PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 234. Lamaran Yoshi


__ADS_3

"Akhirnya ada petunjuk!" seru Michael.


"Ternyata ada di kota lain. Sampai bongkok kita nyari di sini juga gak kan ketemu celah dimensi ruang yang benar," kata Alan.


"Tapi kan itu masih harus dipastikan dulu. Jika ternyata itu serupa dengan dunia-dunia kecil yang ada di sini, ya percuma juga," celetuk Niken pesimis.


"Memangnya kenapa dengan dunia kecil di sini?" tanya Nastiti.


"Dunia kecil di sini tuh seperti dunia perantara untuk mencapai hutan larangan di kota pelabuhan," jawab Niken.


"Ku pikir kau benar. dunia kecil Kang dan Yabie hanya menerima pendatang dari dunia lain, tapi tak ada jalan keluar, kecuali ke hutan larangan." Sunil mendukung pendapat Niken.


"Jadi, dunia-dunia kecil yang dikatakan Yabie sebagai tempat pelarian semua binatang hutan, juga hanya bisa keluar masuk hutan larangan?" tanya Widuri memastikan.


"Ku fikir juga begitu," jawab Sunil.


"Tapi, itu tetap harus dipastikan dulu," timpal Indra.


"Yang mana yang mesti dipastikan?" tanya Niken bingung.


"Ya semuanya. Cerita tentang dinding cahaya di kota rawa, apakah sama seperti yang kita pikirkan?" jawab Indra.


"Juga tentang dunia kecil di sini yang belum sempat diperiksa seluruhnya. Apa benar hanya akan mentok di hutan larangan saja?" tambah Indra lagi.


"Indra benar. Sebelum kita memeriksanya, bagaimana kita akan tau kebenarannya?" kata Dokter Chandra.


"Tapi kan waktunya seminggu! Kapal itu berangkat dalam seminggu!" kata Alan ngotot.


"Aku sudah minta Ketua Kota memastikan informasinya. Apakah kota Rawa adalah kota yang sudah mereka lewati, atau kota yang akan mereka tuju," timpal Dean.


"Maksudnya?" tanya Widuri.


"Mungkin maksud Dean adalah, jika kota Rawa adalah kota yang akan mereka tuju, maka waktu kita bersiap hanya seminggu ini dan langsung ikut kapal jika ingin pergi,' jelas Marianne.


"Benar. Tapi, jika kota Rawa adalah kota yang baru mereka lewati, maka kita punya waktu 3 bulan hingga kapal itu kembali ke sini lagi, lalu menuju kota Rawa!" Dean menjelaskan pemikirannya.


"Ahhh, kau benar. Karena kapal itu rutin singgah ke sini tiap 3 bulan, artinya dia bolak balik di jalur yang sama. Semisalnya, dia berlayar dari kiri ke kanan. Maka untuk kembali, dia akan melalui jalur yang sama dari kanan ke kiri. Bolak-balik saja, seperti kapal Pelni dari Timur Indonesia ke arah Barat. Lalu dari Barat ke timur. Bukan berputar mengelilingi."


Sunil menggambarkan perbedaan garis bolak-balik di permukaan meja, dan garis berputar.


Plakk!


"Aduuhh...." Sunil meringis.


"Hemmm, aku mengerti sekarang." Niken menepuk punggung Sunil.


"Tapi jangan nabok juga dong. Aduhh.. punggungku yang malang...," keluh Sunil sambil meringis.


"Kalian serius banget sihh...." sahut Niken tanpa rasa bersalah.


"Tapi kenapa bukan Indra yang kau tabok? Dia juga duduk di sebelahmu itu!" protes Sunil.


"Enggak dong! Dia kan my hubby... kesayanganku, cintaku...." ujar Niken dengan mimik lucu. Dan itu ditimpali oleh Indra yang berpura-pura pingsan mendengarnya.


Gaya Niken dan Indra yang kocak itu mengundang senyum dan membuat Dokter Chandra terkekeh.


"Pengantin baru satu ini... benar-benar bikin iri," kata Dokter Chandra sambil tersenyum.


"Ya sudah. Kita istirahat saja. Besok kita tunggu informasi lengkapnya dari Ketua Kota."


Dean mengakhiri diskusi malam itu. Dia bangkit dari duduk dan beranjak menuju kamar untuk beristirahat. Cloudy yang mulai gendut, mengekori dari belakang.


Para wanita membereskan peralatan makan yang kotor sebelum beristirahat. Kompleks rumah besar itu akhirnya sunyi.

__ADS_1


Sunil memilih berbaring di papan kayu besar di pelataran. Pikirannya menerawang jauh ke tempat asalnya. Dia sangat merindukan putra dan putrinya. Sayup-sayup Sunil menyenandungkan lagu dengan bahasa negaranya. Iramanya terdengar sedih dan pilu.


*


*


Hari ini Dean tak pergi kemana-mana. Dia beberes halaman dan membantu mengurus kebun. Dean sedang menunggu pesan dari Yoshi.


Hingga tengah hari, tak ada satupun pesan transmisi yang diterimanya. Jadi Dean memutuskan untuk pergi ke kediaman tuan Kota.


"Yoshi tak mengirim pesan. Kurasa lebih baik aku ke tempat ketua kota sekarang," ujar Dean.


"Oke," Sunil mengangguk.


Dean melayang naik, lalu melesat pergi ke pinggiran kota. Dari situ dia berjalan kaki masuk kota.


*


*


"Tuan Ketua Kota sedang menerima tamu, tuan. Anda bisa menunggu di halaman dalam," sambut seorang pelayan rumah.


Dean mengangguk dan mengikuti pelayan itu masuk. Dia menunggu di teras yang menghadap pohon walnut. Secangkir teh hangat dan penganan telah dihidangkan.


Tak ada pelayan yang mencari kacang di sana. Sepertinya belum ada kacang walnut yang cukup tua untuk diambil.


Dean merasa iseng karena tak ada yang dilakukan. Tak ada juga yang menemaninya gobrol. Jadi dia terbang melayang mrngelilingi pohon walnut. Memeriksa kacang yang tua, lalu memetiknya.


'Lumayan banyak juga hasilnya' pikir Dean.


"Tuan!" terdengar panggilan dari bawah pohon.


Dean melihat ke bawah. Pelayan yang tadi, telah menunggunya di bawah pohon. Dean turun.


Dean mengangguk. Kacang-kacang yang tadi dipetiknya diserahkan pada si pelayan.


"Itu sudah tua. Kalian bisa mengolahnya," kata Dean.


"Ya, tuan. Mari...."


Pelayan itu menunjukkan jalan ke ruangan Ketua Kota.


Dean masuk ke ruangan, begitu pintu dibukakan. Masih ada seorang tamu di ruangan itu.


"Dean! Masuklah. Ada kabar bagus!" Ketua Kota terlihat sedang sangat senang.


"Oh, kabar apa itu?" tanya Dean antusias. Dia langsung duduk tanpa disuruh.


"Ehemm," Ketua Kota berdehem kecil.


"Perkenalkan, ini paman Yoshi. Saudara almarhum istriku. Namanya Dean," Ketua Kota memperkenalkan Dean pada tamunya secara resmi.


Meskipun heran, Dean tetap mengulurkan tangan ke arah pria itu. Pria yang terlihat matang dan punya ekspresi tegas. Tampan dan menarik.


"Dean."


"Emerson."


Pria itu menyambut uluran tangan Dean. Senyumnya lepas. Dia terlihat sangat berusaha untuk mendapatkan kesan baik dimata Dean. Itu membuat Dean heran dan bertanya-tanya dalam hati.


'Ini tentang apa?' pikirnya.


Dan pertanyaan di pikirannya itu langsung mendapatkan jawaban.

__ADS_1


"Dean, Emerson mau melamar Yoshi."


Ketua Kota tersenyum lebar. Tampak jelas dirinya sangat bahagia.


Dean akhirnya mengerti kenapa Yoshi tak memberi kabar. Dan kenapa pria di sebelah ini sangat ingin membuatnya terkesan. Dean pun tersenyum. Dia manggut-manggut sambil melihat ke arah Emerson.


Hal itu justru membuat pria itu gugup. Dia sangat menyadari bahwa dirinya sedang dinilai oleh Dean. Tapi Dean tak berlama-lama mengganggu pria itu. Dia menoleh pada Ketua Kota.


"Aku tidak perlu bertanya tentang asal-usul dia atau pekerjaannya. Anda pasti sudah mengetahui hal-hal itu." Dean menoleh ke arah Emerson.


"Tapi yang penting bagiku adalah penerimaan Yoshi. Jika dia setuju, aku akan mendukungnya," ujar Dean tegas.


Ketua Kota terlihat kembali lesu. Pria di samping Dean juga ikut menunduk. Dean mengangkat sebelah alisnya melihat reaksi keduanya. Dia sangat mengerti.


"Hahahaa...." Dean akhirnya tertawa keras.


Ketua Kota dan Emerson melihat ke arahnya dengan heran. Apanya yang lucu?


"Anda memintaku masuk dan bertemu dengannya, lalu mengatakan tentang lamaran. Anda ingin aku membujuk Yoshi?" tebak Dean telak.


"Dean, dia menolak semua lamaran. Tolong bujuk dia."


Ketua Kota memohon dengan putus asa. Dia tak tau lagi cara berbicara dengan putrinya, jika itu mengenai pernikahan. Yoshi menolak tegas bahkan tanpa merasa perlu mendengarkan penjelasan apapun.


"Aku bisa pergi dengan tenang menyusul Bi, jika dia sudah menikah. Jika sudah ada yang menjaganya, aku baru merasa ringan," ujar Ketua Kota sedih.


"Bukankah ada Yabie yang menjaganya?" jawab Dean asal.


"Dean, Yabie itu saudaranya. Aku juga akan segera mencarikan istri untuknya. Lalu bagaimana dengan Yoshi? Dia akan sendirian. Dan kau sangat tau bedanya cinta saudara dan suami istri." Ketua Kota mengatakan beban pikirannya.


"Aku tak pandai membujuk," tolak Dean.


"Istrimu. Minta istrimu membuka wawasan Yoshi, bisakan?" Ketua Kota sungguh banyak akal.


"Akan ku bicarakan dulu dengan Widuri. Terserah dia, mau membantu atau tidak. Bagaimanapun, aku tak mau dimusuhi Yoshi. Kemarin saja dia sudah marah padaku."


"Bayangkan saja... dia sampai mengira aku tidak menyayanginya. Apa anda pikir sebagai paman hatiku tidak sakit?"


"Jadi kau jangan memojokkanku hingga ke tepi jurang. Kalau Widuri setuju untuk bicara, ya biarkan. Kalau tidak mau, jangan paksa."


"Cuma bicara saja kan? Memberi pencerahan dan wawasan baru saja kan? Bukan membujuk Yoshi?!" Dean menarik garis batas dengan jelas.


Ketua Kota mengangguk cepat. Matanya membersitkan harapan baru.


"Ya. Bicaralah padanya. Ajak istrimu. Yoshi sangat menyayangi istrimu. Dia mungkin akan lebih mendengarkan kalau bibinya yang bicara," kata Ketua Kota penuh harap.


"Baiklah... aku akan katakan pada Widuri. Besok aku akan mengajaknya ke sini," kata Dean dengan senyum hangat.


"Bagaimana dengan berita yang kemarin?" tanya Dean. Itulah tujuannya datang hari ini.


"Orangku belum kembali. Nanti ku kabari jika dia sudah datang," jawab Ketua Kota.


"Okelah kalau begitu. Aku pamit dulu."


Dean berdiri dari duduknya. Emerson ikut bangkit dan tersenyum ramah. Dean mengangguk-angguk. Lalu menepuk pundaknya.


"Jika Yoshi adalah jodohmu, maka kau akan menikahinya. Jadi, berdoalah mulai sekarang. Hanya Tuhan yang bisa membolak-balik hati manusia," ujar Dean bijak.


Emerson mengangguk.


"Terima kasih, aku akan ikuti saranmu," ujarnya tulus.


Dean tersenyum dan keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


******


__ADS_2