PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 264. Linch dan Leah


__ADS_3

Dean dan timnya mengikuti langkah kaki Linch.


"Kita ke rumahku lebih dulu sebelum berangkat."


"Oke."


Dean mengangguk.


Mereka menyusuri jalanan yang lengang.


Jalanan kota Rawa dibangun dengan baik dengan batu yang kokoh. Mirip sebuah jembatan batu panjang, berkelok dan bercabang. Di kiri kanan jalan berdiri rumah-rumah yang juga dari batu dengan fondasi tinggi. Mungkin untuk mengantisipasi pasang surut air laut.


Tapi dasar kota itu sudah tak lagi terlihat. Karena ada banyak sampah tersangkut diantara tiang-tiang rumah serta jalan. Hal itu menimbulkan bau yang campur aduk. Bau busuk, bau asam dan bau anyir makhluk laut yang mungkin hidup diantara tumpukan sampah.


"Ini kota yang 1000% jorok!" kata Sunil lewat transmisi suara.


Dean bisa melihat, semua temannya menutup hidung. Kecuali Jane, yang memang memakai penutup wajah.


Linch membawa rombongan itu memasuki kota lebih jauh lagi. Kota ini sangat sunyi. Yang terdengar hanya suara ramai di kedai minuman di sudut jalan yang tadi mereka lewati.


Linch berbelok memasuki sebuah rumah berpagar kayu. Dek halamannya cukup luas dan terbuat dari kayu tebal. Di depan sana berdiri sebuah rumah sederhana dengan dinding semi permanen. Rumah itu terlihat gelap, tanpa penerangan satupun.


Linch mengunci pintu pagar.


"Ini rumahku. Kalian bisa mengikat kuda... di sana!" katanya menunjuk sebuah sudut, setelah melihat sekitarnya sejenak.


Linch membuka pintu rumahnya yang tertutup. "Leah... aku pulang. Aku ada pekerjaan. Jadi kau...." Kata-katanya terputus.


"Ada apa? Katakan padaku!" teriaknya.


Dean dan timnya kaget mendengarnya.


"Kau mau melahirkan? Tunggu, aku panggil tabib."


Linch langsung lari keluar dengan panik.


"Aku harus panggil tabib. Panggil tabib...."


Linch membuka pintu pagar dan keluar. Dean tak sempat bereaksi melihatnya langsung lari sambil menyebut tabib.


"Ada apa?" tanya Widuri bingung.


Dean belum sempat menjawab Widuri. Linch sudah berlari masuk lagi. Dia menghampiri Dean.


"Beri aku uang. Aku harus memanggil tabib. Istriku mau melahirkan," Linch meminta uang bayarannya dengan tak sabar.


"Apa??" Anggota tim itu terkejut mendengarnya.


"Istriku mau melahirkan!" Linch bicara keras. Dia sangat buru-buru dan khawatir. Tak senang jika harus menjawab bolak-balik.


"Dokter, bisakah kau membantu istrinya melahirkan?" tanya Sunil pada Dokter Chandra.


"Aku pernah menolong persalinan sekali!" Dokter Chandra mengangguk.


"Kau sudah menemukan tabib di sini!" ujar Dean tersenyum.


Linch menatap Dokter Chandra dengan serius. Dia melihat dari atas ke bawah, seakan tak percaya.


"Hei! Mau sampai kapan membiarkan istrimu kesakitan?!: bentak Dokter Chandra gemas.


"Kau tabib?" tanya Linch ragu.


"Aku dokter. Aku mengobati orang sakit di negaraku!" kata Dokter Chandra jengkel.


"Itu namanya tabib!" bantah Linch.

__ADS_1


"Terserah kau saja!" Dokter Chandra berjalan menuju pintu dengan tak sabaran.


"Niken, Widuri, kalian bantu aku!" perintah Dokter Chandra tak mau dibantah.


"Siap Dok."


Widuri dan Niken menjawab serempak. Keduanya mengikuti Dokter Chandra dan Linch ke dalam rumah.


"Kau, jangan lupa kunci pintu pagar itu!" teriak Linch pada Indra yang berdiri di dekat Niken.


Indra berlari untuk menutup pintu pagar dari kayu itu, dan menguncinya.


"Rumah ini gelap sekali," celetuk Niken yang berjalan sambil meraba-raba.


Mereka dapat mendengar suara erangan wanita dari sudut lain rumah itu.


Terdengar suara beberapa benda ditabrak. Tapi kemudian sebuah pelita telah menyala. Sedikit cahaya bisa jadi penuntun jalan.


"Tambahkan pelita lainnya. Di mana istrimu?" tanya Dokter Chandra.


"Aku menemukannya!" teriak Widuri.


Dokter Chandra dan Niken menyusulnya. Tak lama Linch kembali dengan membawa 2 pelita lainnya. Ruangan itu kini lumayan terang.


"Tambahkan pelita lagi. Dan masak air panas segera!" perintah Dokter Chandra.


Linch berlarian ke sana kemari.


Dean muncul di depan pintu.


"Ada yang bisa ku bantu?"


"Bantu dia masak air." Widuri menjawab pertanyaan Dean.


Dean menolehkan kepalanya ke belakang. "Alan, kau bantu masak air!" panggil Dean.


"Oke."


"Sunil, kau berjaga di luar!" perintah Dean.


"Siap!" jawab Sunil.


"Mana panci untuk masak air?" tanya Alan.


"Aku sudah mengisi panci air. Tapi kami kehabisan kayu bakar," jawab Linch kebingungan.


Alan berjongkok. Dibukanya telapak tangannya di bawah panci air. Dengan sinar merah di matanya, dia memantik lidah api yang berkobar-kobar di telapak tangannya. Alan sudah biasa membantu para wanita untuk menyalakan kayu api di tungku masak.


Linch terkejut melihat tangan Alan mengeluarkan lidah api yang berkobar dan sedang memanaskan panci air.


"Linch, berikan aku kain, atau handuk bersih!" teriak Dokter Chandra.


"Ya!"


Linch segera mencari kain bersih yang diminta dokter Chandra. Dia sudah mengabaikan Alan sepenuhnya.


"Dean, berikan dia air minum. Dia sudah kehilangan tenaga," kata Dokter Chandra.


Dean menyerahkan seteko air abadi pada Widuri. Widuri membantu wanita itu untuk minum. Dia terlihat sangat haus, dan minum lebih banyak. Entah sudah sejak kapan dia kesakitan dan tergeletak di lantai.


"Ini kain bersih. Aku tak punya handuk..." kata Linch.


Widuri mendekati Dean. "Keluarkan selimut dan handuk bersih kita," kata Widuri pada Dean.


"Nanti kau membutuhkannya," kata Dean mengerjapkan mata.

__ADS_1


"Kita punya dua, Dean."


Widuri membuka tangannya di depan Dean, meminta barang-barang yang disebutnya tadi.


Dean mengeluarkan selimut dan handuk bersih di udara.


"Kalau di balik dinding cahaya adalah hutan bersalju lagi, bagaimana?" tanya Dean menggoda Widuri.


"Aku akan memelukmu sepanjang hari agar hangat!"


Widuri meraih selimut dan handuk yang melayang menggodanya.


Linch terbengong-bengong melihat hal tersebut.


'Kapten Smith benar. Mereka lebih berbahaya ketimbang macan gendut di luar sana' pikir Linch.


"Sudah waktunya. Kau berdiri di dekatnya, dan beri dia kekuatan!" perintah Dokter Chandra pada Linch.


"Niken, ajari dia bernafas dengan benar."


Dokter Chandra memberi petunjuk. Niken belajar dengan cepat, dan mengajarkannya pada Leah.


"Alan, air itu harusnya sudah selesai sekarang!" teriak Dokter Chandra tak sabar.


"Awas-awas... Air panas!" ujar Alan sambil menenteng panci berisi air panas.


"Ambilkan air dingin pakai wadah besar! Aku tak bisa memandikan bayi dengan air mendidih kan.... Oh Tuhan, aku benar-benar bekerja dengan para amatir."


Dean dan timnya tersenyum mendengar keluhan Dokter Chandra.


Linch segera pergi mengambil air yang diminta Dokter Chandra.


*


*


Di luar, di halaman. Para anggota tim lain duduk di dek kayu yang menjadi halaman rumah itu. Mereka beristirahat dan ikut menunggu proses persalinan itu dengan cemas.


Jane meringkukkan tubuhnya di pangkuan Leon. Setiap kali mendengar teriakan Leah, tubuhnya gemetar ketakutan. Leon menyadari keadaan Jane. Jadi dia memeluknya erat.


"Aku di sini. Aku akan menjagamu," hibur Leon. Tapi Jane terus menutup telinganya.


'Apakah temannya dulu, tewas karena kesulitan melahirkan?' pikir Leon prihatin.


Leon hanya bisa mengusap-usap punggung Jane, untuk menenangkannya.


Tak lama terdengar tangisan bayi. Melengking, memecah kesunyian malam.


"Aahhh... syukurlah, dia akhirnya lahir juga."


Semuanya merasakan kelegaan. Leonpun dapat merasakan Jane mulai tenang. Jadi dia merenggangkan pelukannya, agar Jane bisa lebih leluasa.


Dean keluar sambil tersenyum lebar.


"Linch mendapatkan putra pertamanya."


"Hebat sekali. Aku kapan jadi ayah ya?" celetuk Indra.


"Harus lebih rajin mencoba dong!" timpal Marianne tersenyum.


"Hahahaa... kena kau!" ledek Michael pada Indra.


"Kita istirahat malam ini. Biarkan Linch membereskan beberapa hal dulu sebelum pergi," putus Dean.


"Itu lebih baik. Aku sudah sangat mengantuk," kata Marianne. Dia lalu mencari posisi bersandar pada dinding rumah dan mulai memejamkan mata.

__ADS_1


******


__ADS_2