PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 173. Kang si Penjaga Makam


__ADS_3

Robert menceritakan asal mula dia sampai disitu. Dan ingin mencari tempat yang bisa membawanya kembali ke dunia manusia di masa yang sama.


Teman barunya Kang membaca ingatan Robert. Dia sedikit terkejut mengetahui masa yang telah berubah jauh. Kang juga tak mengerti bagaimana Robert bisa menemukan tempat itu, sementara tak ada seorangpun yang datang sebelumnya.


Robert akhirnya mengetahui bahwa Kang sendiri tak bisa keluar dari hutan itu. Sejak pesan terakhir ayahnya meminta untuk menjaga makam. Sejak itu dia terikat dengan tempat itu. Tidak pernah tau lagi keadaan di luar sana.


Kang menunjukkan pada Robert kompleks pemakaman. Diantara kerindangan pohon cerry yang sedang mekar, tampak beberapa makam besar, rapi dan bersih berada di belakang bangunan yang pertama dilihat Robert. Tempat itu tampak indah dilihat dari pelataran bangunan depan.


Tapi Robert tetap tak diijinkan untuk memasuki kompleks tersebut, karena bukan kerabat dari salah satu pemilik makam.


Robert juga melihat sebentar isi bangunan depan yang awalnya berfungsi sebagai kuil tempat berdoa para pengunjung. Tapi biksu yang dulu menetap di situ juga sudah tiada. Ayah Kang dan biksu terakhir di situ, dimakamkan di tempat lain.


"Lalu bagaimana caramu bertahan hidup selama ini?" tanya Robert.


Kang menyentuh dahi Robert. Robert menatap tak percaya.


"Maukah kau menunjukkan tempat itu padaku?" Robert penasaran.


Kang membawa Robert kembali ke kamar bawah tanah. Robert heran, kenapa mereka justru kembali. Berada di ruangan itu membuat Robert merasa terkurung. Karena dia tak mempunyai ilmu melompat seringan kapas untuk bisa leluasa naik atau turun.


Kang melangkah ke dinding kosong antara kamar Robert dan ruang tempat meja berada. Entah bagaimana caranya, tapi kini tampak sebuah lorong di depan sana.


Kang masuk dan mengajak Robert untuk mengikutinya. Robert mengikuti dengan penasaran.


"Ternyata ada jalan rahasia di sini," gumam Robert.


"Aduh, kaget." Ujar Robert.


Dia terkejut melihat tiba-tiba pelita di dinding menyala sendiri saat Kang berada di bawahnya.


"Amazing," gumamnya.


Cukup lama mereka berjalan. Berkelok-kelok dan sesekali ada percabangan. Satu persatu pelita menyala menerangi lorong panjang itu.


"Jauh juga. Jika berjalan sendiri, aku pasti bisa tersesat." Kata Robert.


Kang hanya diam saja sepanjang jalan. Matanya menatap lurus ke depan.


Sekira 20 menit kemudian, lorong itu berakhir. Robert tak tau bagaimana cara Kang membuka pintu di dinding batu di depannya. Kini mereka berada di sebuah ruangan persegi ukuran sekitar 4x4 meter. Tak lama dinding lorong tadi menutup kembali. Lalu muncul tangga batu dari dinding lainnya yang benar-benar menutup pintu mereka keluar tadi. Orang asing pasti tak kan mengetahui ada pintu rahasia dibalik tangga. Ruang persegi ini terlihat seperti gudang bawah tanah biasa. Ada beberapa rak di dinding yang entah diisi apa. Kang naik ke atas. Robert terus mengikuti.


Sampai di tangga teratas, Kang membuka penutup kayu di atasnya. Sedikit cahaya menerobos masuk dan menerangi undakan tangga. Robert mengikuti Kang naik. Kini mereka ada di sebuah ruangan yang cukup luas. Di satu sudut ada split level lantai setinggi 50 cm terbyat dari kayu berwarna merah tua mengkilap. Di atasnya ada gulungan kasur tipis usang, ada meja pendek dan bufet pendek juga. Ada 2 undakan dari kayu menuju ke atas situ.


Di sebuah sudut ada meja bundar dengan 3 bangku. Ada lemari ukuran sedang. Semua perabotan kayu di ruangan itu terlihat sangat tua. Warnanya merah kecoklatan dan mengkilap.


Kang membuka satu-satunya jendela yang ada di dekat meja bundar. Udara segar memasuki ruangan. Lalu dia membuka pintu lebar-lebar.


Robert mengikuti Kang keluar ruangan. Di depan sana ada hamparan ladang gandum, sayuran serta pohon buah-buahan.


"Wow.. jadi selama ini kau memenuhi kebutuhanmu sendiri. Hebat sekali." Puji Robert.


Robert berjalan dan melihat-lihat sekeliling pondok itu.

__ADS_1


"Kau bahkan memelihara ikan, ayam, kuda, domba dan... sapi?" Robert terheran-heran.


Kang menyentuh kening Robert, memberi tau sesuatu.


"Benarkah? Sapi-sapi ini datang sendiri? Bagaimana bisa?" Robert tak percaya.


Kang menyentuhkan jarinya lagi ke kening Robert. Informasi itu membuat Robert tak tau harus bereaksi seperti apa.


"Sebagian kebun dan sapi-sapi muncul setelah terjadi gempa. Hubungan dengan dunia luar terputus. Ayahmu dan biksu tua berusaha keras untuk mencari jalan keluar, tapi hingga akhir hayat, tidak berhasil." Robert termangu.


Robert mengangguk-angguk.


"aku mengerti. Sejak saat itu kalian memenuhi kebutuhan sendiri dengan menanam semua tanaman ini. Menakjubkan.


"Tapi terkurung ribuan tahun di sini, membuatmu tak bisa mendapatkan pasangan. Sayang sekali." Robert menghela nafas.


"Hidupmu menakjubkan Kang. Tapi aku ingin mencari jalan pulang. Apakah kau pernah melihat dinding cahaya yang merupakan celah antar dunia?" tanya Robert.


Kang menyentuh kening Robert.


"Bukan cahaya seperti yang melingkupi makam. Cahaya yang kumaksud, jika kau memasukinya, kau tak bisa kembali lagi. Kau akan berpindah ke dunia lain dan masa yang lain juga." Jelas Robert.


Kang menyentuh dahi Robert sejenak, lalu dia menggeleng.


"Huft.. komunikasi seperti ini membuatku kesepian. Disini hanya aku sendiri yang bicara. Apa kau tak bisa bicara? Atau sudah terlalu kaku karena tak ada teman bicara selama ribuan tahun?" Robert menggerutu.


Kang menyentuh dahinya. Lalu tersenyum tipis sebagai jawaban.


"Sini, ku ajari kau bahasa kami. Jadi kita bisa saling bicara. Sungguh aneh bicara sendiri begini."


"Hah.. Aku dicuekin. Baiklah. Beritau aku apa yang bisa kubantu." Kata Robert. Kang hanya tersenyum sambil memerah susu.


Hingga sore, keduanya asik bekerja, memetik sedikit sayur, membersihkan kulit padi, menangkap 2 ekor ikan yang sangat gemuk. Hari makin sore ketika keduanya asik menyiapkan makan malam.


*


*


Pagi hari, Robert ingin memeriksa seluruh hutan, untuk mencari jalan keluar. Kang menemaninya. Mereka berkuda


'Area hutan ini luas juga. Tak heran pohon-pohonnya meraksasa. Ribuan tahun tak ada yang mengganggu.' batin Robert.


Hingga siang hari, mereka akhirnya sampai ke tepi jurang. Di kejauhan tampak air terjun dan aliran sungainya berkelok-kelok. Robert mengamati lembah di bawah sana.


"Kang, apa kau pernah turun ke sana? Atau tempat asal air terjun itu?" tunjuk Robert ke arah tebing di seberang sana.


Kang menyentuh dahi Robert. Lalu menggeleng.


"Kau tak tau tempat itu? Mungkin itu bukan bagian dari tempat ini. Dimensi yang berbeda?" Robert berasumsi.


Dengan penasaran, diambilnya sebatang ranting, lalu dilemparkan melewati tebing jurang. Ranting itu meluncur jatuh dan hilang begitu saja di kedalaman jurang.

__ADS_1


"Tak ada bias cahaya sama sekali." guman Robert kecewa.


"Ku rasa, sekarang aku tau kenapa kau tak pernah ke sana. Karena jurang ini terlalu tinggi dan tebing di sana tak bersambungan dengan tempat ini. Tapi menurutku, tebing itu juga masih bagian dari tempatmu ini." Robert menjabarkan pemikirannya.


Kang kembali menyentuh dahi Robert untuk memahami apa maksudnya.


"Kang, selama aku di sini, kau harus belajar bicara. Jangan diam saja. Aku bosan bicara sendirian. Coba kau ikuti aku. Cara paling simpel untuk melatih suara adalah berteriak." Kata Robert.


Kang menyentuh dahi Robert. Dia tersenyum lebar, hampir tertawa. Namun masih tanpa suara.


"Ayo, berteriak."


"Aaaaaaaaaaaaaa.." Robert berteriak kencang ke arah lembah. Tak lama terdengar gaung dari sana.


"Hahahaa.. kau dengar itu? Ayo. Sekarang giliranmu berteriak. Keluarkan suaramu agar tak merasa kaku untuk bicara."


Robert mendorong Kang untuk berteriak. Kang menolak. Ayo.. tak perlu malu padaku. Kita berteman kan?" bujuk Robert.


Setelah berkali-kali menolak bujukan Robert, akhirnya Kang tertarik untuk mencoba.


"Ayo.. ayo.. kang, ayo.. kau pasti bisa. Buka mulut lalu bilang Aaa sekuat tenaga." Bujuk Robert lagi.


Kang membuka mulutnya dengan ragu. Lalu mengatupkannya lagi tanpa mengeluarkan satu suarapun.


"Loh.. kok gak jadi? Ayoo.." bujuk Robert heran.


"Aaaa.. bilang aaa.." Robert mengajari dengan sabar.


Kang melihat ke lembah, mulutnya bergetar. Dia menggigit bibirnya dan terlihat tak yakin.


"Ayo, jangan merasa malu padaku." Robert masih terus membujuknya.


"Lihat satu titik di sana, trus keluarkan segenap perasaanmu. Apa kau tak kesepian? Tak kesal karena terkurung di sini? Tak kesal karena tak punya istri?" Kata Robert memprovokasi.


Wajah Kang mulai memerah. ekspresinya berubah saat menyentuh dahi Robert.


"Berteriak bisa melegakan perasaanmu. Meringankan sedikit pikiran yang kusut." Robert terus mengompori.


Kang melihat Robert di samping. Mengikuti Robert yang sedang menarik nafas dalam, lalu membuka mulut dan berteriak sekencang-kencangnya. Kang melakukan hal serupa, lalu mengeluarkan suaranya.


"Aaaarrgghhhhh...!"


Robert terperanjat dan segera lompat menjauh. Beruntung dia tak jatuh meluncur ke jurang saking kagetnya.


Dengan wajah berseri, Kang menoleh pada Robert yang pucat pasi.


"Kau.. kau... mengeluarkan api dari mulutmu. Apa kau keturunan naga?"


Robert tak tau mau berkata apa. Dia benar-benar tak menyangka. Tak heran dia enggan bicara.


Kemudian tercium bau asap dan kayu yang terbakar. Robert dan Kang terkejut.

__ADS_1


"Sial! Kau membuat hutan ini kebakaran. Bagaimana ini?" Robert panik.


*****


__ADS_2