
Silvia membuka matanya perlahan. Langit-langit di atas itu berbeda dengan kamarnya.
"Nona, kau sudah sadar. Syukurlah."
Silvia mencari arah suara yang sangat dikenalnya itu. Suara pelayan wanita yang telah merawatnya selama sebulan belakangan.
"Dimana ini?" tanya Silvia.
"Nona minum dulu." Gadis itu menyodorkan cangkir ke mulut Silvia.
Silvia menyesap teh hangat dan wangi itu. Ada sedikit rasa manis samar tertinggal di lidahnya. Perlahan tenaganya kembali pulih. Tubuhnya kembali hangat.
"Apa yang terjadi?"
"Anda pingsan nona. Tadi, di ruang tamu di depan penyelamat anda." jelas gadis itu.
"Hah? Pingsan?" gumamnya.
Silvia mencoba duduk. Dia mulai mengingat kejadian sebelumnya. Silvia menyadari bahwa ruang dia terbaring ini bukanlah ruang tamu. Tak ada orang lain di situ selain pelayan wanita itu.
"Di mana tabib dan penyelamatku itu?" tanya Silvia.
"Masih ada di ruang tamu nona." jawab gadis pelayan itu.
"Mari kita temui. Aku harus minta maaf," ujar Silvia sambil berdiri.
"Anda yakin tidak apa-apa nona? Tadi tabib berpesan agar saya mengabarkan jika nona sudah sadar. Lebih baik anda tunggu saja di sini." Ujar gadis itu.
"Tapi bukankah itu kurang sopan? Aku harus berterima kasih padanya." bantah Silvia.
"Tidak, anda tunggu di sini sebentar. Tabib mengatakan anda mungkin mengalami anemia dan mudah kelelahan hingga membuat anda pingsan tadi." gadis itu menatap khawatir.
"Hem, baiklah." Silvia mengangguk. Gadis pelayan itu pergi keluar ruangan.
Silvia tau betul, bukan karena lelah berjalan yang membuatnya pingsan. Tapi karena terkejut melihat seseorang yang sangat mirip dengan almarhum tunangannya, Ethan.
"Tuhan, apa rencanamu untukku?" bisiknya halus.
Mata sendunya berkaca-kaca. Hatinya kembali terasa perih. Luka kehilangan dua tahun lalu itu kembali berdarah. Beberapa kenangan berkelebat di pikirannya. Memory saat-saat bahagia dia dan Ethan merajut tali kasih. Tapi sayang, dua tahun lalu Ethan jatuh saat mendaki gunung Rinjani. Meski dirawat intensif, tapi nyawanya tak bisa diselamatkan. Silvia telah mengikhlaskan kepergiannya. Itu sebab hatinya berguncang tatkala melihat duplikat tunangannya ada di dunia ini. Bagaimana bisa?
Terdengar suara-suara dari arah pintu. Silvia menghapus airmatanya dengan cepat. Dia berdiri dan menunggu mereka masuk dengan sopan dan kepala menunduk.
"Duduk saja, jangan berdiri." kata tabib.
Silvia mengikuti dengan patuh. Tabib dan pria penyelamat itu ikut duduk di bangku yang ada di sana.
"Tubuhmu masih lemah. Aku akan meresepkan makanan yang tepat agar tubuhmu segera pulih." ujar tabib.
"Terima kasih." ucap Silvia lembut.
"Tuan, terima kasih sudah menyelamatkan nyawa saya. Saya berhutang pada anda." Silvia berkata halus dan sopan.
Pria itu mengangguk. Matanya ikut tersenyum saat dia tersenyum. Itu membuat hati Silvia kembali dilanda badai. Dengan cepat dialihkannya pandangan.
"Katakan bagaimana saya harus membayar hutang nyawa ini? Jika saja saya dapat melakukannya, pasti akan saya penuhi."
Silvia telah membuat batasan tegas, bahwa pria di depan adalah orang lain, bukan almarhum tunangannya. Dia tak boleh bermain perasaan saat ini. Atau, dirinyalah yang akan terluka karena hidup dalam mimpi masa lalu.
"Ikut pulang dengan saya." jawab pria itu datar.
???
__ADS_1
Silvia mendongakkan kepala.
"Apakah ada yang harus saya kerjakan di rumah anda?" tanya Silvia.
"Hemm, kau cerdas." Pria itu mengangguk.
"Baiklah. Tapi berapa lama saya harus bekerja bersama anda untuk membayar hutang?" tanya Silvia lagi.
"Kenapa? Kau punya rencana lain?" pria itu mulai tertarik. Sebelah alisnya terangkat.
"Ya, saya harus pulang dan mencari teman-teman saya yang lain." jawab Silvia.
"Teman-temanmu?" Pria dan tabib itu saling pandang.
"Ya. Malam itu kapal kami menghadapi badai ganas di laut." Silvia menceritakan tentang perjalanan laut dimalam badai itu.
"Tapi saya hanya menemukanmu di padang pasir itu. Nanti akan saya tanyakan informasi itu pada kafilah lain. Mungkin ada diantara mereka yang menemukan teman-temanmu."
"Terima kasih tuan. Kalau begitu, saya bersedia mengikuti anda." putus Silvia.
"Itu bagus!" ujar tabib bahagia.
Tak lama pelayan wanita tabib membawakan semua barang-barang Silvia yang tertinggal di kamarnya. Mereka berpamitan dengan saling memeluk dan menumpahkan tangis.
"Nona, saya telah memasukkan ramuan obat untuk anda minum dan salep untuk mengobati luka di kemudian hari." Bisik gadis pelayan itu.
"Kau teman terbaikku di sini. Terima kasih." Silvia melepas pelukannya.
"Tidak nona, itu tugas saya merawat anda. Dan saya senang mendengar cerita tentang negri anda. Semoga nona bisa berjumpa lagi dengan keluarga." gadis itu menghapus airmatanya.
"Baiklah, mari kita berangkat." Pria itu memutuskan percakapan mereka.
"Sampai jumpa," kata Silvia.
"Terima kasih untuk perawatan anda." Silvia membungkuk sedikit ke arah tabib.
"Itu kewajibanku. Senang karena kau pulih lebih cepat dari perkiraan." Jawab tabib itu merendah.
Silvia dibawa ke arah kereta kuda. Dia mengikuti pria penolongnya masuk ke dalam kereta. Tak lama rombongan itu bergerak perlahan meninggalkan halaman kediaman tabib.
Di dalam kereta, Silvia tak bisa melihat keluar jendela karena tirainya terlalu tebal. Dan dia akan merasa tidak sopan jika nekat menyingkapnya. Padahal Silvia ingin sekali melihat seperti apa kota tempatnya dirawat selama sebulan ini. Dari kediaman tabib tak mungkin melihat keluar, karena seluruhnya dipagari tembok yang tinggi.
"Ehem.."
Setelah keheningan yang bikin kikuk, akhirnya pria itu memulai percakapan. Silvia mengalihkan pandangannya dari jendela tertutup di sampingnya.
"Namaku Mustafa," kata pria itu lembut dan ramah.
"Aku Silvia," balas Silvia.
"Apa kau ingin melihat kota?" tanya pria itu.
"Ah, penutup jendela yang tebal pasti dimaksud agar penumpang di dalan tidak diketahui bukan?" tebak Silvia.
"Kau cerdas. Tapi setelah memakai ini, kau bisa menyingkap tirai itu sedikit." Pria itu menyerahkan sehelai kain.
"Apa ini?" tanya Silvia tak mengerti.
"Penutup wajah. Apa kau mau pakai?" tawarnya.
Silvia meraih kain itu. Dia mencoba menutupi wajahnya dengan kain kecil tipis itu.
__ADS_1
"Apakah begini?" tanya Silvia.
"Sini biar ku bantu."
Pria itu menahan agar senyumnya tak meledak jadi tawa melihat cara Silvia memakai penutup wajah.
"Hemm, oke." Silvia membiarkan pria itu memasangkan penutup wajahnya dengan benar.
Pria itu mencondongkan tubuhnya, lalu lengannya yang kukuh itu menyingkapkan sedikit tirai jendela. Itu membuat Silvia jadi gugup. Debaran jantungnya jadi tak beraturan karena tubuh pria itu jadi lebih dekat dengannya.
'Sadar Silvia, dia bukan Ethan' batin Silvia. Ditariknya nafas dan dihembuskannya perlahan untuk menenangkan diri.
"Terima kasih. Aku bisa sendiri." tolak Silvia sopan. Wajah putihnya bersemu merah.
Pria itu menyadari rasa malu Silvia dari rona wajahnya. Dia kembali duduk dengan tegak.
"Maaf, silahkan." katanya sambil tersenyum.
Silvia menyingkap sedikit tirai jendela. Kini dia bisa melihat bangunan tembok di pinggir jalan. Warnanya nyaris sama. Warna pasir, putih kekuningan. Beberapa orang lalu lalang dengan pakaian rapat dan berpenutup kepala. Tampak jalan berbatu yang ditutupi pasir. Tak banyak yang bisa dilihatnya, karena kereta itu segera keluar dari gerbang kota. Hanya pasir yang tampak sepanjang mata memandang.
'Apakah aku sekarang berada di tanah Arab? Negara apa ini? Tahun berapa?' batin Silvia.
Silvia menutup kembali tirai jendela untuk menghindari debu pasir memasuki kereta.
"Kota apa yang kita tinggalkan tadi?" tanya Silvia.
"Itu kota Arudh." jawab Mustafa.
"Satu-satunya kota yang paling dekat dengan laut," tambah Mustafa.
"Apakah oase dengan pepohonan yang ku lihat sebelum pingsan adalah kota ini?" tanya Silvia lagi.
"Benar. Danau itu berada di seberang gerbang yang kita lewati. Tanpa adanya danau itu, tak mungkin kota ini bisa bertahan." Mustafa menjelaskan.
"Kenapa kita tak melewati gerbang itu?" tanya Silvia ingin tau.
"Karena sekarang aku ingin pulang ke rumah. Jalur danau itu biasa kami lalui dalam perjalanan bisnis ke kota lain."
"Baiklah. Aku mengerti." Silvia tak ingin memperpanjang pembahasan itu. Udara yang panas membuatnya segera kelelahan.
"Kau bisa membuka tirai jendelanya, agar ada angin yang masuk." tawar Mustafa.
Silvia mencoba menyibak tirai jendela lebar-lebar. Angin panas segera menyerbu masuk. Begitu terik hingga terasa membakar kulitnya.
"Tidak. Anginnya justru sangat panas." Silvia melepas penutup wajahnya dan menggunakan kain itu untuk mengipasi wajahnya yang kemerahan.
"Kalau begitu, tutup saja." Mustafa terlihat khawatir melihat kulit putih itu kembali memerah.
"Apa kau membawa obat dari tabib?" tanyanya khawatir.
"Ya. Dimana barang-barangku?" tanya Silvia.
"Itu di kotak. Sebentar ku ambilkan." Mustafa bangun dari duduk dan membuka kotak yang letaknya lebih dekat dengannya.
"Ada 2 tempat obat. Yang mana obat untuk wajahmu? Ah, kau pilih sendiri saja." Mustafa menyerahkan 2 kotak obat kecil.
Silvia melihat isinya dan segera menemukan salep sejuk yang mengobati kulitnya selama ini. Dia segera mengolesi wajahnya yang terasa memanas. Rasa sejuk dirasakannya setelah beberapa saat salep itu dioleskan.
'Sepertinya lapisan kulitku terlalu tipis, akibat lepuhan luka bakar waktu itu. Untuk sementara tak bisa kena terik matahari dulu nih' pikirnya.
Kereta itu kembali sepi. Yang terdengar hanya derak roda kereta beradu pasir. Silvia tertidur setelah merasakan kesejukan di wajahnya.
__ADS_1
Mustafa hanya memandangi dengan mata teduhnya. Menambahkan bantal di kanan kiri Silvia agar tidurnya lebih nyaman.
*****