PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 43. Batas Cakrawala (+ilustrasi)


__ADS_3

Saat makan malam Dean menceritakan penemuan tempat yang diduga sebagai kebun terbengkalai. Kelompok Alan menemukan cukup banyak sumber makanan yang memadai hingga pagi hari. Sementara Sunil juga sudah melanjutkan memeriksa gua cukup dalam dan kembali dengan beberapa sampel batu yang sangat menarik perhatian.


"Ini tampak seperti mengandung biji besi. Tapi kita harus mencoba meleburnya lebih dulu baru bisa memastikan." Dean memecahkan beberapa batu dan memperhatikan permukaannya.


"Aku ingin memeriksa gua itu besok," Dean menambahkan.


"Lalu bagaimana dengan kebun itu? Tidakkah kau ingin kita tinggal di sana?" Widuri keheranan dengan pilihan Dean memeriksa gua lebih dulu.


"Untuk bisa membangun tempat berlindung di tempat terbuka begitu, kita akan butuh alat seperti kapak, atau gergaji. Gua itu mungkin memiliki material yang kita butuhkan untuk membuat peralatan," jelas Dean.


Teman-teman timnya akhirnya mengerti.


"Baik, kami ikuti arahanmu saja Dean." Sunil mendukungnya.


"Berarti besok aku akan menyusahkan Alan untuk pergi dengan Widuri memeriksa kebun tadi dan mencari bahan makanan," kata Dean.


"Oke, aku akan pergi dengan Widuri ke sana," Alan mengangguk setuju.


"Dean, lalu menurutmu yang ini jenis batu apa?" Sunil menunjuk batu lain yang berwarna hitam legam.


Dean mengambil dan mengamati. Dia tampak ragu, lalu membenturkan dengan 2 batu dengan keras hingga kedua batu hitam itu pecah menjadi beberapa keping kecil lalu melemparkannya ke dalam perapian. Semua anggota tim mengamati batu yang ada di dalam perapian dengan seksama.


"Dia menyala!" seru Nastiti


"Artinya apa?" tanya Dewi tak mengerti.


"Artinya itu adalah batu bara. Sekarang kita tak perlu mengumpulkan atau menebang pohon untuk membuat perapian. Batu bara adalah pengganti kayu bakar." Alan menjelaskan.


"Oo aku mengerti," sahut Dewi.


Malam itu mereka beristirahat dengan tenang. Dean juga tidak mendapatkan gangguan tidur lagi.


***


Robert masih melanjutkan langkah memeriksa menyusuri pantai ke arah ceruk yang tampak lebih tinggi di kejauhan. Pantai pasir mulai berubah jadi kerikil dan bebatuan kecil hingga sedang dengan jalan mulai menanjak naik.


"Kenapa kita tak beristirahat di pantai atau padang terbuka itu saja?" Toni menggerutu karena sudah merasa lelah dan dia ingin segera istirahat.


"Karena di kedua tempat yang kau pilih itu, kita tak bisa berlindung." jawab Indra.


"Bukankah kita biasanya menebang pepohonan untuk membuat shelter?" Angel juga bertanya dengan herannya.


"Coba lihat, dimana kita bisa menemukan pohon?" Liam yang akhirnya mengerti turut menjawab.


Angel terkejut saat melihat area sekitar mereka memang sangat terbuka. Ada terlihat beberapa pohon cukup rindang dengan tajuk lebar di sana-sini. Tapi itu bukan jenis kayu yang bisa dipakai untuk membangun shelter.


"Ah, aku juga mengerti sekarang. Baiklah kita ikuti Robert saja." Silvia ikut menyahuti pembicaraan itu.


Satu jam kemudian, Robert menemukan air terjun kecil setinggi 4 meter. Diperiksanya sekitar untuk mencari jalan naik ke arah atas air terjun itu.

__ADS_1


"Kita harus naik ke arah air terjun itu. Jadi coba cari jalan naiknya," tunjuk Robert ke arah air terjun sejarak 5 meter dari tempatnya berdiri.


Anggota tim segera mencari jalan untuk naik.


"Ku kira dari sini bisa," seru Indra dari ketinggian.


"Hati-hati! Berpeganganlah pada rerumputan saat naik." Robert mengingatkan.


"Ya," sahut Indra dari ketinggian.


"Kau akhirnya menemukan sumber air Robert," dokter Chandra sangat senang.


Didatanginya air terjun kecil itu dengan melintasi bebatuan. Tempat jatuhnya air membentuk kolam kecil sebelum mengalir ke laut. Dokter Chandra menampung air yang jatuh dengan menangkupkan kedua tangan dan meminumnya.


"Minum di saat haus memang memuaskan!" dokter Chandra tertawa senang.


Marianne mengikuti langkah dokter Chandra ke arah air terjun.


"Mestinya disitu kita bisa menemukan beberapa jenis ikan." Kata Marianne setelah melepaskan dahaganya.


"Benarkah? Biar ku periksa dulu. Mungkin ada rejeki untuk makan malam kita nanti," dokter Chandra segera berjongkok di tepi kolam kecil dan memeriksa.


"Yah benar! Robert, apakah kau bisa menangkap ikan-ikan ini?" teriak dokter Chandra pada Robert yang sedang mengawasi Laras yang sedang memanjat naik.


"Coba saja dulu. Aku sedang mengawasi mereka naik. Kita harus segera membuat tempat untuk istirahat dok." Robert menoleh ke arah beberapa anggota tim wanita yang mengambil air untuk minum di situ.


"Robert, aku sudah menemukan tempat yang cocok untuk istirahat kita malam ini." teriak Indra dari atas tebing.


Leon hampir menyusul Laras yang sudah berada dekat dengan permukaan tebing. Dibelakangnya menyusul Liam dan Toni.


"Michael, coba panggil para wanita itu kembali agar bisa segera naik. Dan bantulah dokter Chandra mendapatkan ikan di kolam itu. Kau Gilang, juga bantu di sana." perintah Robert.


"Baiklah, kami juga sudah sangat haus, tapi ragu-ragu antara ingin naik dulu atau minum dulu di situ." Gilang menyusul ke arah kolam dan air terjun.


"Aaahhh!" teriak Niken sambil menggoyang-goyangkan tangannya.


"Coba pukul dengan batu, teriak Michael yang melihat jari Niken dicapit kepiting.


Silvia dengan cepat menyambar batu dan memegang tangan Silvi agar berhenti bergerak.


Takkk! Takk..!


Kepiting itu akhirnya lepas setelah dipukul batu dua kali.


"Huhuhuu. Jariku sampai berdarah dicapitnya," tangis Niken sambil meniup-niup jarinya yang cenat-cenut.


"Cuci dan balutlah jarimu lalu segera mendaki ke atas," kata Michael.


"Ya, para wanita diminta Robert segera naik ke tebing," Gilang menambahkan.

__ADS_1


"Baiklah.." jawab mereka langsung berjalan ke arah Robert dan mengikuti petunjuk untuk naik.


"Hahaa.. ternyata kau pintar menangkap para kepiting yang bersembunyi di pasir," dokter Chandra tertawa gembira menepuk punggung Gilang.


"Hei, kalian sudah selesai belum? Para wanita sudah naik semua." teriak Robert ke arah kolam air terjun.


" Ya.. ya.. kami akan kembali." Michael menjawab cepat.


"Banyakkah hasilnya?" tanya Robert yang menyusul ke kolam.


"Lumayan juga untuk seorang pemula," Gilang tersenyum lebar sambil menunjukkan beberapa kepiting serta seekor ikan yang mereka dapatkan yang diikat dan disatukan dengan tangkai-tangkai bunga yang dikumpulkan Niken sebelumnya.


"Kenapa kau malah ke sini?" tanya dokter Chandra heran.


"Aku haus. Mau minum dulu," jawab Robert meninggalkan dokter Chandra.


"Hmmm, memang cukup banyak juga ikan di kolam ini. Besok harus cari cara untuk memerangkap ikan." gumam Robert sebelum meninggalkan kolam ke arah tebing yang sedang di daki dokter Chandra.


Robert pun segera menyusul naik.


Di atas, Indra bersama para pria bersama-sama membangun shelter ala kadarnya. Hari sudah sore. Jadi mereka harus membuat shelter untuk para wanita lebih dulu.


Liam menunjukkan beberapa pohon yang mudah ditebang untuk dijadikan tiang dan dinding. Serta mengambil cukup banyak ranting berdaun lebat untuk penutup dinding menahan angin.


Para Wanita segera membersihkan ikan dan kepiting yang dibawa Gilang serta Michael di tepi sungai. Mereka mempersiapkan makan malam dengan tenang.


Robert yang terakhir naik merasa terharu melihat semua anggota tim sudah bisa melakukan tugas sendiri tanpa disuruh. 'Mereka sudah mandiri. Sudah menguasai ilmu dasar untuk bertahan hidup' batin Robert.


Robert memeriksa shelter yang sedang dibangun. Dia tersenyum puas melihat hasilnya. Robert melangkah menuju pohon yang dilihatnya cukup mencolok dari kejauhan.


"Hmm.. benar-benar pohon willow. Syukurlah." Robert dengan segera menanjat dan memotong ranting-ranting willow yang menjuntai dan dipenuhi daun memanjang.


Dokter Chandra yang mengikutinya sedari tadi akhirnya bertanya:


"Apa kegunaan ranting-ranting ini?" tunjuknya pada ranting-ranting yang menumpuk di bawah pohon.


Robert yang tak menyadari dibuntuti, jadi sedikit terkejut.


"Oh, ranting itu banyak kegunaannya. Tolong bawa saja ke shelter dan petik semua daunnya untuk dipakai sebagai alas tidur. Rantingnya bisa kita anyam jadi perangkap ikan di laut atau sungai ini," Robert melompat turun dari dahan pohon tersebut.


Bersama mereka menyeret ranting-ranting pillow menuju shelter. 'Ada cukup ranting willow untuk membuat bubu ikan malam ini' pikir Robert puas.


Petang itu seluruh anggota tim terlihat bahagia dan terpukau menyaksikan momen matahari yang turun menyentuh permukaan laut di batas cakralawa. Langit memerah jingga menumbuhkan harapan baru di dada mereka.


'Mudah-mudahan ada kapal yang mendekat, jadi kami bisa meminta pertolongan' doa yang Laras gumamkan di dalam hatinya mewakili isi hati semua rekannya.


***


Ilustrasi pohon willow dan perangkap ikan dari anyaman ranting willow.

__ADS_1




__ADS_2