PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 73. Berburu Tiram Mutiara


__ADS_3

Hari masih terang tanah, matahari bahkan belum sepenuhnya muncul saat lima pria keluar dari pondok lalu bersiap-siap. Ada yang memakai sepatu, ada juga yang menyiapkan keranjang.


"Kalian mau kemana pagi sekali?" tanya Niken yang baru kembali dari sungai bersama Angel. Mereka memegang obor daun kelapa sebagai penerang jalan.


"Ke pantai, melihat matahari terbit," jawab Gilang dengan tingkah kocak.


"Mau cari kepiting yang terlambat pulang," sahut Leon tak mau kalah.


Angel dan Niken mengangguk lalu berjalan melewati.


"Jangan kelamaan di pantai, nanti sarapannya keburu dingin," Angel mengingatkan.


"Siap." sahut keduanya berbarengan, lalu segera menyusul Robert, Liam dan dokter Chandra yang tidak menunggu mereka.


Angel menambahkan rumput ke tempat empat kuda ditambat. Mengelus dengan sayang si putih yang cantik.


Niken mulai merebus obat di dapur, membiarkannya lalu pergi untuk mengecek keadaan Indra.


**


Kelima pria asik mengorek pasir pantai mengumpulkan kerang dan cumi yang terkubur di pasir. Mereka menemukan banyak sekali kerang karena datang lebih pagi.


"Sudah cukup belum? Mari kita mencari tiram mutiara." Dokter Chandra mengingatkan tujuan utama mereka.


"Oke. Sudah dapat satu keranjang nih." Liam menunjukkan keranjang yang dipegangnya.


"Yang kudapat ini satukan saja denganmu," kata Leon menuang isi keranjangnya. Yang lain mengikuti langkahnya. Keranjang itu benar-benar full sekarang.


Robert menutup bagian atas keranjang dengan menyelipkan tali saling kait mengait cukup rapat agar kepiting tidak mudah untuk kabur keluar dari keranjang meskipun ditinggalkan.


Keranjang itu diletakkan dekat tangga tali untuk dibawa nanti. Sekarang mereka berjalan riang menuju ceruk kecil untuk berburu tiram mutiara.


Tempat itu lumayan jauh dari tepi pantai yang biasa mereka eksplorasi. Bagian tempat itu dipenuhi bebatuan besar dan kecil di sana-sini. Di balik salah satu batu besar terdapat ceruk kecil dan rendah, dipenuhi air laut. Ada banyak tiram mutiara yang terperangkap di sana saat permukaan laut turun.


Ekspresi kelimanya tak disembunyikan lagi. Mereka bersorak melihat cukup banyak tiram besar di situ.


"Oke, kita ambil yang besar-besar saja. Biarkan yang kecil nanti kembali terbawa air ke laut saat pasang naik," pesan dokter Chandra.


"Siap dok, laksanakan!" Leon, Liam dan Gilang menjawab gesit. Mereka memungut tiram-tiram besar dengan tangkas, lalu dimasukkan dalam keranjang.


Robert dan dokter Chandra mengambil di bagian lainnya dan memasukkan dalam keranjang yang mereka bawa.


Tak butuh waktu lama untuk menyisir ceruk kecil itu. Tangan-tangan itu lincah memilih tiram besar, bahkan yang terselip diantara bebatuan.


"Aku ini sedang menolongmu yang terjepit diantara batu. Jadi berterima kasihlah padaku," kata Liam konyol pada cangkang tiram di tangannya.


Kata-katanya tak ayal membuat kedua temannya tertawa keras.


"Ya, kami hanya ingin membantumu menyingkirkan batu besar yang terselip di kulitmu." Leon ikut-ikutan bicara pada cangkang tiram di tangannya.

__ADS_1


Tawa ketiganya kembali meledak.


"Sudah siang, ayo pulang. Besok masih bisa dicari lagi yang besar-besar." Robert menyudahi keasikan ketiganya.


"Yah, ayolah. Rasanya juga sudah tidak ada lagi yang ukuran besar," sahut Gilang.


Mereka beriringan kembali ke pondok membawa hasil laut di keranjang masing-masing.


**


Laras, Niken, Angel dan Silvi sedang mengobrol di dapur saat kelima pria kembali dengan begitu banyak keranjang. Tapi mereka hanya memperhatikan.


Robert dan Liam mengangkat keranjang berisi kerang dan kepiting, lalu keranjang itu dimasukkan dalam kolam ikan. Sementara biarkan tetap disitu, sampai saat para wanita ingin memasaknya.


Gilang, dan Leon sudah sibuk bercerita di dekat dapur, bagaimana mereka mencari tiram mutiara tadi.


"Jika ingin membukanya sekarang, boleh. Jadi daging tiramnya bisa sekalian dimasukkan dalam kuah sup pedas yang kami buat," kata Laras.


"Kalian membuat sup pedas?" Leon bertanya balik. Matanya berseri-seri. Dia sangat menyukai sup pedas berisi hidangan laut.


"Ya, tadi juga kami sudah membuka mutiara yang diberikan dokter Chandra kemarin. Ada cukup banyak daging tiram, jadi kami putuskan untuk membuat sup seafood pedas agar rasanya jadi lezat," jawab Angel.


"Kalau begitu, tiram kami dibuka nanti sore saja, untuk sajian makan malam kita," dokter Chandra ikutan bicara.


"Ya, kami sudah sangat lapar. Apakah sarapannya sudah siap?" tanya Gilang.


Laras mengangguk lalu masuk ke dapur diikuti Niken, Angel dan Silvia. Mereka juga sudah lapar karena menunggu para pria kembali untuk sarapan.


"Kau menjijikkan," omel Angel melotot pada Liam.


"Kalian menambahkan cabe terlalu banyak dalam sup. Kejam sekali," rungut Liam protes.


"Kau selalu protes pedas, tapi makan paling banyak," cela Gilang.


"Hahahaa.." semua mentertawakan Liam yang makin bersungut-sungut.


"Sudah, habiskan semua. Setelah ini kita masih harus menjemur oat," dokter Chandra menengahi.


"Oke dok." jawab Gilang dan Liam.


"Tadi kami sudah merebus lagi beeswax yang tadi malam. Mungkin sore sudah bisa dicetak jadi lilin," lapor Silvia.


"Ya, tunggu membeku dulu." Robert mengangguk.


"Ahh, andai aja kita juga bisa buat sabun, maka bisa mandi lebih bersih. Bisa nyuci baju lebih bersih juga," celetuk Angel sambil menerawang.


"Untuk buat sabun, kita butuh minyak. Kita tak punya minyak," sahut Robert.


"Bagaimana kalau kita buat minyak kelapa? Selain bisa untuk masak, maka bisa untuk bikin sabun juga kan?" Silvia nimbrung.

__ADS_1


"Bagaimana menurutmu? Apa minyak kelapa bisa untuk bikin sabun?" tanya Laras pada Robert.


"Bisa. Minyak kelapa sangat bagus untuk bahan sabun cuci baju," jawab Robert.


"Tak bisa untuk sabun mandi?" tanya Silvia heran.


"Sebenarnya bisa aja, hanya biasanya untuk sabun mandi dipilih minyak yang lebih lembut. Umumnya sabun mandi handmade berbahan baku utama minyak zaitun, ditambah minyak lain sesuai peruntukan sabun tersebut." Robert menjelaskan perbedaannya.


"Apa membuat sabun sama seperti membuat lilin yang hanya dicetak dam dibekukan?" tanya Gilang penasaran.


"Hahaha.. Tentu saja berbeda. Ada tambahan bahan penting lain dan proses lagi sebelum bisa dibekukan." Robert kembali menjelaskan.


"Ya sudah, kalau gitu kita coba buat sabun cuci saja dulu. Bagaimana?" tanya Niken.


"Kalian buat dulu minyak kelapanya, nanti aku ajarkan cara buat sabunnya."


Robert ingin membiarkan para wanita mencoba membuat minyak sendiri, sebelum yakin ingin membuat sabun yang butuh banyak minyak.


"Tenang, aku tau cara buat minyak kelapa," kata Niken bangga.


"Oke, kita siapkan besok saja." Laras bersemangat.


Robert tersenyum tipis, lalu mengalihkan perhatian pada dokter Chandra yang sedang menjemur oat. Robert mendekat dan melihat bulir-bulir yang ada di situ. Sebenarnya bulir itu sudah cukup kering dan bisa digiling dengan kayu agar kulit yang menutupi bulir pecah dan lepas. Robert menunjukkan caranya pada dokter Chandra.


Berdua mereka membersihkan oat sembari menjemur. Pekerjaan itu selesai dengan cepat. Keduanya bernafas lega.


"Apa ini hanya bisa dijadikan bubur?" tanya dokter Chandra ingin tau.


"Bisa dijadikan kukis atau roti jika dijadikan tepung." Kali ini Leon yang menjawab.


"Bagaimana jika membuat tepungnya nanti saja? Aku ingin kalian melihat dulu kolam air hangat yang ku temukan kemarin," Robert mengusulkan.


"Kalau begitu, tunggu sebentar. Aku harus mengecek keadaan Indra dulu, biar tenang untuk ditinggal."


Dokter Chandra melangkah ke tempat penampungan air dan mencuci bersih tangannya. Lalu masuk ke pondok diikuti Niken.


"Bawa baju ganti kalian, jika ingin berendam air hangat." Robert menepuk bahu Gilang.


"Oke."Gilang, Liam dan Leon menyahuti. Lalu masuk ke pondok.


"Robert, aku tadi menemukan ini jatuh dari pakaianmu yang dijemur." Angel menyodorkan batu warna-warni di tangannya pada Robert.


"Ah, terima kasih. Ini batu yang ku temukan di kolam air panas kemarin."


Robert mengambil batu dan masuk juga ke pondok untuk mengambil pakaian ganti. Tak lama, kelima pria itu keluar pondok.


"Kami mau meneriksa kolam air panas dulu." kata dokter Chandra pada Laras dan Angel yang sedang merapikan dan membersihkan batok kelapa serta kulit kerang untuk dijadikan wadah lilin.


"Baiklah. Sementara itu kami akan membuat lilin untuk penerangan nanti malam." Laras mengangguk ke arah dokter Chandra.

__ADS_1


Kelima pria itu segera berjalan menuju sungai dengan penuh harapan. Karena mereka harus mencari jalan keluar dari tempat ini. Mereka juga harus menemukan Marianne dan Michael, serta tim Dean suatu hari nanti.


***


__ADS_2