
Malam ini hujan turun lumayan deras, disertai petir. Hal itu membuat semua orang akhirnya tak bisa tidur karena shelter yang hanya beralas tanah dan dedaunan ikutan becek.
Saat ini baru disadari bahwa 2 shelter tak cukup untuk menampung mereka semua. Seluruh anggota tim itu tidur sambil duduk berdesakan. Tak ada yang bisa tidur di dekat perapian karena perapian juga padam diguyur hujan.
Robert merasa prihatin dengan keadaan saat ini. Meski berlindung di shelter, tapi mereka tetap kebasahan karena dinding shelter hanya terbuat dari dedaunan sekedarnya. Hujan salju tentu sangat berbeda dengan hujan air yang benar-benar basah.
*
Saat sinar matahari mulai menerangi langit dengan sinar keemasannya, semua orang sudah keluar dari shelter yang basah. Hujan memang sudah berhenti, tapi suasana terasa tak semenyenangkan pagi sebelumnya. Mereka terlihat lesu, lelah dan kedinginan karena nyaris tidak tidur hingga pagi.
"Saya tau semua lesu dan ngantuk, tapi kita tak bisa istirahat sebelum membenahi shelter. Jadi hal utama pagi ini adalah membenahi shelter dan 3 orang wanita menyiapkan bahan makanan." Kata Robert mencoba memberi pengertian pada semuanya.
"Itu benar. Kita harus bereskan kekacauan ini lebih dulu agar bisa segera istirahat," dokter Chandra mendukung Robert.
Tugas segera dibagi, Gilang dan Michael bertugas mengambil daun-daun pisang di rumpun pisang yang ditemukan Gilang kemarin serta membawa buah-buahan jika ada. Marianne, Laras dan Angel membenahi shelter. Toni, Leon, Liam dokter Chandra dan Robert memperbaiki shelter agar layak huni. Robert menyarankan agar shelter dipindah ke tempat yang lebih tinggi dan cukup jauh dari tepi sungai untuk menghindari dampak jika sungai kecil itu meluap akibat hujan deras. Mereka mengikuti arahan Robert dan bekerja dengan giat.
Indra, Niken dan Silvia mendapat tugas mengumpulkan bahan makanan. Indra mengajak kedua wanita itu ke arah sungai untuk memeriksa bubu yang dipasang sehari sebelumnya.
Permukaan sungai terlihat sedikit naik dan airnya agak keruh. 'Semoga bubu itu tidak dihanyutkan air deras' batin Indra. Indra berjalan hati-hati di bebatuan yang sebelumnya dia susun sebagai penanda letak bubu. Kemarin bagian atas bebatuan itu masih ada di atas air, sekarang sudah berada sedikit dibawah permukaan air. Indra meraba di bawah aliran air mencari bubu yang dipasang.
"Aku menemukannya." seru Indra sambil mengangkat anyaman keranjang jebakan tersebut.
Susah payah Indra mencoba mengangkatnya.
"Berat banget nih, bantu angkat sini," panggil Indra pada Niken dan Silvi.
Kedua wanita itu akhirnya ikut turun ke sungai dengan berhati-hati. 'Basah lagi deh' batin keduanya.
"Ayo, angkat sama-sama." Indra memberi aba-aba.
"Satu, dua, tigaa," teriak ketiganya sembari mengangkat bubu ikan itu.
"Hah! heheh.. berhasil juga dalam percobaan pertama." Niken berseru bangga, membuat kedua temannya ikut tersenyum miring.
"Sudah, ayo bawa dulu ini ke tepian." Mereka bertiga mengangkat bubu dan membawanya ke tepian bersama-sama. Bubu itu sangat berat. Indra menatap khawatir.
"Panggil Robert. Aku khawatir itu ular atau sejenis yang berbahaya," ucap Indra.
Silvia berlari ke shelter dan memanggil Robert untuk datang. Mereka kembali dengan membawa 2 tombak serta satu pisau besar yang selalu terselip di pinggang Robert.
__ADS_1
"Mari kita balikkan dulu agar isinya tumpah," Robert memegang bubu untuk membantu Indra membalikkan nya di tanah.
Brakk... Bubu terbalik dengan keras dan posisi tertelungkup.
"Menjauh dulu, biar dibuka pakai kayu saja." seru Robert. Ketiga rekannya menjauh dari situ, sementara Robert bergerak sejauh jangkauan tombaknya. Lalu dimiringkannya bubu itu agar seluruh isinya tumpah.
"Aahh,, binatang apa itu?" tanya Laras memperhatikan makhluk kecil berbulu coklat abu-abu itu.
"Tampak seperti berang-berang," gumam Robert sambil mencolek tubuh binatang yang tak bergerak itu.
"Itu pingsan atau sudah mati?" tanya Niken. Robert menggeleng pelan.
"Mungkin dia hanyut. Air sungai kan naik pagi ini akibat hujan." Laras berasumsi.
"Biarkan saja dia disini. Mereka biasanya hidup berkelompok. Biar nanti ditemukan oleh keluarganya sendiri," Robert mengangkat dan memindahkan binatang itu ke tempat lebih tinggi.
"Karena ikan pagi ini cukup banyak, maka sebaiknya bersihkan semua ikan lalu diasapi agar awet," saran Robert.
"Baiklah," sahut Laras dan Niken.
"Masih ada satu bubu lagi di kolam air terjun," kata Indra.
Air terjun yang turun kali ini cukup deras, mengakibatkan pasir di dasar kolam bergulung-gulung naik dan membuat air keruh. Robert tak bisa melihat dasar kolam. Dengan cepat diangkatnya bubu yang sore sebelumnya diletakkan disitu. Hasil mereka cukup banyak, tapi tak bisa memeriksa dasar kolam karena airnya terlalu keruh.
"Apa kita perlu mencari kerang di pantai?" tanya Indra.
"Kalau kau ingin mengumpulkan kerang, silakan. Tapi aku harus membantu pembuatan shelter agar cepat selesai." Robert menolak.
"Sebentar ku bawa bubu ini nanti ku lempar dari atas untuk tempat kau membawa kerang," tawar Robert.
Indra mengangguk, menunggu Robert naik dan melemparkan keranjang bubu.
Robert mengajari mereka bagaimana melapisi dinding shelter dengan daun pisang lebih dulu sebelum menutupnya dengan dedaunan, agar air tak mudah menerobos masuk. Gilang dan Michael membawa banyak daun pisang untuk dipakai. mereka membawanya dengan hati-hati agar tak banyak daun yang sobek.
Kedua shelter sudah selesai. Kali ini Robert menunjukkan cara membuat lantai shelter dengan anyaman ranting willow agar mereka bisa tetap tidur tanpa kebasahan disaat hujan. Robert memangkas semua ranting willow yang terdekat untuk digunakan di shelter.
Siang hari, makanan sudah siap. Mereka kelaparan hari ini, karena mendahulukan kerja sebelum sarapan. Semua makan dengan lahap tanpa banyak bicara. Robert juga tampak kelelahan hingga tak memberi instruksi apapun.
Selesai sarapan Robert meninggalkan perapian, membaringkan dirinya di atas batu besar tak jauh dari tebing. Yang lain mengikuti langkahnya untuk beristirahat.
__ADS_1
Marianne memeriksa ikan-ikan di rak kayu yang dibungkus daun mangga dan daun pisang. Rak kayu itu juga berlapis tumpukan daun. Diletakkan Marianne di atas bara dengan api kecil agar dijarak yang cukup agar tak sampai membuat dedaunan itu terbakar. Dia hanya ingin mengasapinya, bukan memanggangnya.
"Marianne menumpuk daun-daun willow lebih banyak dekat perapian untuk digunakan sebagai alas tidur.
Siang itu mereka tidur dengan lelap karena udara yang nyaman, matahari tertutup awan dan angin sejuk berhembus semilir membuai.
Robert bangun lebih dulu lalu memeriksa lagi keadaan shelter. Itu cukup memadai, tapi Robert tidak merasa puas sama sekali. Tapi saat ini bukan hal mudah untuk mengumpulkan bahan membuat hunian, air sungai meninggi membuatnya khawatir untuk mengambil ranting willow yang banyak tumbuh di seberang sungai.
Robert melihat Marianne tertidur pulas tak jauh dari perapian. Ditambahkannya kayu pada bara agar api tetap menyala. Ikan-ikan dibalikkan agar matangnya merata. Lalu Robert berjalan ke arah sungai dan berhenti di tepian.
Robert berjongkok tak jauh dari semak-semak. Sehabis hujan tadi malam, tanah yang licin menampakkan warna aslinya saat diinjak. Tanah disitu terlihat seperti lempung. Robert mencongkel dengan pisau dan mengambil sedikit tanah kemerahan itu lalu merasakan teksturnya dengan kedua jarinya.
'Yap. ini tanah lempung. Bagus sekali' Robert berkata dalam hati. Lalu dengan sigap dikumpulkannya cukup banyak lempung dan membawanya ke dekat Marianne tidur.
Dengan alas sebuah batu yang agak datar, Robert mencampur dan mengaduk-aduk lempung dengan kedua tangannya hingga halus dan lembut. Robert mengambil sebagian lempung lalu membentuknya dengan hati-hati.
"Apa yang kau buat?" suara dokter Chandra terdengar dari belakang.
"Entahlah.. Kita lihat saja tanah ini ingin jadi apa. Hehee," Robert terkekeh melihat benda abstrak yang dikerjakannya itu. Dokter Chandra ikut terkekeh geli.
Marianne yang tidur tak jauh dari situ lalu terbangun. Diperhatikannya apa yang dikerjakan Robert.
"Kita butuh piring, mangkuk dan cangkir. Apa kau bisa membuatnya?" tanya Marianne ingin tau.
Hahaa.. Robert tertawa dengan keras. "Kau mengejekku ya?" tanya Robert sambil tertawa geli.
"Aku sungguhan berharap kau bisa membuatnya, biar kita tak lagi makan dengan alas daun." Marianne serius.
"Aku bukan ahli gerabah Marianne," Robert tersenyum.
"Tapi disini kita harus mencoba menembus batas ketidakmampuan kita. Jadi silakan coba buat sesuatu yang sederhana dulu." Robert mendorong minat Marianne.
"Yaa, buat yang sederhana dulu," dokter Chandra terlihat tertarik. Diambilnya lempung yang sudah dihaluskan Robert lalu meletakkannya di atas batu dan mulai membentuknya.
"Bentuk apa yang paling sederhana?" Marianne tampak mulai penasaran.
"Hmmm, piring atau sendok mungkin?" sahut dokter Chandra asal-asalan.
"Ahh ya. Sendok. Biar ku coba buat sendok dulu," Marianne akhirnya ikutan main lumpur.
__ADS_1
***