
Siang hari semua sudah sangat lelah dan lapar. Mereka melewatkan sarapan hari ini. Jadi tanpa komando, semua berkumpul untuk mengisi perut.
Seperti biasa, saat makan adalah waktunya diskusi. Banyak hal yang perlu dibahas lagi karena perubahan situasi.
"Dean, 2 ekor domba yang sakit pagi tadi, terpaksa ku potong seekor karena terlihat sangat lemah," lapor Sunil.
"Itu lebih baik." Dean mengangguk setuju.
Tadi pagi kami melihat ke kebun sayur dan padang rumput, tidak ada sama sekali bekas jejak kaki binatang yang seperti berlari tadi malam," kata Alan.
"Ya, di sana seperti tidak terjadi apapun. Kami bahkan mengecek sampai ladang gandum," sambung Widuri.
"Benarkah? tanya Dewi heran.
"Lalu dimana keributan itu ya? Suaranya seperti semua hewan di hutan sedang berlari ketakutan," tambah Dewi lagi.
"Mungkinkah itu terjadi di bagian atas gua?" tanya Nastiti.
"Mungkin saja. Bagaimanapun, kita belum mengeksplorasi tempat ini. Kita tidak tau berapa luasnya dan dihuni hewan apa saja," jawab Dean.
"Aku dan Nastiti sudah mencoba mencari kayu untuk membuat shelter, tapi jujur saja, tanpa peralatan memadai, kayu yang didapat hanya seperti itu," tunjuk Dean ke arah tumpukan kayu yang dikumpulkannya bersama Nastiti.
"Rasanya itu gak mungkin bisa kita gunakan sebagai pondasi shelter." Alan mengatakan pendapatnya.
Yang lain ikut mengangguk sependapat.
"Apakah gua itu tak bisa kita tempati lagi?" tanya Dewi.
"Sementara bisa. Tapi kita harus membuat hunian lain agar lebih aman." jawab Dean.
"Memangnya gua sudah tidak aman?" tanya Nastiti heran.
"Sepertinya ada retakan halus di bagian atap gua. Itu membuat air merembes turun." Widuri mengatakan yang dilihatnya tadi pagi.
"Ya, kemungkinan ada retakan. Masih aman jika tak ada lagi gempa. Tapi jika kejadian tadi malam terulang lagi, takutnya langit-langit gua bakal runtuh," jelas Dean.
"Baiklah, jadi sementara kita tinggal di gua sebelum ada shelter. Tapi bagaimana kita membangunnya kalau kita tak punya kayu-kayu yang kuat untuk tiang dan dinding?" tanya Dewi.
"Bagaimana kalau kita bangun dengan batu?" tanya Nastiti.
"Ya.. Di dalam gua kelelawar banyak batu. Bisa kita keluarkan." Sunil menanggapi.
Dean menganggukkan kepala.
"Itu ide yang bagus," kata Dean.
__ADS_1
"Baiklah, setelah makan kita angkut batu-batu itu keluar." Alan kembali bersemangat.
"Yang urgent dibersihkan dari batu adalah ruang tempat kita tinggal. Jadi nanti malam kita bisa beristirahat dengan nyaman," saran Dean.
" Oke." Alan dan Sunil menjawab hampir berbarengan.
"Dewi, luka-lukamu bagaimana?" tanya Dean yang melihat goresan bekas cakaran-cakaran kelelawar di wajah Dewi.
"Tidak apa-apa. Sudah tidak perih lagi," jawab Dewi sambil memegang wajahnya.
"Apakah wajahku tampak jelek?" tanya Dewi pada Widuri yang duduk di sebelahnya.
"Enggak kok. Cuma luka tipis. Jika tak ada infeksi, maka itu akan segera sembuh tanpa meninggalkan bekas." Widuri menenangkan Dewi.
"Widuri, setelah makan, ikut aku memeriksa lorong gua yang baru itu." Dean bangkit dari duduk dan berjalan masuk ke gua. Alan mengikuti dari belakang.
"Nanti saat memindahkan batu-batu itu, kumpulkan barang-barang kita yang tertinggal di sini. Kita kehilangan hampir semua kristal cahaya." Dean menunjukkan satu-satunya kristal cahaya di tangannya.
"Oke."
Alan memeriksa gua luas yang tampak berantakan dan mulai bekerja. Sunil dan Widuri menyusul masuk.
"Terlalu banyak debu. Sepertinya kita harus menyiram tempat ini agar bebas debu," kata Sunil prihatin.
Dean membawa tombak dan masuk ke lorong gua diikuti Widuri. Mereka menggunakan kristal ungu yang bercahaya redup sebagai penerang jalan. Jalan itu seperti melandai turun tanpa tangga. Sekitar 50 meter ada percabangan berhadapan di kanan dan kiri lorong. Dean meninggalkan tombaknya di dekat kaki sebagai penanda arah.
Widuri mengikutinya dari belakang. Diperhatikannya Dean yang terus meraba dinding sambil berjalan. Dicobanya ikut meraba dinding, Widuri kaget namun segera tersenyum.
"Dinding lorong ini dingin," gumam Widuri.
"Ya, cukup dingin. Sejak tadi sudah terasa dingin, tapi di lorong ini terasa lebih dingin." Dean menimpali.
Tak lama terdengar suara gemericik air. Suara bening air yang jatuh satu-satu terdengar seperti musik yang menghipnotis. Dean berhenti dan mendengarkan dengan seksama. Tak ada suara lain selain bunyi titik-titik air yang terdengar nyaring di dalam gua. Dean kembali melangkah pelan dan hati-hati. Widuri berjalan dengan gelisah di belakang. Dipegangnya ujung baju Dean yang membuat Dean berhenti dan menoleh ke belakang.
"Takut," kata Widuri.
Dean mengangguk. Digenggamnya tangan Widuri untuk mengalirkan ketenangan. Mereka kembali berjalan bersisian. Tak lama tampak di ujung sana ada sesuatu yang tidak biasa. Widuri mengkerut takut dan berlindung di belakang punggung Dean yang akhirnya berhenti.
"Apa itu Dean?" Widuri berbisik.
"Seperti orang sedang tidur," jawab Dean ragu.
"Atau sudah mati? Mungkinkah ini makamnya?" Widuri makin takut.
"Kita keluar aja yuuk. Jika ini makam, takutnya ada jebakan di dekat situ." Widuri tak ingin mengambil resiko. Bagaimanapun, mereka bukanlah para pencuri makam kuno ataupun ahli arkeologi yang tertarik pada hal semacam itu.
__ADS_1
"Kau tunggu di sini biar ku periksa. Jika benar ada jebakan, kau kembali dan beritau Alan dan Sunil," kata Dean sambil melepaskan pegangan Widuri yang makin kencang.
Widuri menggeleng. Matanya terlihat begitu khawatir. Tangannya menggenggam erat ujung baju Dean.
Dean menghela nafas lalu kembali mengamati ujung lorong itu. Tempat itu cukup terang. Ada cahaya putih redup menerangi di atas kotak batu dimana ada sesuatu yang terlihat seperti manusia yang sedang berbaring. Tepat di dinding ujung lorong itu, keluar tetesan air yang bunyinya terdengar sangat bening dan menenangkan di keheningan lorong gua itu.
Tik.. tik.. tik..
Dean melepas tangan Widuri. Matanya tajam dan tegas, tanda dia tak mau dibantah. Dean kembali melangkah dibawah pandangan gelisah Widuri.
"Kalau ada apa-apa, aku akan langsung lari Dean," ancam Widuri.
Tapi Dean tak peduli. Dia harus tau apa sebenarnya yang ada di atas kotak batu itu. Mungkin bisa jadi petunjuk untuk mereka keluar dari tempat itu. Sepuluh langkah kemudian, Dean berhenti. Yang di depan itu sudah terlihat sangat jelas. Jaraknya tinggal sekitar 7 sampai 8 langkah lagi.
'Tak mungkin itu patung, karena pahatannya terlihat sangat detail, persis manusia asli. Orang itu berambut putih panjang sedikit diikat asesoris di atas kepala, mengenakan pakaian yang sangat asing. Pakaiannya putih keabuan berlapis jubah panjang coklat dengan tepi keemasan menyilang ditambah ikat pinggang hitam. Di dadanya tampak motif bintang keemasan. Mengenakan celana hitam dan sepatu kulit coklat gelap yang tampak sudah sangat tua.
'Apa mungkin dia mati beku di sini?' pikir Dean saat melihat wajah sosok itu yang tampak putih pucat.
Dari jarak itu terlihat bahwa di sekeliling box batu tempat sosok itu terbaring, dikelilingi air. Ya, air yang jatuh menetes itu berkumpul di bak batu. Dean memperhatikan dinding di kiri dan kanannya, tak terlihat sesuatu yang aneh. Dean juga memeriksa lantai, jika saja ada yang tampak mencurigakan dan mungkin menjebaknya. Tapi Dean tak menemukan apapun. Dean menyapukan tangannya di dinding kiri. Dinding itu teramat dingin, tapi tak terasa ada mekanisme jebakan. Dean kembali menyapu dinding bagian kanan untuk memeriksa, juga tak ada apapun.
Dean melangkah hati-hati. Degup jantungnya memukul keras. Andai ada mikrophone di dekat dada, pasti akan terdengar oleh orang lain seperti suara drum musik rock. Satu persatu dia melangkah, namun tak terjadi apapun. Dean berdiri dengan lega tepat di samping bak air yang mengelilingi box batu tempat sosok itu terbaring.
Widuri melihat bahwa tempat itu aman, mulai mengikuti langkah Dean dan mendekat di sisi kanan Dean.
"Huh?!" Wajah Widuri memucat dan seketika ngumpet di belakang punggung Dean.
"I.. itu orang kah?" tanya Widuri ngeri.
"Sepertinya begitu," jawab Dean yang masih mengamati dinding depan tempat air menetes jatuh. Tampak ukiran samar berbentuk bintang di sekeliling air yang menetes keluar.
'Apa makna simbol bintang itu ya? Tak mungkin hanya sekedar gambar, karena simbol itu juga ada di jubahnya. Dean berpikir keras.
"Jika ini manusia dan sudah tewas, bagaimana bisa jenasahnya tetap awet begini?" Gumam Dean.
"Mungkin karena ruangan ini dingin. Jika pintu gua tidak hancur karena gempa, harusnya suhu ruang ini stabil dan tak jauh beda dengan freezer?" Widuri mengira-ngira.
Dean mengangguk sepakat dengan pemikiran Widuri. 'Mungkin air ini juga dingin' pikir Dean.
Lalu sentuhnya permukaan air bak dengan ujung jari untuk memastikan. Segera setelah jari Dean menyentuh permukaan air, ruang itu bergetar pelan, permukaan air bak beriak halus. Widuri terpekik dan tiarap ketakutan. Dean segera menarik jarinya dari air bak, tapi terlambat.
Terdengar bunyi derak dan mekanisme di dinding kiri dan kanan. Dean bersiaga, menggenggam tangan Widuri bersiap untuk melompat menyelamatkan diri.
Drakk.. Klik.. Klik.. krakk.. Krakk.. Srett..
"Dean!" teriak Widuri dengan tubuh menggigil ketakutan. Dean berjongkok memeluk punggung Widuri untuk melindunginya jika ada serangan di atas mereka.
__ADS_1
***