PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 32. Jurang


__ADS_3

Sambil berjalan Indra mengatakan semua informasi dari Dean. Robert dan dokter Chandra sangat antusias. Dengan segera mereka sampai di mulut lubang. Dean masih terlihat duduk sambil membaca tepat di bawah cahaya.


"Dean. Apa kau mengingat suaraku? Robert berteriak penuh semangat setelah berjongkok.


"Yang punya suara jelek seperti itu hanya satu orang di tim, bagaimana mungkin lupa. Apa kabarmu Robert? Apa lukamu sudah sembuh?" Dean membalas sambil tersenyum.


"Hahaa.. ya.. ya.. ini aku. Lukanya sudah sembuh. Tak ada masalah." Robert tergelak disebut bersuara jelek.


"Hai Dean, apa di bawah baik-baik saja?" kali ini dokter Chandra yang angkat bicara.


"Sangat baik dok, sampai terasa bosan karena hanya bisa membaca saja sejak pagi. Sepertinya tempat ini cocok untuk orang yang ingin libur dan beristirahat tanpa melakukan hal lain," senyum Dean masih terpampang.


"Jangan terus tersenyum seperti itu, nanti aku jatuh cinta padamu," Indra nimbrung bicara.


"Hahahh.." Mereka tergelak tertawa mendengar lelucon itu.


"Atau kau sengaja ikut turun ke situ karena jatuh cinta pada Widuri?" Robert melempar gosip sembarangan, disambut riuh tawa ketiga rekannya.


"Bagaimana Widuri? Apa kau sudah mulai jatuh cinta pada Dean? Bukankah sudah 2 hari kau hanya melihat senyum Dean?" Robert kembali menggoda dan tawa kembali meledak.


"Widuri tak ada di sini, jadi tak perlu mendengar gosip yang kalian buat," Dean membalas ledekan Robert dengan senyum lebar penuh kemenangan.


"Dimana dia?" tanya dokter Chandra. Dia mulai duduk di daun-daun pinus yang berserakan saat Indra menyalakan kembali api untuk mengurangi dingin.


"Dia ingin melihat gua tempat kristal ungu itu diambil." Dean menjelaskan.


"Benarkah itu bisa bercahaya? Apa kristal itu mengandung posphor hingga bisa bercahaya dalam gelap?" Robert heran.


"Aku juga tidak tau persisnya. Tapi bukannya pospor akan menyala dalam gelap setelah terpapar sinar matahari? Di sini kan tidak ada matahari." Dean juga tak bisa menebak itu jenis kristal apa hingga bisa menyala dalam gelap.


"Hmmm, benar juga," gumam Robert sambil menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Tapi bagaimanapun baguslah jika kalian menemukan kristal itu. jadi ada penerangan saat menyusuri lorong gua." tambahnya lagi.


"Jadi kau butuh tali lebih dulu untuk memeriksa mulut gua yang bercahaya putih itu?" dokter Chandra memastikan.


"Ya. Aku butuh tali untuk pegangan saat turun atau naik. Ruangan gua itu tidak terlalu tinggi, tapi dipenuhi batu-batu besar dan agak curam, sulit untuk bisa naik tanpa alat." Dean kembali menekankan penjelasannya.


"Ya Dean, aku tadi sudah meminta Marianne dan Silvia untuk membuatkan tali untuk itu. Tapi untuk menuruni lubang ini, kami harus mencari alternatif lain," kata Indra.


"Terima kasih In." Dean menambahkan, "maaf sudah sangat menyulitkan kalian."


"Siapa yang datang Dean?" Suara Widuri mengiringi langkah kakinya yang keluar dari lorong gua.


"Itu Robert, dokter Chandra dan Indra," Dean menunjuk ke atas.


"Hai Widuri, bagaimana hasil eksplorasimu hari ini?" dokter Chandra menyapa Widuri saat mendengar suaranya.


"Ah dok, aku berhasil mendapatkan beberapa kristal ungu tadi." Widuri berjalan ke bawah lubang gua lalu mengeluarkan kristal-kristal itu dari tas dan menunjukkannya pada teman-temannya di atas.


"Kristal ini hanya akan menyala jika berada di tempat gelap," Widuri kembali menjelaskan.


"Andai kalian bisa melihat ruang tambang itu, kalian akan takjub. Satu ruangan penuh kristal dengan cahaya ungu berpendaran dari lantai sampai langit-langitnya. Indah sekali."


Widuri bicara dengan suara dan wajah yang masih terpukau. Matanya tertutup membayangkan sementara bibirnya mengulas senyum manis.


Dean terpesona melihat sosok itu yang tampak seperti peri di bawah cahaya matahari yang membias masuk dari lubang di atas kepala Widuri.


"Yah, untuk sementara, rasa penasaran itu harus kami simpan," sahut Robert.


"Lalu bagaimana dengan isi buku catatan itu Dean?" pertanyaan dialihkan pada Dean.


"Ah, iya. Dari perjalanan mereka, hanya selamat 7 orang. Eugene, istri dan kedua pelayan mereka. Lalu kedua pasangan tua dan seorang pelayannya. Sementara awak kapal layar itu tak ada yang ditemukan. Namun ditulis di sini bahwa istri pasangan tua itu terluka dan tewas setelah 5 hari mereka di sini. Ketika mereka mencapai tempat ini, pria tua itu menyusul istrinya setelah mengalami luka-luka akibat serangan serigala." Dean berhenti sejenak.

__ADS_1


"Mereka berdiam cukup lama di hutan karena Cerise lemah akibat kehamilannya. Kebun ubi, wortel dan bawang itu juga mereka yang tanam, dari sisa perbekalan yang dibawa kapal layar. Tapi mereka sering berpindah untuk menghindari serangan serigala. Hingga akhirnya sampai di sini juga tak sengaja seperti Widuri. Cerise terperosok jatuh dan kehamilannya mengalami perdarahan. Tapi yang pertama diturunkan adalah pelayan wanitanya, untuk membantunya mengatasi masalah. Sementara Eugene dan kedua pelayan yang tersisa berusaha mengumpulkan bahan makanan dan mengirimkan ke dalam lubang. Yaahh, persis keadaan kami saat ini lah," Dean tertawa sumbang.


Di atas, ketiga orang temannya terdiam mendengarkan.


"Lalu bagaimana dengan Cerise yang jatuh?" cahaya mata Widuri tampak redup. Dean menghela nafas melihatnya seperti itu. Merambat rasa tak nyaman di hatinya saat mata Widuri seakan kehilangan cahaya.


"Cerise keguguran setelah terjatuh dengan ketinggian seperti ini. Karena hanya dirawat seadanya oleh pelayan, kesehatannya terus memburuk. Sementara di atas, suaminya memutuskan untuk kembali ke tempat mereka pertama terdampar untuk mengambil tali dari kapal layar agar bisa mengangkat Cerise. Berdua dengan pelayan pria tua, Eugene pergi meninggalkan Cerise yang hanya dijaga oleh pelayan prianya yang terus setia mengirim kayu api dan perbekalan lain." Dean menundukkan kepala, Widuri terdiam tak kuasa membayangkan penderitaan Cerise Matanya terasa lembab berembun.


"Apa masih mau dilanjutkan?" Dean bertanya saat menyadari keheningan di tempat itu.


"Ah, ya. tentu saja. Lanjutkan ceritamu." Widuri segera tersadar, menjawab dengan suara tercekat lalu mengangguk.


"Berhenti menaburkan bawang Dean, ceritakan intinya saja. Apakah mereka menemukan jalan keluar dari gua? Bagaimana dengan pintu yang bercahaya itu?" Robert menyela.


Dean tersenyum mendengar kata-kata Robert yang langsung membuat Widuri menoleh ke atas ingin membantah, tapi tak jadi.


"Baik, aku lanjutkan. Dalam perjalanan kembali dengan membawa tali, pelayan yang bersamanya menjadi korban serigala untuk melindunginya. Saat tiba di sini, pelayan lain yang menjaga juga turut menjadi korban. Tinggal Eugene sendiri dan tak punya pilihan lain selain turun berkumpul dengan Cerise. Dia mengikat batang pohon mati dengan seutas tali lalu diturunkan ke bawah dan mengikatkan ujung tali lainnya ke batang pohon lain yang tumbuh tak jauh dari sini. Tali lain yang dibawa dia lemparkan ke bawah termasuk perbekalan yang dikumpulkan sepanjang perjalanan dan persediaan air dengan menumpuk salju ke dalam lubang. Lalu dia turun dengan berpegangan pada pohon yang tergantung di mulut lubang. Hampir sama seperti saat aku turun beberapa hari lalu. Hanya saja saat itu batang pohonnya dipegangi." Dean tersenyum lebar.


"Yaa.. kita bisa lakukan dengan cara itu juga. Mengikat batang pohon dengan tali ke pohon lain sebagai penahan." Indra berseru dengan senang. Robert menganggukkan kepala menyetujui.


"Lalu bagaimana dengan pintu keluar itu?" dokter Chandra tak sabar.


"Eugene menuliskan, dia memeriksa seluruh lorong gua. Menemukan ruang kosong dan menempatkan istrinya di situ. Menemukan tambang kristal dan menggunakannya sebagai penerangan. Menemukan juga gua dengan pintu bercahaya dan sumber air bersih di bawah situ, tapi tidak bisa melihat ke arah luar menembus cahaya putih itu. Setelah sekitar sepekan, karena istrinya sudah sangat lemah dan persediaan mereka hampir habis dia meminta pelayan wanitanya untuk memeriksa keluar dari pintu cahaya, membawa Sekeping liontin emas istrinya untuk membeli bahan makanan jika menemukan perkampungan. Tapi pelayan itu tak pernah kembali setelah melewati pintu itu." Dean menjeda ceritanya sejenak..


"Eugene hanya menuliskan:


"Aku merasakan seperti tanganku yang memegang tangannya tertarik ke arah bawah saat dia berjalan melewati pintu itu. Apakah pintu gua ini langsung menghadap jurang makanya ditutup agar tak ada yang mencoba melintas? Tapi aku tak mendengar teriakannya meskipun genggamannya makin kuat. Aku sudah mencoba menariknya kembali, tapi tak bisa. Dia sudah lepas dari tanganku. Aku tak mengatakan hal ini pada Cerise karena aku tau rasa kasih sayang mereka berdua. Wanita itu sudah melayani Cerise sejak dia kecil. Aku sedih mengingatnya, aku bersalah padanya. Aku yang memintanya untuk keluar gua lalu jatuh ke jurang." Dean membacakan kata demi kata yang tertulis di buku itu.


Keempat orang yang mendengar kata-kata Dean langsung terdiam. 'Jurang?' pikir mereka dengan galau.


***

__ADS_1


__ADS_2