PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 261. Kembali Berlayar


__ADS_3

Hari keberangkatan.


Hari ini kapal Kejora sangatlah ramai. Aktifitas memuat barang meningkat sejak pagi tadi. Semua dikebut agar selesai sebelum tengah hari.


Tim Dean tak ingin kehadiran mereka mengganggu aktifitas kru dan pekerja pengangkut. Jadi mereka lebih memilih berdiam di kamar.


Ketika kapal mulai terasa berayun, barulah mereka menyadari bahwa kapal telah kembali berlayar.


"Dean, temani ke toilet," kata Widuri.


"Hmm... ayo."


Dean bangkit dari posisi berbaringnya.


Ya, mereka berbaring seperti ikan pindang di dalam kabin itu. Tidur berjejer dari batas dinding ke dinding. Beruntung ada 5 lubang ventilasi di dinding kapal bagian atas. Hingga udara dapat bertukar dengan baik.


Saat keluar kabin, Dean melihat bagian belakang seekor kuda dibawa masuk ke palka.


Widuri dan Dean segera pergi ke toilet. Namun ternyata ada penumpang yang sedang menggunakannya.


Tak lama pintu toilet terbuka. Seorang wanita berpakaian khas, keluar. Dia berjalan cepat tanpa menyapa. Widuri langsung memasuki toilet itu.


Dean melihat wanita itu masuk ke kabin tengah.


'Sepertinya ada penumpang yang naik dari kota Levin. Mungkin mereka juga yang membawa kuda itu' pikir Dean.


Ketika Widuri selesai, mereka segera kembali ke kabin. Di belakang sudah ada Jason dan ditemani seorang pengawalnya, mengantri toilet.


Kabar tentang penumpang wanita di sebelah, segera diketahui seisi ruangan. Tapi mereka tak terlalu tertarik untuk membahasnya.


Hari itu cuaca cerah. Bahkan saat sore hari, langit seperti enggan menyambut malam. Marianne ditemani Michael dan Cloudy keluar mencari udara segar.


Kapten Smith dan kru kapal juga sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Cloudy. Macan itu masih akan menggeram jika mereka terlalu dekat dengannya. Tapi dia tidak pernah menyerang.


"Apa kita benar-benar bisa kembali Michael?" tanya Marianne sambil memandang jauh ke laut lepas.


Michael menggeleng ragu. "Sejujurnya, aku gak tau jawabannya. Tapi, selama masih bisa berusaha, maka aku akan mengusahakannya. Kecuali, suatu saat hatiku terpaut dan tertahan di suatu tempat. Seperti Angel, Nastiti, Gilang dan Laras serta Liam."


Michael memandang langit senja yang kemerahan. Dia berusaha realistis. Perjalanan pulang ini panjang. Sangat lama. Hati akan berubah dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar.


"Kau benar. Jika aku menemukan tempat baguspun, aku mungkin akan memilih tinggal. Dewi beruntung... tempat istirahat terakhirnya sangat indah...."


Michael tersentak. Ditolehnya Marianne yang berada di sisinya dengan pandangan tak mengerti.


'Apa maksudnya membawa-bawa Dewi?' batin Michael bertanya-tanya.


Sesaat kemudian Michael sadar, langit merah itu telah digantikan sepenuhnya dengan hitamnya malam.


"Waktunya makan malam. Ayo kita kembali," ajak Michael.


"Aku juga ingin beristirahat dekat lautan."


Marianne tersenyum dan bergumam sendiri. Dia seperti sedang tenggelam pikirannya. Entah ajakan Michael didengarnya atau tidak.


Michael tak dapat lagi menyembunyikan kekhawatirannya. Disentuhnya pundak Marianne.


"Apa kau baik-baik saja, Marianne? Jika kau merasakan sakit, katakan pada Dokter Chandra. Jangan menyimpannya sendiri."


Kesadaran Marianne kembali. Ditatapnya mata Michael dengan pandangan terima kasih. Pria muda ini telah berulang kali menyelamatkan hidupnya saat mereka berdua diculik. Michael kerap menerima hukuman fisik untuk menggantikan Marianne. Marianne berhutang budi, berhutang nyawa pada Michael. Entah bagaimana cara membalasnya. Dan sekarang matanya menunjukkan rasa khawatir yang besar.


"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Mari masuk. Atau jatah makan malam kita lewat...." Marianne tersenyum lembut keibuan.


Dia berjalan diikuti Michael.

__ADS_1


"Ayo kita kembali, Cloudy. Waktunya makan malam," kata Michael.


Cloudy menggeram halus lalu mengikuti keduanya ke kabin.


"Aaaaaahhhhh"


Terdengar teriakan wanita. Michael yang baru masuk pintu kabin, melongok keluar. Dilihatnya wanita kabin sebelah, pucat dan gemetar di depan pintunya menatap Cloudy dengan ketakutan.


Cloudy menggeram dan menunjukkan gigi runcing dan tajamnya ke arah wanita itu.


"Maaf, kucing ini peliharaan kami. Masuk Cloudy!" panggil Michael.


Cloudy masuk dan Michael segera menutup pintu.


"Ada apa Jane? Kenapa kau menjerit?" seseorang muncul dari dalam kabin tengah.


Tapi wanita itu sedang dalam keadaan shock berat. Dia tak mampu bicara saat ini.


"Temanmu melihat Cloudy. Binatang peliharaan penumpang sebelah."


Seorang pria dari kabin sebelahnya menjelaskan. Dia sedang ingin ke toilet, saat melihat Cloudy masuk kabin dan wanita berpakaian asing ini muncul, lalu menjerit.


"Binatang peliharaan?" gumam pria itu. Lalu dituntunnya wanita itu untuk masuk kembali.


"Terima kasih pemberitahuannya. Namaku Leon," katanya ramah.


"Aku Brian. Juga, jangan khawatir pada Cloudy. Selama tidak diganggu, ku rasa dia tak kan memakan kita," katanya mencoba melucu.


Tapi Leon justru makin terkejut.


"Aku harus membawa istriku masuk. Lain kali kita berbincang lagi."


"Oh, ternyata wanita itu istrinya," gumam Brian setelah pintu kabin Leon ditutup. Dia lalu melanjutkan langkah ke toilet.


"Ada apa sih?" tanya Alan.


"Bukan apa-apa. Itu wanita berpakaian aneh yang kalian bilang tadi siang. Dia hanya terkejut melihat Cloudy tadi." Michael menjelaskan.


"Lain kali aku akan minta maaf pada mereka," ujar Dean.


"Sudah ku lakukan," jawab Michael.


"Hemmm... bagus. Sudah... ayo kita makan malam. Ini roti kukus isi daging yang terakhir. Mulai besok, kita kembali makan persediaan yang ada."


Widuri dibantu Niken dan Marianne membagi-bagikan makanan dan minuman.


Semua anggota tim itu mengangguk mengerti. Asal tidak kelaparan, makan apapun boleh.


"Dean, cobalah bicara pada kapten. Mungkin kita bisa meminjam dapur mereka disaat tidak digunakan. Jadi para wanita bisa memasak dengan benar. Kita bukannya tak punya persediaan makanan kan...."


Dokter Chandra mencetuskan ide cerdasnya.


"Bener tuh. Misalnya malam begini. Harusnya dapur mereka sudah kosong, karena sudah lewat waktu makan kan.... Jadi mungkin kita bisa gunakan untuk memasak menu utk hari berikutnya." Niken mendukung ide Dokter Chandra.


"Akan kutanyakan nanti."


Dean mengangguk setuju. Tapi Dean tau, tidak ada yang gratis dari Kapten Smith. Dia mungkin harus mengorbankan satu lagi persediaan keju enaknya. Dean menghembuskan nafas berat. Dia merasa tak rela, keju mahalnya dihargai semurah itu.


*


*


Malam berlalu. Diskusi timpang dengan Kapten Smith sudah diduga akan merugikan mereka. Tapi Dean tak punya pilihan. Dia harus membayar penggunaan dapur dan kayu bakar. Dapur bisa dipakai selama 3 malam. Dan harus kembali bersih, rapi dan aman seperti sebelumnya. Begitulah kesepakatannya.

__ADS_1


"Kau jangan menatap sedih begitu. Aku bukan sedang menculik anakmu!" ejek Kapten Smith.


"Hah... kau merampokku Kapten," kata Dean sebal.


Kapten Smith hanya tertawa saja.


"Sana masak. Jangan lupa, dapur harus kembali rapi dan bersih setelah selesai digunakan." Dean diusir secara halus dari kabin kapten.


Dean mendengus dan keluar dari sana. Bagaimanapun, para wanita harus segera mulai masak. Jadi Dean mengikuti seorang kru, pergi melihat kondisi dapur.


"Ya ampun. Bagaimana ini bisa jadi standar rapi dan bersih sang kapten? Apa dia tak pernah memeriksa ke sini?" omel Dean jengkel.


"Sunil, Alan. Ayo bantu aku di sini," panggil Dean lewat transmisi suara.


Tak lama keduanya muncul.


"Ada apa?"


Dean menoleh pada keduanya. "Kalian sudah terlalu lama beristirahat. Saatnya mencari keringat. Ayo kita rapikan dan bersihkan dapur ini."


"Untuk apa?" tanya Alan.


"Ya biar para wanita bisa masak lah.... Kau mau mereka mengomel melihat dapur begini?" kata Dean.


"Yang ada mereka ogah masak. Hahahaa...." Sunil tertawa.


"Ayolah." Alan mengangguk.


Ketiganya bersama-sama merapikan dan membersihkan dapur serta lantai dapur di kapal itu.


Satu jam kemudian.


Dapur itu sudah terlihat sangat manusiawi dan layak untuk dipakai masak. Abu bekas pembakaran tungku digunakan untuk menggosek peralatan, meja dan seluruh lantai yang lengket serta licin.


Sekarang, peralatan masak yang cemong dan penuh jelaga itu sudah kembali muncul warna dasarnya. Semua sudah tersusun rapi di sudut dapur, menunggu untuk digunakan.


Ketiganya puas melihat hasil kerja keras mereka menggosok lantai, meja hingga peralatan. Senyum lebar muncul di wajah ketiganya.


"Ahh, aku merasa gerah sekali. Rasanya ingin mandi di laut," celetuk Alan.


"Kau gila! Mau bikin heboh seisi kapal huh?!" Sunil menjentik kening Alan untuk menyadarkannya.


"Aduh... aku kan cuma bilang ingin. Bukan berarti beneran terjun ke laut." Alan mengusap-usap keningnya. Wajahnya cemberut.


"Aku panggil para wanita. Kalian bisa mandi di toilet. Tapi jangan lupa isi lagi tempat air hingga penuh," kata Dean.


"Ya...." jawab Sunil dan Alan bersamaan.


"Ayo mandi." Sunil keluar dari dapur, menuju toilet.


^^^~~~"Belok kanan! Mereka mereka menunggumu di persimpangan depan!" teriak suara di telinga Shasha.^^^


^^^"Mode Stealth!" perintah suara di telinganya. ^^^


^^^Shasha memencet tombol Silent di dashboard kemudi. Perlahan motor sport hitam itu lenyap dari pandangan. Suaranyapun tak lagi terdengar. ~~~~^^^


Malam itu, aktifitas tim Dean kembali ramai. Para pria di kabin mendapat tugas membersihkan kentang, ubi, sayur, ikan, daging dan lalin-lain. Semua itu akan dibawa ke dapur, untuk dimasak. Setiap kali masak, mereka harus menyiapkan makanan untuk 2 hari. Karena pelayaran seminggu. Sementara jatah masak mereka hanya 3 kali.


Para wanita harus membuat makanan praktis. Roti isi adalah pilihan yang bagus. Pizza, mie dan yang lainnya.


Pukul 3 pagi, semua aktifitas di dapur, selesai. Itupun karena kru dapur kapal sudah akan memulai kerja mereka menyiapkan sarapan.


*******

__ADS_1


__ADS_2