
Kang dan Robert menatap hasil kerja mereka dengan puas. Kediaman itu sudah terlihat rapi dan bersih.
Rumah besar dengan 2 kamar tidur, ruang makan, dan ruang dalam yang sebenarnya menjadi penutup lantai bawah tanah. Tempat itu ditata seperti ruang kerja.
Lalu ada teras yang lebih luas untuk tempat Kang dan Robert melepas lelah. Dapur dan kamar mandi tepat di bagian belakang. Terhubung dengan pintu ruang makan.
Dari belakang bisa langsung terlihat kolam ikan dan kandang-kandang ternak yang juga sudah diperbarui.
Kang kagum pada perencanaan Robert. Bahkan disain kandang-kandang ternakpun dibuat detail. Tempat makanan sapi dan domba berada di area luar kandang dan posisinya lebih tinggi untuk memudahkan para domba dan sapi mendapatkannya.
Lantai kandang diperkeras dengan susunan bata dan ada saluran pembuangan kotoran. Jadi semua ternak itu terjamin kebersihannya.
Saat semua telah selesai, Kang jadi terpukau. Dia tak menyangka kediaman tua peninggalan ayahnya itu sekarang jadi sebagus ini.
"Bagaimana pendapatmu?" tanya Robert.
Kang mengangguk-angguk. Wajah Kang yang berseri-seri mencerminkan isi hatinya.
"Bagus jika kau puas." Robert tersenyum.
"Tapi, karena jendela kita tak memiliki daun jendela, harusnya ada tirai penutup. Apa kau tau cara membuat kain Kang?" tanya Robert.
Kang mengangguk. Dia masih tersenyum senang.
"Bagus. Ajari aku nanti," kata Robert.
"Tolong... tolong..."
????
Salah seorang gadis bersayap datang ke tempat mereka.
Kang dan Robert bisa melihat bahwa tubuhnya lemah, pucat dan terlihat kuyu.
"Ada apa?" tanya Robert heran.
"Maya.. tolong Maya." Gadis bersayap itu jatuh dan berjongkok di tanah.
Kang masuk rumah. Lalu dia kembali dengan membawa cangkir. Dihampirinya gadis itu dan menyodorkan cangkirnya.
"Kau minum dulu itu. Duduk di sini dan ceritakan apa yang terjadi," kata Robert.
Gadis itu menurut. Kang membantunya pindah duduk di teras.
"Sekarang katakan apa yang bisa kami tolong. Maya itu siapa?" tanya Robert.
"Maya, pemimpin kami. Dia... sekarat.... Kami sekarat...," ujarnya lirih dan sedih.
"Kenapa? apa kalian keracunan sesuatu?" tanya Robert heran. Itu akan merepotkan, karena tak ada seorangpun tabib di dunia kecil itu.
Gadis itu menggeleng sedih.
"Kami kelaparan," dia menunduk dalam menahan rasa malu.
???
Robert dan Kang saling berpandangan.
"Kang, bisakah kau membawa beberapa bahan makanan, susu dan ikan ke sana? Apa kau masih ingat jalan ke sana?" tanya Robert.
Kang mengangguk, lalu pergi ke belakang rumah.
"Aku akan membawamu ke sana." gadis itu mencoba berdiri, tapi dia jatuh kembali.
"Apanya yang mau mengantar ke sana. Berdiri saja kau tak bisa. Kau tinggal di sini dan pulihkan dirimu dulu, baru kembali," omel Robert.
Gadis itu terdiam. Kang kembali.
__ADS_1
"Kang, yang pertama, kau beri mereka minum susu dulu. Lalu kau masakkan bubur dan bakar ikan. Harus kau yang kerjakan. Mereka tak bisa apa-apa," pesan Robert.
Kang mengangguk, lalu melompat pergi.
"Hati-hati Kang. Dan segera kembali!" teriak Robert.
"Dan kau tunggulah di sini. Aku siapkan bubur untukmu." Robert masuk ke rumah dan menutup pintu. Gadis itu membaringkan tubuhnya yang lemah di atas kursi kayu panjang tempat Robert dan Kang biasa duduk.
*
*
Robert meletakkan bubur, sayur dan ikan bakar di atas meja. Gadis bersayap itu tak bereaksi.
"Hei, apa kau pingsan atau tidur?" Robert menggoyang tangan gadis itu beberapa kali.
"Mmmm...?"
Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum berusaha duduk.
"Kau kelelahan dan sangat lemah. Ayo makanlah dulu. Isi tenagamu," ujar Robert.
Gadis itu menatap meja dengan nanar. Dia meraih mangkuk bubur dan makan dengan cepat.
Uhuk.. uhuk.. uhukk....
Robert menepuk-nepuk punggungnya pelan.
"Makan pelan-pelan. Tak ada yang akan merebut makananmu," tegur Robert. Disodorkannya gelas minuman.
Gadis itu mulai makan lagi. Kali ini perlahan-lahan, agar dia tak tersedak lagi. Tak lama semua hidangan itu tandas. Robert mengangkat semua piring mangkuk itu ke dapur.
Saat Robert kembali ke teras, dilihatnya gadis itu bersandar ke dinding rumah dengan mata terpejam.
"Berbaring dan beristirahatlah di situ. Jangan pergi sebelum ku izinkan," kata Robert tegas.
Robert melangkah menuju kebun sayuran yang berada tepat di seberang tanah kosong depan teras.
'Ada apa dengan mereka? Bagaimana mereka bisa kelaparan?' pikirnya heran.
A few moments later.
Robert sudah selesai membenahi kebun sayur yang tak seberapa itu. Semua jenis tanaman, mereka tanam dalam barisan berbeda-beda. Itu akan mempermudah perawatan dan pemanenan.
Robert membawa keranjang berisi hasil panen ke teras. Gadis bersayap itu masih tidur dengan nyenyak. Robert membiarkannya, lalu beranjak ke halaman belakang.
"Tampaknya harus memotong beberapa ekor ayam sebagai persediaan," gumam Robert.
Lewat tengah hari, gadis itu belum juga bangun. Robert ingin membiarkannya tetap tidur.Tapi Kang belum juga kembali. Dia khawatir terjadi sesuatu di sana.
"Hei, bangun.. Udah siang nih.. bangun..." kata Robert sambil menggoyang bahu gadis itu.
"Mmm..??"
Gadis itu segera duduk saat melihat Robert. Dia mengucek matanya sebentar. Rona kulitnya sudah kembali. Setelah memperhatikan dengan teliti, baru Robert menyadari bahwa gadis itu memang sedikit kurus.
"Aku sih gak masalah kalau kamu tidur lebih lama. Tapi temanku belum kembali juga dari sana. Itu membuatku khawatir. Bagaimanapun setelah perlakuan kalian waktu itu, aku tidak bisa mempercayai kelompokmu," kata Robert jujur.
Gadis itu menunduk.
"Aku akan ke sana dan membawanya kembali." Gadis itu berdiri. Tapi baru berjalan selangkah, dia sudah jatuh di tanah.
Robert membantunya untuk kembali duduk di bangku panjang.
"Berjalan saja belum bisa, bagaimana mau terbang? Bisa-bisa kau jatuh ke jurang karena tak kuat mengepakkan sayap."
"Duduk di sini dan pulihkan dirimu lebih dulu. Melihat keadaanmu ini, kau pasti nekat menggunakan tenaga terakhirmu untuk bisa ke sini. Iya kan?" desak Robert.
__ADS_1
Gadis itu mengangguk. Setetes air mata jatuh dari kelopak mata yang terpejam itu.
"Sekarang ceritakan dengan jujur. Bagaimana kalian bisa kelaparan. Kalian sebanyak itu, kok bisa sampai kelaparan? Apa kalian tidak berkebun seperti kami?" Robert menunjukkan kebun di seberang teras itu.
Gadis itu menggeleng.
????
Robert tak menyangka mendapat jawaban begitu.
"Kalau kalian tidak berkebun, lalu selama ribuan tahun ini, bagaimana cara kalian hidup?" tanya Robert heran.
"Berburu," jawab gadis itu.
"Hahahaa.. kalian berburu setiap hari? Pasti sekarang sudah tak ada hewan buruan lagi. Makanya kalian kelaparan. Dasar pemalas." Robert tak bisa menahan diri untuk mengkritik cara hidup para gadis itu.
"Kami tidak malas. Kami rajin berburu." Gadis itu membela diri.
Tapi justru membuat tawa Robert makin keras.
"Hahahaa.. Pantas saja hewan buruan kalian cepat habis. Saking rajinnya kalian berburu. Mereka sampai tak sempat beranak-pinak!" kata Robert pedas.
Gadis itu memandang Robert dengan tatapan tak suka.
"Kesal ya mendengar ucapanku? Meskipun kau tak suka mendengarnya, tapi itulah kebenarannya. Kalian memusnahkan sumber makanan kalian sendiri. Paham?!" ucap Robert pedas.
Robert mendengus melihat mata gadis itu menyala-nyala ingin marah. Lalu meredup perlahan. Gadis itu diam dan menundukkan kepalanya. Robert mencibir. Gadis itu akhirnya mengakui kebenaran perkataan Robert.
"Harusnya hewan-hewan itu kalian pelihara agar semakin banyak dan bisa terus menghidupi kalian," kata Robert.
"Kalau kami membiarkan hewan-hewan itu hidup, maka kami sudah mati dari lama," bantah gadis itu.
"Hei, kalian bisa memburu binatang pemakan daging seperti harimau atau macan. Tapi binatang pemakan rumput seperti rusa dan kelinci, baiknya dibiarkan. Sesekali saja menangkapnya agar mereka bisa terus berkembang." Robert menasehati.
"Jika tak makan daging, mau makan apa?" gumam gadis itu.
"Kau tadi bisa makan bubur dan sayur yang ku berikan. Apa kalian tak pernah makan yang semacam itu?" Robert benar-benar heran.
Gadis itu menggeleng. Robert melihatnya tak berkedip.
"Kalau mau bertahan hidup, kalian harus belajar menanam sumber makanan kalian sendiri. Lihat yang kami lakukan. Kami berkebun sayur di sini. Juga menanam soba di lembah. Semua ini sumber makanan. Rasanya enak juga menyehatkan." jelas Robert bangga.
"Kami tidak tau caranya...," ujar gadis itu lirih.
"Oh ya ampun.... Apakah sebelum terjebak di sini, kalian itu makhluk suci atau para putri? Yang tinggal meminta lalu ada pelayan yang menyiapkan?" tanya Robert sinis.
Gadis itu kembali mengangguk. Dan itu sukses membuat Robert terdiam. Dia tak menyangka tebakan itu ternyata benar adanya.
Robert menghela nafas lalu duduk di ujung bangku panjang yang satu lagi.
"Bisa kau ceritakan dari mana asal kalian? Mungkin dengan begitu kita bisa hidup bertetangga tanpa saling curiga," bujuk Robert.
Gadis itu diam. Dia terlihat ragu. Mungkin merasa bahwa asal-usulnya adalah hal yang sangat rahasia.
"Kalau tak mau cerita, simpan saja. Aku tak memaksa. Cuma jadi sedikit kesulitan untuk membantu kalian. Tapi tak apa. Kita toh terjebak di sini. Dan mungkin akan mati di sini juga. Siapa yang peduli pada rahasia kalian."
Robert menyandarkan punggungnya ke dinding rumah. Duduk dengan santai sambil memandang jauh ke depan. Mencari-cari bayangan Kang ysng kembali.
Tapi gadis di sebelahnya terlihat sedang berpikir keras. Raut wajahnya terlihat kesulitan untuk mencerna kalimat-kalimat Robert. Dia sedang berperang batin. Antara pemahaman yang selama ini diyakininya, dengan pemahaman baru yang dilontarkan Robert.
Haruskah mempertahankan rahasia asal-usul mereka? Atau bersikap terbuka dan bersahabat dengan dua pria yang sama-sama terjebak di sini?
Gadis itu menatap Robert dengan keraguan di matanya.
"Akan ku ceritakan...." kata gadis itu lirih, hampir tak terdengar.
Robert menoleh. Mencari bayangan keterpaksaan di mata gadis itu.
__ADS_1
******