PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 214. Cerita Dokter Chandra


__ADS_3

Dean kembali ke rumah lebih cepat. Sementara Yabie masih membantu Mattew dan Kenny menyiapkan lahan untuk menanam ubi. Yabie menjanjikan akan membawakan bibit tanaman lain dari kota.


Mattew dan Kenny sangat senang. Hal paling penting adalah ketersediaan bahan pokok. Jika mereka bisa menanam aneka macam tanaman, bukankah mereka bisa mandiri ke depannya?


Untuk produk susu, dan pemeliharaan ternak, itu tugas Liam dan Laras, dibantu dua orang anak laki-laki. Yabie akan meminjamkan bibit domba dan bibit sapi yang sedang mengandung untuk dipelihara di dalam kota. Mereka bisa mengambil susu setelah bayi ternak lahir, hingga cukup kuat untuk dilepaskan. Lalu induknya akan diambil Yabie kembali. Sementara anaknya bisa mereka pelihara.


Dan tadi Dean juga berjanji akan membawa cukup bibit ikan dari laut air tawar. Ikan-ikan itu akan dilepaskan di saluran air yang mengelilingi kota itu. Air yang tak henti mengalir itu berasal dari dunia kecil di belakang kediaman Yabie.


Dean berusaha membimbing Yabie untuk bertanggungjawab atas kemajuan kota kecil miliknya itu. Kota itu harus layak ditempati dulu, baru dia bisa menikmati hasilnya.


*


*


"Ahh, kau kembali lebih cepat. Sepertinya percobaanmu gagal ya?" tebak Nastiti.


"Begitulah. Domba itu lenyap, tak bisa kembali lagi," jawab Dean jujur.


"Oh ya, Apakah Sunil sudah memanen buah apel yang dikatakannya?" tanya Dean.


"Sudah. Marianne sedang membuat fla apel untuk pie. Tadi Widuri juga sudah selesai membuat selai dan juice blueberry." Nastiti menjelaskan kegiatan mereka.


"Lalu kau dan Niken melakukan apa?" tanya Dean sambil berlalu.


Nastiti termangu. Lalu segera berteriak sebelum Dean menjauh.


"Hei, jangan mengira aku tak melakukan apa-apa ya. Aku membantu mereka menyiapkan ini itu!"


"Aku tak bilang begitu," sahut Dean membela diri.


"Huh.. dikira aku cuma duduk-duduk saja ya?" Nastiti kesal sekali.


"Ayo sini...," panggil Niken. Dia sedang menyaring santan kelapa untuk dijadikan minyak.


Di tempat lain, Indra dan Michael mengupas sabut kelapa dan mencungkil batoknya. Dokter Chandra menggiling daging kelapa hingga hancur.


Akhirnya Nastiti kembali membantu di dapur.


Semua orang sangat sibuk hari itu. Dean membantu di kebun bersama Sunil dan Alan. Bahkan pembuatan minyak masih terus dilanjutkan hingga malam.


"Lalu apa rencanamu selanjutnya dengan tempat itu?" tanya Alan.


"Entahlah. Masih ada satu celah lagi yang belum diperiksa. Tapi Yabie menolak untuk mengorbankan dombanya lagi," ujar Dean.


"Aku pernah melihat orang menjual ayam di kota," kata Sunil.

__ADS_1


Dean menimbang-nimbang pilihan itu.


"Besok kita tanya dulu berapa harganya." Dean akhirnya memutuskan.


Setelah membereskan segala sesuatu, para wanita beristirahat. Tapi Dean masih berjaga untuk menyelesaikan pembuatan minyak yang belum matang sepenuhnya. Ada dokter Chandra juga di situ yang belum ingin tidur.


Cloudy menemani Dean dan ikut duduk dekat dengan tungku tempat masak minyak.


"Dean, aku ingin menceritakan sesuatu padamu. Entah apakah cerita ini penting untukmu, atau tidak. Tapi aku tak bisa menyimpannya lagi," kata dokter Chandra.


Dean menatap dokter Chandra heran.


"Tentang apa dok?"


"Kau tentu ingat aku pernah betada di negri dongeng bersama Robert dan yang lainnya." Dokter Chandra mengingatkan Dean.


"Hemm, ya. Setelah itu kalian berperahu menuju dunia lain, lalu terdampar di pantai," jawab Dean.


"Dan kau tentu ingat aku bercerita bahwa Angel menikah dengan pangeran bangsa Elf."


"Ya, aku ingat. Karena itu pula aku nekat menikahi Widuri di sini." Dean tersenyum. Tangannya tak lepas dari mengaduk kuali tanah yang sedang memasak minyak.


"Nah, selain mengobati ayah mertua Angel, aku juga mencoba mengobati kakek buyutnya Glenn yang merupakan tetua klan Penyihir."


Dokter Chandra menunduk.


Dean diam. Masih belum mengerti apa maksud pembicaraan ini. Jadi dia menunggu dokter Chandra melanjutkan ceritanya.


"Tapi sebelum dia meninggal, dia menceritakan sesuatu yang menarik." Dokter Chandra menjeda kalimatnya. Ingin tau reaksi Dean. Tapi Dean hanya diam mendengar sambil mengaduk minyak.


'Apa aku perlu menceritakan ini? Dia sepertinya tak tertarik. Atau, sebenarnya cuma aku yang penasaran pada mereka?' pikir dokter Chandra.


"Oh... apa itu?"


Akhirnya terdengar juga suara Dean setelah suasana hening yang lama.


Dokter Chandra mengangkat wajahnya, memperhatikan Dean yang masih tekun di depan tungku.


Dokter Chandra menghela nafas.


"Tetua itu bilang kalau dia bukan penyihir. Dia berasal dari dunia yang jauh. Di tempat bintang-bintang berada."


Dean tertegun mendengar itu. Tapi kembali melanjutkan pekerjaannya.


Dokter Chandra yang mengamati Dean sejak tadi, menyadari bahwa Dean sudah mulai menaruh perhatian pada ceritanya. Jadi dia melanjutkan.

__ADS_1


"Dia bilang, dia sedang studi saat kejadian itu berlangsung."


Dokter Chandra menceritakan apa yang dikatakan oleh tetua Klan Penyihir.


Kali ini Dean benar-benar membalikkan tubuhnya menghadap dokter Chandra.


"Dunia kami hancur? Bintang saling bertabrakan?" Dean tercenung. Pikirannya berkecamuk.


'Itukah sebabnya aku kehilangan komunikasi dengan dunia utama? Tempat itu sudah lenyap! Jutaan orang di dunia utama hilang dalam satu waktu. Aku tak dapat membayangkan kengerian prahara saat itu.' Batin Dean berkecamuk karena informasi itu.


Dean melihat ke kuali besar. Mengaduknya sebentar, lalu menyingkirkan semua bara yang ada. Biarkan minyak itu dingin dan kotorannya mengendap semalaman.


Dokter Chandra memperhatikan Dean yang berjalan keluar pelataran sambil membawa bangku.


Dean duduk bersandar dan melihat bintang-bintang di langit. Dia mereka-reka yang mana dari milyaran bintang itu yang merupakan pecahan dunia asalnya? Matanya bersinar keemasan.


Dokter Chandra meninggalkan Dean yang sedang melihat bintang. Dia yakin Dean tak kan melakukan hal bodoh setelah mendengar ceritanya.


Dean larut dalam pemikirannya saat ini. Tak menyadari dokter Chandra yang sudah pergi beristirahat ke dalam rumah.


"Cerita dokter Chandra sesuai dengan cerita ketua kota. Bahwa dunia mereka hancur. Lalu mereka dikirim ke dunia lain untuk mempertahankan ras mereka. Tapi sayangnya wanita terakhir mereka yang sedang mengandung, bahkan diculik bangsa lain."


Dean berusahan menyatukan kepingan-kepingan cerita yang didapatnya.


"Ahhh!" Dean terkesiap. Dia duduk dengan tegak dan mulai berfikir keras.


"Mungkinkah dunia kecil misterius yang belum bisa kami periksa itu juga merupakan penduduk bintang lainnya? Bangsa lain? Cahaya terang yang dipancarkannya itu. Mungkinkah sinyal pemanggil pada dunia asalnya? Sinyal komunikasi atau semacam suar penanda lokasi mereka?"


Dean merasa bersemangat dengan dugaan-dugaannya. Dia jadi semakin ingin mengetahui tentang dunia misterius itu serta penghuninya.


"Apakah selama ini mereka mengirim pesan permintaan penyelamatan? Tapi karena prahara kekacauan bintang seribu tahun lalu, maka tak ada dari bangsanya yang bisa menyelamatkan mereka yang terjebak di dunia kecil itu."


Dean merasa asumsinya mulai masuk akal. Tentang sinyal terang yang sesekali muncul di tengah hutan itu.


Juga jadi lebih mengerti kenapa dunia kecil pertanian yang dijaganya bisa terpecah dan terlempar menempel dengan kota mati.


"Lalu kota mati itu? Apakah kota itu juga berasal dari dunia lain yang terpecah?" gumam Dean sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Jika memang bintang-bintang di atas sana saling berbenturan dan menghancurkan banyak dunia lain yang berpenduduk baik. Maka tak heran jika dapat menghancurkan pula dunia yang berpenduduk jahat seperti monster yang dulu menyerang dunia kami. Bisa jadi salah satu monster itu juga ada yang jatuh ke dunia lain.


Contohnya adalah makhluk zombie yang keluar dari kabut di gunung batu. Juga monster yang terjebak di kota mati dan bertarung dengan Bi selama ratusan tahun.


Dean mulai mengerti apa yang terjadi di pulau ini. Mungkinkah pulau ini memiliki magnet untuk menarik berbagai dunia asing yang saat itu melayang tanpa daya?


"Apakah ada monster lain yang lebih kuat di hutan ini? Yang mampu menakuti seluruh binatang hingga memilih memasuki dunia-dunia kecil lain dan terjebak di sana selamanya."

__ADS_1


Dean tenggelam dalam pikirannya. Dia tertidur sambil menatap bintang-bintang. Tempat asalnya yang indah bercahaya itu telah lenyap, hancur berkeping-keping. Dia sekejap merasa merindukannya. Semua saudaranya. Entah dimana mereka kini.


******


__ADS_2