PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 315. Pengorbanan Penguasa


__ADS_3

Dean, Robert dan Sunil pergi. Alan duduk di sebelah dokter Chandra yang masih berbaring di pasir.


"Lihat!" tunjuk Sunil ke arah pantai.


Mereka terbang mengitari pantai. Tak ada lagi bangkai ikan di situ. Bahkan bangkai-bangkai kapal juga lenyap.


"Kau sampai lupa mengatupkan mulut," ledek Robert pada Dean.


"Ayo kita periksa ke daratan!" ajak Sunil antusias.


Dan ... kembali mereka dibuat terdiam. Tempat itu sudah bersih sekarang. Benar-benar bersih! Dalam artian, bahkan seluruh puing bangunan, telah lenyap tersapu. Pulau itu sama sekali kosong. Gundul tanpa puing apalagi tanaman. Tapi, di beberapa tempat, terlihat jejeran batu penanda makam.


"Bagaimana Penguasa melakukannya?" gumam Sunil takjub.


Mereka melakukan sejak pagi, baru sepertiga pulau yang bisa dibereskan. Tapi Penguasa bisa membersihkan dalam waktu tak lebih dari semenit.


"Tadi kau bilang, Penguasa berkorban untuk melakukan ini? Apa maksudmu? Apa yang akan terjadi padanya?


"Jika di dunia kita, maka usianya akan berkurang 10 tahun. Tapi beliau sudah tiada. Jadi, kupikir ...."


Robert ragu untuk melanjutkan.


"Apa kekuatan jiwanya akan melemah?" tanya Sunil.


"Atau akan tertidur cukup lama hingga kekuatannya pulih?" tebak Dean.


"Aku tidak tau efeknya sekarang. Jadi kita harus mencari tau. Jika keadaannya sulit, maka biarkan Marianne merawatnya di ruang penyimpanan. Bagaimana menurut kalian?" Robert menunggu jawaban teman-temannya.


"Ya. Kita lakukan seperti itu saja," putus Dean. Sunil mengangguk setuju.


"Kalau begitu mari kembali. Sebaiknya kita segera membuat tempat berteduh."


Robert terbang mendahului kedua temannya. Sunil dan Dean segera menyusul.


Alan masih duduk di tempatnya, memayungi dokter Chandra yang terbaring lemah, dengan kubah cahayanya.


Dean memilih tempat yang lebih tinggi dari pantai. Dia membuat alas berbaring dari batu gunung. Kemudian mengangkat tubuh dokter Chandra hati-hati dari pasir pantai. Memindahkannya ke tempat yang disiapkan. Tubuh lemah itu kembali dibaringkan dengan hati-hati.


Alan bangun dari duduknya dan terbang menyusul. Kemudian kembali duduk dan memasang cahaya pelindungnya, karena matahari sedang terik-teriknya.


Robert membantu meminumkan secangkir air, lalu menyirami tubuh itu hingga basah kuyup, berharap fisiknya segera pulih.


Sunil dan Dean saling bantu membangun tempat berteduh untuk dokter Chandra. Kepingan batu yang selalu dibawa Dean, sangat membantu di saat-saat darurat seperti ini. Sekarang tempat itu bisa melindungi dokter Chandra dari panas matahari.


Widuri, Marianne, Niken, Indra dan Cloudy keluar. Mereka mulai menyiapkan hidangan, setelah Dean memutuskan untuk beristirahat di tempat itu, malam ini.

__ADS_1


"Pulau ini benar-benar botak!" Celetuk Niken.


"Itu karena sudah dibersihkan oleh mereka," ujar Widuri.


"Pasti itu juga sebabnya dokter Chandra jadi kehabisan tenaga," tambah Marianne.


"Bayangin, pulau sebesar ini diberesin dalam sehari. Jika orang biasa yang melakukannya, mungkin butuh waktu sebulan baru bisa sebersih ini," kata Widuri lagi.


"Jadi, ayo masak. Hanya ini yang bisa kita lakukan untuk memulihkan tenaga mereka yang terkuras," tukas Marianne.


Ketiga wanita itu mulai menyiapkan bahan makanan. Tapi, Indra kebingungan mencari kayu bakar untuk masak. Dia sudah naik ke bukit, tapi tak menemukan satupun jejak makhluk hidup di sana. Tempat itu sangat ... sangat bersih seperti halaman baru disapu. Dengan lesu dia turun dan melapor pada Niken.


"Tak ada apapun di sini. Tak sepotong rantingpun tersisa. Hanya ada batu saja," lapor Indra.


"Ya sudah ... bakar batu saja!" sambar Robert.


"Kalau begitu, itu tugasmu!" sambar Indra cepat.


"Oke. Katakan saja kapan kalian mau mulai memasak." Robert menyanggupi.


Langit baru saja meneduh. Warna birunya yang cemerlang kini mulai bersaput awan putih kecil di mana-mana. Dan perubahan itu jauh lebih menyenangkan buat anggota tim. Intensitas cahaya yang kuat di siang hari tadi, memang tak dapat membakar kulit mereka. Karena Alan melindungi dengan kubah cahaya merah. Tapi tingkatan terangnya tetaplah sangat menyilaukan. Terutama karena riak air laut juga ikut memantulkan cahayanya ke semua tempat.


Robert telah membakar beberapa batu besar hingga membara. Sebuah panci diletakkan di atasnya. Niken sibuk mengaduk panci sayur. Mereka sudah hampir selesai menyiapkan hidangan.


"Berapa lama aku tertidur?"


"Apa yang anda rasakan sekarang?" tanya Dean.


"Tidak ada. Aku hanya haus dan lapar," jawab dokter Chandra.


"Makanan akan segera selesai Dok!" teriak Niken dari depan tungku.


"Ah, bagus sekali. Aku ingin minum du—"


"Ini minumnya." Sunil segera menyodorkan secangkir air abadi.


"Terima kasih, Sunil."


Dokter Chandra menerima cangkir air dan meminumnya.


"Apa aku tadi membuat kalian khawatir?" tanya dokter Chandra.


"Bisakah kau sekarang mengeluarkan cahaya di matamu?" tanya Alan ingin memastikan.


Dokter Chandra berdiam diri sejenak. Tapi tak terjadi perubahan apapun pada dokter Chandra.

__ADS_1


Tiga orang itu terduduk lemas.


"Ada apa? Apakah jiwa Penguasa tidak akan muncul lagi?" Dokter Chandra juga ikutan bingung.


"Tidak tau. Mungkin terlalu banyak mengeluarkan tenaga. Jadi jiwanya melemah. Kemungkinan tidak akan muncul untuk beberapa waktu ke depan." Dean mengatakan asumsinya.


"Yah ... kita hanya bisa menunggu perkembangan selanjutnya." Sunil sepakat dengan asumsi Dean.


"Hidangan sudah siap."


Widuri memanggil anggota tim untuk menikmati hidangan makan malam, di petang hari.


Udara sore itu teduh. Angin bertiup mengusir suhu panas yang terlanjur mengendap di dalam bumi. Beruntung mereka memiliki alas duduk dari kepingan batu gunung yang dingin alami. Hal itu memudahkan untuk beristirahat dan berkumpul sambil makan


"Apa rencana kalian selanjutnya?" tanya dokter Chandra.


"Besok kita pergi ke pulau besar yang di sana itu!" tunjuk Dean ke satu titik di cakrawala.


"Kami tak melihat apapun di situ," keluh Indra.


"Besok kalian akan melihatnya. Jadi istirahatlah malam ini. Dan ... Dok, sebaiknya besok ikut beristirahat dan memulih diri juga," ujar Dean.


"Baiklah," sahut dokter Chandra.


"Menurut kalian, bagaimana cara kerja kita besok?" tanya Robert.


"Memangnya, bagaimana cara kerja kita?" Alan balik bertanya dengan heran.


"Jika seperti tadi, bagaimana?" tanya Sunil.?


"Itu efektif untuk pulau kecil. Di sini saja, Penguasa sampai harus mengorbankan dirinya untuk membersihkan kekacauan. Bagaimana lagi jika kita melihat pulau besar? Mau berapa lama kita tertahan di sana? Apa kalian tak ingin segera sampai Jakarta? Kalian tak ingin segera mencari keluarga kalian?"


Kata-kata Robert membuat mereka terdiam. Sebenarnya mereka sangat khawatir. Tapi, seiring berlalunya waktu, harapan itu menipis. Jadi mereka bersikap pasrah.


"Jika pulau di depan adalah pulau besar semacam Kalimantan, aku rasa mereka punya cukup personel untuk membereskan kekacauan di sana. Jadi kita bisa fokus pergi ke Jakarta," Robert menambahkan.


"Yang lain, bagaimana?" Dean memberi kesempatan pada timnya untuk mengutarakan pendapat.


Mereka berdiskusi hingga tirai malam turun.


"Baik. Kita sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke Jakarta, jika pulau di depan adalah pulau besar. Benar begitu?" tanya Dean sekali lagi.


"Ya!"


Jawab anggota tim lain.

__ADS_1


Dean mengangguk. Kalau gitu, baiknya langsung istirahat aja.


********


__ADS_2