
Helikopter besar itu mendarat di helipad, di tengah lapangan berumput. Tak jauh dari sana ada sebuah bangunan bercat putih yang luas berlantai tiga, dengan jejeran jendela-jendela kecil di dindingnya.
Di taman kecil depan gedung itu terdapat papan nama yang dibuat dengan bagus. Terdapat tulisan dengan huruf besar-besar di atasnya.
...MARINE RESEARCH INSTITUTE...
Di pintu utama, telah menunggu beberapa tenaga medis lengkap dengan tiga brankar. Mereka sigap berlari sambil mendorong brankar ketika helikopter itu telah benar-benar berhenti.
Dean, Robert dan dokter Chandra yang pingsan, dibawa masuk ke dalam bangunan bercat putih itu dengan brankar.
"Apakah ada kesulitan?" tanya seorang pria berpakaian militer pada dua orang penjemput.
"Ada sedikit perlawanan, Kolonel. Mereka ingin turun di tengah laut!" jawab pria yang turun dari helikopter
Kolonel itu terdiam dengan mata melebar untuk sesaat. Kemudian tawanya pecah. "Hahahaha.... mereka pikir sedang naik bis?"
"Perlawanan berakhir dengan menyemprotkan obat bius di udara," lapor petugas penjemput itu lagi.
"Hanya saja, yang tua itu sepertinya sedikit sensitif. Dan dia yang paling akhir pingsan. Dua lainnya terlihat tegap, tapi polos dan mudah diatasi," sambung pria satunya lagi.
"Mari bicarakan di dalam!" ajak pria berpakaian militer. Dia manggut-manggut mendengarkan laporan kedua bawahannya.
Ketiganya melangkah masuk ke dalam gedung bercat putih, menyusul para petugas medis yang sudah masuk lebih dulu.
"Tempatkan mereka di kamar terpisah, di blok G!" perintah kolonel pada bawahannya yang lain.
"Siap, Kolonel!" Orang itu langsung berlari lebih dulu, menyusul para petugas medis.
"Kalian buat laporan tertulis dan segera serahkan padaku. Laporan dari pos pemantau saya ambil lebih dulu untuk dipelajari," ujarnya.
"Siap, Kolonel!" Dua pria penjemput itu bersikap hormat, lalu pergi melakukan tugasnya.
Kolonel itu berjalan dengan bergegas, menuju ruang kerjanya. Satu berkas laporan yang diberikan oleh pos pemantau di pulau kecil itu digenggamnya dengan erat.
Kolonel itu duduk di depan meja kerjanya. Dia sedang mempelajari laporan yang baru diterimanya itu. Yang tertulis di situ, tak berbeda dengan laporan telepon yang setiap hari didapatnya.
"Siapa kalian sebenarnya?" gumam kolonel, sambil memandangi tiga foto di depannya.
Data pribadi yang ditulis tangan itu sangat rinci. Bahkan tulisan tangannya sama persis dengan berkas asli yang mereka dapatkan selama pemeriksaan di beberapa kota.
Lalu kolonel itu mengeluarkan beberapa foto dan berkas lain dari lacinya. Tiga orang yang sama dengan yang ada bersamanya, hidup dengan tenang di tempatnya masing-masing.
Dokter Chandra bekerja seperti biasa di Rumah Sakit Jantung di Jakarta. Dean sekarang sedang berada di Kanada untuk memulai bisnis perhotelannya sendiri. Dan Robert menikah lagi dan tinggal di rumah pertanian kecil di Dakota Utara.
__ADS_1
Penerbangan itu memang ada. Tapi tak ada kasus jatuhnya pesawat. Seluruh penumpang turun dengan selamat di Singapura.
Baru kali ini kolonel Jack Meyers menemukan hal aneh seperti ini. Lalu harus bagaimana? Tidak mungkin serta-merta mengatakan pada publik, tentang tiga orang yang terdampar di pulau terpencil di Samudera Hindia.
Lebih tidak mungkin lagi untuk mengabarkan hal ini pada keluarga mereka. Karena sudah ada Dean, Robert dan dokter Chandra yang lain di sana.
"Apakah ada yang palsu? Atau mereka kembar?" pikirnya sambil memijit dahi. "Yang mana yang palsu?"
Jolonel Jack Meyers membuat beberapa catatan. Dia juga harus membuat laporan tentang ini ke atasannya di Kantor Pusat Angkatan Laut di Amerika Serikat. Dia tak bisa membuat keputusan sendiri tentang orang-orang asing ini. Sebagai bawahan, dia harus mengikuti jalur tugas dan wewenang yang sudah ditetapkan.
"Untuk apa aku ambil pusing," gumamnya. Tangannya kemudian mengetik dengan lancar di laptop. Beban di bahunya sudah terangkat sekarang.
*
*
Keesokan hari.
Seorang perawat membuka pintu ruangan, disertai seorang dokter di belakangnya.
"Selamat pagi," sapanya ramah.
Pria yang terbaring di tempat tidur, membalikkan badan ke arah suara. "Pagi," sahutnya singkat.
"Aku dokter Ian, akan memeriksa kesehatanmu. Kau tiba-tiba pingsan kemarin sore. Seseorang membawamu ke klinikku." Dokter itu bekerja sama dengan baik dengan perawat itu.
"Dean, jawab pria itu singkat.
"Bagaimana kau bisa pingsan?" tanya dokter Ian lagi.
"Aku terdampar di pantai," jawab Dean datar.
"Apakah ada orang lain bersamamu?" tanya dokter itu lagi.
Dean terdiam sesaat. "Kurasa ... kurasa, aku sendirian," jawabnya tak yakin.
Dokter itu mengerutkan dahinya. Perawatpun tak urung terkejut dengan jawaban itu.
"Kau yakin?" tanya dokter itu memastikan.
"Hemm," dehem Dean sambil mengangguk.
"Oke, fisikmu terlihat baik-baik saja. Tapi kemarin kepalamu sedikit terbentur. Aku akan mengusulkan untuk pemeriksaan CT scan untukmu," ujar dokter Ian.
__ADS_1
Dean mengangguk saja.
Dokter dan perawat itu menatapnya heran. "Kau harus jadwalkan pemeriksaan CT scan untuknya," perintah dokter Ian pada perawat.
"Baik, Dok." sahut perawat itu tanggap.
"Baik. Kau boleh sarapan sekarang. Jangan lupa minum obatmu setelah makan. Nanti perawat akan menjemputmu untuk prosedur CT scan," ujarnya.
Dokter Ian dan perawat keluar ruangan, karena ucapannya tak mendapat respon dari Dean. Pintu ditutup. Namun dokter itu masih tidak beranjak dari situ. Dia memikirkan sesuatu.
"Cctv. Kita harus memeriksa cctv mereka mulai sekarang."
Dokter Ian menggelengkan kepalanya bingung. Bagaimana orang bisa berubah tidak ingat temannya hanya dalam semalam? Apakah karena pingsan oleh obat bius? Belum pernah dia menemukan kasus orang pingsan dengan obat bius, bisa sampai hilang ingatan. Ataukan mereka terbentur saat di dalam helikopter?
"Aku harus laporkan ini pada kolonel. Orang-orang kasar itu tak bisa menjaga paket dengan baik!" gerutunya kesal.
Dokter Ian menyambangi kamar Robert. Dia kembali menperkenalkan diri dan mengajukan beberapa pertanyaan ringan. Dan hasilnya sama dengan yang terjadi pada Dean. Robert tak mengingat siapapun yang terdampar bersamanya di pantai. Hanya ada dirinya sendiri saja.
Hal yang sama pun ditemuinya pada saat memeriksa dokter Chandra. Dia tak mengingat siapa temannya saat terdampat6di pantai.
"Apa pekerjaan Anda sebelum terdampar di pantai?" tanya dokter Ian.
"Aku Dokter Spesialis Jantung di Rumah Sakit Jantung di Jakarta," jawabnya dengan lancar.
Dokter Ian terkejut. Dia bukan hanya terkejut dengan profesi pasiennya. Tapi lebih terjejut lagi karena pria tua itu dapat menjelaskan dengan lancar, tanpa ada keraguan sedikitpun.
"Hebat sekali. Aku ingin suatu saat kita bisa bekerjasama, atau bertemu dalam seminar ilmiah," pancing dokter Ian.
"Tentu. Kita bisa membuat janji temu untuk itu." Dokter Chandra menjawab sambil tersenyum sopan.
"Tentu. Saya akan kabarkan pada Anda, jika ada event baru. Jadi kita bisa bertemu lagi," timpal dokter Ian ramah.
"Baik. Pemeriksaan fisik anda selesai. Tapi saya akan aturkan pemeriksaan CT scan sebelum anda bisa pulang. Kita tak ingin ada kesalahan diagnosa sekecil apapun, bukan?" imbuhnya lagi.
"Tak masalah." Dokter Chandra mengangguk mengerti. Tatapannya teduh dan bersahabat.
"Jangan lupa minum obat setelah selesai sarapan," pesan dokter itu sebelum keluar bersama perawat.
Di luar, keduanya bergegas kembali ke ruang kerja dokter Ian.
"Kau atur jadwal CT scan untuk ketiga orang itu. Aku ingin tau apa yang terjadi sebenarnya!" perintahnya.
"Baik, Dok!"
__ADS_1
Perawat itu segera keluar ruangan dan menyiapkan permintaan dokter Ian.
*******