
Cahaya mulai meredup. Alan dan Dean menghentikan aktifitas mereka. Udara kering dan panas segera menyerbu tim itu. Pasir-pasir beterbangan. Tapi tim itu tak terlalu peduli. Perhatian mereka terfokus pada Alan dan Dean.
Dean dan Alan tumbang. Mereka sangat lemah sekarang. Widuri mendekatkan secangkir air abadi ke mulut Dean untuk menyegarkannya.
"Minumlah," bisik Widuri dengan suara tercekat. Bendungan di matanya hampir jebol.
Marianne merawat Alan dengan telaten. Merendam roti kering ke dalam mangkuk berisi air abadi dan menyuapinya pelan-pelan.
"Jangan berani memejamkan matamu sebelum menghabiskan bubur ini," ujar Marianne.
Alan tersenyum tak berdaya. Entah kenapa, tak seorangpun ingin berbantahan dengan Marianne. Mereka selalu menganggapnya ibu dalam tim, dan menuruti perkataannya.
Sementara Alan dan Dean memulihkan diri, Sunil berjaga dengan kewaspadaan tinggi. Mereka ada di tempat terbuka dan tak terlindung oleh apapun. Jika ada makhluk buas mendekat, Sunil takkan segan membakar mereka hingga menjadi debu.
Suasana sekitar dengan cepat mulai gelap. Bayang-bayang mereka makin terlihat panjang.
"Cepat sekali perputaran waktu di sini!" ujar Leon.
"Mungkin setengah dari waktu di bumi. Atau lebih cepat dari itu." sambung Dokter Chandra.
"Jika makhluk-makhluk ganas itu tidak muncul di siang hari, kemungkinan mereka akan keluar saat gelap!" Indra mengingatkan.
"Ku rasa kau benar. Mereka juga berlindung dari sengatan matahari saat siang. Lalu keluar mencari mangsa ketika malam tiba." Michael mendukung pendapat Indra dengan analisanya.
"Lalu bagaimana...?" Niken tak meneruskan kata-katanya.
Indra menggenggam tangan Niken dan matanya meminta Niken diam. Niken tertunduk, menyadari bahwa situasi tak kondusif untuk memaksa Dean dan Alan bekerja keras lagi. Keduanya sedang terlelap dan beristirahat.
Keselamatan tim berada di tangan mereka kini. Memang masih ada Sunil yang menjaga. Tapi sebagai tim, tak seharusnya mereka terus membebani ketiga orang itu.
Robert akhirnya buka suara. "Kita harus berjaga. Bertahan, hingga Dean dan Alan pulih."
Yang lain mengangguk. Sunil menyerahkan pedang pembunuh kuda yang tadi dipegangnya pada Michael.
"Kau sudah mahir menggunakan pedang!"
Michael mengangguk. Digenggamnya pedang ditangan. Dia ikut berjaga bersama Robert dan Sunil.
Leon juga akhirnya ikut bergabung. Dia menggenggam pisau besar untuk memotong ikan miliknya. Semuanya waspada.
Persis setelah hitam mulai menyambangi malam, permukaan tanah bergetar. Suara langkah-langkah kaki raksasa berdentam dan mengguncangkan benda-benda ringan. Bahkan pelat-pelat batu hitam yang digunakan Dean siang tadi, ikut bergeser sedikit-demi sedikit.
Semua merasakan gentar di hati mereka. Tak terkecuali Robert.
"Menurutku, mereka ada banyak...." cetusnya.
__ADS_1
"Hahh???"
Meski gentar, tapi Michael dan Leon tak punya pilihan. Mereka harus bertahan.
"Ya Tuhan!" pekik Niken tertahan.
Matanya terbelalak lebar ke satu arah. Yang lain mengikuti arah pandangannya.
Dalam bayang-bayang kegelapan yang hampir pekat, terlihat pemandangan luar biasa. Tanah gersang itu berubah jadi arena bermain. Makhluk-makhluk mengerikan itu keluar bersamaan dan berlarian ke sana-kemari. Saling mengejar dan menggigit sesamanya.
Puluhan... tidak! Ratusan makhluk asing besar dan kecil keluar bersamaan.
"Jika mereka menginjak kita, bukankah kita akan seperti remahan rengginang?" celetuk Indra.
Marianne, Widuri dan Niken menoleh pada Indra dengan pandangan asing.
"Serius sedikit!" tegur Niken keki.
"Sunil, tidakkah berbahaya bagi kita berada di tengah lapangan bermain para raksasa?" tanya Michael dengan was-was.
"Trus, mau kemana?"
Sunil melayang naik lebih tinggi. Dia tak bisa melihat apapun. Lalu dia turun.
"Tak terlihat, tapi bisa terendus atau terinjak. Tanpa kita sadari, kita bisa tewas karenanya," celetuk Niken.
"Yang lebih berbahaya, jika ada diantara mereka yang bisa melihat dengan mengandalkan citra panas tubuh kita!" ujar Robert.
Semua terdiam. Sebagai mantan tentara, Robert mengetahui bahwa ada alat untuk pemindai panas tubuh makhluk hidup. Dan di alam liar, mata ular memiliki cara kerja yang serupa.
Sunil menghela nafas. Dia tak tau mau membawa tim itu kemana. Seluruh tempat itu terbuka. Dan dipenuhi ratusan makhluk buas. Dia berpikir keras.
"Bagaimana jika kita pergi ke tebing batu tadi? Mari cari tempat aman di atasnya. Lalu bersembunyi hingga pagi." Robert memberi usul gila.
"Bukankah di sana sarang mereka?" tanya Leon.
"Ya. Siang hari mereka ngumpet di situ. Tapi saat malam mereka pergi. Jadi tempat itu masih mungkin kita tempati jika malam. Bisa kita jadikan tempat istirahat hingga besok dini hari." Robert menjelaskan pemikirannya.
"Tapi harus diingat, kita harus pergi saat cahaya pertama dini hari, muncul. Itu agar kita bisa pergi sebelum para penghuninya kembali," kata Robert.
"Aku paham. Saat mereka pergi, kita gunakan untuk istirahat. Lalu tinggalkan sebelum mereka kembali. Dan waktu dini hari lebih menguntungkan. Langit mulai terang, tapi cuaca belum panas. Kita aman melakukan perjalanan." Dokter Chandra mengangguk.
Robert tersenyum. Sekarang, terserah pada Sunil. Bisa atau tidak, menemukan tebing batu besar itu dalam pekatnya malam. Belum lagi keadaan Dean dan Alan yang masih tertidur pulas.
"Bagaimana pendapatmu, Sunil?" tanya Marianne.
__ADS_1
"Aku sedang berpikir, bagaimana caranya memasukkan kalian ke dalam ruang penyimpananku." kata Sunil.
"Hah???"
Tak ada yang bisa melihat seperti apa ekspresi Sunil saat itu. Seriuskah dia?
"Jika bisa, kenapa tak kau lakukan?" tanya Niken heran.
"Aku tak tau apakah ada udara di dalam sana. Selama ini kita hanya menyimpan bahan makanan dan berbagai peralatan di ruang penyimpanan," jelas Sunil.
"Biar ku coba sebentar."
Michael menawarkan diri.
"Hemm... baiklah. Hanya sebentar, lalu aku akan mengeluarkanmu."
Tangan Michael dipegang Sunil. Tak ada yang melihat bahwa Michael telah lenyap. Sunil menghitung hingga 20, lalu mengeluarkannya kembali.
"Ruang penyimpananmu gelap gulita. Aku tersandung sesuatu tadi. Tapi aku bisa bernafas dengan baik di dalam situ," kata Michael.
"Benarkah?"
Mereka saling berbisik. Harapan muncul.
"Jika memang bisa, itu bagus sekali. Aku akan memasukkan kalian setelah membereskan semua yang dikeluarkan Dean tadi."
Sunil menggunakan pantulan cahaya matanya untuk mengetahui posisi Dean, Widuri dan Alan dan Cloudy.
Dia menyentuh kalung Dean, lalu memasukkan kembali semua batu gunung yang terserak.
Sunil menyentuh kalung Alan dan memindahkan kuda dari ruang penyimpanannya ke tempat Alan. Sekarang ruang penyimpanannya cukup lega. Dikeluarkannya sesuatu dari saku celana, lalu menyerahkan ke tangan Widuri.
Widuri tak sempat berkata apapun. Dia sudah lenyap. Disusul Dean dan Alan dan Cloudy. Lalu tempayan air dan sisa makanan.
Sunil berbalik dan dengan matanya, dia menerima pantulan dari tubuh teman-temannya yang berdiri mematung.
"Widuri, apa kau baik-baik saja di dalam?" tanya Sunil lewat transmisi suara ke ruang penyimpanannya
"Aku baik-baik saja. Kristal cahaya ini sedikit jadi penerang di sini." Widuri memberi jawaban.
Sunil masih ingin bertanya, saat suara berdebum dan getaran tanah makin keras. Dan itu menuju teman-temannya.
"Sial!!"
******
__ADS_1