PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 238. Pernikahan Kang dan Nastiti


__ADS_3

Pagi setelah sarapan.


Dean, Dokter Chandra, Kang dan Nastiti sudah bersiap.


"Dean, aku akan memetik beberapa kelapa muda untuk persiapan perjalanan kita. Bagaimana menurutmu?" tanya Alan.


"Boleh," jawab Dean.


"Oh ya, bagikan juga untuk Mereka yang di kota mati. Mungkin mereka belum pernah mencoba rasanya," saran Dean.


"Okeh!"


Alan mengacungkan jempolnya.


"Sunil, berikan sebagian keju dan mentega yang kau simpan. Nanti aku akan menegosiasikan ongkos kapal kita," kata Dean.


Sunil nengeluarkan semua simpanan itu di meja. Biarkan Dean mengambil sendiri seberapa perlu. Dan tak lama tumbukan itu berkurang setengahnya. Lalu Sunil menyimpan lagi sisa yang ada di meja.


"Sudah siap semua?" tanya Dean pada rombongan kecilnya.


"Sudah siap semua," sahut Dokter Chandra.


"Oke, mari kita berangkat," ujar Dean.


Dean membawa Dokter Chandra, sementara Nastiti duduk di punggung Kang. Wajahnya berseri-seri. Sekuntum bunga liar berada di genggamannya. Baju pengantin yang dikenakan sangat pas di tubuhnya.


Mereka turun di pinggiran hutan. Memberikan Kang waktu sejenak untuk berganti pakaian yang sudah disiapkan.


Tak lama Kang muncul dari balik pohon. Pakaiannya belum rapi, karena dia tak tau cara memakai yang benar. Tapi dia terlihat sangat tampan sekarang. Dean membantunya merapikan kemeja, dan coat panjang itu.


Dean memetik setangkai bunga kuning liar di hutan itu. Lalu menyelipkannya di saku atas coat.


"Sempurna!" gumamnya.


"Ayo jalan. Nanti keburu siang," ujar Dean.


Mereka menuruni kaki bukit menuju pintu masuk kota. Semua orang yang melihat keempatnya melintasi jalanan, selalu berdecak kagum melihat ketampanan Kang dan kecantikan alami Nastiti.


"Pasangan serasi."


Begitu bisik-bisik yang sampai di telinga Nastiti. Itu membuat wajahnya bersemu merah karena malu dan bangga. Kang meraih tangan Nastiti dan menggenggamnya. Menenangkan kegugupan Nastiti, dan berhasil membuatnya tersenyum manis sekali.


Penjaga gerbang kediaman Ketua Kota sudah mendapatkan informasi tentang ini. Jadi saat Dean dan tiga temannya datang, dia langsung mengantar ke ruang Ketua Kota.


Di sana sudah menunggu Yoshi dan Yabie. Juga seorang pria lagi yang tidak dikenal Dean.


Upacara peresmian pernikahan itu berlangsung cepat. Kang memasangkan kalung yang selama ini dipakainya ke leher Nastiti. Kalung itu diberi liontin cincin yang dulu dipesankan ayahnya, agar diberikan pada wanita yang dinikahinya. Berhubung cincin itu terlalu besar untuk jari Nastiti, maka dijadikan liontin di kalung pernikahan.


Keduanya terlihat sangat bahagia. Nastiti merasa seperti mimpi. Dia belum lama kenal Kang, tapi entah bagaimana hatinya tertarik. Dan setelah pandangan mereka bertemu di pernikahan Niken, hati keduanya sudah tak bisa dipisahkan lagi. Seakan, mereka telah lama saling mencari keberadaan masing-masing.


Yoshi telah menyiapkan sedikit minuman dan penganan di halaman dalam. Dia membawa Dokter Chandra, Nastiti dan Kang menunggu Dean di sana.


Usai upacara pernikahan Kang dan Nastiti, Dean dipersilahkan duduk. Pria asing yang tadi hadir juga ikut duduk di sebelah Dean.


"Dean, ku perkenalkan, dia kapten kapal yang akan kau tumpangi." Ketua Kota memperkenalkan orang baru itu.


Dean mengulurkan tangan.


"Dean."


"Smith" balas kapten kapal itu sambil menyambut salam Dean.


"Kapten Smith, Dean ini saudara iparku. Jadi, bisakah kau mengantarnya dengan aman hingga kota Rawa?" tanya Ketua Kota.


"Tentu saja. Selama kompensasinya sesuai, aku tidak keberatan," jawab Kapten Smith.


"Kalau boleh tau, untuk apa kau pergi ke kota sesuram kota Rawa? Tempat ini jauh lebih baik untuk ditinggali." Tanya Kapten Kapal.

__ADS_1


"Aku mendengar berita tentang dinding cahaya yang dibawa anak buah kapalmu," jawab Dean jujur.


"Kau percaya cerita itu? Bagaima jika itu hanya omong kosong dari orang-orang jahat yang ingin merampok?" tanyanya lagi.


"Aku ini pengelana, suka mengembara melihat dunia luas," jawab Dean diplomatis.


"Aku katakan ini juga karena kau ipar Ketua Kota. Aku tak tega jika kau tertipu!" Kapten kapal mengingatkan.


"Aku tau. Terima kasih untuk peringatan anda tadi. Aku akan berhati-hati dalam bertindak," ujar Dean


"Yah, sudah kalau begitu," Kapten Smith menyerah.


"Baiklah, sekarang mari kita berbisnis. Berapa ongkos yang harus kami bayar untuk bisa ikut hingga ke kota Rawa? tanya Dean tersenyum ramah.


Kapten kapal itu suka sifat Dean yang tidak bertele-tele. Dia ikut tersenyum sekarang. Bicara bisnis tentu lebih menyenangkan.


"Jadi, berapa orang anggotamu?" tanya Kapten Smith.


"Sepuluh orang!" jawab Dean cepat.


"Oke! Karena letak kota Rawa hanya selang satu pelabuhan, maka masing-masing kalian hanya perlu bayar 50perak saja." Ujar Kapten Smith.


"Itu terlalu mahal!" sela Ketua Kota keberatan.


"Kami kan harus memberi rombongannya makan. Itu harga yang pantas." Kapten Smith sungguh mahir berargumen.


Kami akan menyiapkan makanan sendiri, bagaimana?" tanya Dean lagi.


"Baiklah... 45 perak kalau begitu." Kapten Smith terlihat sangat natural saat mengatakan hal itu. Dia pasti punya jam terbang tinggi untuk negosiasi harga.


"30 perak!" tawar Dean sadis.


"Anak muda! Kalau menawar itu kira-kira sedikit. Jangan melompat terlalu jauh juga," sungut Kapten Smith.


Dean tak menyahut. Dia fokus dengan cangkir minumnya.


"Baiklah... baiklah... aku mengalah. 35 perak, tak bisa kurang lagi. Dan sangat jelas di sini, tanpa layanan makan!" ujar Kapten Smith tegas.


Dean saling pandang dengan Ketua Kota.... Akhirnya ketua kota mengangguk setuju.


"Oke. Deal!" ujar Dean.


"Tapi..." suara Dean menggantung di udara.


"Tapi apa? Kenapa firasatku jadi jelek?" Kata Kapten Smith.


"Aku mau menukar ongkos itu dengan grain!" ujar Dean.


"Apa?


Kapten Smith melotot melihat ke arah Dean.


"Jangan marah-marah dulu. Mari lihat apa yang ku punya, lalu kita hitung harga yang pantas. Kau juga jadi punya cukup barang dagangan tanpa jauh mencari."


Dean bicara sangat tenang, tak terpengaruh reaksi yang ditunjukkan kapten Smith.


Kapten Smith menggelengkan kepalanya. Pria di depannya tidaklah mudah. Kelihatannya juga punya pengalaman yang cukup untuk menghadapi trik orang lain.


"Baiklah, apa yang kau punya. Mari kita hitung."


Kapten Smith menyerah kalah. Aktingnya tadi tidak mendapat tanggapan sama sekali. Tidak akan mudah menjatuhkan harga kalau begini. Terutama karena Tuan Ketua Kota sangat paham harga pasar.


'Asalkan dapat untung sedikit, sepadan lah,' pikirnya.


Dean pergi ke luar ruangan, pura-pura mengambil barang dimaksud. Dia tak ingin siapapun tau jika dia punya ruang penyimpanan.


Dean kembali sambil mengangkat karung gabah kering. Dua orang pelayan kediaman itu membantunya membawa masuk karung lain.

__ADS_1


"Ini! Coba kau nilai dulu. Masih ada lagi di luar, akan dibawa masuk, jika harganya cocok," ujar Dean.


Kapten Smith mennggenggam gabah di karung.


'Ini gabah yang sangat bagus,' batinnya.


"Karena memandang Ketua Kota, ku beri tawaran bagus. Satu orang satu karung, tak kurang," ujar Kapten Smith.


"Yang benar saja! Harga beliku dari petani saja lebih tinggi dari itu," gerutu Ketua Kota kesal. Apakah Kapten Smith benar-benar mengira dia tak tau apapun?


"Tuan, ini masih gabah. Bukan bulir gandum yang bersih. Jika diolah lagi, maka hasilnya tinggal setengah karung saja lagi." Kapten Smith sangat pintar berargumen.


"Aku juga membeli gabah petani untuk stok. Kau kira aku menyimpan butiran gandum?" Ketua Kota masih ngotot.


"Dean, baiknya kau jual saja gabahmu padaku. Kau bayar dia dengan koin perak saja. Itu lebih menguntungkan."


Kata-kata Ketua Kota terasa seperti ancaman bagi Kapten Smith. Jika dia tak cukup flexibel, keuntungan di depan mata, bisa hilang.


"Kau terlalu pelit Pak Tua," keluh Kapten Smith.


"Begini saja. 4 karung untuk ongkos 5 orang. Aku sudah menurunkan tawaranku." Kapten Smith memberi tawaran baru.


"Tapi aku hanya punya 7 karung."


Dean pura-pura berpikir.


"Coba tunjukkan barangmu yang lain. Mungkin bisa ditambahkan."


Kapten Smith tak ingin kesempatan mendapatkan stok bagus hilang dari genggamannya.


Dean keluar lagi dari ruangan. Lalu masuk kembali tak lama kemudian. Dia membawa 1 buah keju ukuran besar, dan Mentega dengan ukuran kurang lebih sama.


Kapten Smith yang bisa mencium wangi keju dan mentega sejak Dean masuk, langsung berbahagia.


'Untung besar' batinnya.


"Jual saja padaku keju dan mentegamu. Aku akan bayarkan kekurangan ongkosnya."


Suara Ketua Kota bagai petir yang membuyarkan angan Kapten Smith. Dia langsung melotot kesal.


"Jangan menyerobot antrian, Pak Tua. Masih belum giliranmu menawar harga!" seru Kapten Smith sewot.


Dean tersenyum tipis. Dia kini menyadari bahwa keju dan mentega yang bagus adalah barang mewah di jaman ini.


"Dengan semua ini, maka ongkosmu dan anggotamu, cukup."


Kapten Smith tak ingin berdebat panjang lagi. Dia harus bisa mendapatkan barang bagus ini.


"Baiklah.. Demi kerjasama yang baik, ku terima tawaran anda. Masih ada 5 karung gabah lagi di luar. Anda bisa cek dulu keadaannya sebelum kita bersepakat," ujar Dean tersenyum senang.


"Biar ku lihat dulu." Kapten Smith bergegas berjalan menuju pintu.


"Dean, Keju yang dibawakan Yoshi tadi malam, sangat enak. Sayang sekali kau menjualnya pada Kapten Smith." Ketua Kota menggeleng kecewa.


Dean mengeluarkan 3 Keju dan 3 mentega di meja.


"Ini hadiah dari kami," ujar Dean tulus.


"Benarkah?" Mata Ketua Kota berbinar bahagia.


"Baiklah. Aku sudah memeriksa gabahnya. Semua sesuai. Mari kita bersepakat."


Kapten Smith dan Dean bersalaman dengan senyum di wajah masing-masing.


Mereka masih membicarakan hal keberangkatan dan lain-lain. Kemudian pertemuan itu bubar. Dean menemui Kang, Nastiti dan Dokter Chandra.


Mereka harus segera kembali. Masih banyak yang harus dibereskan hari ini dan besok.

__ADS_1


******


__ADS_2