PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 331. Operasi Dokter Chandra


__ADS_3

Petugas yang dibawa Robert sudah tak bersuara lagi. Dia sibuk menahan gejolak perutnya yang mual akibat dibawa terbang secara ugal-ugalan.


Dia menunjuk ke arah kota di bawah sana. Robert membawanya turun di tempat sepi. Kota di tepi bukit ini terlihat sangat sepi saat malam hari.


"Kau jangan macam-macam. Atau aku ledakkan kepalamu!"


Robert menunjukkan bola api yang berputar ganas seukuran bola tennis di atas telapak tangannya.


Petugas itu terkejut dan mundur menjauh. Tapi Robert kembali menariknya.


"Kau tunjukkan dimana dokter dan medis. Maka kau akan aman!" janji Robert.


Petugas itu kembali berjalan, membawa Robert menyusuri jalanan kota yang lengang. Mereka melintasi hampir setengah kota itu. Kemudia berhenti di depan sebuah bangunan bersih bercat putih dengan lambang parang merah di pintu.


Tapi tempat itu kelihatannya sudah tutup. Artinya, ini bukanlah Rumah Sakit ataupun Klinik. Mungkin hanya tempat praktek pribadi dokter saja.


Robert berjalan sedikit ke tengah jalan, untuk melihat bagian atas bangunan. Terlihat ada nyala lampu redup dari jendela.


Robert kemudian menggedor pintu rumah itu beberapa kali. Dia dapat mendengar suara seseorang dari atas, mungkin pemiliknya bertanya keperluan. Sayang ya dia tak dapat bicara bahasa mereka. Jadi digedornya saja pintu itu lebih keras.


Kemudian, lampu ruangan dalam dinyalakan. Jendela kaca di depan terlihat terang. Lalu suara kunci pintu diputar.


Robert langsung menerobos masuk begitu pintu dibuka. Petugas tadi ikut diseretnya masuk. Kemudian dengan cepat menutup pintu lagi.


Terlihat seorang pria agak tua yang terkejut di dekat pintu. Tapi dia lalu mengerti setelah melihat petugas berseragam yang tak bernyali di hadapan pria yang satu lagi.


Dia bicara sesuatu yang tak dipahami Robert. Dan itu membuatnya jengkel.


"Dokter? Medis?" tanya Robert.


Pria tua itu mengangguk. Tampaknya dia memahami kata-kata Robert.


"Apa kau mengerti bahasaku?" tanya Robert mulai menaruh harapan.


Pria itu menggeleng bingung. Tapi dia melangkah menuju sebuah rak.


"Medis," katanya sambil mengeluarkan beberapa botol obat.

__ADS_1


"Oh, jadi medis menurutnya adalah obat?" pikir Robert.


Robert mengangguk. Dihampirinya rak obat itu. Tapi dia mulai senewen lagi. Semua tulisan di situ tak dimengertinya. Semua huruf Rusia.


"Dokter?" tanya Robert sambil menunjuk pria itu.


Pria itu mengangguk. Wajah Ammo gembira. Kemudia Robert berusaha keras menggunakan bahasa isyarat untuk menyatakan tujuannya ke tempat itu.


Robert memperagakan adegan tembakan sambil menunjuk petugas itu. Dokter itu terkejut. Dia menolak untuk membantu. Dia tak ingin terlibat hal semacam itu.


Robert sudah tak sabar lagi. Matanya bercahaya oranye. Lalu muncul bola api di dua telapak tangannya. Semula kecil, kama kelamaan membesar.


Petugas dan dokter itu ketakutan dan mundur hingga ke tembok. Petugas itu terus saja mengoceh. Tampaknya dia memaksa dokter itu untuk ikut.


Pria itu lalu mengambil tas dan peralatannya. Kemudian mendekati Robert.


"Medis!" tunjuk Ammo ke arah obat-obatan. Pria itu segera memilih beberapa botol obat dan memasukkannya ke dalam tas.


Mereka keluar beriringan menembus malam hingga pinggiran kota.


Dua pria itu berteriak kencang saat tiba-tiba Robert menarik kerah baju mereka dan membawanya terbang tinggi.


"Dean, aku membawa seorang dokter di sini. Kita harus memeriksa keadaan dokter Chandra secepatnya," panggil Robert.


"Baiklah!" sahut Dean.


Tak lama Dean muncul dari balik tebing. Dengan segera berkumpul dengan ketiga temannya yang lain.


Dokter itu sudah tak dapat berkata-kata lagi, melihat seorang yang lain juga terbang dan muncul dari balik tebing air mancur. Sementara penjaga berseragam itu kembali dimasukkan ke dalam kubah cahaya milik Indra.


Dean segera mengeluarkan lempengan batu dan menghamparkannya di tanah. Dikeluarkannya dokter Chandra yang sudah lemah kehilangan darah, lalu ada Widuri yang terus menekan lubang peluru dengan kain di tangannya. Robert mendorong dokter itu ke arah Dean.


Dokter itu memeriksa dengan gugup. Sunil membantu menerangi tempat itu dengan cahaya terang berwarna biru. Sekarang, luka itu terlihat dengan jelas. Berada di bagian bawah bahu dokter Chandra.


Dokter Chandra telah diberi minum air abadi oleh Niken, untuk mengurangi perdarahan. Agar sel-sel tubuhnya dapat beregenerasi lebih cepat. Namun peluru yang masih bersarang itu terus melukai dan merobek dagingnya di dalam. Jadi peluru itu harus dikeluarkan, agar kesehatannya bisa pulih lagi.


Dokter itu menyuntikkan sesuatu di area bahu dokter Chandra. Kemudia sebuah bungkusan kain dikeluarkannya dari tas. Setelah bungkusan itu dibuka, maka terlihatlah berbagai peralatan operasi di dalamnya. Tak banyak, tapi cukup komplit. Ada dua pisau tajam, penjepit, gunting, jarum, lengkap dengan benang, cairan pembersih, antiseptik serta perban.

__ADS_1


"Apakah dia sering diminta membantu urusan operasi dadakan seperti ini?" batin Dean.


Widuri membantu dokter itu dengan cekatan. Akhirnya peluru yang melukai dokter Chandra ditemukan dan dikeluarkan. Dokter itu membersihkan dan menjahit kembali luka itu dengan rapi. Lalu memasang perban.


Diberikannya beberapa obat pada Widuri. Kemudian membenahi seluruh peralatannya dan menyimpannya lagi ke dalam tas.


"Terima kasih," ucap dokter Chandra dan Widuri.


Dokter itu tersenyum dan beranjak pergi. Dia ingin minta diantar kembali pada petugas. Tapi petugas itu berada di dalam kurungan cahaya yang tak dimengertinya.


Diangkatnya jari untuk menyentuh. Para penjaga di dalam, menggeleng melarangnya. Robert segera menariknya dan membawanya pergi dari sana sebelum dokter itu pingsan terkena sambaran petir kubah merah Indra.


Diturunkannya dokter itu di pinggir kota. Diberikannya beberapa butir mutiara sebagai imbalan perawatannya.


Robert segera kembali ke tempat teman-temannya.


"Kita harus pergi sekarang," ujar Robert.


"Ya, kehadiran kita sudah diketahui orang. Besok pagi mungkin akan lebih kacau dari ini." Sunil setuju pendapat Robert.


"Penguasa, katakanlah. Apakah kau sudah menemukan tempat itu?" tanya Dean.


"Ya. Di balik air terjun," jawab dokter Chandra.


"Kita pergi sekarang." Indra bangkit berdiri.


"Bagaimana dengan orang-orang itu?" tanya Dean.


"Kekuatan cahaya itu hanya sekitar sehari, jika tak diperbarui. Jadi besok mereka juga sudah bisa keluar dengan aman," terang Indra.


"Baik. Penguasa, Anda istirahat dulu di dalam," ujar Dean.


"Baiklah."


Dean menyimpan semua lempengan batu, dan yang lainnya ke dalam penyimpanan. Mereka bersiap untuk pergi. Alan mendekati kubah cahaya itu. Lalu menunjukkan maksudnya dengan cara menunjuk ke arah timur hingga barat.


Orang-orang berseragam itu itu terbengong tak mengerti. Tapi kemudian berteriak dengan panik ketika melihat empat orang aneh itu terbang melayang di atas rerimbunan semak. Tapi tiap kali ada yang menyentuh dinding kubah, maka tubuhnya akan segera disetrum oleh sambaran petir kecil. Maka yang lainnya juga ikut tersetrum, karena mereka duduk berdempetan.

__ADS_1


Dean, Robert, Sunil dan Indra melesat cepat ke arah tebing, dan menghilang dalam gelapnya malam.


*******


__ADS_2