
Keesokan pagi, saat sarapan, Dean menyampaikan keinginan Widuri untuk pulang.
Dokter Chandra mengangguk. "Biar kami periksa dulu. Jika semuanya baik, kau bisa pulang hari ini," jawab Dokter Chandra.
Widuri terlihat senang. Dia sedang menyusui bayinya. Dan terus mengajaknya bicara, seakan-akan bayi itu sudah dapat menjawab perkataannya. Tapi Widuri akan terkekeh bahagia, jika putranya itu menatapnya dengan mata lucu.
"Kau menggemaskan! Kau cinta pertamaku," ujarnya begitu saja.
"Hei, bukankah seharusnya dia mengantri di belakangku?" protes Dean.
"Hahaha ... kau dengar itu? Ayahmu protes." Widuri tergelak lucu. Dan bayi itu terus memberinya tatapan polos dengan mata bulatnya yang sebiru lautan.
Dean menggeleng tak bahagia. Sekarang dia bahkan harus bersaing dengan putranya sendiri untuk mendapat perhatian Widuri.
Ra, putra Kepala Suku Cahaya mengirim pesan transmisi suara. Para orang tua itu ingin menjenguk Widuri. Sementara Robert sudah pergi untuk mengantar Astrid kembali ke Jakarta.
Dean melarang mereka datang, karena akan kembali ke rumahnya tak lama lagi.
Dokter Chandra, tabib dan putrinya masuk. Mereka akan memeriksa apakah Widuri sudah bisa diijinkan pulang.
Tabib memeriksa denyut nadi, menanyakan beberapa hal, kemudian menulis catatan. Putri tabib memeriksa kandungan Widuri, dan terlihat puas saat dilihatnya bayi itu bisa menyusu dengan lancar. Dia juga menulis catatannya. Pemeriksa terakhir adalah Dokter Chandra. Diperiksanya suhu tubuh, memeriksa denyut jantung, posisi kandungan, dan mengajukan banyak pertanyaan. Mereka telah mencatat yang perlu dan akan mendiskusikannya setelah itu.
Setelah ketiganya pergi, Widuri nyeletuk. "Aku merasa seperti berada di rumah sakit di kota. Dan Dokter Visit beramai-ramai."
"Itu artinya, pelayanan kesehatan di sini juga sudah bagus, kan." jelas Dean. Widuri mengangguk setuju.
"Apa yang akan kau beri sebagai bayaran pada tabib?" tanya Widuri.
"Ya ampun, aku lupa!" Dean menepuk jidatnya.
"Kau ini!" kesal Widuri. "Aku sudah berhari-hari dirawat di sini. Masa mau gratisan?" omel Widuri tak senang.
"Aku punya setumpuk uang yang tak laku di sini," keluh Dean.
"Coba saja tawarkan. Mungkin, setelah melihat alat kesehatan Dokter Chandra, mereka jadi ingin punya, tapi tak punya alat pembayaran!" saran Widuri.
"Kau memang pintar. Biar nanti kubicarakan." Dean mengangguk setuju. Bukankah itu ide yang sangat cerdas?
Ketiga orang itu datang lagi. Kali ini Marianne dan istri Dokter Chandra juga mengikuti dari belakang.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan, semuanya bagus. Jadi Widuri sudah bisa pulang," kata Dokter Chandra.
"Terima kasih, Dokter, Tabib," sambut Dean cepat. Dia senang sekali bisa segera pulang.
"Oh ya, Tabib. Kami tidak tahu bagaimana membayar biaya pengobatan di sini. Tolong katakan padaku bagaimana harusnya," kata Dean.
"Kuharap permintaanku tidak memberatkanmu," ucap tabib.
"Katakan saja," desak Dean.
"Beberapa waktu lalu, aku melihat pisau-pisau dan jarum Dokter Chandra. Bisakah kau membelikannya untukku?" tanyanya.
__ADS_1
Dean menoleh pada Dokter Chandra, minta pendapatnya. "Harganya lumayan," kata Dokter Chandra lewat transmisi suara.
"Akan kucarikan di kota. Bisakah anda menunggu?" tanya Dean. Oh ya, jika aku tak mampu membelinya, bisakah kuganti dengan panel matahari dan lampu-lampu penerang serta jarum dan botol-botol seperti yang digantung itu?" tanya Dean lagi.
Tabib itu melirik pada putrinya, tak mengerti. Wanita itu mengangguk. "Lampu itu terang dan tidak butuh api. Bisa ayah pakai bahkan jika ada pasien darurat di malam hari," ujar putrinya. Akhirnya tabib itu mengangguk.
"Baiklah. Terima kasih." Dean mengangguk hormat.
"Mari kubantu bersiap," ujar Marianne.
Tak banyak yang harus dilakukan. Semua perlengkapan Widuri dengar cepat lenyap ke dalam penyimpanan. Widuri dan bayinya pun berakhir di penyimpanan. Dean sudah siap untuk berangkat.
Marianne keluar dan berpapasan dengan istri Yabie. Dean teringat bahwa dia belum membayarnya.
"Paman sudah akan pergi?" tanyanya sopan.
"Ya. Maaf kami sudah sangat merepotkanmu. Ini, kau simpanlah." Dean menyerahkan beberapa ikat uang kertas ke tangannya.
"Apa ini?" tanyanya. Ini uang di dunia kami. Mungkin suatu saat kau ingin pergi ke sana bersama Yabie. Kau bisa membeli sesuatu dengan uang itu," jelas Dean.
Wanita muda itu terpaku. "Tidak perlu. Aku hanya membantu paman dan bibiku sendiri," tolaknya.
"Pegang saja!" Dean tak mau menerimanya lagi.
"Kami pergi. Terima kasih!" ujarnya sambil melesat pergi.
Dokter Chandra dan istrinya muncul. "Dia sudah pergi?"
"Baiklah ... Aku juga akan membereskan peralatanku," ujarnya sembari masuk ruangan. Istrinya menunggu di luar bersama istri Yabie.
"Jika kau tertarik unjuk membantu wanita melahirkan, akan kubawakan buku-buku kebidanan untukmu nanti," kata istri Dokter Chandra.
"Buku Kebidanan?" tanya wanita muda itu.
"Yang menangani persalinan seperti Widuri itu, namanya Bidan, jika di tempat kami," jelas istri Dokter Chandra.
"Oh, tentu. Adakah buku-buku seperti itu di sana?" matanya berbinar-binar.
Istri Dokter Chandra mengangguk-angguk puas. Nanti kubawakan untukmu!" Senyum keibuannya yang lembut, muncul dan menenangkan.
"Terima kasih." Wanita muda itu membungkuk sedikit, memberinya penghormatan.
*
*
Dean dan Marianne telah sampai di rumah lama mereka di pinggir tebing. Para kakek dan nenek itu sudah tak sabar menunggunya datang.
"Akhirnya kalian datang juga!" ujar Ayah Widuri.
"Ya. Ayo kita pulang. Hari sudah hampir siang," ajak Dean.
__ADS_1
"Bukankah ini rumahmu?" tanya ibunya dalam bahasa Inggris.
"Ya, kami tinggal di sini dulu. Tapi sekarang sudah pindah!" jawab Dean.
"Kalau begitu, ayo. Biar Widuri bisa istirahat dengan nyaman di rumahnya sendiri," putus ibunya Widuri.
Dean menyimpan para nenek ke penyimpanannya, untuk menemani Widuri. Kemudian Marianne menyembunyikan para kakek dalam penyimpanannya. Keduanya siap untuk melintasi pintu teleportasi sekarang.
*
*
Dean dan Marianne sampai di dunia kecil pada petang hari. Niken, Sunil dan Indra menyambut mereka dengan gembira. Terlebih lagi saat Robert mengabarkan bahwa bayi Dean sudah lahir dengan selamat. Ketiganya tak sabar menunggu Dean dan Widuri kembali.
Rumah panggung itu dipenuhi gelak tawa jika tangisan bayi itu terdengar. "Hei, kalian pikir anakku mainan?" omel Widuri gemas.
Anakmu sangat tampan dan lucu!" puji Sunil.
"Siapa dulu dong papanya," sahut Dean bangga.
"Ge-er!"
Niken melempar Dean dengan buah anggur. Dia sedang sibuk memasak makan malam, dibantu para nenek dan Marianne.
Dokter Chandra tiba, persis di saat makan malam akan dimulai. Akhirnya dia dan istrinya bergabung. "Di mana Aslan?" tanya Dokter Chandra.
"Dia pulang ke rumahnya kemarin," jawab Indra.
"Baik. Mari kita mulai makan malamnya," kata Dokter Chandra.
"Sebentar, Dok," potong Dean.
"Aku dan Widuri sudah memutuskan nama untuk bayi kami," ujarnya.
"Wahh ... katakan, apa nama yang kalian pilih!" Semua antusias menunggu Dean untuk menyebutkan nama bayinya.
Dean meminta persetujuan Widuri. Istrinya mengangguk. "Kami memberinya nama Eric Bastian Whittman. Artinya Pemimpin Abadi yang dimuliakan," ujarnya.
"Wah, nama yang sungguh bagus, Dean!" kata Indra. "Aku jadi tak sabar menunggu bayiku lahir dan memberinya nama yang indah juga," tambahnya.
"Bagaimana kami memanggilnya?" tanya ibunya Widuri.
"Eric. Panggil saja Eric!" jawab Widuri.
"Nama panggilan yang simpel. Aku suka menyebutnya. Eric!" Dokter Chandra mengangguk senang.
"Hai Eric, sekarang mari kita bersulang untuk nama barumu!" Marianne menuangkan juice anggur yang dibuat Nastiti petang tadi.
"Untuk Eric, The Leader! Pemimpin masa depan Bangsa Cahaya! Semoga kita bisa bangkit kembali!" Dokter Chandra berdiri dan mengangkat cangkir juice-nya. Semua mengikuti bersulang dan meminum habis juice buah buatan Nastiti.
Makan malam di mulai dengan harapan membuncah di dada. Bahwa bahwa bangsa mereka akan bisa berjaya lagi.
__ADS_1
*********