PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 244. Insiden Pertama Pelayaran


__ADS_3

Hanya ada 3 kabin di kapal ini. Dean dan rombongannya mendapat kabin lebih besar, karena anggota kelompoknya lebih banyak. Lalu ada 2 kabin ukuran kecil di sebelahnya. Biasanya itu digunakan penumpang pribadi atau pasangan, atau grup kecil.


Di kabin itu hanya ada meja kayu besar. Menutupi hampir seluruh ruangan. Kelihatannya berfungsi sebagai tempat untuk tidur dan beristirahat.


"Yo, kita akan tidur berjejer seperti ikan pindang!" celetuk Alan.


Yang lain tertawa dan tersenyum mendengar candanya.


"Dimana Cloudy?" tanya Nastiti.


"Di dalam kandang, di kabin kapten," jawab Dean.


"Kenapa begitu?" tanya Sunil heran.


"Yahh... lihatlah ruangan ini. Apa mungkin Cloudy bisa ditaruh di sini?" Ujar Nastiti.


"Kapten bilang, binatang peliharaan harus ditempatkan di kabinnya. Ada beberapa kandang di sana. Tapi kita harus memberi makan sendiri," jelas Widuri.


"Kalian tidak curiga?" tanya Michael.


"Kita lihat dulu saja. Kalau berani macam-macam, kita bereskan," jawaban Dean tegas.


"Oke!" sahut Alan.


Sunil juga mengangguk setuju.


Terdengar suara-suara berisik dari arah pintu.


"Sepertinya penumpang lain sudah datang juga," cetus Dokter Chandra.


Dean mengangguk.


"Berhati-hatilah. Kita tak tau isi hati orang lain. Yang wanita, jangan keluar jika tak terlalu perlu."


"Jika mau ke kamar kecil, bagaimana?" tanya Niken.


"Harus ditemani suami atau teman pria yang lain!" jawab Dean tegas.


"Yaahh.... Memanglah hidup di atas kapal itu, punya aturan sendiri. Apa lagi jika masih ada bajak lautnya. Ini dunia laki-laki. Dimana kekuatan lebih dihargai."


Michael tercenung. Ingat pengalamannya saat diculik kapal asing dan berakhir menjadi budak orang lain. Itu sama sekali bukan pengalaman yang menyenangkan.


"Baiknya kita istirahat saja. Jika ada yang ingin ke toilet, silahkan ke toilet. Tapi jangan pergi sendirian, terutama wanita."


Dean mengingatkan sekali lagi. Yang lain mengangguk mengerti.


Selang dua jam kemudian, kapal berlayar. Hanya Dean dan Alan yang keluar menuju dek. Dari pinggiran kapal, Dean memandang ke pelabuhan untuk terakhir kali.


Di sana masih ada Yoshi dan Yabie yang menunggu dan melambaikan tangan.


"Semoga selamat sampai tujuan, paman," Yoshi mengirim pesan transmisi.


Dean melambaikan tangannya.


"Jagalah keluarga kita yang tersisa. Aku mempercayai kalian berdua sebagai penerus bangsa manusia bintang." ujar Dean.


Pelabuhan itu makin mengecil dan menghilang sepenuhnya beberapa saat kemudian. Dean memandang tebing di sisi kanan kapal. Dari bawah sini, area rumahnya dulu, benar-benar tak terlihat. Lokasi itu tertutup dengan baik oleh pepohonan raksasa. Tapi Dean bisa mengenali area bawah tebing yang biasa mereka gunakan untuk berenang.


"Selamat tinggal dunia misterius," gumamnya.


*


*


"Aku ingin ke toilet," kata Niken.


"Aku juga," Widuri ikut bersuara.


"Aku juga," kata Marianne.

__ADS_1


"Ayo ku temani," Indra berdiri. Mereka keluar bersama. Sunil mengikuti, dan mengawasi keduanya dari kejauhan.


Setelah Indra dan Niken, bergantian Marianne diantar Sunil. Penumpang di kabin sebelah juga keluar. Dean hanya mengamatinya dari pintu.


Seorang pria berambut ikal kecoklatan, tergeraip melewati pundak. Dengan kumis dan jambang lebat. Hingga sulit untuk menebak usia lewat raut wajahnya. Dean mencoba bersikap ramah dengan tersenyum tipis saat pria itu lewat di depannya, menuju dek. Tapi orang itu mengabaikannya.


Tak lama Sunil dan Marianne kembali. Kedua temannya berpapasan dengan si pria kabin sebelah. Tak ada insiden yang tak perlu.


"Widuri bisa ke toilet sekarang, kata Sunil setelah Marianne masuk.


"Pria tadi itu sepertinya juga ke toilet. Jadi biarkan dia selesaikan dulu hajatnya." Dean menyahuti.


Sunil berjalan ke dek untuk mengamati suasana sekitar. Beberapa kru kapal sibuk mengatur layar. Ada pula yang berdiri di tiang utama yang tinggi, memandang ke laut lepas.


Angin bertiup dengan kecepatan yang cukup untuk menggelembungkan layar dan mendorong kapal melaju secara konstan. Sunil harus mengakui, ini kapal layar yang sangat bagus. Dengan kapten dan kru yang berpengalaman, maka ini harusnya jadi pelayaran yang aman.


Sunil melihat pria yang berpapasan dengannya tadi, keluar dari toilet. Berjalan terhuyung menuju kabinnya. Dean masih berdiri di depan pintu kabin timnya. Berdiri santai hingga pria itu menghilang di balik pintu.


"Widuri, ayo ku temani ke toilet," ujar Dean setelah membuka pintu kabin di belakangnya.


"Oke."


Widuri turun dari tempat mereka beristirahat. Mengikuti Dean menuju toilet.


Sunil mengawasi kedua temannya dari pagar kapal. Widuri masuk, tapi kemudian keluar lagi dengan menutup hidungnya.


Sunil tersenyum. Berarti pria yang barusan itu membuat jorok toilet umum.


Dean masuk melihat keadaan. Ditutupnya pintu, lalu menyiram semua kotoran yang tercecer di lantai dengan air abadi dari tempayan.


"Sial! Air berharga terpaksa dipakai untuk menyiram toilet!" gerutunya.


Setelah semua bersih, Dean keluar dan membiarkan Widuri menggunakan toilet dengan leluasa.


Seorang pria berjalan ke arah toilet juga.


Sunil melangkah ke arah toilet. Dia berjalan melewati pria yang barusan datang dan berdiri di sebelah Dean.


"Kau harus menungguku selesai jika ingin ke toilet juga."


Orang dari kabin lain itu mencegat langkah Sunil lebih jauh.


"Aku menjemput temanku," jawab Sunil santai.


Pria itu tak berkata-kata lagi.


Tak lama Widuri keluar. Sebelum Widuri bicara, Dean telah mendahuluinya.


"Sudah selesai? Aku mau menggunakannya juga," ujar Dean.


"Oh...."


Widuri minggir. Dia lalu melihat pria asing yang melihat ke arahnya tanpa berkedip. Wajahnya memerah karena jengah.


Sunil menarik tangan Widuri dengan cepat. "Ayo kita kembali."


"Temanmu sangat cantik kawan. Hati-hati direbut orang!" teriak orang itu sambil tertawa keras.


Tapi pandangan matanya masih tak teralihkan dari Widuri. Ekspresinya akan membuat orang yang melihat, jadi bersikap waspada.


Widuri berjalan cepat di depan Sunil. Dia merasa kesal, juga takut. Sementara Dean, sedang menahan amarah di dalam toilet.


Bertemu penumpang lain, memang bisa berbahaya. Terutama bagi penumpang wanita. Dean harus lebih berhati-hati lagi ke depannya, agar tak mengundang niat jahat orang lain.


Dean keluar dari toilet. Dilihatnya pria asing itu bahkan tak menyadari jika toilet telah dibuka. Dia masih terus mengamati ke arah kabin tim Dean.


"Kau melihat apa?" tanya Dean santai, di dekatnya. Dean ikut memperhatikan ke arah pintu kabin.


"Itu. Aku melihat wanita cantik di kabin itu," ucapnya tanpa sadar.

__ADS_1


"Lalu bagaimana?" tanya Dean lagi.


Pria itu akhirnya terkejut. Menjauhkan wajahnya dari wajah Dean.


"Sial! Untuk apa kau berdiri sedekat itu? Aku masih normal!" teriaknya kesal.


Dean tersenyum tipis.


"Hei, apa kau penumpang kabin sebelah? Bukankah wanita yang tadi itu sangat cantik?" Tanyanya dengan senyum mencurigakan.


"Iya, cantik. Memangnya kenapa?" jawab Dean acuh.


"Hehh... kau itu bodoh atau apa? Jika kau menginginkannya, kita bisa bekerja sama. Ku rasa, pria temannya tadi itu, tidak terlalu sulit untuk dilumpuhkan!" ujar pria asing itu pada Dean.


Wajah Dean memerah karena emosinya memuncak.


"Apa kau mau ku lempar ke laut? Berani-beraninya menginginkan istriku!" Ujar Dean marah.


"Istrimu? Hahahaa.... Apa kau menginginkan dia untuk dirimu sendiri?" Pria itu membalas kata-kata Dean dengan bodohnya. Dia tertawa terbahak-bahak.


"Sunil, Alan, keluar sini!" panggil Dean lewat transmisi.


Sunil dan Alan keluar pintu dan melesat cepat mengelilingi pria itu.


"Apa dia mengganggumu, Dean?" tanya Sunil. Matanya menatap pria itu dingin dan mengintimidasi.


Pria itu kini menyadari sesuatu. Tawanya terhenti seketika.


"Orang busuk ini berani menginginkan istriku dan melumpuhkanmu!" kata Dean pedas.


"Ka... kalian sa... ling ke.. nal?" tanyanya dengan tergagap. Tak menyangka sudah membuat rencana jahat dengan orang yang salah.


"Oohhh! Apa yang harus kita lakukan untuk menghukumnya?" tanya Alan. Dia berjalan mengelilingi pria itu dengan tatapan mengejek.


"Ku rasa, dilempar ke laut juga bagus. Biarkan dia berenang mencari daratan, atau dimakan hiu!" jawab Dean masih emosi.


"Itu terlalu ringan. Bagaimana kalau kita ikat di pinggir kapal dengan kepala terbalik? Kalau sampai besok dia masih hidup, tinggal buang saja ke laut!" bantah Sunil dengan sadisnya.


Pria itu terduduk di lantai dek. Celananya basah dan airnya mengalir kemana-mana, mengikuti olengnya kapal.


"Hah! ku kira sehebat apa dirimu, sampai berani menginginkan istri Dean. Ternyata hanya seorang bayi besar yang masih mengompol di celana!" Alan menghina dan meludahinya.


"Ma... maaf.. kan.. a... aku...," ujarnya mengiba. dia membungkuk di lantai minta dikasihani.


"Jadi bagaimana Dean?" tanya Sunil meminta Dean yang memutuskan.


"Ikat dia terbalik di pinggir kapal selama 1 jam," ujar Dean sambil berlalu menuju kabin.


"Hahh... ringan sekali hukumannya!" gerutu Alan.


Bersama Sunil, keduanya menarik pria itu dari lantai. Bau pesing menguar. Tapi Sunil dan Alan tak peduli. Mereka terus menyeret pria yang kini sudah menjeri-jerit meminta pengampunan. Tapi Sunil dan Alan tak mengendurkan tali pengikat di tubuh pria itu.


Suaranya yang menjerit-jerit saat laut tenang, tentu dapat didengar dengan jelas oleh orang lain.


Kapten Smith keluar dari kabinnya dan melihat apa yang terjadi. Kerabat pria itu juga keluar dari kabinnya dan berlari mendekat saat melihat Sunil menurunkan tubuh temannya melewati pagar kapal.


"Tunggu! Apa yang kalian lakukan?"


Dua dari mereka mengeluarkan pedang untuk mencegah Sunil.


Mata Alan yang mulai merah, menatap keduanya dengan tatapan permusuhan. Alan berdiri di depan Sunil, mewaspadai langkah yang mungkin diambil oleh dua orang asing tersebut. Kedua tangannya kini direntangkan.


Dua orang itu berhenti melangkah, saat melihat mata Alan yang bersinar merah. Mereka makin ciut ketika melihat sambaran-sambaran petir kecil muncul dari kesepuluh jari Alan.


"Mundur!" salah satu dari mereka memberi aba-aba.


3 orang lainnya mundur menjauh.


*******

__ADS_1


__ADS_2