
Dean terus melangkah memeriksa lorong di depannya. Dirabanya dinding lorong memeriksa, 'suhu di sini juga dingin' batinnya sambil terus berjalan. Lorong itu tak terlalu panjang, Dean segera melihat ujungnya. Tampak ruang yang cukup luas di depannya.
"Sekuat apa mereka hingga bisa memahat batu menjadi berbagai ruang dan benda, membuat rak, meja serta bangku duduk?"
Dean melihat ada 3 bangku batu mengelilingi meja bundar yang juga dari batu. Di ujung sana ada rak batu susun dua dan sebuah meja batu lain dengan beberapa benda asing di atasnya. Dean berjalan ke arah meja bundar, menyentuh permukaannya yang terasa halus.
Dean lanjut memeriksa rak bersusun dua tempat beberapa kendi berbagai ukuran diletakkan berjajar. Diamatinya juga rak bagian bawah yang digunakan untuk meletakkan 4 guci berukuran besar dan tampak berat.
"Apakah ini ruang penyimpanan, dapur dan ruang makan?" Gumam Dean.
"Benda apa ini?" Dean mengamati benda berbentuk silindris berukuran kurang lebih 30cm dengan sebuah lubang di tengahnya.
Beberapa wadah dari batu yang dipahat halus disusun tak jauh dari situ.
"Dean!" terdengar suara Alan.
Dean menoleh ke pintu masuk.
"Ah, aku menemukanmu. Tempat apa ini?" tanya Alan.
Dean tak langsung menjawab. diambilnya sebuah wadah lalu duduk di bangku batu menghadap meja bundar. Wadah itu diletakkannya di atas meja.
"Kalau seperti ini, menurutmu ini ruang apa?" Dean membalikkan pertanyaan.
Mata Alan membesar.. "ini ruang makan!" Alan menutup mulutnya yang terbuka. Ikut duduk di bangku batu dan mengamati sekitarnya. Dilihatnya Dean yang menoleh ke arah bangku kosong di dekatnya.
"Apakah mungkin dulu penghuni gua ini ada 3 orang?" Alan bertanya sendiri.
"Lalu dimana yang dua orang lagi?" Dean menyambung kata sambil berpikir keras.
Dean mengambil gulungan kayu dari saku baju dan menunjukkannya pada Alan.
"Aku menemukan ini di ruang makam itu. Apa kau bisa membacanya?" tanya Dean.
"Tulisan apa ini? Mereka ini berasal dari abad berapa?" Alan tak mengerti sama sekali tulisan di gulungan itu.
"Hanya jika kita bisa membaca gulungan-gulungan yang mereka tinggalkan, baru kita bisa tau tempat apa ini dan cara keluar dari sini" jelas Dean.
"Coba lihat 2 ruang yang kita temukan serta lorong gua ini. Apa kesimpulanmu?" tanya Dean.
"Mungkin mereka manusia gua jaman purba?" Alan menebak.
"Hahaha," Dean tak bisa menahan tawa.
"Apa tadi kau tak lihat manusia beku di ruang makam itu? Pakaiannya jelas menunjukkan peradaban dimasanya. Bagaimana bisa kau menebaknya manusia purba?" Dean kembali tertawa geli.
Alan menggaruk kepalanya. "Iya juga sih. Wajahnya juga terlihat tampan dengan tinggi sekitar 2 meter."
"Dan sangat kuat hingga bisa memahat batu sekeras batu gua ini. Juga sangat pintar karena bisa membuat sistim mekanis untuk menyembunyikan senjata dan dokumennya." Dean seakan bicara pada dirinya sendiri.
"Ya, kau benar Dean. Tak mungkin manusia biasa bisa memahat gua begini rapi," Alan setuju.
__ADS_1
Dean menganggukkan kepala dan berpikir keras. 'Siapa mereka dan dari mana asalnya?' Tapi Dean tak juga mendapatkan jawabannya.
"Baiknya kita kembali ke gua lebih dulu dan mendiskusikannya dengan yang lain." Dean menyerah untuk memikirkannya lebih lanjut.
Alan mengikuti Dean berdiri dan berjalan keluar.
*
Wajah Widuri cemberut. Dia makin kesal karena Dewi dan Nastiti tak membelanya.
"Sudah, jangan cemberut lagi. Jelek hloo," Dewi terkekeh melihat tampang Widuri yang menurutnya lucu.
"Kalian selalu membelanya," gerutu Widuri.
"Bukan membela, kami berusaha memahami situasinya. Kamu yang suka banget membantah kata-katanya. Sementara Dean cuma memikirkan keselamatanmu makanya mendorongmu pergi," jelas Nastiti.
"Betul. Point itu tak bisa kau temukan dalam keadaan emosi dan negative thinking. Atau kau sudah tau, tapi memutuskan untuk tidak mempercayainya," tambah Dewi.
"Widuri, kurasa... kau mulai mencintai Dean tapi kau tak ingin jatuh cinta. Hanya saja instingmu sering tidak bisa kau tahan. Bagaimanapun, hatimu tak ingin dia terluka. Apa kesimpulanku benar?"
Kata-kata Nastiti menohok hati Widuri. 'Apa iya aku jatuh cinta?' pikir Widuri linglung.
"Aahh,, tidak.. tidak.. Kalian meracuni pikiranku." Widuri beranjak pergi.
Nastiti dan Dewi menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
"Hei, mau kemana? Kalau tidak membantu kami, maka bantu Sunil membersihkan gua. Sebentar lagi malam," teriak Dewi pada Widuri.
Ruang gua itu sudah lumayan bersih dari bebatuan yang runtuh. Sunil sedang menyiram lantai gua agar debu yang menumpuk dihanyutkan air. Lantai gua jadi basah, tapi sudah lumayan bersih. Widuri bolak balik mengangkat barang-barang mereka masuk dan menempatkannya di atas bebatuan besar yang sudah bersih disiram Sunil.
Mereka sedang memasak makan malam saat Dean dan Alan kembali. Dewi dan Widuri membakar irisan daging domba di atas wadah batu lebar yang biasa digunakan Widuri untuk memasak roti.
"Dimana Daging domba yang tersisa? Biar disimpan di dalam sana. Suhu di dalam cukup dingin, mungkin bisa membuat daging lebih awet." kata Dean.
"Itu," tunjuk Dewi pada seonggok daging yang dipotong ukuran besar.
"Dengan apa kalian memotongnya?" tanya Dean setelah melihat potongan daging domba yang rapi.
"Ku potong dengan pisau yang dibawa Alan dari sana." Sunil menunjukkan pedang kecil yang sebelumnya dia lihat.
"Kau tak takut alat itu beracun?" tanya Dean.
"Sudah ku tes dengan mengiris sepotong kecil daging. Tapi tak ada perubahan yang menunjukkan tanda tercemar racun," jawab Sunil.
"Baiklah, bantu aku bawa daging-daging ini masuk."
Dean mengangkat daun dengan tumpukan daging di atasnya. Sunil dan Alan membantu membawa yang tersisa. Persediaan itu diletakkan di ruang makan.
"Ruangan ini dingin sekali," komentar Sunil.
"Bagaima mungkin ada manusia yang bisa tinggal di ruang dingin? Bahkan suku-suku di kutub utara saja tetap membuat rumah mereka terasa hangat." Sunil menyampaikan keheranannya.
__ADS_1
Dean dan Alan saling pandang.
"Benar juga," kata keduanya serempak.
Mereka kembali ke gua dengan berbagai pikiran di kepala. Temuan kali ini terasa tak masuk akal.
Makan malam itu diisi diskusi tentang temuan di gua yang baru.
"Sekarang kita punya senjata. Kita sudah bisa pergi mencari jalan keluar kan," Widuri berkata tanpa ekspresi.
"Siapa yang ingin menemani Widuri pergi, silahkan. Ambil senjata yang kalian inginkan untuk perjalanan," sahut Dean dingin.
Yang lain saling berpandangan dan mengerti, "perang dunia akan dimulai lagi malam ini".
Karena tak seorangpun yang menjawab, Dean juga tak memperpanjang. Tapi berbeda dengan Widuri. Wajahnya merah padam menahan amarah.
"Bukankah katamu kita bisa pergi kalau sudah ada senjata!" teriak Widuri marah.
"Bukankah ku bilang juga, kita harus sedikit berlatih agar bisa mempertahankan diri sendiri. Apa kau ingin terus bergantung pada orang lain? Kalau semua pria di tim ini mati, kalian para wanita mau bagaimana? Apa mau ikut mati juga?!" Dean ikut berteriak dengan sengit.
Widuri terkejut diteriaki Dean. Belum pernah Dean semarah ini. Dia akhirnya menangis sesenggukan.
"Kau jahat! Huhuhu.." Widuri masih tampak kesal namun takut melihat kemarahan Dean.
Keempat temannya masih ternganga melihat sikap Dean yang diluar dugaan. Mereka melirik Widuri yang menyembunyikan kepala dibalik kedua kakinya.
"Aku cuma ingin pulang. Aku rindu ayah dan ibuku, huhuhu.." Widuri terus menangis.
Dean memberi kode pada Nastiti. Nastiti mengerti.
"Iya, nanti kita pulang. Bersabarlah. Dean benar, meskipun kita ingin pulang, tapi menjaga keselamatan adalah hal utama," bujuk Nastiti sambil memeluk Widuri.
Ketegangan mereda. Keempat anggota tim lain membiarkan Widuri melepas stress yang menghimpitnya dengan menangis. Mereka melihat-lihat senjata yang ada. Ada beberapa yang tidak mereka mengerti bagaimana menggunakannya, karena tak memiliki pegangan.
"Senjata-senjata ini adalah senjata pertarungan jarak dekat. Tidak terlalu cocok untuk kita yang bukan ahli beladiri," kata Dean.
"Ya, ini cuma bisa kita gunakan sebagai pertahanan terakhir jika terdesak." Alan setuju.
"Besok bantu aku mencari kayu yang sekiranya bisa kita buat jadi busur," kata Dean.
"Tapi kita tak punya gergaji atau kampak untuk memotong kayu," jawab Sunil.
Dean mengangkat pisau besar yang mirip pisau algojo.. "kalau pakai ini bagaimana?" Dean tersenyum miring.
"Pemilik pisau besar itu pasti menangis, senjata andalannya dipakai untuk menebang pohon."
Kata-kata Dewi disambut derai tawa ketiganya.
"Kau benar, pemilik pedang pendek itu pasti menangis melihat senjatanya dijadikan pisau daging oleh Sunil," timpal Alan tertawa geli.
Malam itu berlalu dengan tenang. Masih ada hari esok untuk menyelesaikan rencana-rencana yang dibuat.
__ADS_1
***