PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 298. Tewasnya Michael


__ADS_3

Peringatan itu kalah cepat dengan lesatan batu meteor yang dengan kencang menghantam tubuh Michael hingga terlontar jauh.


Alan yang terbang tepat di belakang Michael terkejut, ketika dalam sedetik temannya menghilang dari pandangan. Wajahnya pucat pasi. Dia juga hampir menabrak bagian ekor batu meteor tersebut.


"Kalian tunggu di sini!"


Dean dan Robert segera melesat cepat ke arah lenyapnya batu itu. Dokter Chandra dan Sunil langsung mendapati Alan yang masih shock dan termangu.


"Michael ... di mana Michael?" katanya berulang kali.


"Dean dan Robert sedang mencari. Kita tunggu saja di sini," sahut Sunil.


Mereka menunggu dengan gelisah. Dokter Chandra dan Sunil berkali-kali menahan Alan agar tidak pergi menyusul. Atau mereka semua akan terpencar. Dan yang paling berbahaya adalah kehilangan lorong worm hole di depan sana.


*


******


Robert dan Dean mengikuti arah batu itu terbang dan melihat sekitarnya.


"Itu dia! Dia terlempar ke arah sana!" ujar Robert


Keduanya langsung mengejar arah tubuh Michael yang melayang deras ke arah batu lainnya.


"Oh tidak! Tampaknya Michael kehilangan tenaganya. Dia bisa menghantam keras batu itu," ujar Robert panik.


"Cepat!" teriak Dean.


Mereka melesat lebih cepat lagi. Dean berusaha menggunakan kekuatannya untuk menangkap tubuh Michael. Tapi itu tak berhasil. Keduanya menyaksikan tubuh temannya menabrak keras batu meteor raksasa yang melayang lambat.


"Ya Tuhan!"


Hanya kata itu yang dapat mereka ucapkan. Dean dan Robert tak ingin membayangkan apa yang dirasakan Michael saat itu.


"Lihat, tubuhnya melayang!"


Dean menunjuk ke arah tubuh yang melayang bebas tanpa daya. Mereka terbang mendekatinya. Dean sudah mendapatkannya. Dia mencoba memeriksa denyut nadi Michael. Lalu menggeleng pada Robert.


"Seluruh tulangnya remuk!" ujar Dean.


"Biar ku simpan di penyimpananku," tawar Robert.


Dean mengangguk. Kondisi Michael sangat buruk. Tidak baik membiarkan Widuri dan Marianne melihatnya seperti itu.


"Mari kita cari yang lain!" ajak Dean. Keduanya lalu terbang kembali ke arah semula.


*


******


Setelah beberapa waktu yang terasa sangat lama.


"Itu mereka!"


Tunjuk Sunil ke arah kegelapan yang pekat. Dua cahaya Kuning emas serta cahaya orange dari mata Dean dan Robert jadi petunjuk untuknya.


Tiga orang itu menunggu dengan sabar. Tak lama muncul Dean dan Robert dengan wajah murung.

__ADS_1


"Bagaimana Michael? Apa kalian tidak menemukannya?" tanya Dokter Chandra khawatir.


Robert menunduk.


"Kami menemukannya. Tapi ...."


"Apa maksudmu? Di mana dia sekarang?" Alan mengguncang tubuh Robert. Tapi Robert hanya menatapnya sedih.


"Apakah ...."


Sunil tak dapat menyelesaikan pertanyaannya. Dean menganggukkan kepala.


"Tidak! Aku tak percaya. Dia masih di depanku tadi. Aku mau lihat kondisinya dulu!" Alan bersikeras.


Dean menggeleng. "Tubuhnya sudah disimpan. Mari kita pergi dari sini. Sebelum ada batu lain yang tiba-tiba melempar kita entah kemana."


Tanpa memberi kesempatan untuk berdebat, Dean langsung melesat ke arah cahaya lorong worm hole di depan sana. Yang lain sedikit terlambat merespon. Karena mereka masih terlihat linglung dan terpukul.


"Apa yang kalian tunggu!"


Teriakan Dean menggema di pikiran keempat temannya.


Keempatnya tersentak dan melihat Dean yang sudah menunggu di dekat lorong worm hole.


"Ayo kita pergi!" ajak Dokter Chandra lembut. Mereka lalu menyusul Dean.


Di depan lorong itu, Dean menunggu keempat temannya tiba.


"Mari mencoba peruntungan kita lagi," kata Sunil memberi semangat.


"Kita tak tau apa yang akan kita temui nanti. Jadi bersikaplah waspada. Yang terjadi pada Alan adalah pelajaran yang sangat berharga." Robert menasehati.


"Tidak ada yang salah atas suatu takdir. Memang jalannya sudah seperti ini. Kau tak bisa merubahnya." Dokter Chandra menepuk-nepuk pundak Alan untuk menenangkannya. Alan hanya menunduk.


Lalu Dean memegang tangan Alan. Yang lain juga saling berpegangan.


"Mari kita hadapi bersama apa yang ada di depan," ujar Robert.


Mereka terbang bersama memasuki lorong worm hole. Di awal memasukinya, tak ada daya tarik sama sekali di sana. Tapi lorong ini terlihat persis sama dengan yang mereka lewati sebelumnya. Penuh cahaya berkelip di sepanjang dinding lorong.


"Sepertinya kita tetap harus terbang untuk memasukinya. Entah apa lagi yang terjadi di ujung lainnya," ujar Dean.


Teman-temannya mengangguk setuju. Sekarang kelima orang itu terbang di sepanjang lorong.


*


*


"Aku merasa lelah. Tidakkah lorong ini terlalu panjang?" keluh Alan.


Akhirnya mereka beristirahat sejenak. Masih belum terasa ada tarikan dari ujung lainnya.


"Apakah ini pertanda buruk?" tanya dokter Chandra heran.


"Entahlah. Aku hanya khawatir, jika ujung lainnya juga terbuka seperti tadi," jawab Dean.


Lima orang itu kembali terdiam. Memikirkan segala kemungkinan.

__ADS_1


"Atau ... dunia di mana lorong ini berakhir, sudah hancur ...."


Alan merasa ngeri sendiri dengan pemikiran liarnya.


"Sudah!" sela Robert. "Tak usah berpikiran macam-macam. Gunakan waktu untuk beristirahat. Setelah kondisi pulih, kita lanjutkan lagi perjalanan."


Dean mengeluarkan cangkir minum. Mereka membasahi tenggorokan yang kering dengan menikmati air abadi yang menyegarkan.


"Dean, mungkinkah Michael bisa diselamatkan dengan memberinya air abadi?"


Pertanyaan Alan membuat suasana kembali sunyi.


"Air abadi hanya bisa menyembuhkan. Fisiknya mungkin masih bisa kita harapkan utuh. Tapi nyawanya tak bisa kita kembalikan," jawab Dean tegas.


"Lalu bagaimana dengan jiwa Penasihat Ma?" tanya Robert.


"Kita lihat nanti. Apakah masih bisa diselamatkan atau tidak," sahut Dean.


Teman-temannya saling berpandangan. Apakah jiwa Bangsa Cahaya hanya dapat dipindahkan satu kali saja? Mereka memang belum pernah mencoba memindahkan jiwa untuk kedua kalinya. Berarti sekarang harus lebih berhati-hati. Jika hal yang buruk terjadi pada tubuh asli, maka jiwa Bangsa Cahaya akan berakhir selamanya.


"Ku rasa sudah waktunya melanjutkan perjalanan," ujar Dean. Dia sudah bersiap dan menatap ke arah lorong panjang itu dengan optimis.


"Ayo!"


Anggota tim itu kembali melesat terbang menyusuri lorong panjang yang terang itu.


Satu jam kemudian.


"Tunggu. Coba berhenti dulu," ujar Sunil.


"Ada apa? Ingin istirahat lagi?" ledek Alan.


Sunil menggeleng. "Tidakkah kalian merasa ada sedikit tarikan sekarang?"


Yang lain mencoba merasakan keadaan sekitarnya.


"Ya, tarikan yang sangat lemah. Kita tak bisa mengandalkan itu untuk mencapai ujungnya!" Alan menyahuti.


"Bagaimanapun, ini hal bagus. Kita lihat saja bagaimana selanjutnya," Dean menengahi.


"Jadi kita terbang lagi dong?" tanya Alan.


Dean mengangguk. Dikeluarkannya lagi beberapa gelas air abadi. Setidaknya itu dapat memulihkan kondisi tubuh mereka dengan cepat.


"Let's go!" Robert menarik tangan dokter Chandra dan terbang lebih dulu.


"Tunggu!"


Alan, Sunil dan Dean segera menyusul keduanya. Mereka tidak lagi melesat dengan kecepatan tinggi. Namun terbang biasa saja, agar tenaga tidak terkuras habis dengan cepat.


"Gaya tarik di sini mulai kuat!" kata dokter Chandra.


Wajah mereka berseri-seri. Itu berarti kondisi di ujung lorong masih cukup baik.


"Baru kali ini aku merasa lega tubuhku disedot worm hole. Hahaaa." Alan tertawa senang.


Kelimanya saling berpegangan tangan. Membiarkan tubuh mereka ditarik menuju ujung lorong.

__ADS_1


******


__ADS_2