
Sementara semua temannya membersihkan isi ruang penyimpanan, Dean mengamati ruang gua dengan serius. Dia ingin menutupi jejak pintu masuk lorong dengan menimbunkan bongkahan batu-batu besar. Tapi kolam kecil itu harus tetap ada di sana, untuk mengantisipasi orang-orang yang jatuh ke gua cahaya di gunung salju, bisa menemukan jalan keluar alternatif.
"Kami sudah selesai Dean. Kau butuh bantuan apa dariku?" tanya Alan menghampiri.
"Apa mereka semua sudah keluar?" tanya Dean tanpa menoleh.
"Ya, aku baru kembali dari mengantar mereka," sahut Alan.
"Aku mau menutupi semua jejak keberadaan ruang-ruang di dalam. Dinding gua ini harus diruntuhkan sebagian untuk menutupinya."
"Jadi lebih baik tungku masak dan perapian bata ini kita lepas dan pindahkan ke tempat baru itu. Bagaimana?" tanya Dean.
"Oh, baiklah." Alan menyetujui.
Dean mulai membuka lagi mulut gua yang tertutup batu. Itu akan jadi jalan keluar mereka membawa tungku perapian besar itu.
Dean memotong sedikit dinding batu tempat tungku menempel sebelumnya. Alan hanya menunggu dan memperhatikan. Dia tak punya keahlian memotong batu.
"Baik, ini sudah selesai. Kita angkat sama-sama," ujar Dean.
"Oke,"
Alan mendekat dan mengikuti arahan Dean. Perapian bata itu diangkat bersama keluar melalui pintu gua yang tinggi dan lebar itu.
Perapian itu dibawa melayang melintasi atas gunung, melewati pancuran air yang jatuh dari kabut hitam. Mereka berdua melayang pelan ke tempat teman-temannya yang kembali asik menyusuri dan menandai dinding batas transparan dengan bebatuan.
Perapian itu diletakkan tak jauh dari tempat tempayan air berada. Tempat itu jadi tampak seperti area masak.
"Bagus Dean! Aku bisa segera menyiapkan makan malam kita."
Dewi terlihat senang karena dapurnya kembali.
"Nastiti, bantu aku pindahkan meja makan dan bangku-bangku itu ke sini. Maka lantai batu itu bisa jadi tempat kita tidur nanti malam. Pasti adem."
Widuri ikut membantu kesibukan itu.
"Ayo." jawab Nastiti segera.
"Kalian sudah mengambil semua batu cahaya?" tanya Dewi mengingatkan.
"Ada di ranselku," sahut Nastiti cepat.
Alan dan Dean meninggalkan kesibukan itu. Mereka masih harus menutup pintu lorong.
Petang menjelang saat Alan dan Dean kembali. Mereka membawa kumpulan air di udara. Air itu ditumpahkan membasahi lantai batu. Semua debu tipis yang menyelubungi permukaannya segera tersapu menuju tanah kering di bawahnya.
Sunil yang sedang duduk di meja makan hanya mengamati. Dean dan Alan kemudian ikut duduk bersamanya.
"Bagaimana di sana?" tanya Sunil.
"Pintu gua yang sebelah sana sudah selesai ditutup. Kau bisa cek nanti. Pintu yang sebelah sini, akan kami tutup besok," jawab Dean.
"Baiklah. Sekarang kita makan malam lalu istirahat. Banyak pekerjaan masih menunggu."
"Makanan dataaaang," Dewi membawa dua piring besar makanan, diikuti Nastiti dan Widuri.
Tim kecil itu menikmati makan malam dengan bincang-bincang santai. Tempat tersebut tak lagi terlalu gelap, karena diterangi kristal cahaya ungu dan cahaya perapian dari batu bara yang mereka kumpulkan sebelumnya.
***
Di tempat pembuatan obat.
Tampak Robert, Glenn, dokter Chandra serius memperhatikan semua jenis obat yang ditunjukkan pelayan berdasarkan resep. Dokter Chandra asik menulis semua keterangan di kertas catatannya. Sesekali Robert menggeleng saat tak tau jenis obat yang ditunjukkan pelayan itu. Bagaimanapun, dia bukanlah ahli ramuan yang tau segala jenis obat. Apa lagi ini adalah dunia yang berbeda.
Dokter Chandra menunjukkan catatannya pada Glenn. Glenn terkejut melihat tulisan asing di depannya.
"Hanya ada 2 macam bahan obat yang dikenali Robert. Artinya tanaman itu ada di dunia kami. Yang lainnya kami tak mengerti," kata dokter Chandra.
__ADS_1
"Aku tak bisa menebak-nebak penyakit pasien dengan cara ini. Apa lagi menilai obat yang tepat. Tolong ijinkan aku memeriksa ayahmu," usulnya.
Glenn menimbang-nimbang sejenak.
"Baiklah. Mari kita ke sana. Dan kau lanjutkan merebus obat sesuai resep," kata Glenn pada pelayan.
"Baik tuan muda," sahut pelayan itu takzim.
Glenn dan kedua tamunya berjalan keluar ruangan obat. Mereka bergabung dengan anggota tim lain di teras samping.
"Di mana ayah dan ibu?" tanya Glenn pada pelayan yang ada di ruangan.
"Tuan pergi beristirahat di kamar diantar nyonya, tuan muda," jawab pelayan sopan.
"Baik, dokter Chandra mari ikut saya," ajak Glenn.
"Baik."
Dokter Chandra mengikuti langkah Glenn menuju lantai atas.
"Apa tak terlalu berat untuk beliau naik turun tangga seperti ini?" tanya dokter Chandra heran.
"Untuk ayah ada cara khusus jadi tidak perlu menapaki anak tangga." jawab Glenn.
"Oh, baguslah kalau begitu," sahut dokter Chandra.
Sampai di pintu dengan dua penjaga, Glenn berhenti.
"Katakan pada ayah, aku datang," perintah Glenn pada pengawal.
Tok.. tok.. tok..
"Ya?" suara samar seorang pelayan wanita menyahut dari dalam.
"Tuan muda Glenn mau masuk," lapor pengawal.
Krieetttt..
"Ayah, dokter ini ingin memeriksa keadaanmu," Glenn langsung bicara setelah pelayan pergi dan menutup pintu.
"Baiklah. Untuk melegakan hatimu dan mengurangi kecemasanmu, biarkan temanmu memeriksa." tuan Felix mengijinkan.
Glenn mengangguk pada dokter Chandra. Keduanya mendekat.
"Apa itu?" tunjuk ibu Glenn pada kertas yang dipegang dokter Chandra.
"Oh, ini catatan resep dari tabib tadi," jawab dokter Chandra.
Seorang pelayan menghampiri dan meminta kertas itu. Dokter Chandra menyerahkannya. Dan ibu Glenn juga terkejut melihat tulisan itu.
"Yah, tulisan tabib itu tidak saya mengerti. Jadi Glenn membacakan dan saya tulis ulang untuk memudahkan mengingat resepnya."
Dokter Chandra menjelaskan dengan hati-hati.
Ibu Glenn mengangguk, lalu meneruskan catatan itu ke tangan suaminya. Meski sudah dijelaskan, tak pelak tuan Felix tetap terkejut melihatnya.
"Tabib, anda bisa mulai memeriksa," perintah tuan Felix.
"Baik. Tapi saya dokter tuan, bukan tabib."
Dokter Chandra tersenyum. Lalu mulai memeriksa denyut nadi di tangan tuan Felix. Tapi itu tak membuatnya puas. Dokter Chandra biasa mendengarkan detak jantung dengan stetoskop. Jadi dokter Chandra mendekatkan kepala ke dada tuan Felix dan mencoba mendengarkan detak jantungnya.
Dokter Chandra menemukan bahwa pria tua itu bukan gemuk, tapi mulai agak bengkak. Tampak kerutan dalam diantara kedua alisnya. Ditekannya permukaan kulit lengan Felix dengan jari, lalu melepaskan. Permukaannya tidak segera kembali seperti semula.
"Apakah anda masih bisa buang air kecil?"
"Ya," jawab Felix.
__ADS_1
"Berapa kali sehari? Berapa banyak yang keluar?" tanya dokter Chandra ingin tau.
"Yah, 2-3 kali. Tidak banyak yang keluar," jawab Felix dengan sedikit bingung.
Dokter Chandra mengangguk.
"Apakah selalu merasa ingin buang buang air kecil?" tanyanya lagi.
"Ya," jawab Felix cepat.
"Saya akan menekan bagian-bagian ini. Katakan jika terasa sakit."
Dokter Chandra menekan perlahan bagian ginjalnya kiri dan kanan. Felix meringis pelan saat ginjal kirinya ditekan. Dokter Chandra segera memeriksa dengan seksama.
"Ini bekas luka kapan?" tanyanya.
"Itu sudah lama sekali."
Ibu Glen ikut menjawab.
"Apa disini sering terasa nyeri?" tanyanya ingin memastikan.
"Ya."
"Nyerinya sampai sini tidak?" tanya dokter Chandra lagi.
"Kalau ini saya tekan sakit tidak?"
"Boleh saya lihat luka akibat perang yang terakhir?"
"Malam bisa tidur nyenyak tidak?:
"Batuknya ada riak tidak?"
Pemeriksaan itu lama dan banyak pertanyaan yang diajukan dokter Chandra.
'Pemeriksaan ini jauh lebih lama ketimbang pemeriksaan tabib' pikir Glenn.
Akhirnya dokter Chandra selesai memeriksa dan mencatat temuannya. Tuan Felix diperbolehkan istirahat.
"Apakah di tempat ini ada bunga lavender? Yang bunganya ungu kecil-kecil?" tanya dokter Chandra.
Seorang pelayan perempuan masuk dan ditanyai. Dokter Chandra menggambarkan bentuk bunga itu. Pelayan itu keluar dan kembali membawa beberapa contoh bunga warna ungu dan pink.
Dokter Chandra menemukan setangkai lavender diantara semuanya.
"Ambil lebih banyak bunga ini. Letakkan dalam gelas berisi air. Taruh di dekat tempat beliau tidur," pesan dokter Chandra.
Pelayan itu segera pergi setelah mendapat ijin dari ibu Glenn.
"Apakah bunga itu obatnya?" tanya Ibu Glenn heran.
"Tidak. Bunga itu mungkin dapat membantu tuan tidur lebih nyenyak. Kelihatannya tuan kurang tidur. Jika nafas sesak saat tidur, tumpuk bantal agak tinggi untuk menyandarkan punggung. Untuk batuknya, nanti saya berikan resep pada Glenn. Ruangan ini kurang cahaya matahari. Udara juga tidak leluasa keluar masuk. Jika bisa, buka jendela sepanjang siang hari dan sibak gorden agar ruangan lebih hangat. Yang lainnya nanti saya jelaskan pada Glenn," jelas dokter Chandra diplomatis.
"Kami keluar dulu ibu. Ayah beristirahatlah."
Glenn membungkuk diikuti dokter Chandra, lalu keluar ruangan.
Setelah pintu tertutup, Ibu Glenn yang sedang menyingkap gorden merah gelap di ruangan itu bertanya.
"Apa kau masih ingat dengan tulisan itu sayang?" tanyanya sambil lalu.
Uhuk.. uhuk..
"Ehemm.. yah, itu cukup mirip," mata Felix menerawang ke masa lalu. Masa dia muda dan suka berpetualang ke berbagai tempat.
***
__ADS_1
Jangan lupa kasih like 👍ya kak. Dan terima kasih untuk semua komen yang masuk. Sungguh bahagia membacanya.
Banyak cinta untuk semua pendukung... 💙💙💙