
Saat tak ada lagi anak panah beterbangan di atas kepala, Liam menarik Laras untuk merayap secepatnya menjauhi medan perang. Gelapnya malam memihak mereka, menyamarkan keberadaan keduanya dari pandangan.
Mereka akhirnya masuk area pepohonan.
"Aku lelah. Lututku terluka," keluh Laras.
"Tapi kita tak boleh berhenti di sini. Sebentar lagi hari terang. Kelompok manapun yang memenangi peperangan itu, pasti akan menyisir seluruh tempat ini dan menangkap orang yang bukan kelompoknya." Jelas Liam.
"Baiklah.. ayo."
Laras bersedia terus jalan. Keduanya berpegangan memasuki hutan itu. Makin lama suara-suara dari belakang menghilang.
"Sepertinya kita sudah cukup jauh Liam. Di sini sangat sunyi. Kita istirahat dulu ya.." Bujuk Laras yang sudah sangat letih.
"Baik, kita istirahat dulu." Liam mengangguk.
Keduanya duduk di rumput basah. Membuka bekal dan memakannya.
"Menurutmu kita ada di dunia yang seperti apa?" tanya Laras.
"Entahlah. Tapi jika penduduk di sini sedang perang, jelas itu tidak menguntungkan buat kita." kata Liam.
"Kenapa begitu? Kita kan bukan bagian dari mereka." ujar Laras.
"Justru karena itulah. Kita orang asing yang mudah dituduh sebagai mata-mata oleh pihak manapun yang menemukan kita. Itu bahaya." Jawab Liam.
Laras termenung.
"Bagaimana dengan Robert?" katanya sambil bersandar ke batang pohon.
"Entahlah. Tapi dia mantan tentara. Dia pasti bisa mengatasi situasi ini lebih baik daripada kita berdua." kata Liam.
Karena tak mendengar respon Laras, Liam menoleh ke arahnya. Di bawah sinar bulan, dia bisa lihat Laras tertidur sambil bersandar.
Liam melihat ke langit yang bersih.
"Jika tak hujan, maka tidur sebentar di sini juga baik." gumamnya.
Liam ikut bersandar ke batang pohon di sebelah Laras. Matanya terpejam dengan cepat.
*
*
Pagi hari.
Merasa terganggu karena ada yang menggoyang-goyang kakinya, Liam akhirnya terbangun. Dikerjap-kerjapkannya mata karena silau sinar matahari.
Ada siluet hitam besar di depannya. Mata Liam mengerut setelah menyadari keadaan. Dia langsung duduk dengan benar. Menoleh ke samping mencari Laras.
"Laras!"
Liam berusaha mendekati Laras yang sudah terikat dan disumpal mulutnya hingga tak bisa bersuara.
__ADS_1
Prukk!
Liam jatuh tersungkur setelah sesuatu memukul punggungnya.
"Ahh.." Erangnya tertahan.
"Laras, apa mereka menyakitimu?" tanya Liam.
"Hemmm.. hemmm.." Laras hanya bisa menggeleng dan memandang Liam dengan mata berkaca-kaca.
"Tolong, bicara baik-baik. Dan jangan sakiti dia. oke?" Liam berusaha bicara.
Orang-orang yang mengerubungi mereka saling bicara. Lalu seseorang mengikat tangan Liam dengan tali. Setelah itu mereka menggiring Liam dan Laras.
Rombongan itu berjalan menyusuri hutan. Ada lebih dari 11 orang pria bertubuh besar, brewokan dan rambut tak terawat. Memakai baju dengan kain kasar, celana dan sepatu kulit.
Laras yang kini tak lagi disumpal mulutnya, berjalan di sebelah Liam. Tali ikatan mereka saling menyambung.
"Kau baik-baik saja?" tanya Liam.
"Ya. Mereka menyergapku saat tidur." jawab Laras.
"Siapa mereka? Apakah salah satu pihak yang berperang kemarin?" tanya Laras.
Liam menggeleng. " Entahlah."
Seorang pria membentak dari belakang. Entah dia bicara apa, Liam dan Laras tak mengerti. Tapi jelas bentakan itu menyuruh keduanya untuk diam.
"Sekarang hanya bisa mengikuti mereka. Tak mungkin kita melawan orang sebanyak ini." jawab Liam sambil berbisik juga.
Prukk!
Liam mendapat pukulan di punggungnya. Dia mengaduh dan terhuyung ke depan.
"Liam!"
Laras menahan tubuh Liam yang hampir jatuh tersungkur. Matanya menatap nyalang pada pria di belakang Liam.
"Apa yang kau lakukan?" teriaknya marah.
"Liam, maafkan kecerewetanku. Maaf jadi menyakitimu. Apa kau baik-baik saja?" Laras mulai menangis.
Rombongan itu terhenti karena keributan itu. Seseorang bicara dan yang lain bicara juga. Didekatinya Laras dan Liam yang jatuh terduduk.
Laras masih marah. Orang itu langsung kena semprot.
"Apa salah kami? Kenapa kalian menahan dan memukuli kami? Liat, Liam tak bisa jalan sekarang. Dasar bar bar!" teriak Laras dengan kesal.
Orang itu tertegun. Tak satupun dari kata-kata itu yang dimengertinya. Tapi dia tau, wanita di depan ini sedang marah karena anggota kelompoknya memukul si pria.
Sekarang dia ragu apakah menahan mereka adalah hal yang benar. Jelas-jelas postur, wajah, pakaian, warna kulit dan bahasanya berbeda.
"Mungkinkah dua orang ini adalah pasangan kekasih yang melarikan diri dari keluarganya?" gumamnya samar.
__ADS_1
Diberinya Laras dan Liam air minum dari tempat airnya sendiri. Dia lalu tersenyum untuk meredakan amarah Laras.
Pria itu membawa Liam dan Laras untuk berjalan bersamanya di barisan depan. 'Ini harus diselidiki dengan jelas' batinnya.
Rombongan itu melanjutkan perjalanan kembali. Laras dan Liam bisa berjalan dengan tenang.
"Apa itu sakit?" tanya Laras lembut.
"Ya," jawab Liam.
"Bersandarlah padaku," tawar Laras. Digenggamnya tangan Liam untuk mengalirkan kekuatan.
""Terimakasih kasih Laras," ujar Liam lirih.
Keduanya lalu berjalan sambil berpegangan tangan. Pria di belakang menatap keduanya sambil menggelengkan kepala.
'Mereka tak terlihat seperti mata-mata. Lebih mirip orang asing yang ingin kawin lari' pikirnya lelah.
Menjelang petang, rombongan itu memasuki sebuah desa. Mereka masuk ke halaman kediaman yang luas. Laras dan Liam dibawa ke sebuah ruangan kosong, kumuh dan bau. Lalu pintu ruangan itu dikunci.
"Apa ini ruang tahanan?" Tanya Laras.
Ada setumpuk jerami di sudut ruangan. Mereka menuju ke tempat itu. Laras ingin duduk mengistirahatkan kakinya yang sudah pegal.
"Aaaahhhh!"
Laras menjerit melihat tikus-tikus keluar dari balik jerami. Keduanya berhenti melangkah.
"Jangan duduk di situ, banyak tikus. Aku jijik liat tikus." Ekspresinya menunjukkan bahwa kata-katanya benar.
Liam melihat area lain ruangan itu. Tak ada tempat bersih di lantai. Semua penuh jerami, kotoran dan cairan berbau tajam. Dia mengerutkan dahi.
Liam berjalan ke satu arah. Menyingkirkan kotoran tikus dan jerami dengan sepatunya. Lalu dia duduk di situ.
"Ini lebih baik. Setidaknya tidak basah." Kata Liam. Laras mendekat
"Kau bisa duduk di pahaku." tawar Liam.
Laras meragu sejenak. Tapi kakinya memang sudah harus diistirahatkan. Jadi dia duduk di pangkuan Liam.
"Numpang duduk sebentar ya. Kakiku cape banget. Nanti ku cari tempat lain." ujar Laras malu.
"Tak apa," kata Liam lembut.
"Kita masih punya dua ekor ikan bakar. Baiknya isi perut dulu."
Laras membuka bungkus bekal mereka yang diikatkannya di pinggangnya. Keduanya makan di bawah tatapan mata belasan tikus yang ada di ruangan.
Laras dan Liam sudah tertidur ketika pintu ruangan itu dibuka. Seseorang masuk dan melihat posisi dua orang asing yang tidur sambil berpelukan. Yang pria memangku wanitanya agar tidak duduk di tempat yang jorok itu.
Lalu dia keluar lagi dan bicara dengan orang lain di luar. Setelah itu terdengar langkah menjauh. Pintu dikunci kembali. Pria satunya juga ikut pergi. Meninggalkan dua orang yang tertidur pulas karena kelelahan.
*****
__ADS_1