
"Kalian sudah kembali?" tanya Widuri pada Dean.
"Ya, sepertinya makhluk yang dilukai Alan cukup cerdas. Dia berputar-putar dan mengelabui kami." Dean menggerutu.
Dean, Alan dan Yoshi duduk di bangku dengan tampang kesal. Bagaimana bisa mereka tak menyadari jika dipermainkan?
"Menurut kalian, makhluk apa itu yang tetesan darahnya bahkan tak terlihat oleh mata?" tanya Nastiti ingin tau.
"Ya, dan bagaimana hanya kamu yang dapat melihatnya?" tanya Widuri pada Yoshi.
Yoshi mengeluarkan pisau kecil dari pinggangnya. Meletakkannya di meja.
"Apa yang mau kau lakukan?" Dean menahan pisau itu di meja.
"Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu paman, bukannya mau bunuh diri." Yoshi menjawab santai.
Dean melepas tekanan tangannya dari pisau di meja. Yoshi mengangkat pisau itu dan melukai jarinya sedikit. Ada sesuatu berkumpul, lalu menetes jatuh ke atas permukaan meja. Kemudian tetesan itu tak terlihat lagi.
"Hah?! Apa itu? Hilang?" Alan kebingungan.
"Itu darahku," jawab Yoshi.
"Kalian melihat darah Yoshi?" Tanya Alan pada yang lainnya.
"Tidak. Tadi saat masih di jarinya terlihat seperti berkumpul lalu jatuh dan hilang." Jawab Nastiti.
"Warna translucent. Transparan. Aku tak percaya ini. hahahaa..." Widuri menggaruk kepalanya yang sudah berbulan-bukan tak kena shampo.
"Apa darah ayahmu seperti ini?" Dean menatap Yoshi serius.
Yoshi mengangguk. Alan, Widuri dan Nastiti tercengang.
"Apakah penduduk pulau ini punya darah seperti ini juga?" Tanya Alan curiga.
"Tidak. Darah mereka merah." Jawab Yoshi.
"Jadi sejauh ini hanya ada Kau, ayahmu dan makhluk yang kita kejar itu yang punya darah sama. Mungkinkah kalian punya hubungan? Atau dia bagian dari bangsa ayahmu yang juga terdampar di sini dan tinggal di hutan?" Alan menduga-duga.
"Aku tidak tau. Mungkin nanti bisa dibicarakan dengan ayah." Sahut Yoshi.
"Tapi, bagaimana kau bisa melihat darah tak berwarna itu? Apa matamu memiliki persepsi atau kegunaan lain? Seperti mata tembus pandang di komik-komik?" Nastiti masih tak paham cara kerja mata Yoshi.
"Di mataku, warnanya terlihat jelas, berkilauan seperti permukaan air yang ditimpa sinar matahari." Yoshi menjawab dengan polosnya.
"Jadi, justru saat gelap subuh tadi, warna darah itu jadi terlihat nyata olehmu," Widuri menyimpulkan.
"Bibi benar. Itu sebabnya setelah hutan terang, aku jadi kesulitan mencarinya." Yoshi mengangguk.
"Tak heran kita akhirnya berputar-putar. Hahahaa.." Alan terpingkal-pingkal.
"Sudahlah. Yang penting kita tau satu hal. Makhluk itu seperti Yoshi. Artinya dia juga punya fisik manusia. Cepat atau lambat, kita akan menemukannya." Lerai Dean.
"Kau benar Dean. Kemungkinan dia adalah makhluk yang waktu itu mengintip Widuri. Atau bisa jadi dia adalah makhluk yang masuk ke kubah cahaya itu." Timpal Alan setelah berhenti tertawa.
__ADS_1
"Paman, aku harus kembali. Ayah pasti khawatir karena aku tak pulang tadi malam." Kata Yoshi.
"Apa kekuatanmu sudah pulih? Jika tidak, biar ku antar pulang." Balas Dean.
"Tidak perlu. Aku sudah bisa terbang sekarang. Sepertinya air yang kalian miliki itu sangat manjur." Tolak Yoshi.
"Tunggu. Jika kau sudah pulih, bisakah membantu Sunil? Tolonglah." Alan memohon pada Yoshi.
"Ah ya, aku lupa masih ada paman Sunil. Aku akan mencobanya."
Yoshi berjalan ke kamar dimana Sunil masih terbaring. Marianne duduk di sebelahnya sambil termenung. Cangkir air di tangannya tersisa setengah. Di sisi lainnya ada Michael yang tidur pulas setelah matahari terbit.
"Bibi, apa kau memberi paman minum? Bagaimana keadaannya?" tanya Yoshi ramah.
"Masih seperti kemarin. Aku tidak tau apa yang salah. Dean dan Alan yang terluka lebih parah bahkan sudah bangun." Marianne tak dapat menutupi kesedihannya.
"Biar ku coba dulu." Yoshi mengambil duduk di sebelah Sunil. Marianne menyingkir memberi tempat.
"Apakah kekuatanmu sudah pulih?" Tanya Marianne khawatir.
"Jangan paksakan dirimu."
"Aku baik-baik saja bibi. Jangan khawatir." Yoshi tersenyum manis.
Marianne mengangguk lalu keluar dari kamar. Kamar itu penuh sesak. Nastiti dan Widuri tak jadi masuk kamar.
Marianne menampung air tempayan. Dia kembali ke kamar. Dia bisa melihat selubung cahaya putih susu menerangi kamar itu.
"Terima kasih Marianne." Alan mengambil alih cangkir minum itu dan kembali memperhatikan Yoshi.
"Sekarang mari kita siapkan sarapan. Mereka akan selesai sebentar lagi." Kata Marianne pada Widuri dan Nastiti yang masih duduk di depan meja.
"Baik. Makanan sudah siap. Tinggal dihidangkan saja kok." Nastiti bangkit dari duduk dan mulai membersihkan meja sebelum menata mangkuk makanan.
Meja sudah rapi dan penuh makanan saat Dean membopong tubuh Yoshi menuju kamar para wanita.
Baru saja Widuri ingin memanggil untuk sarapan, dia langsung bungkam. Marianne mengambil mangkuk dan mengisinya dengan bubur gandum serta tumisan daging cincang dan sayuran. Mangkuk itu dibawanya ke kamar.
"Dean, kau lelah. Pergi sarapan dulu. Biar aku menyuapi Yoshi sarapan di kamar. Setelah itu kau bisa mengabari ketua kota bahwa dia di sini." Kata Marianne bijak.
"Terima kasih Marianne."
"Alan, ambilkan minuman untuk Yoshi. Berikan pada Marianne di kamar." Dean melirik Alan yang masih berdiri di pintu.
"Siap." Alan berlari kecil dan menampung air untuk Yoshi.
"Dean, menurutmu, ketua kota itu berasal dari dunia mana?" Tanya Nastiti penasaran.
"Bagaimana aku bisa tau? Nanti saat mengantar Yoshi, akan ku tanyakan." Jawab Dean. Dia juga penasaran makhluk apa suami Bi itu.
"Apa hubungan makhluk yang dilukai Alan dengan Yoshi dan ketua kota?" Nastiti menggumam sambil mengunyah makanan.
"Kau ini sedang bicara atau kumur-kumur? Habiskan dulu isi mulutmu baru bicara. Bikin penasaran saja," omel Alan pada Nastiti.
__ADS_1
"Aku bicara dengan diriku sendiri. Kenapa kau yang kepo?" Balas Nastiti sewot.
"Yang bicara sendiri itu orang gila tau. Apa kau mengalami gegar otak?" Alan kembali menyahuti.
"Apa katamu? Kau yang gegar otak sampai menantang petir untuk menyambar. Dasar tidak waras." Nastiti menuding Alan dengan telunjuknya. Matanya melotot.
"Aku hanya bermain-main. O tau itu. Dari dulu aku suka bermain petir saat hujan. Tak kan terjadi apa-apa." Alan membela diri.
"Itu dulu sebelum kau mati di gunung batu!" Nastiti membalas sengit.
Alan terdiam. Nastiti benar. Itu dulu saat dia masih berada di tubuhnya yang asli.
"Aku tau salah. Aku hanya mencari kesempatan untuk mengembalikan kekuatanku yang lain dengan menerima sambaran petir itu. Lihat.."
Alan menunjukkan jari telunjuknya yang mengeluarkan cahaya merah kekuningan sangat terang dan berderak-derak halus seperti petir kecil yang menyambar kesana kemari.
"Kau punya keahlian petir?" Widuri menatap jari Alan dengan ngeri.
"Yah, selain api merahku yang seperti laser, aku juga punya kemampuan petir. Tapi sejak berada di tubuh ini, kemampuanku menurun. Tidak seperti Sunil yang waktu itu masih bisa mengeluarkan cahaya birunya yang memiliki efek sedahsyat nuklir. Jadi...."
"Jadi kau pikir dengan menerima sambaran petir, kemampuanmu itu akan kembali? Jika tidak ada Yoshi, kau sudah mati untuk kedua kalinya. Dan Alan akan ikut mati juga!" Nastiti benar-benar murka.
"Aku tau aku ceroboh. Maafkan aku." Alan berkata tulus.
"Kau sebaiknya berharap Sunil segera pulih. Atau Nastiti akan membencimu selamanya." Widuri mengingatkan Alan.
Alan mengangguk lesu. Dia merasa kehilangan selera untuk melanjutkan sarapan. Jadi dia berdiri untuk melihat Sunil.
"Habiskan sarapanmu! Hingga Sunil pulih, kau jangan berpikir bisa membantahku." Nastiti mendelik ke arah Alan.
"Kau galak sekali. Aku jadi takut duduk di dekatmu," gumam Alan sambil kembali duduk.
"Seharusnya kami yang takut duduk di sebelahmu. Bisa kesetrum listrik voltase tinggi!" Celetuk Widuri.
"Hahahaaa.."
Dean tak bisa menahan tawa melihat kemarahan para wanita itu. Itu jelas-jelas terlihat seperti lelucon konyol di pagi hari.
"Kenapa kau tertawa? Kau menertawaiku?" Selidik Widuri.
"Tidak.. tidak.. Aku tiba-tiba ingat tokoh kartun Squidwort. Bukankah dia lucu?" Dean mengelak dan tersenyum miring.
Jika salah menjawab, maka kekesalan para wanita akan beralih padanya.
'Mulutku tak bisa direm nih. Sial banget' batin Dean.
Melihat pusat perhatian sudah beralih pada Dean, Alan melanjutkan sarapan dengan tenang.
"Bersabarlah kawan. Wanita memang tak terduga," Alan mengirim pesan transmisi pada Dean.
Dean melotot ke arah Alan yang memasang senyum polos tanpa dosa di wajahnya. Kalau saja dia bisa berkelahi, dia akan menantang Alan saking kesalnya.
*****
__ADS_1