
Rombongan tim Robert dan para pengawal klan kurcaci biru berjalan beriringan menuruni perbukitan. Sepanjang perjalanan mereka disajikan pemandangan indah. Penduduk desa itu benar-benar berhasil menyulap bukit berbatu itu menjadi lebih semarak dengan adanya kebun-kebun kecil di sisi jalan yang mengarah ke tebing. Sementara di sisi satunya berjejer rumah-rumah mungil berbentuk unik dan terlihat menggemaskan bagi Niken.
"Tempat ini sangat indah. Aku ingin mengabadikannya dalam lukisan."
Niken terus berkata seperti itu di sepanjang jalan. Tapi tak ada yang menghentikan langkah agar dia bisa mrmbuat sketsa.
"Coba kau berhenti sejenak. Rekam pemandangan ini dalam benakmu. Setelah kita tiba, kau bisa membuat sketsanya." Bujuk Indra.
Niken menurut dan berhenti. Dia membalikkan tubuh untuk mengingat pemandangan perbukitan yang tadi mereka lewati. Jalanan berkelok, dengan rumah-rumah imut dan taman bunga serta kebun sayur kecil. Deretan rumah-rumah itu seperti tangga spiral memutari lengkungan tebing menuju ke bawah. Bertingkat-tingkat. Itu mengingatkannya pada kondisi persawahan yang berjenjang di kaki bukit di indonesia.
Niken sudah bisa membayangkan garis besar sketsanya. Dia memperhatikan bentuk-bentuk rumah yang seperti jamur raksasa berwarna-warni mencolok, menyegarkan mata. Juga rumah-rumah unik lain yang menyelinap diantara dinding tebing batu. Tempat ini sangat mengesankan.
"Kenapa kalian berhenti? Apakah sudah lelah? Kita bisa istirahat dulu." Robert berjalan ke arah mereka dari depan.
"Ahh, kita sudah ketinggalan jauh. Ayo cepat." Seru Indra yang bergegas menyusul Robert.
"Kalian lelah?" Tanya Robert.
"Tidak. Kami berhenti sejenak untuk mengingat tempat ini. Aku ingin membuat sketsanya nanti." Jawab Niken jujur.
"Oh, baiklah. Tapi jalan sampai ketinggalan jauh, atau kalian akan kehilangan jejak kami dan terpisah nanti." Robert memperingatkan.
"Baik. Maaf, kami memang salah." Indra menyesal.
"Ayo jalan. Kita susul yang lainnya." Ajak Robert.
Mereka kembali berjalan dan mendapati anggota rombongan lainnya beristirahat di bawah pohon untuk menunggu mereka bertiga.
"Kau pasti lupa waktu jika sudah mengagumi sesuatu." Omel Laras begitu melihat Niken.
Niken hanya tersenyum dengan mimik bersalah.
"Maaf membuat kalian khawatir." Niken merangkul Laras dan Silvia.
Lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan. Beruntung keindahan alamnya mengalihkan rasa letih.
Ketua pengawal mengistirahatkan rombongan di jalan bercabang. Mereka meneguk minuman yang dibawa dan mengistirahatkan kaki. Matahari sudah condong ke barat.
"Apakah kita masih jauh?" Tanya Robert pada ketua pengawal.
"Tidak. Kita hanya perlu melewati jalan terowongan melintasi bukit ini. Lalu keluar di area pantai." Jawabnya sabar.
"Benarkah? Baiklah. Tak apa jika kita tiba sore hari. Rencana ke laut masih bisa dilakukan esok hari." Balas Robert bijak.
Bukan salah ketua pengawal juga jika waktu tiba mereka meleset dari perkiraan. Kereta mereka patah, dan kudanya terlalu imut untuk mereka tunggangi. Jadi ini adalah halangan yang diluar perkiraan.
Setelah cukup istirahat, mereka berjalan lagi. Ketua pengawal membawa mereka mengikuti jalur kiri dari percabangan jalan. Lalu tak lama mereka melihat jalan itu menuju sebuah gua.
"Kita lewat gua itu?" Tanya dokter Chandra. Yang lain juga melihat gua itu dengan ragu.
"Apa itu muat untuk kita?" Tanya Leon sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Apa yang kau harapkan Leon? Ini negri kurcaci. Adalah lumrah jika segala sesuatunya berukuran mini." Bisik Liam menepuk pundaknya.
Kepala pengawal sudah menunggu di depan pintu gua. Dia menyadari satu lagi kendala. Meski ketinggian gua itu lebih tinggi darinya, tapi itu bukan untuk ukuran para orang pendatang ini. Dia sedikit bingung bagaimana mengatasi ini.
"Mungkin kita harus merangkak agar bisa melewatinya." Robert memberi solusi.
"Robert, coba tanyakan dulu, apakah ada jalan lain ke pantai itu." saran Indra.
Robert mengangguk dan berbincang dengan ketua pengawal beberapa saat. Lalu kembali ke tempat anggota timnya berkumpul.
"Tidak ada jalan lain. Atau harus memutari hutan yang tadi pagi kita lewati. Jalan itu jauh lebih sulit dan berbahaya." Robert menyampaikan pembicaraannya dengan ketua pengawal.
"Ya sudah. Ayo merangkak saja. Nanti kita kemalaman di jalan." Ajak Laras.
"Baiklah. Tapi alasi lutut kalian dengan beberapa lapis kain lebih dulu, untuk menghindari luka dan lecet. Jangan lupa pakai sarung tangan juga." Dokter Chandra sigap menilai situasi.
Satu jam kemudian tim Robert telah siap untuk melanjutkan perjalanan itu. Di depan seorang pengawal mulai berjalan masuk, disusul oleh ketua pengawal. Lalu Indra, dokter Chandra, disusul para wanita. Mereka merangkak masuk pelan-pelan.
Perjalanan jadi lebih sulit dan lambat. Silvia mulai mengeluh. kalau punggungnya pegal merangkak begitu lama.
"Sabaaarrr.." bujuk Laras.
Semua orang merasakan punggungnya pegal dan sakit akibat cara berjalan mereka yang aneh. Tapi tak ada cara lain untuk mencapai area itu.
"Jadi, pasti guru tabib Michfur juga merangkak seperti kita saat dia ke sini." Celetuk dokter Chandra.
"Hahahaa.. jadi kalian sabarlah sedikit. Sudah ada yang pertama mengalaminya." Sambung Liam yang disambut tawa berderai.
"Itu ada cahaya di ujung sana. Kita hampir sampai." Seru pengawal yang berada paling depan.
Anggota tim Robert berebut untuk melihat. Tapi terhalang tubuh temannya yang berjongkok di depan. Akhirnya mereka cuma bisa pasrah sambil tertawa geli, setelah menyadari bahwa gua itu juga tak begitu lebar. Seakan didesain untuk dilalui satu persatu.
"Ahh, aku sudah bisa mencium bau air laut." Kata Leon. Dia berhenti sejenak. Memejamkan mata dan menghirup dalam udara dengan aroma khas laut.
"Sudah? Sekarang ayo jalan. Nanti kita ketinggalan dari yang lain." omel Liam sambil mendorong tubuh Leon untuk terus maju.
Mereka keluar dari gua saat senja mulai turun. Langit memetah tembaga, seperti nyala api. Membias ke seluruh langit, diseling gradasi kuning dan biru.
"Pantai yang indah." Puji Niken dengan mata bersinar gembira.
Mereka beristirahat sejenak di tepi jalan. Meregangkan otot-otot yang kaku karena merangkak selama beberapa jam.
Ketua pengawal menawarkan kuda untuk membawa para wanita ke desa nelayan di bawah sana. Kali ini Laras, Niken dan Silvia tak menolak kebaikan itu. Mereka memang sangat kelelahan. Tas-tas ransel dikumpulkan dan dibawa oleh 2 ekor kuda untuk mengurangi beban berat para pria.
Perlahan-lahan mereka menuruni jalan setapak yang sesekali menurun dan berundak. Tapi desa nelayan itu memang tidak terlalu jauh. Hanya letaknya lebih rendah dari mulut gua. Namun sunset yang tersaji dari arah laut, mengobati rasa lelah itu. Burung-burung camar ramai beterbangan mengitari desa hingga jauh ke tengah laut. Pemandangan khas desa nelayan. Serta aroma amis ikan menguar di udara.
"Akhirnya kalian sampai." Sapa seseorang di gerbang desa.
Gerbang sederhana yang ditandai dengan 4 pohon kelapa mengapit kedua sisi jalan berbatu. Lalu ada tulisan yang tak dimengerti Robert, digantungkan di salah satu pohon kelapa.
Ketus pengawal bicara sebentar. Lalu memperkenalkan Robert dan teman-temannya.
__ADS_1
"Ini ketua desa nelayan ini. Yang mulia sudah mengabarkan kedatangan kita padanya." Jelas ketua pengawal.
Robert mengangguk mengerti. Mereka melanjutkan jalan sampai di kediaman ketua desa. Rumah sederhana dengan atap dari daun-daun kelapa. Mereka beristirahat di pelataran depan. Merebahkan diri tanpa malu di atas lantai batu.
"Ah, maafkan jika pelayanan kami kurang memuaskan." Kata ketua desa khawatir.
"Ketua pengawal, katakan padanya untuk tidak khawatir. Kami hanya sedang meluruskan punggung saja. Kau tau, setelah jalan merangkak sepanjang gua, pinggangku rasa mau patah." Kata Robert.
Setelah dijelaskan oleh ketua pengawal, akhirnya ketua desa nelayan itu mengerti. Dia tak mempermasalahkan lagi melihat tamu-tamunya bergeletakan di sepenuh lantai. Dengan cepat anak dan istrinya menyajikan air kelapa segar untuk mereka minum.
Malam sudah turun. Makanan sudah disiapkan. Mereka semua menikmati makan malam dengan lahap sambil berbincang tentang rencana Robert dan kawan-kawannya.
"Tidak ada yang akan bersedia mengantar anda ke sana. Itu bunuh diri." Kata ketua desa nelayan.
"Tidak. Kami ingin membeli perahu untuk kami pakai sendiri. Jadi tidak akan menyusahkan siapapun." Jelas Robert.
Ketua desa saling pandang dengan ketua pengawal.
"Ada pembuat perahu di ujung desa. Tapi apakah dia mau menjual perahunya padamu atau tidak, itu tergantung pada keberuntunganmu." Kata ketua desa.
"Kenapa begitu?" Tanya Robert heran.
"Karena dia pria tua keras kepala. Orang yang sulit." Ketua desa nelayan itu menggelengkan kepalanya.
"Hemm orang yang sulit ya. Apakah dia juga tak akan menjual perahu jika anda yang membelinya?" Selidik Robert.
"Terlebih lagi jika aku yang ke sana." Ketua desa itu menyunggingkan senyum misterius.
"Aku bahkan tak punya perahu. Hanya bisa meminjam dari nelayan lain jika ingin melaut." Tambahnya lagi.
"Hah." Robert mengusap wajahnya dengan tangan.
"Jika membeli dari nelayan lain, bagaimana?" tanya Robert lagi.
"Mungkin ada yang mau. Tapi pasti lebih mahal dan jelas bukan perahu baru." Jawab ketua desa.
"Tidak apa. Jika kami tak bisa membujuk pembuat perahu, maka kita akan membeli milik nelayan saja. Harga lebih mahal asalkan wajar, itu masih dapat diterima." Kata Robert.
"Ya, jangan sampai mereka tak mampu membeli perahu ganti nantinya." Tambah dokter Chandra.
"Baiklah. Kita jalankan saja rencana itu. Tapi tidak bisa dilakukan malam ini. Kita tunggu esok hari saja. Kalian bisa mengistirahatkan tubuh dulu."
Ketua desa menjamu tamunya dengan aneka macan hidangan laut bakar. Semua menikmati malam itu dengan bahagia.
"Tak bisa ku percaya, aku merindukan kepiting sampai seperti ini." Kata Silvia dengan mulut penuh.
"Padahal saat kita tinggal di pantai, sampai bosan memakannya tiap hari." Sambung Niken.
Bulan redup di langit mengantarkan angin sejuk ke pelataran yang menjadi tempat mereka merebahkan diri. Membawa mimpi tentang rumah yang selalu dirindukan.
*****
__ADS_1