PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 191. Kota Mati


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak sadarnya Sunil. Kini kesehatannya sudah pulih sepenuhnya. Pondok di tengah hutan itu jadi lebih ramai lagi. Terutama karena rencana Indra untuk segera menikahi Niken.


Anggota tim itu bersama-sama menyiapkan hunian baru. Tapi kali ini mereka justru ingin merubah pondok utama itu menjadi bangunan dari batu bata, agar lebih luas untuk ditinggali bersama.


Mereka mencetak lalu membakar tanah-tanah lempung. Mengumpulkan abu bekas perapian dan tungku untuk dijadikan bahan perekat susunan bata. Menyiapkan kayu-kayu tiang serta atap dari gerabah.


Pagi ini, pondok sudah memulai aktifitas pagi sekali. Karena mereka akan mulai membangun ulang pondok utama. Dean, Sunil dan Alan telah memindahkan 2 kamar dari log kayu ke area lain yang sudah dipilih oleh Indra jadi kamarnya.


Area depan pelataran itu menjadi lega. Mereka kembali membersihkan rumput dan tanaman liar di sekitar. Menggali lobang fondasi rumah dan mengisinya dengan pecahan batu-batu besar dari sisi tebing yang lain.


"Ahh, akhirnya pengerjaan fondasi selesai juga." Kata Alan.


"Beristirahatlah dulu. Isi tenaga." Marianne membawakan makanan.


Para wanita juga sudah bekerja keras untuk menyiapkan makan siang. Orang yang bekerja keras akan butuh asupan makanan yang cukup.


"Ayo makan dan istirahat sejenak. Setelah itu, kita membereskan pondok kayu itu. Biar bisa ditempati sambil menunggu bangunan utama selesai dibangun." ujar dokter Chandra.


Mereka makan dengan lahap. Sembari membahas banyak rencana.


"Jadi kpn kita akan melanjutkan mencari celah dunia lain?" tanya Niken.


Semua mata menoleh ke arah Dean yang kini jadi ketua tim.


"Hemm.. ku kira, kita bisa lanjut memeriksa area hutan setelah urusan pernikahan Indra selesai." jawab Dean.


"Begitu juga bagus. Jika kita fokus mengerjakan sesuatu, hasilnya akan lebih baik." Dokter Chandra mendukung keputusan Dean.


"Oke, aku setuju dengan planningmu Dean," kata Sunil.


"Jika urusan rumah dan pernikahan Indra sudah selesai, maka kita bisa tenang meninggalkan para wanita di rumah." Sambung Alan.


"Apa kalian pikir kami lemah?" tanya Nastiti sewot.


"Bukan lemah. Kita hanya berkewajiban menjaga." Balas Alan tak mau kalah.


"Hah.. kau typical sekali," ejek Nastiti.


"Sebenarnya kalian kenapa? Apa saling jatuh cinta juga?" Potong Michael sebelum Alan membalas ucapan Nastiti.


"Hah? Aku? Cinta sama dia? Pfffttt.. Hahahaa.." Nastiti tertawa terpingkal-pingkal sampai matanya berair.


"Lebih baik menikahi Yoshi ketimbang dia," ejek Alan pedas.


"Hentikan! Bercanda jangan keterlaluan. Alan, wanita tak pantas dibanding-bandingkan seperti itu!" Dean berkata tegas.


"Rasain!" cibir Nastiti.


"Kau juga harus berhenti mengejek." Dean menatap Nastiti tajam.


"Ayo. Kita lanjutkan pekerjaan." Indra mencoba mencairkan ketegangan.


Satu persatu para pria pergi meninggalkan meja makan.


"Kau kenapa sih? Jahil banget. Kau pasti tau Alan tidak bermaksud merendahkan." tegur Widuri.


"Aku tak tahan melihat dominasi para pria itu. Menyebalkan!" sungut Nastiti kesal.


"Lalu kenapa Alan yang terus kau ganggu?" tanya Niken heran.


"Karena, kalau aku mendebat Dean, Widuri akan mencekikku," jawabnya enteng.


"Kau ini. Dasar pembuat onar."


"Adduuhhh. duuhh.. sakit tau!" Nastiti mengaduh ketika keningnya kena sentilan Widuri.


"Lebih baik minta maaf pada Alan. Dia pasti kesal. Padahal kau hanya menggodanya." Saran Marianne.


"Nanti saja." Nastiti tersenyum.


"Tanpa Nastiti dan Alan, tim ini pasti sepi." celetuk Niken.


"Yahh.. dulu yang selalu ribut kan Dean dengan Widuri. Semenjak mereka akur, Tim ini kehilangan warnanya."


Tampang Nastiti yang terlihat kecewa, benar-benar bikin Widuri keki.


"Jadi maumu aku dan Dean terus berantem seperti dulu?" mata Widuri membulat menatap Nastiti.


"Aku gak bilang gitu kok. Aku justru berbaik hati meramaikan suasana." jawabnya polos.


"Meramaikan suasana itu gak begini caranya. Kau bisa nyanyi atau menari atau melucu biar ramai." bantah Widuri.

__ADS_1


"Ahh aku ingin yang anti mainstream." Nastiti pindah duduk di kursi malas Sunil.


"Hahahaa.." Niken tertawa geli.


"Speechless," Widuri mengurut dada.


Marianne hanya tersenyum melihat kelakuan mereka. Selalu berdebat ini-itu yang tak penting. Tapi itu justru mendekatkan mereka satu sama lain.


*


*


Sore hari.


Nastiti pergi ke tempat para pria memindahkan pondok kayu.


"Alan. Aku ingin berenang di laut!" teriak Nastiti.


"Aku sibuk. Pergi saja sendiri." jawab Alan. Dia ingin membalas Nastiti.


"Hei, apa kau ingin aku melompat dari tebing itu?" mata Nastiti membesar tak percaya.


"Kalau tak bisa, ya mandi di kamar mandi saja sih." jawab Alan ketus.


"Hei, aku mau berenang. Bukan mandi. Kau bilang mau menjaga para wanita. Manis mulut doang, cih." Ledek Nastiti.


"Lihat Dean. Dia yang selalu cari ribut hlo." Alan mengadu pada Dean.


"Ah, dia cuma mau berbaikan denganmu. Pergi sana!" Sunil mendorong Alan menjauh.


"Masa sih?" Alan tak percaya. Tapi dia tetap berjalan menghampiri Nastiti.


"Apa upahnya kalau aku mengantarmu berenang?" Alan balik menggoda.


"Jangan paksakan keberuntunganmu. Widuri memintamu untuk mencari ikan. Jadi, kau bekerja dan aku berenang. Aku sudah berbaik hati menemanimu bekerja. Jadi apa hadiahmu?" Nastiti menaik turunkan sebelah alisnya dengan penuh kemenangan.


"Astagaa. Kau licin seperti belut." Gerutu Alan.


"Jadi, mau ke sana atau tidak?" Nastiti tersenyum jahat.


"Baiklah. Jika itu tugas dari Widuri. Mana mungkin ditolak."


Lalu Alan melayang ke atas.


"Alan. Aku ikut!" teriak Nastiti tak percaya.


"Kali ini kau kalah. Hahahaa.." Michael tertawa. Yang lain tersenyum melihat ke arah Nastiti.


"Aku akan menang lain kali." Tangan Nastiti mengepal saat meninggalkan tempat itu.


Para pria itu hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya.


"Menurutku, Nastiti menyukai Alan. Tapi dia gak menyadarinya." Dokter Chandra tersenyum dikulum.


"Bener-bener seperti Dean dan Widuri saat di gunung batu. Hahahaa.." Sunil tertawa geli.


"Apa dulu aku begitu lucu sampai kau tertawa begitu?" tanya Dean.


"Point kelucuan di sini bukan tentang kau atau Widuri. Tapi tentang pertengkaran yang tak jelas sebab musababnya. Bukankah itu sangat lucu?" Sunil tersenyum lebar.


"Sunil. Sejak kau sadar, aku makin bingung dengan kata-katamu." Potong Michael dengan tampang bingung.


???


Sunil menggaruk kepalanya.


"Hahahaa.."


Gelak tawa pecah diantara mereka. Kebersamaan mereka sungguh manis. Rasa letih bekerja berat tadi kini memudar.


*****


"Tempat apa ini?" Tanya Kenny.


Liam menggeleng. Dia melihat tembok kota yang setengah hancur di depan sana. Tempat itu buruk.


"Seperti kota mati." cetus Laras.


"Bagaimana kota sebesar ini bisa jadi kota mati?" tanya Mattew heran.


"Mungkin karena kalah perang?" Kenny berasumsi.

__ADS_1


"Apa kalian ingin melihat ke dalam kota?" tanya Liam.


"Tidakkah lebih baik kita berada di luar sini saja? Takutnya itu kota hantu," bisik seorang gadis.


Anak-anak yang mendengar itu jadi ketakutan. Laras jadi sibuk menenangkan mereka.


"Tenanglah. Bukankah kita sudah sepakat akan memulai hidup baru di tempat yang baru?" Tanya Laras.


"Ya." jawab anak-anak.


"Kalau begitu jangan takut. Hutan angker saja bisa kita lewati. Masa kota yang hampir runtuh begitu masih kita takuti?" Laras menumbuhkan kepercayaan diri anak-anak itu.


"Ya. Laras benar. Kita tak ada pilihan selain mencoba peruntungan untuk hidup di sini. Nanti kita coba perbaiki pelan-pelan. Lalu ini bisa jadi kota kita." Mata Mattew bersinar penuh harapan.


"Oke. Mari kita lihat ke dalam kota. Apakah masih ada sesuatu yang bisa kita manfaatkan." Liam menambahkan semangat.


"Baik. Mari kita jalan. Jangan berjauhan." Laras menggenggam tangan dua orang anak di kiri kanannya.


"Sebentar. Kita buat jebakan dulu di dekat sini. Mungkin ada binatang lewat yang bisa jadi bahan makanan."


Kenny melihat sekitar tempat itu dan menemukan tempat yang dianggapnya cocok untuk dipasangi jebakan. Mattew membantunya membuat jebakan. Yang lain menunggu dengan sabar.


"Liam, di sini masih terang. Padahal kalau ku ingat, saat di hutan angker itu harusnya malam hari." Kata Laras.


"Hutan angker itu mungkin memanipulasi waktu. Kita tak bisa memastikan siang dan malam di sana. Karena suasana selalu gelap dan hitam." Tebak Liam sekenanya.


"Hemm, mungkin juga." Laras mengangguk-angguk, mengerti maksud Liam.


"Ayo jalan. Jebakan sudah dipasang di 2 tempat. Mudah-mudahan ada hasilnya." harap Kenny.


Rombongan itu berjalan menuju gerbang kota yang sudah runtuh separohnya. Mereka bisa melihat bekas bangunan-bangunan yang porak-poranda dan lapuk dimakan usia.


Liam menyentuh sebatang kayu yang seketika rontok menjadi debu yang berhamburan.


"Ini.. sudah selapuk ini?" gumamnya.


"Mungkin sudah lebih 50 tahun dibiarkan." Tebak Laras.


"Jika begitu, artinya tak ada apapun lagi di sini selain tumpukan debu." Celetuk Kenny.


"Bukankah debu lebih mudah dibersihkan? Ketimbang kita harus mengangkati puing-puing reruntuhan." Mattew membalas dengan optimis.


"Kau benar." Liam setuju.


Kalau begitu, mari kita lihat-lihat saja dulu. Jika disini berdebu banget, lebih baik beristirahat di luar tembok kota untuk sementara." saran Laras.


"Begitu lebih baik. Kita bersihkan dalam kota dari debu dulu, sebelum membuat hunian baru. Jadi kita bisa menata ulang kota ini." Sambut Mattew.


Laras dan Liam saling lirik. Siapa sebenarnya Mattew ini? Pemahamannya akan tata ruang melebihi Kenny yang tampak lebih tua darinya.


Mereka terus berjalan menyusuri jalan kota yang berbatu dan penuh debu.


"Hei, lihat itu." tunjuk Kenny ke ujung jalan di kiri mereka.


Bukankah itu terlihat masih kukuh?" tanyanya ragu.


"Mari kita lihat saja."


Liam langsung berbelok. Yang lain mengikuti. Dengan penasaran disentuhnya pintu gerbang tua itu. Tak ada apapun yang terjadi. Liam penasaran. Disentuhnya lebih kuat dengan telapak tangannya.


Krieettt..


Pintu itu membuka sedikit.


"Wah, pintu itu masih utuh." Ujar Laras senang.


"Ayo coba lihat ke dalam." ajaknya tak sabar.


"Tunggu dulu!" Liam menahan tangan Laras dengan kuat. Yang lain melihatnya dengan heran.


"Diantara semua tumpukan debu di dalam kota mati ini. Hanya ini yang utuh. Tidakkah itu aneh?" tanya Liam.


"Mungkin ada penghuninya?" Kenny menebak.


"Jika memang ada orang di kota mati ini, bukankah itu bagus? kita bisa bertanya atau minta bantuan." Laras masih ingin masuk.


"Ya, bisa jadi yang tinggal di sini adalah orang dari desa kita. Atau desa tetangga yang lari ke hutan angker." Liam kembali berasumsi.


"Baiklah. Terserah saja. Mari kita lihat ke dalam. Tapi tetaplah hati-hati. Mana tau ada jebakan." Liam mengingatkan.


Mereka semua mengangguk setuju.

__ADS_1


*****


__ADS_2