
Sesuai rencana kemarin, Dean dan Yabie membawa seekor domba kecil ke lokasi penemuan mereka. Dean mengikat binatang itu dengan tali yang cukup panjang.
"Oke, domba ini sudah siap. Mari kita coba," kata Dean.
Yabie masih memeluk domba gemuknya.
"Kalau di sana menyeramkan, larilah kembali ke sini. Aku menunggumu," katanya sambil mengelus kepala domba.
"Sudah.... Relakan saja...," bujuk Dean.
Wajah Yabie cemberut. Dia tak rela melepasnya. Ditatapnya Dean dengan mata memohon.
Dean menghela nafas panjang.
"Ayo... kalau tidak dicoba, kita takkan pernah tau."
Akhirnya Dean mengambil alih domba itu dari tangan Yabie. Dean memasukkannya ke dalam celah yang sudah ditandai.
Awalnya domba itu hanya berdiri diam, terlihat bingung.
'Mungkinkah pemandangan di depannya sangat berbeda? Tapi domba itu tidak terlihat takut. Dia hanya diam.'
Dean terus memperhatikan tingkah laku domba tersebut. Lalu menjadi tak sabar, karena dia tak juga bergerak maju. Bagian pantatnya masih terlihat.
Dean menariknya keluar dan mengamati.
"Kenapa kau tak mau masuk?" ujar Dean pelan.
Kemudian Dean mencoba memasukkannya sekali lagi. Dan langsung mendorong seluruh tubuh domba hingga lenyap di balik celah.
Dean dan Yabie mengamati tali. Dean tidak merasakan adanya peregangan pada tali yang dipegangnya.
"Apa dombamu itu begitu pendiam? Tidak ada gerakan sedikitpun pada tali ini. Apa dia hanya ingin berdiri diam seperti tadi?" Pertanyaan itu lebih mirip rasa kesal.
Yabie tak menanggapinya. Dia hanya mengamati tali dan celah di penghalang itu. Benar-benar tak ada respon apapun. Yabie penasaran, ditariknya kembali tali pengikat domba.
'Ringan sekali?' kening Yabie berkerut heran.
Shuutt!
Tali itu kembali dengan cepat di tangan Yabie. Tapi..., itu hanya seutas tali. Tanpa kehadiran dombanya.
"Dombanya hilang!" wajah Yabie seketika berubah murung.
"Hah.. celah ini ternyata hanya satu arah," Dean menggelengkan kepala, lalu duduk di tanah.
"Aku tak mau mengorbankan domba lagi untuk celah berikutnya." Yabie mengantisipasi.
"Baiklah kita cari cara lain nanti. Ayo kembali," ajak Dean.
Dean dan Yabie kembali dengan lesu. Dean memutuskan untuk tidak membuang waktu lebih lama jika tak berhasil. Dia harus membantu anggota tim lain yang mempersiapkan dagangan, agar bisa membeli kebutuhan pernikahan Indra dan Niken.
Dalam perjalanan kembali, Dean juga menemukan beberapa pohon apel yang sedang ranum. Dean dan Yabie berhenti di situ.
"Sunil, apa kau di sini?" teriak Dean dari ketinggian. Tapi tak ada jawaban.
"Mungkin paman Sunil sudah kembali," asumsi Yabie. Dean mengangguk.
Lalu dipetiknya satu buah apel dan mencoba rasanya.
"Ini manis!" kata Dean gembira.
"Benarkah?"
Yabie ikut memetik dan mencoba buah berwarna merah muda itu.
"Ya, ini enak sekali!" Yabie terlihat gembira. Dia memakannya dengan lahap.
Setelah menghabiskan buah di tangannya dengan puas, Dean mengitari pohon itu seperti sedang menilai. Keningnya sedikit mengerut. Dean juga melihat pohon lain dengan seksama.
"Ada apa paman?" tanya Yabie ingin tau.
Pamannya ini selalu punya ide tak terduga. Apa lagi yang sedang direncanakannya saat ini?
Dean mencobai buah dari semua pohon apel di situ. Rasanya mengingatkan Dean dengan rasa apel di kebunnya dulu. Tapi jenisnya terlihat berbeda.
__ADS_1
"Aku fikir, bagus jika bisa memindahkan pohon apel ini ke halaman rumah besar kami," kata Dean.
???
Yabie melihat Dean dengan heran.
"Paman, ini pohon yang sangat besar. Aku tau paman biasa menebang pohon, tapi jika ini ditebang, bukankah dia akan mati di halaman rumah paman?"
"Tentu saja tidak ditebang, tapi digali ke dalam akarnya lalu cabut dan pindah tanam di halaman rumah."
Dean menjawab sambil terus mengamati. Dia mereka-reka tindakan-tindakan yang harus diambil untuk memudahkan pohon itu tumbuh nantinya.
Yabie menggelengkan kepalanya.
"Paman, kau, paman Sunil dan paman Alan bisa ke sini kapanpun untuk mengambilnya. Apa pentingnya memindahkan lokasinya?" Yabie tak sependapat.
"Tapi jika bisa dipindahkan ke halaman rumah ayah, itu pasti bagus." Yabie ikut-ikutan mengamati pohon lain.
"Hahahaa," Dean tergelak mendengarnya.
"Paman, aku ingin memindahkan yang lebih kecil ini ke dekat makam ibu. Pasti akan makin teduh di sana." Yabie menunjuk pohon apel yang lebih pendek dan hanya memiliki beberapa buah matang tergantung di sana.
Dean mendekat dan memeriksa. Lalu dia mengangguk.
"Ini bisa dipindahkan ke halaman rumahmu. Tapi harus siapkan dulu lubang tanamnya."
"Itu saja?" tanya Yabie.
"Ya. Buat lubang selebar dan sedalam ini." Dean menggaris di sekeliling pohon apel yang diinginkan Yabie.
"Besar sekali lubangnya." Yabie tak menyangka harus membuat lubang sebesar itu.
Dean mengangguk.
"Sekarang di pohon ini belum banyak apel yang matang. Baiknya tunggu musim buah berakhir, agar bisa dipangkas lebih kecil. Dia akan lebih mudah untuk tumbuh di tempat baru jika pohonnya tak terlalu rimbun," jelas Dean.
Yabie mengangguk, mulai mengerti.
"Aku juga berpikir untuk membawa satu batang ke kota mati. Jadi mereka bisa menikmati buah yang lezat ini juga," ujar Dean.
"Kau benar. Jika saja kita bisa menemukan yang tingginya baru 1 meter, itu baru bagus." Dean sependapat dengan Yabie.
Yabie memeriksa di sekitar. Bagaimanapun, buah-buah apel ini telah jatuh begitu saja ke tanah selama bertahun-tahun. Beberapa bibit apel dapat bertahan jika mendapat sedikit ruang yang terkena cahaya matahari. Yang lainnya, mati atau hidup segan mati tak mau.
"Apakah ini tanaman yang sama?" Yabie menunjuk satu batang pohon kurus setinggi hampir satu meter.
Dean memperhatikan. Tajuknya belum lebar, sekitar 50 cm. Tapi bentuk daunnya sama dengan pohon apel lain di situ.
"Sepertinya sama." Dean mengangguk.
"Bisakah ini ditanam.di kota mati?" tanya Yabie.
"Bisa. Apa kau mau menanamnya hari ini?"
Yabie mengangguk.
"Oke. Nanti kita ambil itu. Sekarang petik dulu buah matangnya untuk mereka di kota mati. Jangan lupa juga untuk ayahmu dan Yoshi," saran Dean.
"Baiklah."
Yabie memetik cukup banyak apel, lalu menyimpannya di kalung penyimpanan. Dean pun melakukan hal yang sama.
Jika buah matang tak segera dipetik, dia hanya akan jatuh berguguran. Karena tak ada seekorpun monyet yang hidup di hutan ini untuk menghabiskannya. Lebih baik disimpan di kalung penyimpanan yang mampu mempertahankan keawetan bahan makanan.
"Apa kau sudah selesai?" tanya Dean. Yabie mengangguk.
Dean lalu turun ke tanah. Berjalan mendekati pohon yang tadi diinginkan Yabie.
Hanya dengan menggunakan ujung jarinya, Dean memotong tanah sejauh 30cm dari batang. Menyingkirkan tanah yang ada diluar garis potongannya. Sekarang pohon itu tampak siap untuk dipotong bagian bawah akarnya. Yabie sekarang mengerti kenapa pamannya yakin bisa memindahkan pohon apel ke tempat lain.
Tak lama pekerjaan itu selesai. Pohon apel yang masih muda itu telah melayang di udara. Lengkap dengan tanah yang masih menempel di akarnya.
Dengan cara pemindahan seperti itu, tanaman diharap lebih mudah beradaptasi di lingkungan baru. Karena ada cukup banyak akar yang dibawa. Akar dipotong jauh dari batang pohon untuk mengurangi stress pada tanaman yang bisa mengakibatkan mati.
"Ayo," kata Dean.
__ADS_1
Keduanya melesat menuju kota mati.
*
*
Ditemani Liam, Dean membuat lubang tanam di lahan kosong samping kiri rumah tua Yabie. Yabie membantu menanam dan menyirami pohon apel kecil itu.
"Kenapa kalian tanam di sini? Tidakkah ini nanti akan menutupi rumah Yabie?" tanya Liam.
"Aku dan Yabie berfikir menjadikan area ini sebagai tempat serba guna, juga taman dan tempat bermain. Nanti bisa dibangun pelataran terbuka untuk pertemuan, pertunjukan hiburan, atau untuk tempat kalian mengajar anak-anak."
Yabie mengangguk mengiyakan kata Dean. Liam sungguh tak percaya bahwa Dean dan Yabie bahkan sudah berfikir sampai sana. Dia merasa sangat terharu.
"Jadi, kalau pohon ini tumbuh besar, dia akan meneduhi tempat ini. Dan siapapun bisa menikmati hasilnya," timpal Yabie dengan wajah penuh senyum.
Liam mengangguk-angguk senang.
"Itu bagus sekali."
Saat anak-anak datang dan melihat, Yabie membagikan apel-apel yang dibawanya. Anak-anak itu berteriak kegirangan lalu bermain gembira.
Liam menyerahkan sangat banyak apel pada dua gadis remaja yang bertanggung jawab mengurus anak-anak serta Mattew dan Kenny.
Dean dan Yabie mengunjungi Laras di rumah. Meletakkan cukup banyak apel di meja.
"Bibi Laras, apa kau di dalam?" Yabie memanggil di depan pintu kamar.
"Ya, ada apa?" suara kecil Laras terdengar menyahuti.
"Apa aku boleh masuk? Kau sedang apa? Aku membawa buah apel untukmu," kata Yabie lagi.
"Masuklah!" sahut Laras dari dalam kamar.
Yabie masuk dan mendapati Laras yang berwajah pucat. Keringatnya mengucur deras.
"Mari ku bantu," kata Yabie sopan.
Dean melihat keadaan Laras dari depan pintu kamar. Dia tau Yabie pasti telah menyadari bahwa Laras sedang menahan rasa sakitnya.
Karena Dean sama sekali tak bisa membantu, maka dibiarkannya Yabie mengalirkan sedikit kemampuan penyembuhannya pada Laras.
"Dean, anak-anak itu sudah ku bagi. Apa kau ingin bertemu dengan Laras?" tanya Liam yang melihat Dean duduk di bangku depan jendela dapur.
"Tidak. Yabie sedang membantunya." Dean menunjuk ke kamar.
"Apa?" tanyanya kaget.
Liam melangkah ke kamar. Dilihatnya Cahaya putih susu menyelubungi Yabie dan Laras yang sedang duduk di tempat tidur. Yabie menyentuh punggung Laras yang sakit.
Liam ikut duduk di depan Dean. Diambilnya sebuah apel dan memakannya. Wajahnya terlihat kesal.
"Ada apa?" tanya Dean dengan suara rendah.
"Kenapa dia menutupi rasa sakitnya? Kenapa tak bilang jika dia merasa sakit? Tadi dia hanya bilang mau tidur siang." Liam menggerutu dengan kesal.
"Apa dia tidak mempercayaiku?" Liam belum selesai dengan unek-uneknya.
Dean hanya manggut-manggut mendengar keluh kesah Liam. Dia jika di posisi Liam pasti akan merasakan hal yang sama. Sedih dan tak berdaya. Terlebih lagi karena Laras memilih menyimpan sendiri rasa sakitnya. Itu bisa membuat frustasi.
"Aku hanya bisa mengatakan satu kata klise untukmu."
Dean menanggapi juga setelah diam beberapa waktu.
"Apa?" tanya Liam.
"Sabar...." kata Dean lembut.
Liam memejamkan matanya. Menghela nafas dan menghembuskannya perlahan.
"Aku akan meminta Yabie memeriksa Laras 2 hari sekali. Biar dia tak perlu menahan sakit terlalu lama," janji Dean.
Liam mengangguk. "Terima kasih, Dean.
******
__ADS_1