PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 30. Gua yang Bercahaya


__ADS_3

"Oohh, jadi kau menemukan mulut gua dengan cahaya yang terang?" Indra dan rekan-rekan lain di shelter tampak begitu gembira.


"Mulut gua yang bercahaya keputihan. Mungkin itu cahaya terang dari arah luar gua." Toni sangat bersemangat.


Pagi ini mereka pindah sarapan ke dekat lubang gua tempat Dean dan Widuri berada. Memasang perapian agar hangat, lalu makan sambil mendengarkan cerita penemuan Dean. Ada secercah harapan untuk turun gunung lewat gua itu.


"Ya, tapi aku belum menyelidikinya. Tempat itu terlihat lebih luas dari ruangan ini. Hanya saja letaknya lebih rendah. Ada jalan menurun berbatu di situ. Aku batal turun karena khawatir sulit naik lagi sementara Widuri belum tau jika aku di situ." Dean menjelaskan alasannya.


"Mungkin butuh tali untuk bisa naik dan turun" Alan mengatakan pemikirannya.


"Ku rasa juga begitu. Harus ada pegangan agar bisa naik dan turun dengan aman." Dean sepemikiran dengan Alan.


"Lalu bagaimana dengan buku catatan yang kau temukan? Sudah selesai dibaca?" Nastiti ingin tau.


"Yaa. Mungkin ada petunjuk di situ," Silvia menambahkan dengan penuh harapan.


"Baru ku baca setengah halaman. Malam hari cahaya tak cukup terang untuk membaca. Tapi dari yang tertulis di sini, mereka berasal Bordeaux, menyusuri sungai Gironde menuju teluk Biscay di samudra atlantik dengan perhitungan perjalanan paling lama 15 hari pulang pergi, hanya untuk berbulan madu. Mereka juga tidak tau kenapa bisa berada di tempat ini, dan tidak tau ini di negara mana," Dean membuka buku yang dipegangnya.


"Dari samudra atlantik terdampar di sini. Kita dari Indonesia juga terdampar di sini. Bagaimana bisa?" Leon tak percaya.


"Begitulah yang tertulis. Mereka naik kapal layar kecil bersama pasangan lain yang lebih tua beserta nakhoda dan pekerja kapal, totalnya 10 orang. Tapi saat sadar di hutan ini, hanya tinggal 7 orang. Aku baru baca sampai bagian ini." Dean menunjukkan halaman yang ditandainya dengan ranting pinus.


"Baiklah.. kau teruskan dulu membaca buku itu. Sementara kita sudah selesai sarapan. Lebih baik kita mulai membuat tali." Indra mengusulkan.


"Apa kau tau cara membuat tali?" Dewi bertanya pada Indra yang dibalas dengan gelengan.

__ADS_1


"Tidak tau. Ada yang tau cara membuat tali?" Indra tersenyum miring sambil menggaruk kepalanya yang sudah 2 minggu tak dicuci.


Semua yang disitu menggeleng tak berdaya. Alangkah tidak mudahnya. Sebentar tampak cahaya harapan, tapi sekejap redup karena bahkan cara bikin tali pun mereka tak tau. Wajah-wajah lesu itu membuat Indra berpikir keras, 'jangan sampai mereka kehilangan harapan' batin Indra.


"Begini saja. Sebagian dari kita lakukan hal lain dulu. Kumpulkan suplai makanan lebih dulu. Jika kita memutuskan untuk turun, bukankan akan sulit untuk naik dan mencari makanan di sini? Jadi harus dikumpulkan cukup banyak dulu agar aman." Saran Indra disetujui Alan dan Gilang yang dengan cepat mengangguk.


"Betul, lebih baik seperti itu saja. Lagi pula, harusnya tim 3 sampai hari ini. Mungkin Robert punya cara agar kita bisa turun ke bawah." Angel menambahkan. Yang lain menyetujui dengan anggukan.


"Jadi seperti itu saja Dean. Kau selesaikan buku itu sementara kami bersiap dan mengumpulkan persediaan di sini. Kita juga perlu menyiapkan shelter tambahan untuk tim 3. Sebelum kami pergi, apa kalian butuh yang lain lagi Dean?" tanya Indra.


Dean menoleh pada Widuri, bertanya lewat tatapannya. "Tidak. Makanan kami cukup hingga sore. Mungkin perlu tambahan salju untuk air minum dan kayu saja nanti sore." Widuri yang akhirnya menjawab.


"Baik, kami pergi dulu." Indra bangkit berdiri dari duduknya dan berjalan pergi diikuti rekannya yang lain. Tapi masih ada Marianne yang masih berdiri di situ. Dengan ragu dia berteriak pada Dean.


"Dean, bagaimana pendapatmu jika membuat tali dari kain-kain yang digunting?"


"Baik Dean, Widuri. Aku pergi dulu. Kalian baik-baiklah disitu." Marianne melambaikan tangan dan beranjak pergi.


"Ya, terima kasih Marianne," Widuri membalas lambaiannya. Kini tinggal mereka berdua di situ. Dean asik dengan bukunya sementara Widuri bingung karena tak tau harus melakukan apa.


"Dean, bagaimana kalau kau tunjukkan padaku gua tempat tambang kristal itu." suara Widuri memecah keheningan.


Dean menghentikan kegiatannya membaca buku dan menoleh pada Widuri.


"Bawa saja kristal itu sebagai penerang jalan. Kau masuk saja ke lorong itu, saat bertemu persimpangan pilih jalur kiri. Lalu kau jalan lagi. Tak lama setelah kau sampai di dinding penuh cahaya, kau akan bertemu persimpangan lagi. Arah kanan menuju tambang, arah kiri menuju tempat mereka menginap. Kau tak kan tersesat." Dean kembali menunduk dan mulai membaca lagi, dia tak tertarik untuk buang-buang waktu sekedar menunjukkan jalan gua yang tak banyak cabang itu.

__ADS_1


'Selama dia ikuti perkataanku, dia akan aman dan tak kan tersesat.' Dalam pandangan Dean, menyelesaikan buku ini jauh lebih penting untuk semua orang.


Widuri terperangah dengan sikap dingin Dean. 'Apa dia masih kesal padaku?' pikirnya.


"Baik, aku jalan melihat-lihat dulu." Widuri menyandang tas selempangnya, memasukkan botol berisi air, mengambil kristal ungu yang bercahaya redup itu dan tombak runcing lalu berjalan memasuki lorong.


Lebih baik tak menggubris sikap dingin Dean, atau dia akan emosi dan mengeluarkan kata-kata pedas lagi. Mereka hanya berdua, alangkah tidak enaknya jika tidak bisa akur. 'Gua ini akan terasa sempit jika dihuni orang yang saling benci. Jadi sabarlah Widuri..' Widuri menghela nafas panjang membuang rasa jengkelnya.


Setelah beberapa meter melangkah, cahaya pada kristal tampak semakin kuat. Itu cukup untuk menerangi jalan Widuri agar tidak tersandung oleh beberapa batu yang mencuat serta tak rata. Cukup lama berjalan menuju persimpangan pertama. Widuri mengikuti petunjuk Dean dan memilih arah kiri untuk mencapai persimpangan kedua. Tak lama berselang dia dibuat takjub melihat lorong gua di depannya terlihat terang dengan cahaya pink keunguan. Widuri mendekati tempat itu dan memperhatikan dengan seksama. 'Ya, batu kristal di sini disusun begitu rupa sebagai pengganti lampu. Hebat sekali.'


Widuri melanjutkan langkahnya lalu memilih jalur kanan menuju gua tambang kristal ungu tersebut. Dia tak merasa lelah karena hatinya dipenuhi keingintahuan yang besar, seperti apa kira-kira tampilan gua yang seluruh dinding, lantai dan atapnya terbuat dari kristal cahaya? Pasti menakjubkan. Hanya membayangkannya saja dia sudah merasa sangat bersemangat.


Tak lama dia melihat cahaya ungu yang makin kuat dari arah depannya. 'Wahh,, sudah dekat.' Widuri setengah berlari menuju cahaya itu. Baru sampai di mulut gua, mulutnya terbuka.. "Wow.. amazing," Widuri bicara sendiri. Kakinya masuk dan berjalan hati-hati agar tidak ada kristal yang pecah karena terinjak olehnya. Dia berjalan ke sana kemari mengamati tiap kristal. Semua bercahaya dengan cemerlang.


'Tempat ini sangat indah. Aku harus mengabadikannya.' Widuri mengeluarkan ponsel dari saku tas yang tak pernah dinyalakannya lagi sejak terakhir mencoba mencari sinyal di lokasi runtuhan pesawat. Dinyalakannya ponsel lalu mengambil foto gua itu. Dan membuat foto selfi dirinya dengan latar belakang gua. Dia melihat foto di ponsel. 'Luar biasa,' batinnya kagum. Lalu dimatikannya ponsel dan menyimpannya lagi ke dalam saku tas.


Widuri berjalan ke arah lain. Dia menemukan beberapa kristal yang menonjol. Digunakannya tombak untuk mengungkit kristal itu dari tumpukan kristal lain. "Tidak terlalu mudah ternyata, pantas saja Dean menyuruhku menambangnya sendiri jika mau," Widuri bergumam.


'Ahh, coba pukul pelan-pelan. Semoga tak pecah berantakan' pikirnya. Lalu diarahkannya batang tombak kayu itu ke bagian bawah kristal yang tersangkut. Dipukulnya pelan.. Tukk.. Krakkk.. Kristal itu patah setengah ukuran semula dan jatuh dekat kaki Widuri. Dipungutnya lalu menimbang-nimbang dengan tangannya. Kristal seukuran telapak tangan itu tidak terasa berat untuknya.


Dengan penuh semangat Widuri mencari lagi kristal lain yang bisa diambil. Beberapa saat kemudian dia sudah mengumpulkan cukup banyak kristal ungu dan menyimpannya dalam tas. 'Sudah cukup di sini. Aku ingin melihat ruangan tempat mereka tinggal.'


Widuri keluar dari tambang dan mengikuti jalan semula hingga bertemu persimpangan lalu berbelok ke kanan menuju ruangan tempat mereka menginap. Disana tidak ada hal yang menarik perhatiannya. Ruangan itu nyaris kosong melompong. Hanya ada wadah makan dan minum yang dibuat dari kayu.


"Tampaknya masih bisa digunakan. Bawa saja." pikirnya.

__ADS_1


Tak lama Widuri di situ lalu keluar dan berjalan kembali ke tempat Dean berada. Dia sudah merasa lelah kini. Rasa penasaran yang memberinya tenaga ekstra sudah hilang, jadi tubuhnya harus menghadapi realita. Berjalan sangat jauh menyusuri lorong gua, pastilah merasa lelah.


***


__ADS_2