PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 60. Jangan Mengeluh Mengikutiku


__ADS_3

Cahaya matahari yang hangat pagi itu membelai enam sosok yang tertidur pulas tepat di depan mulut gua. Kekacauan semalam benar-benar menguras tenaga.


Seseorang menggaruk-garuk lengannya masih dengan mata terpejam. Kemudian kembali melanjutkan mimpinya. Tak lama dia menggaruk lengan atasnya lagi. Kali ini dia terbangun, karena merasakan panas di lengannya.


"Bentol apa ini? Merah dan panas banget rasanya." Dia langsung duduk, dilihatnya tempatnya tertidur adalah tanah becek. Tampak di sebelahnya Widuri masih tidur pulas.


"Waduh, ternyata kita bener-bener tidur di lumpur," katanya pada diri sendiri.


"Alan, kau sudah bangun?"


"Ya Dean. Ini lenganku terasa panas dan gatal," Alan bangkit dari duduk dan berjalan ke arah pancuran.


"Mungkin digigit sesuatu saat tidur," kata Dean yang juga ikut bangkit dari duduknya.


Dean melangkah menuju mulut gua. Dia ingin memeriksa keadaan di dalamnya. Dean masuk dan menapaki bebatuan dengan hati-hati. Tak jauh dari mulut gua dia berhenti karena kepalanya ditetesi air. Dean bergeser dari tempatnya agar tak basah. Didongakkannya kepala untuk memeriksa atap gua. Tampak jelas air menetes dari situ. Tapi Dean tak melihat retakan.


'Mungkin hanya retakan halus yang membuat air dari atas merembes dan akhirnya jatuh disini,' pikir Dean.


Dean melangkah makin dalam, memeriksa tempat mereka biasa duduk untuk makan dan ngobrol. Tempat itu dipenuhi debu tebal dimana-mana. Batu-batu kecil berserakan. Dan yang lebih mengejutkan adalah adanya dinding gua baru dekat kumpulan domba yang sedang tergeletak. Dean menghampiri untuk memeriksa hewan-hewan itu, apakah ada yang selamat atau tidak.


"Dean, lubang apa ini?" tanya Alan sambil menunjuk dinding gua yang kini berongga besar.


Warnanya putih keabuan, berbeda dengan dinding gua besar yang mereka tempati sebelumnya yang berwarna hitam atau abu-abu pekat.


"Tidak tau. Nanti saja diperiksa. Sekarang bantu cek kawanan domba ini dulu," kata Dean.


"Oke," sahut Alan dengan cepat membantu Dean mememeriksa domba-domba itu satu persatu.


"Sepertinya masih hidup Dean, tapi nafas mereka lemah," lapor Alan.


"Ya, mereka menghirup debu sampai pagi." Dean memandangi dengan sedih.


"Kita bawa keluar dulu, biar menghirup udara segar." Alan memberi ide.


Dean mengangguk setuju. Keduanya mengangkat domba-domba itu satu persatu keluar dan membaringkannya di tanah basah. Aktifitas mereka membangunkan yang lainnya. Mereka saling bantu merawat dan memindahkan semua domba. Tapi mereka tidak menemukan 2 ekor kelinci di dalam gua.


"Yang ini terluka cukup parah. Bagaimana?" tanya Sunil sambil menunjuk seekor domba yang kepala dan perutnya mengucurkan darah cukup banyak dan tampak sangat lemah.


"Pisahkan dari yang lain, lalu potong. Kuliti bulunya dan potong-potong dagingnya untuk bahan makanan kita." Putus Dean.


Sunil dan Alan menggotong hewan itu keluar. Mereka membawa pisau batu untuk memotongnya.

__ADS_1


Dean akhirnya bisa mulai menfokuskan perhatiannya pada lubang gua yang baru terbentuk tadi malam. Besar dan tingginya lumayan, cukup untuk membuat orang yang masuk dengan leluasa dan bisa berdiri tegak. Tapi yang membuat Dean sangat penasaran adalah, dinding gua baru itu tidak terlihat baru terbentuk akibat getaran gua tadi malam.


"Tidakkah lorong gua ini aneh?" Widuri tiba-tiba bertanya di belakangnya.


"Astaga! Bisakah kau tidak tiba-tiba muncul dan bicara di belakangku? Mengagetkan saja." Dean menatap Widuri tajam.


"Kau yang terlalu asik, sampai tak dengar langkah kakiku," Widuri tak mau disalahkan.


"Hah.. terserah." Dean mengabaikannya dan mengangkat kakinya untuk masuk ke lorong gua itu.


"Eiittts nanti dulu. Jangan main masuk aja. Kalau ternyata itu pintu portal, bagaimana?" Widuri menahan leher baju Dean yang membuat tubuhnya tertarik ke belakang.


"Aduhh. Kau mencekikku!" Dean mulai gusar.


Ditatapnya Widuri dengan pandangan tidak senang. Tapi Widuri cuek saja.


"Kembali ke topik, tidakkah menurutmu lorong gua ini aneh?" Widuri mengulang pertanyaannya.


"Jelaskanlah apanya yang aneh?" Dean bersabar dan ingin mendengar pendapat Widuri.


Menurut Dean, lorong gua batu itu aneh, karena dinding lorong itu tampak dibentuk dengan sengaja dan sudah ada sebelumnya. Tinggi lurus hampir 2 meter dengan atap lengkung.


Keanehan itu dilengkapi satu hal. Luncuran batu yang terjadi hanya ada di area luar dan menimpa domba-domba. Sementara lorong gua itu bersih dari batu dan cuma ditutupi debu. Seakan batu-batu itu didorong dari dalam lorong ke arah gua yang mereka tempati. 'Apakah batu-batu ini adalah pecahan pintu gua?' pikir Dean mengamati.


Dean tak fokus mendengar uraian Widuri karena sibuk mengamati dan berfikir.


"Dean, benarkan perkataanku?" tanya Widuri mendesak.


Dean menoleh dan hanya mengangguk. Meskipun pandangannya dan Widuri berbeda, tapi itu bukan hal yang perlu diperdebatkan. Dicobanya meraba dinding gua untuk meyakinkan bahwa itu bukan pintu portal atau apapun. Dean dapat melihat tangannya dan merasakan tekstur dinding lorong gua itu.


"Hmm, dinding ini terasa dingin dan seperti dibentuk atau dipotong dengan alat," kata Dean. Keningnya mengerut.


"Dipotong? Berarti sengaja dibuat? Artinya ada orang lain dong di tempat ini," tanya Widuri antusias.


"Tapi, jangan-jangan lorong ini milik makhluk yang menjerit seram tadi malam?" Seketika wajah Widuri memucat dan mulai panik.


Dean mendengarkan dan ikut mempertimbangkan kemungkinan itu.


"Kelihatannya sengaja dibuat. Tapi tidak tau apakah ada orang lain yang tinggal di sini," jawab Dean.


"Dean apa makhluk itu sengaja menjerit untuk menghancurkan pintu gua ini? Apa dia ingin keluar? Atau dia sudah keluar saat kita tertidur tadi?" Widuri ketakutan.

__ADS_1


Dean ingin memeriksa masuk, tapi dia memikirkan kata-kata Widuri sejenak..


"Kalau begitu kita jangan masuk dulu, tunggu sebentar."


Dean berbalik dan melangkah keluar gua. Widuri segera mengikutinya dengan cepat. Dia tak mau ditinggal sendirian dengan makhluk yang suaranya mengerikan itu.


"Hiiyyy," Widuri merinding membayangkannya.


"Bagaimana kondisi mereka?" Tanya Dean pada Dewi dan Nastiti yang sedang merawat kawanan domba di pinggir hutan depan gua.


"Dua ekor ini masih terbaring lemah. Bahkan dikasih rumput juga gak digubris. Yang lain sepertinya gak terlalu terpengaruh, udh pada bisa berdiri dan makan sendiri tuh," tunjuk Dewi pada kawanan domba yang sedang makan dedaunan tak jauh dari situ.


"Diantara kita gak ada yang ngerti tentang medis, apa lagi penyakit hewan. Kalau sampai siang masih gak mau makan, lebih baik dipotong untuk persediaan kita," kata Dean.


Dewi dan Nastiti saling berpandangan lalu mengangguk. Alan dan Sunil datang membawa daging domba yang sudah bersih dikuliti.


"Kami cuma bisa membersihkan sampai begini saja. Kita butuh pisau sangat tajam untuk memotong tulang jika ingin membaginya," jelas Sunil saat melihat tatapan aneh Nastiti.


"Bisakah dagingnya diiris-iris dulu? Mungkin sebagian bisa kita asap agar awet," saran Dean.


"Baiklah," jawab Sunil.


"Serahkan sama kami aja untuk mengirisnya. Kami buatkan sarapan. Tolong siapkan perapian." Nastiti mengambil alih tugas.


"Alan, temani aku ke kebun untuk mengambil sayuran dan lemon. Persediaan kita tertimbun batu di gua." Widuri menarik Alan berjalan menembus hutan menuju kebun buah dan sayuran.


Dean kembali dari arah pancuran air membawa beberapa lembar daun lebar untuk dijadikan wadah dan menyerahkannya pada Dewi yang sedang sibuk mengiris daging domba. Sunil sudah membuat perapian baru di luar.


"Sunil, ikut aku. Urusan disini ku serahkan pada kalian," kata Dean berjalan meninggalkan Dewi dan Nastiti.


"Tidak! Jangan pergi. Kami takut sendiri di sini," kata Dewi dan Nastiti yang langsung menghentikan kegiatan mereka.


Kening Dean mengerut sedikit.


"Bagaimana kalau Sunil ditinggal, dan salah satu dari kalian ikut aku?" tanya Dean.


"Aku ikut denganmu," sahut Nastiti cepat. Dewi terbengong karena kalah gesit.


"Ayo," Dean langsung melangkah pergi diikuti Nastiti.


"Jangan mengeluh mengikutiku. Kita harus mengumpulkan bahan dan membuat shelter." Dean masuk ke dalam hutan.

__ADS_1


Kata-kata Dean langsung membuat bahu Nastiti terasa berat, kepalanya menunduk dan memejamkan matanya sambil mengeleng samar. 'Sial. Kerja berat nih' pikirnya dongkol. Tapi sudah terlambat untuk menyesal.


__ADS_2