
Peringatan author!
Di chapter ini ada sedikit adegan romantis yaa..Dikiiiittt aja. Jadi yang merasa dirinya masih imut-imut, silahkan skip aja.
*
*
Saat makan malam, Alan menceritakan kecurigaannya pada area hutan yang lebih jauh.
"Apa tepatnya yang lihat tadi?" tanya Nastiti tak sabar.
"Hemmm, semacam cahaya terang yang dipancarkan ke atas langit. Hanya sebentar, setelah itu hilang."
"Cahaya yang dipancarkan ke langit ya? Apa seperti laser pointer? Itu hloo, yang suka ada di perayaan tahun baruan." Tanya Michael.
"Laser pointer itu sinarnya kecil tapi memanjang ke langit. Yang ku lihat lebih mirip cahaya mercusuar, namun bukan diarahkan ke laut." Alan berusaha mendeskripsikan apa yang dilihatnya petang itu.
"Selesaikan makan malammu, lalu kita tunggu di atas. Ku rasa jika malam gelap, maka pancaran cahayanya akan lebih jelas terlihat." Usul Dean.
"Oke," jawab Alan cepat.
"Apa kau yakin itu cahaya dari tengah hutan? Bukan bias cahaya matahari sore di pantai?" Widuri merasa ragu.
"Entahlah. Kan aku cuma melihat sekejapan mata saja." Kata Alan.
"Ya sudah. Kalian coba periksalah malam ini. Mungkin saja itu jalan menuju dunia lain. Atau hal lainnya. Tampaknya dunia ini tidak sesederhana kelihatannya." Kata Marianne.
"Maksudmu?" Tanya Nastiti.
"Yah, dimulai dari saat aku diculik saja sudah aneh. Laut di tepi pantai itu airnya asin, tapi di sini rasanya tawar. Belum lagi tentang Ketua kota, Yoshi dan Duke yang bahkan berumur ratusan hingga ribuan tahun. Menurutku itu bukan semata-mata mereka punya ilmu penyembuh atau kekebalan tubuh yang kuat. Tapi memang ada sesuatu di dunia ini yang bisa membuat penghuninya panjang umur." Papar Marianne.
"Lalu warna darah transparan yang berkilauan itu. Alangkah ajaibnya. Jika di jaman modern mereka sakit lalu butuh transfusi darah, siapa yang bisa jadi donornya?" Michael tergelak.
"Itu akan menggemparkan dunia medis dan penelitian." Sambung Nastiti tersenyum.
Dean sudah selesai makan. Dia melangkah menuju kamar untuk mengecek keadaan Sunil.
"Bagaimana dia?" Widuri menyusul Dean.
"Belum ada perubahan."
Dean merasa tak berdaya, karena sama sekali tak ada yang mengerti ilmu medis di tempat itu.
"Bersabarlah. Kondisi fisiknya sudah membaik. Jadi ku rasa, mungkin jiwa O yang sedang mengalami gangguan. Atau mungkin dia sedang hibernasi?" Widuri asal menebak.
"Kau kira kami bangsa yang tinggal di daerah beku? Sejenis beruang gitu? Kau harus diberi sedikit pengetahuan."
"Bukan begitu..." Widuri tak dapat lagi menyelesaikan kalimatnya.
Dean memeluk Widuri dengan gemas. Alunan merdu membuai mimpi mereka sejenak. Menambahkan percikan api hangat di hati masing-masing.
Dean melepas Widuri dan tersenyum mesra. Widuri memandangnya penuh kasih sayang.
"Apa kau mau menikah denganku?"
__ADS_1
Pertanyaan itu begitu tiba-tiba. Widuri tak menyangka Dean akan melamarnya secepat ini. Jadi dia terdiam bagai patung. Mulutnya sedijit terbuka dan matanya mengerjap-ngerjap kebingungan.
"Apa aku mengejutkanmu?" Tanya Dean lembut. Kembali dipeluknya tubuh yang terlalu langsing itu.
"Ya, kau mengejutkanku." Jawab Widuri dengan suara kecil.
"Lalu apa jawabanmu?" Dean menyentuh ujung hidung Widuri yang bangir dengan jari telunjuknya.
"Kita bisa menikah setelah pulang ke Indonesia. Aku ingin mama dan papaku menyaksikanku berbahagia lagi."
Widuri menundukkan kepalanya, menghindari jari jahil Dean yang terus menyentuh ujung hidungnya.
Dean diam beberapa saat. Ekspresinya tak terbaca.
"Baiklah, jika itu keinginanmu. Kita akan menikah setelah kita kembali." Ditatapnya Widuri dalam-dalam.
Bunga merah jambu bermekaran malam itu. Keindahan dalam balutan cahaya bulan dan bintang.
"Dean, jadi pergi atau tidak?"
Teriakan Alan di luar mengejutkan kedua orang yang sedang tenggelam di dunianya sendiri. Widuri mendorong tubuh Dean menjauh. Wajahnya merona.
"Pergilah," katanya tanpa menoleh.
"Baik, aku pergi memeriksa dulu. Kau istirahatlah." Dean mengecup kening Widuri sejenak sebelum berdiri dan keluar.
"Ayo kita pergi." Kata Dean pada Alan.
Di pondok, akhirnya Michael berjaga berdua dengan Nastiti.
*
"Mungkinkah ada periode waktu untuk sinarnya muncul?" Alan menduga-duga.
"Mungkin saja. Tapi sekarang kita harus kembali. Michael pasti berjaga sendirian. Harus ada yang menggantikannya." Dean berkata tegas.
"Baiklah. Besok tidak perlu memeriksa berdua, bergantian saja." Usul Alan.
"Kita pikirkan besok lagi."
Dean terbang menuju arah pondok mereka. Mereka berdua juga butuh istirahat untuk merefresh energi.
*****
2 kereta dan beberapa ekor kuda berhenti di tepi hutan. Rombongan Robert dan pengawal klan kurcaci biru memilih beristirahat malam itu.
"Apakah pantai itu masih jauh?" tanya Robert pada ketua pengawal mereka.
"Tidak tuan. Besok kita harus melewati hutan ini, lalu melewati padang rumput. Setelah itu kita akan mulai menemukan perkampungan kecil. Itu tak jauh lagi dari pantai." jawab ketua pengawal.
"Estimasi tiba masih tengah hari?" Tanya Robert meyakinkan.
"Sekitar tengah hari. Semoga tak ada halangan berarti." harap ketua pengawal itu.
"Baiklah. Kita lebih baik segera beristirahat." Robert mengakhiri perbincangan mereka.
__ADS_1
*
*
Saat fajar menyingsing, rombongan itu sudah mulai berbenah. Ada yang menyiapkan sarapan sekedarnya. Pada dasarnya malam berlalu dengan aman. Hanya suara-suara binatang malam yang mendekat kerap membuat mereka terkejut dan bersikap waspada.
"Sudah waktunya kita melanjutkan perjalanan agar tiba tepat waktu." Terdengar aba-aba dari ketua pengawal.
Semua membereskan keperluan masing-masing. Kuda juga sudah segar, cukup makan dan beristirahat.
Anggota tim Robert kembali masuk kereta kuda masing-masing. Sementara para pengawal itu menunggang kuda di sisi kiri kanan tiap kereta.
Iring-iringan itu kembali melanjutkan perjalanan. Mereka mengikuti jalur jalan yang ada untuk masuk ke dalam hutan. Jalannya tidak cukup bagus. Dan membawa kereta tentu tak semudah menunggang kuda. Kereta itu terseok-seok di jalan berkelok dan tidak rata.
"Ngeri sekali jalannya. Takut rodanya terjebak di lumpur." Ujar Silvia.
"Asalkan kusir mengenal jalan ini dan membawanya dengan hati-hati, ku rasa akan baik-baik saja." Kata Laras menenangkan.
Matahari sudah tinggi saat bayangan gelap pepohonan mulai berkurang. Di depan sana terbentang padang rumput pada bidang menurun. Tapi jalanan ternyata jauh lebih buruk di bagian ini. Sudah beberapa kali kereta terperosok dan kesulitan ditarik kuda. Hingga akhirnya sambungan roda patah dan membuat ruangan penumpangnya jatuh ke tanah. Robert, dokter Chandra, Indra, Liam dan Leon terpaksa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki mengiringi kereta para wanita. Sesekali mereka membantu mendorong jika kuda kesulitan menarik kereta.
Tapi kesulitan itu berakhir jg setelah melihat pemukiman sederhana namun asri, khas perkampungan di desa. Sebagian besar rumah hanya terlihat pintu dan jendelanya yang mungil saja. Sementara bagian rumah lainnya ada di dalam dinding tebing. Rumah itu teratur berdiri di sisi jalan. Sementara sisi lainnya adalah kebun kecil yang ditanami aneka sayur dan bunga-bunga selebar 4 meteran sebelum dipasangi pagar kayu sebagai pembatas tepi jurang.
Jananan desa kecil itu lebih kuat menahan roda kereta karena mereka ada di tebing berbatu. Mereka beristirahat sejenak di sebuah rumah makan mungil dengan atap jamur. Laras, Niken dan Silvia tak lepas-lepas menunjukkan ketakjuban melihat manusia-manusia kecil berkulit dan bermata biru itu bergerak sangat lincah melayani pesanan makan mereka.
"Tampaknya perkiraan waktu kita meleset jauh," kata dokter Chandra.
"Ya. Tak disangka kondisi jalannya sangat berat." Sahut Indra.
"Tapi, syukurlah kita bisa melewatinya. Pantai itu tak jauh lagi." Kata Robert.
"Tuan, saya sudah berbicara dengan ketua desa, mereka mengatakan kereta tak bisa dibawa ke arah sana. Jadi kami sudah meminjam kuda-kuda untuk ke sana." Kata ketua pengawal.
"Tidak apa. Kami bisa berkuda." Sahut Robert cepat.
"Baik."
Ketua pengawal memberi beberapa instruksi pada rombongannya. Beberapa kuda dibawa oleh petugas desa. Itu adalah kuda-kuda untuk mereka gunakan. Robert memandang tak berkedip. Kuda-kuda ini bahkan lebih kecil dari kuda yang dipakai para pengawal itu. Sementara kuda mereka yang ditinggalkan di tempat Glenn jauh lebih besar lagi.
"Maaf, apakah kuda itu kuat untuk membawa kami ke sana?" Tanya Robert pada ketua pengawal.
Ketua pengawal akhirnya menyadari bahwa postur tubuh tim Robert berbeda dengan mereka. Mungkin itu pula sebabnya kereta mereka tak kuat dan patah di padang rumput.
Laras diminta untuk mencoba naik kuda yang disediakan. Dia terlihat lucu dan menggemaskan. Kedua kakinya persis menyentuh tanah. Itu jadi tampak seperti naik sepeda.
Robert berbicara dengan ketua pengawal lagi. Mereka mendiskusikan beberapa hal. Sementara para wanita antusias untuk mencoba kuda-kuda imut itu.
"Ah,, kuda imut. Beban hidupmu begitu berat harus membawa para wanita ini." Liam berkata jahil.
Leon dan Indra tertawa keras. Tapi tidak Silvia yang merasa tersindir.
"Kau mau bilang aku gendut Ya? Dan ku rasa tak ada kuda di sini yang bisa membawamu ke pantai. Karena kaulah yang paling berat." Balas Silvia tajam.
Yang lain kembali tertawa melihat kedua orang itu saling ledek. Robert kembali bersama ketua pengawal. Sudah diputuskan untuk melanjutkan berjalan kaki menuruni tebing. Tapi kuda-kuda para pengawal akan digunakan oleh para wanita jika mereka kelelahan.
"Baik, persiapkan barang masing-masing. Kita akan segera berangkat agar bisa tiba di desa nelayan sebelum gelap." Kata-kata Robert adalah aba-aba. Anggota tim itu lantas membereskan tas-tas ransel dan menyandangnya di punggung. Mereka siap untuk melanjutkan perjalanan menuruni bukit yang indah itu.
__ADS_1
*****