PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 69. Beternak Lebah Madu


__ADS_3

Dalam 10 hari, Robert dan timnya bisa menjinakkan 2 ekor kuda lagi dari padang rumput. Lalu seminggu lalu Gilang dan Leon akhirnya berhasil mendapatkan cukup banyak sarang lebah dan membawanya ke kediaman. Kini mereka punya stok madu yang berlimpah.


Begitu banyak, hingga Robert memisahkan beberapa bagian sarang lebah yang menurutnya berisi calon lebah ke wadah gerabah datar yang dibuat dokter Chandra. Lalu Robert pergi ke padang bunga mengambil batang-batang bunga rumput tinggi seperti ilalang. Dijalin dan diikat membentuk seperti topi tinggi besar dengan ujung melengkung. Diberinya lubang kecil dan meletakkan beberapa kayu menyilang di dalam untuk menguatkan bentuknya dan penyangga sarang-sarang madu baru nantinya.


Robert menggunakan 'topi rumput' itu untuk menutup wadah gerabah berisi sarang madu yang dikerubungi para lebah. Robert meletakkannya di atas bebatuan, tak jauh dari makam Toni yang menghadap ke hamparan ladang bunga.


"Beternak lebah madu di sini pasti lebih mudah. Banyak bunga untuk sumber makanannya," kata dokter Chandra saat menatap hamparan bunga di depannya.


"Meskipun mudah untuk memelihara lebah, tapi jika itu tak bisa dijual dan menghasilkan uang buat apa? Pantas saja di hutan kecil di sana itu, beberapa koloni lebah memiliki sarang raksasa. Tak ada manusia yang mengambilnya, hahaha," Gilang tertawa.


Robert dan dokter Chandra ikut tertawa menyadari kenyataan bahwa hanya merekalah yang tinggal di tempat itu.


"Meskipun begitu, tak ada salahnya menyimpan kelebihan sarang lebah seperti ini. Jika kita kehabisan stok, tak perlu mengambil jauh ke hutan sekedar untuk membuat seteko teh manis kan." Robert berargumen. Gilang dan dokter Chandra mengangguk setuju.



***


Empat hari yang lalu Robert dan Liam pergi memeriksa area yang lebih jauh dari lapangan rumput tempat para kuda dan rusa berkumpul. Sebelumnya, setiap tim yang pergi, masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan manusia lain di dekat mereka.


Gilang dan Leon pergi ke hutan kecil untuk kembali mengambil sarang madu. Kali ini mereka bermaksud menyimpan sarang madu itu mengikuti cara yang diajarkan Robert. Mereka membawa seekor kuda yang dipunggungnya diikatkan wadah untuk membawa hasil panen sarang madu.


2 hari yang lalu Silvia dan Angel sudah membuat wadah gerabah yang khusus untuk tempat menyimpan sarang madu sekaligus memeliharanya. Robert membuat disainnya menyerupai kotak dengan lubang pintu masuk kecil dan lekuk-lekuk penyangga batang kayu serta penutup agar sarang itu tidak kebanjiran jika turun hujan. Mereka telah membakar kotak gerabah itu di perapian kemarin. Jadi ada 2 wadah gerabah yang siap menunggu penghuni barunya.


Selesai sarapan, Niken dan Laras pergi ke padang bunga memetik beberapa bunga untuk persediaan teh bunga yang sangat mereka sukai.


Silvia dan Angel masih asik di kebun saat dokter Chandra dan Indra kembali dari mengambil kerang dan kepiting di pantai.


"Silvi, Angel, ini hasil laut yang kami dapat." kata dokter Chandra memanggil.


Silvia meninggalkan pekerjaannya. "Kepiting dan kerang lagi dok?" tanyanya datar. Mereka akhirnya bosan juga keseringan makan seafood.


"Ya, tapi juga ada cumi-cumi kok. Dan tiram. Kami menyusuri pantai lebih jauh dan menemukan ceruk kecil yang dipenuhi tiram mutiara. Lihat ini," dokter Chandra memasukkan tangan ke kantong celana untuk mengambil sesuatu lalu menunjukkannya.


"Woaa.. Ini mutiara yang besar sekali. Indah banget." Mata Silvia berbinar-binar.


"Ya, ini ada beberapa lagi yang belum dibuka, berbagilah dengan yang lain. Kami hanya mengambil tiram-tiram yang besar saja, biar populasinya terjaga.," dokter Chandra menyerahkan keranjang berisi hasil laut pada Silvi.


Indra mengambil cukup banyak. Dia ingin menghadiahkannya untuk Niken nanti. Jadi semua tiram itu disimpannya dalam kendi gerabah yang diisinya dengan air laut, agar tiram tetap hidup. Itu membuatnya harus kembali ke pantai 2 kali lagi sekedar mengumpulkan air laut.


"Dok.. dok. Indra dimana?" terdengar suara Niken dari luar pagar kediaman mereka.


"Dia tadi... Ahh, itu dia sudah kembali." Dokter Chandra menunjuk ke arah belakang Niken.


"Ada apa mencariku? Kangen ya?" kata Indra sambil mencium kening Niken.


Belum sempat Niken menjawab, Indra sudah berkata lagi.

__ADS_1


"Ini hadiah untukmu," Indra menuangkan air laut yang dibawanya ke dalam kendi.


"Apa itu?" Niken mendekat dan melihat kerang-kerang besar di dalam kendi.


"Itu tiram mutiara yang belum dibuka. Kau bisa membuka dan mengambil hadiahmu sendiri. Seperti ini, cantik kan?" Indra menunjukkan sebutir mutiara kuning keemasan berukuran besar.


"Waahh, indah sekali. Ini untukku?" tanyanya penuh harap sambil memeluk lengan Indra.


"Satu kendi ini untukmu semua," Indra tersenyum manis melihat kemanjaan kekasihnya.


"Terima kasih sayang. Kau yang terbaik." Niken mengecup pipi Indra dengan wajah berseri-seri.


"Ah,, jadi lupa deh. Tadi aku mencarimu mau bilang, ada seekor kuda putih di ladang bunga. Cantik banget. Bisakah kau mendapatkannya untukku?" Mata Niken yang tampak begitu ingin, membuat Indra merasa hatinya berbunga-bunga.


"Mari kita lihat," ajak Indra lalu mengambil tali yang telah mereka buat dari kulit batang willow yang dipilin.


Karena sudah punya beberapa kuda, maka Robert mengajari mereka cara membuat tali dari kulit ranting willow yang dipilin dan dijalin hingga 3 atau 4 lapis, agar kuat. Mereka butuh tali untuk nengikat pelana kain dan barang-barang bawaan. Kata Robert, kulit ranting willow sebenarnya tidak terlalu idel untuk dijadikan tali. Tapi karena tidak ada tanaman rami atau pohon poplar, maka sementara harus cukup puas dengan bahan yang ada.


"Laras dimana?" tanya Angel yang kembali dari kebun.


"Dia masih di padang bunga. Aku kembali untuk memanggil Indra," jawab Niken sambil berlalu.


"Ada apa rupanya?" tanya Angel lagi.


"Tadi ada seekor kuda di padang bunga, cantik banget. Ku fikir Indra mungkin bisa mendapatkannya," jawab Niken.


"Hei.. jangan, bahaya. Tunggu Robert saja," dokter Chandra mencegah.


"Hemm, baiklah," dokter Chandra akhirnya mengangguk. Indra dan Niken berjalan pergi.


**


Di padang bunga, Indra berjalan mengendap-endap mendekati kuda yang sedang asik memakan bunga-bunga dan rumput yang ada di situ. Kuda itu masih tidak menyadari bahaya di belakangnya.


Indra menyiapkan tali seperti yang diajarkan Robert. Dikendurkannya tali untuk membuat lubang jerat yang sekiranya cukup untuk menjerat leher kuda.


Dengan diamati oleh Laras dan Niken, pelan-pelan Indra makin mendekat ke sisi kiri kuda lalu berdiri. Tangannya siap berancang-ancang melempar tali. Ketika Indra memutar tali agar membentuk lingkaran, kepala kuda itu berdiri. Tak ada pilihan lagi buat Indra selain melemparkan tali sebelum kuda itu tersadar dan berlari.


Hup.


Tali itu masuk dan menjerat leher kuda, membuatnya seketika terkejut dan melompat lalu berlari. Indra yang tadi masih tersenyum puas, tubuhnya langsung tersentak ditarik kuda yang berlari kacau merusak area padang bunga. Tempat itu berantakan terinjak kaki-kaki kuda yang memberontak lalu lari kencang menjauh.


"Indraaaa!" teriak Niken panik dan mengejar Indra yang mulai jatuh terseret karena tak bisa mengimbangi kecepatan lari kuda.


Laras terbengong melihat adegan mengejutkan itu. Saat tersadar, dia langsung menyambar keranjang bunga dan berlari pulang sambil berteriak-teriak.


"Tolong.. toloong.." teriaknya berulang kali membuat suaranya jadi parau.

__ADS_1


**


Di pondok, Robert dan Liam baru saja kembali. Dokter Chandra menyambut dengan senyum khasnya yang ramah menenangkan.


"Apa ini?" tanya dokter Chandra melihat bawaan di punggung kedua kuda itu.


"Itu tanaman oat. Mirip dengan gandum. Sekarang kita bisa punya alternatif makanan pokok selain kentang dan jagung," jawab Robert.


"Oat? Ternyata berbeda dengan gandum ya? Ku kira sama saja. Dulu di Jakarta aku suka membeli yang instan di supermarket," dokter Chandra mengenang masa lalunya.


"Ya, itu oat yang sudah diproses. Kalau ini oat liar, bukan hasil pertanian. Jadi mungkin bulirnya bisa lebih kecil ketimbang yang biasa dokter beli di toko," jelas Robert.


"Ya, tak masalah. Asalkan manfaatnya masih sama untuk menyehatkan jantung dan pencernaan, maka itu sama saja."


~~Ilustrasi tanaman gandum (wheat)-kiri, Oat-kanan.



Dokter Chandra tersenyum lebar. Dia bahagia karena makanan kesukaannya kini ada di depan matanya. Nanti tinggal tanya Robert bagaimana proses membersihkannya. Dengan sigap dokter Chandra membantu menurunkan beban kuda sementara Robert dan Liam mengambil minum.


"Di mana Indra, Gilang dan Leon?" tanya Robert.


Belum sempat dokter Chandra menyahut, terdengar teriakan Laras meminta tolong dari kejauhan. Robert segera berdiri dan menaruh cangkir di meja kayu lalu berjalan keluar pintu pagar. Laras sudah sampai di depannya dengan nafas terengah-engah karena baru berlari.


"Ada apa?" Robert langsung bertanya tanpa menunggu Laras mengatur nafas.


"Indra, dia terseret kuda." Laras menunjukk ke padang bunga.


"Apa!" semua terkejut. Robert segera lompat ke atas kudanya.


"Di mana dia sekarang?" tanyanya.


"Di padang bunga! Tadi Indra ke padang bunga." Dokter Chandra menjawab cepat.


Robert segera menggebah kuda menuju padang bunga. Sementara Laras terduduk lemas karena letih berlari. Silvia segera menyodorkan secangkir air untuk meredakan rasa hausnya.


***


Info tambahan:


Lebah pada dasarnya bisa dipelihara pada media apapun. Tidak harus kotak kayu seperti yang kini umum dilakukan. Karena di alam liar, lebah kadang mengambil alih sarang burung yang ditinggalkan untuk ditempati koloni ratu baru.


Kreatifitas peternak lebah kini sudah memungkinkan membuat wadah khusus agar lebah dapat bersarang langsung di botol kaca kemasan untuk meminimalkan kerusakan sarang utama. Saat botol sudah penuh dengan sarang, maka tinggal memotong bagian yang terhubung lalu menutup kemasannya dan siap jual madu plus sarang lebah yang lezat serta sehat.


Bahkan inovasi terbaru adalah, rumah sarang lebah otomatis yang tinggal memutar keran saja, madu lebah segar langsung keluar dan masuk ke botol kemasan.


Praktis sekali kan. Apa kk tertarik jadi peternak lebah? gak perlu beli pakan hloo, cuma perlu tanam bunga yang banyak di pekarangan aja 🥰

__ADS_1


Ilustrasi contoh sarang lebah peternakan.



__ADS_2