sunil sangat cemas dan takut. Dia menutup hidung dan mulutnya dengan baju. Dia harus mencapai mulut gua, tapi gua itu gelap. Matanya perih karena debu jika dibuka lebar.
Sunil meraba-raba batu sambil membungkuk. Bau tanah sehabis hujan jadi penunjuk jalan satu-satunya menuju keluar. Berkali-kali dia tersandung dan jatuh, namun dipaksanya untuk berdiri lagi.
Angin dingin yang basah mengandung titik-titik air mulai menerpa pipinya. Sunil makin semangat untuk keluar. Disambut butiran air rintik-rintik, Sunil menghirup nafas panjang memenuhi paru-parunya yang sesak. Sesekali dia terbatuk dan tersedak oleh debu yang sudah tertelan.
Sunil berdiri sejenak di bawah guyuran gerimis hingga tubuhnya mulai merasa kedinginan. Sunil berbalik ke mulut gua untuk melihat. Di dalam sana sungguh gelap dan sunyi. Yang terdengar hanya terdengar gemericik air. 'Ya Tuhan, aku tak ingin kehilangan teman-temanku lagi,' harapnya dalam hati.
"Alan, kau dengar aku? Dewi, Widuri, Nastiti, Dean! Ikuti suaraku kawan. Ayo, kalian pasti bisa sampai ke sini. Tutup mata saja bila pedih. Tutup mulut dan hidung. Please.. bangun. Ikuti suaraku!" Teriak Sunil dari pintu gua.
Berkali-kali Sunil memanggil tapi tak ada yang merespon. Sunil makin cemas. Dia merasa harus masuk dan membawa teman-temannya keluar. Dilepasnya baju yang basah kehujanan untuk dipakai sebagai penutup hidung dan mulut.
'Hei, kalau kalian tak bisa ke sini, biar aku yang kesana. Berteriaklah, atau pukul sesuatu biar aku tau lokasimu." Sunil kembali berteriak.
Diantara suara gemericik air Sunil mendengar suara ketukan samar. Dia lalu merasa ada harapan.
"Siapa tadi yang mengetuk? Aku mendengarnya samar. Coba ketuk lebih keras lagi," pinta Sunil yang lalu mencoba mendengarkan dengan seksama.
Terdengar ketukan lagi tak jauh dari mulut gua. Sunil segera mencoba mendekati arah suara itu.
"Dewi, kau kah itu?" tanya Sunil lagi. Terdengar ketukan balasan untuk memandu Sunil.
"Terus ketukkan, aku hampir sampai," Sunil kembali bicara.
Suara ketukan itu terdengar beberapa kali hingga Sunil akhirnya menemukannya.
"Dewi?" Sunil meraih tubuh yang tergeletak lemah di lantai gua.
"Hemm," jawab Dewi dengan suara hampir hilang.
"Aku akan membawamu keluar. Nastiti, apa kau ada di sini?" Suara Sunil menggema di keheningan. Lalu dia tiba-tiba terpekik saat sesuatu menyentuh kakinya.
"Aaaaaahh," Jerit Sunil.
Dicobanya menyingkirkan sesuatu yang menempel di kakinya itu. Sunil pun terkejut. 'Ini tangan? Seperti tangan?' pikirnya. Sunil memeriksa sesuatu itu cukup lama, sampai dia akhirnya yakin bahwa itu tangan seseorang setelah Sunil dapat meraba kepalanya.
Sunil mencoba menarik teman yang dia tak tau siapa. Merangkul mereka pada ketiak lalu menyeret keduanya ke arah mulut gua. Beberapa kali tersandung, Sunil tak menyerah. Sampai mulut gua, keduanya dibiarkan bermandikan gerimis. Debu-debu yang menempel di tubuh keduanya luruh bersama tetesan air.
Perlahan mereka tersadar dan langsung terbatuk-batuk karena partikel debu yang sudah terlanjur terperangkap di paru-paru. Sunil membersihkan tangan dan menadahi air hujan dengan tapak tangannya, meminumkan sedikit air itu pada Dewi dan Nastiti untuk menghilangkan rasa perih dan panas di tenggorokan.
"Kalian akan baik-baik saja. Tunggu di sini, aku akan coba cari yang lainnya," Sunil meninggalkan kedua wanita yang masih terbaring di bawah hujan.
"Dean, tadi dia bawa kristal cahaya. Mungkin bisa jadi petunjuk," Nastiti memberi tau apa yang diingatnya.
__ADS_1
"Oke," sahut Sunil.
Sunil mencari bayangan cahaya ungu di dalam kabut. Tampak cahaya ungu samar di sebelah kanan pintu gua. Sunil dengan susah payah mencari jalan, beberapa kali dia terpeleset karena licin.
'Kenapa lantai gua jadi licin begini? Biasanya selalu kering. Apakah air kolam itu luber saat lantai gua bergoyang tadi?' pikir Sunil
"Dean, Dean. Dimana kau. Beri aku kode Dean!" Teriak Sunil lantang.
Tak ada jawaban. Tapi cahaya ungu itu sudah makin dekat. Tiba-tiba kaki Sunil tersandung sesuatu dan membuatnya jatuh.
"Auww. Adduuuhh.. Sakit banget," Sunil mengibas-ngibaskan tangannya yang perih karena menahan beban tubuhnya saat jatuh.
"Apa ini?" gumam Sunil memeriksa sesuatu yang membuatnya tersandung tadi. 'Ini seperti tubuh seseorang' batin Sunil. Lalu dijangkaunya kristal cahaya yang tak jauh di depan. Kristal cahaya itu dipakai untuk memperjelas tubuh yang ditemukannya.
"Dean! Dean. Kau bisa mendengarku?" Sunil mengguncang tubuh Dean, tapi tak ada jawaban sama sekali.
Sunil mengantongi kristal cahaya lalu memapah tubuh Dean yang lebih kekar darinya.
"Kau harus diet Dean, berat sekali nih." omel Sunil sambil terus melangkah keluar gua.
Dean di baringkan di tanah di dekat Dewi dan Nastiti yang kini sudah berjongkok kedinginan. Hujan sudah berhenti, jadi tak ada air untuk membasuh wajah Dean yang penuh debu.
"Kita harus ambil air pancuran. Tapi gelap, aku takut tergelincir," ujar Nastiti.
"Kalian urus Dean. Aku harus secepatnya mencari Alan dan Widuri," kata Sunil cemas.
Makin lama berada di ruang berdebu, akan makin bahaya untuk mereka. Jadi harus segera dibawa keluar.
Sunil kembali memasuki gua. kali ini tampaknya kabut debu itu sudah makin menipis di udara. Mungkin sudah mulai turun dan mengendap di lantai gua. Tapi bukan berarti bahaya sudah hilang, karena berarti debu yang masih melayang itu adalah partikel debu yang sangat halus dan ringan. Itu lebih mudah terbawa ke paru-paru jika terlalu lama di situ.
Pandangan Sunil mulai terbantu, meski jarak pandang masih pendek, tapi itu sudah lumayan, karena Sunil mulai dapat membedakan warna batu yang hitam serta domba yang putih buram. Domba?! 'Ah ya, tadi Widuri ada di dekat domba-domba' batin Sunil.
Dipercepatnya langkah menuju bayang-bayang putih yang samar-samar itu.
"Alan! Widuri! Kalian dimana? Beri aku ketukan dong biar mudah carinya!" teriak Sunil sambil mendekat. Tak ada respon.
Sunil mencapai bayangan putih terdekat. Disentuhnya bayangan putih itu untuk memastikan. "Ya, ini bulu domba," gumam Sunil.
Disentuh dan dirabanya semua benda putih buram yang tergeletak, sambil mencari keberadaan Alan dan Widuri diantaranya.
"Ayolah, beri aku tanda untuk menemukan kalian. Please.." Sunil memohon sambil terus mencari. Lalu disentuhnya sesuatu yang berbeda setelah merangkak lebih jauh.
"Hei, apa kau Alan? Widuri..? Jawab aku," Sunil semakin panik. Dia tersedak dan batuk setiap kali bicara. Partikel debu yang halus sudah menerobos penutup mulut dan hidungnya.
__ADS_1
Sunil makin mendekat untuk memeriksa tubuh yang ditemukannya. Dalam keremangan kabut debu yang makin menipis, akhirnya Sunil berhasil menemukan kedua temannya yang tergeletak.
Dikepit dan diseretnya kedua orang itu menuju mulut gua. Tubuhnya terasa sangat lelah. Tapi Sunil memaksakan kakinya yang makin berdenyut untuk terus melangkah meski harus tersandung batu lagi dan lagi.
Sunil merasa langkahnya begitu lambat, hingga mulut gua itu terasa begitu jauh.
"Dewi, Nastiti, bantu aku disini!" teriak Sunil memanggil. Dia merasa tubuhnya sudah mencapai batas.
"Ya, kami datang," sahut keduanya dengan cepat masuk dan melangkah ke arah bayangan Sunil yang berdiri di tengah gua.
"Bawa Alan," kata Sunil dengan suara bergetar.
"Apa kau masih sanggup jalan?" tanya Dewi khawatir. Dia merasakan tubuh Sunil bergetar saat mereka mengambil alih Alan.
"Ya," jawab Sunil singkat.
Dicobanya menarik nafas panjang untuk melegakan paru-parunya. Tapi itu membuat Sunil makin terbatuk-batuk dan dadanya panas.
Widuri yang pingsan diseret Sunil perlahan. Dengan susah payah keduanya akhirnya sampai juga di luar. Alan merebahkan tubuhnya di tanah becek. Tangannya gemetar karena sidah menahan beban berat kelima temannya. Kakinya sakit dan ngilu, mungkin juga luka karena tersandung batu berulang kali. Tapi penyelamatan malam itu berhasil dilakukannya. Sunil merasa tubuhnya jadi seringan kapas. Dia tersenyum bahagia.
Dewi dan Nastiti mencoba menyadarkan Alan dan Widuri. Dean sudah sadar, tapi masih terbatuk-batuk di sebelah mereka. Bolak-balik Dewi dan Nastiti mengambil air untuk membasuh wajah Alan dan Widuri, hingga tak lama keduanya tersadar dan terbatuk-batuk. Dengan tergesa Dewi dan Nasti kembali ke pancuran untuk mengambil air agar keduanya bisa minum.
"Sunil, kau sangat hebat. Kau menyelamatkan kita semua. Terima kasih," kata Dewi menghampiri Sunil yang tergeletak di tanah.
Sunil tak menjawab sepatahpun, membuat Dewi panik.
"Sunil, Sunil. Kau kenapa?" tanya Dewi sambil menggoyang-goyang tubuh Sunil tapi tak ada respon.
"Sunil, jangan matii!" teriak Dewi ketakutan.
Dean yang mendengar kata-kata Dewi segera bangun dan jalan terhuyung untuk memeriksa.
"Denyut di lehernya masih ada kok, apa dia pingsan?" tanya Dean pada dirinya sendiri. Dewi tampak sedikit lega.
"Biar ku ambil air untuk membasuh wajahnya," kata Dewi sambil bangkit berdiri.
Dean melepaskan ikatan baju yang dipakai Sunil untuk menutup mulut dan hidungnya. Segera terdengar dengkuran halus keluar dari mulut Sunil. Nastiti dan Dean langsung menoleh dengan pandangan tak percaya. Sunil bukan pingsan, dia cuma tertidur.
Dewi kembali sambil membawa air yang dia tangkupkan di kedua tangannya. Dia terpaku di depan Sunil. Memandang dengan takjub.
'Bagaimana ada orang yang bisa tetap tidur meski tubuhnya sudah digoyang-goyang dengan keras?' pikir Dewi. Dengan kesal ditumpahkannya air di tangannya ke wajah Sunil yang membuatnya gelagapan dan bingung. Tampangnya terlihat lucu dan berhasil membuat Nastiti dan Dean terkekeh geli.
"Menyebalkan! Menakutiku saja." Dewi lalu meninggalkan Sunil dan duduk dekat Widuri. Tampangnya ditekuk dan cemberut.
__ADS_1
***