PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 141. Mencari Perahu


__ADS_3

Karena hari makin panas dan lelah berenang, Dean keluar dari air lalu berteduh di bawah pohon kelapa. Dibukanya sebutir buah kelapa dan meminum airnya. Lalu sepotong besar daging domba berbumbu dikeluarkan juga dari ruang penyimpanan. Itu cukup untuk mengganjal perutnya dan perut si kucing besar.


Dean menyalakan api lagi untuk mematangkan daging. Daging itu ditusuk dengan sebatang kayu dan di berdirikan dekat api agar dapat matang perlahan.


"Apa kau haus?" Dean kembali mengelus bulu halus binatang yang tidur dengan nyaman di sebelahnya.


"Tampaknya kau mudah akrab ya. Apa kau dulu punya pemilik?"


Dean terkejut sendiri dengan asumsinya. Pemilik? Kucing ini tidak terlihat seperti kucing liar. Awalnya dia hanya datang dan menatap tajam, mungkin untuk menilai Dean jahat atau tidak. Lalu dia mau menerima makanan dari tangan Dean. Seakan itu hal biasa. Dan sekarang dia tidur melingkar dekat kaki Dean karena nyaman dengan elusan tangannya.


'Apakah ada orang lain yang tinggal dekat sini?' pikir Dean.


Kepalanya celingak-celinguk ke kanan-kiri, mencari petunjuk tentang orang lain. Bukan mustahil ada orang lain juga yang terdampar di pantai ini. Tapi Dean tak menemukan apa-apa di balik batang-batang pohon kelapa yang memenuhi area pantai itu hingga ke bagian yang lebih dalam. Dean terus berpikir untuk memeriksa lebih seksama lagi sisi pulau yang ini.


Potongan besar daging sudah masuk dalam perut keduanya. Dean merasa dia sudah waktunya untuk lanjut memeriksa.


"Hei kucing besar, aku harus pergi. Jadi kau kembalilah pada pemilikmu. Nanti dia khawatir mencarimu."


Dean mengelus kepala binatang itu dengan lembut. Lalu melangkah ke bibir pantai. Dean sudah hendak terbang saat menyadari bahwa binatang itu mengekorinya.


"Kenapa mengikutiku? Nanti pemilikmu mencari-cari. Pulang ke rumahmu sana." Dean menunjuk arah hamparan hutan kelapa.


Tapi binatang itu menempelkan kepalanya ke kaki Dean. Kepala itu digosokkan ke kaki Dean. Dean paham arti gerakan ini. Kucing besar itu menyukainya dan tak ingin pergi.


"Rumahmu di mana? Biar ku antar kau pulang sebelum aku pergi. Aku juga ingin tau siapa pemilikmu." Dean berjongkok dan menatap mata polos si kucing besar.


"Baiklah, ayo tunjukkan aku tempat tinggalmu."


Dean akhirnya berjalan kembali ke arah pepohonan kelapa dan meminta bintang itu menunjukkan jalan.


"Ayo, sini. Tunjukkan arah mana yang harus kita lewati." Kata Dean lagi. Tapi kucing besar itu tak beranjak dari tempatnya di bibir pantai.


"Kau tak ingin kembali ke sana?" Tanya Dean heran.


"Yah, terserahlah. Tapi aku sudah harus pergi. Nanti jika aku lewat pantai ini lagi, kita bisa jumpa lagi."


Dean melayang naik perlahan dibawah tatapan sedih binatang itu. Dia mengaum berkali-kali seperti melarang Dean pergi.


"Hei, aku menyukaimu, tapi aku tak bisa membawamu pergi." Dean melambaikan tangannya dan mulai bergerak menjauh.


Kucing besar itu terus mengikutinya di panasnya pasir pantai siang itu. Sudah sangat jauh dari tempat semula, ketika Dean menemukan pantai landai itu berakhir menjadi tebing. Dean ingin segera melesat pergi saat telinganya mendengar auman sedih si kucing besar yang ternyata masih setia membuntutinya.


"Ahh, aumanmu melemahkan hatiku."


Dean melesat turun untuk mendapati kucing itu. Dipeluknya tubuh besar dan kurus itu. Binatang itu menggesekkan kepalanya di bahu Dean.

__ADS_1


"Jangan memberiku tatapan seperti itu. Kau seperti sedang jatuh cinta padaku." Omel Dean sambil mengacak-acak kepala si kucing besar.


"Baiklah. Kalau kau mau ikut. Tapi jangan menyesal ya."


Dean tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya. Dan kucing besar itu mengerti. Dia memeluk Dean erat, seakan tau bahwa dia akan dibawa terbang.


"Hahahaa.. Kau ingin ikut terbang? Baiklah. Peluk yang erat yaa." Dean memeluk binatang itu lalu naik ke ketinggian. Kucing itu melihat pemandangan luar biasa di bawah sana. Birunya laut dan kehijauan hutan hanya dibatasi garis putih pasir dan pecahan ombak di pantai. Kucing besar itu menjilat wajah Dean. Tampaknya dia senang.


"Ah, jangan menjilatiku. Kau harus mulai sikat gigi jika ingin menjilatiku." Kata Dean sambil tersenyum.


"Ayo kita memeriksa bagian tebing ini sebentar. Setelah itu kita kembali. Oke?"


Kucing Itu kembali menjilat wajahnya sebagai jawaban. Matanya yang polos itu membuat Dean tak dapat berkomentar lagi. Akhirnya dia kembali terbang dan memeriksa area tebing itu hingga langit mulai merunduk ke arah barat.


"Sudah sore. Ayo kita kembali. Atau para wanita akan mengomeli kita. Kau tau? Para wanita itu adalah penguasa sebenarnya dalam tim. Jadi kau jangan nakal apalagi membantah mereka. Kau mengerti?" Kucing besar itu kembali menjilati Dean sebagai respon ucapannya.


"Hahahaa.. ya ya.. Aku tau kau cuma bisa menjilat atau mengaum dengan suaramu yang jauh dari kata seram itu."


Mereka terbang melintasi pulau menuju pantai yang berseberangan. Matahari sudah tak sepanas tadi siang. Sambil terbang, mata Dean tak luput dari memperhatikan area hutan di bawahnya. Tak ada tanda-tanda adanya komunitas manusia lain.


*****


Pagi hari, Robert, ketua pengawal dan ketua desa pergi ke tempat pembuat perahu. Yang lainnya bermain di pantai, termasuk mencari binatang laut yang terbenam di pasir pantai.


Sosok mereka yang jelas berbeda tentu langsung jadi pusat perhatian dan pembicaraan di seantero desa. Namun karena didampingi para pengawal kerajaan, tak ada seorangpun yang berani mengganggu.


Seorang pengawal memanggil mereka untuk kembali. Semuanya kembali dengan gembira walau baju basah serta penuh pasir. Putra ketua desa membantu menyiapkan tungku dan alat masak seperti permintaan para tamu.


Laras, Niken dan Silvia mengeluarkan simpanan bumbu rempah yang selama ini tersimpan aman di kediaman Glenn. Mereka membuat minuman bunga hangat dengan sedikit madu yang tersisa. Lalu memasak bubur oat serta menumis kerang dan cumi-cumi yang mereka dapatkan pagi itu. Aroma masakan benar-benar membangkitkan selera. Semua sudah sudah kelaparan.


"Kalian masak apa?" Tanya Robert yang kembali bersama ketua desa dan ketua pengawal.


"Kami sedang membuat sarapan. Ayo, ini sudah siap untuk dihidangkan," sahut Laras.


Laras dan Silvia mengisi tiap mangkuk dengan bubur oat lalu menyiramnya dengan tumisan seafood kuah merah. Sementara Niken menuangkan teh bunga beraroma wangi ke dalam cangkir-cangkir kecil yang ada. Semua kebagian. Sarapan pagi itu terasa sangat nikmat.


"Sudah lama kita tak memasak sendiri. Untungnya tidak sampai lupa cara memegang sendok."


Celetukan Niken disambut tawa berderai. Rumah ketua desa itu terasa sangat hidup. Bersama istri dan putranya, mereka bisa ikut mencicipi makanan yang tidak biasa mereka makan. Dan itu terasa sangat lezat serta mengenyangkan.


"Jadi bagaimana perahu itu?" Tanya dokter Chandra.


Robert menggeleng. "Dia memang pria yang keras kepala dan sepertinya mempunyai kebencian pada ketua desa. Jadi itu tak berhasil, meskipun ketua pengawal sudah membantunya menjelaskan."


"Jadi pilihan kita adalah membeli perahu nelayan?" Liam nimbrung. Robert mengangguk.

__ADS_1


"Kalau begitu, pada siapa kita harus membeli?" Tanya Indra.


"Ketua desa bilang, nanti dia akan membuat pengumuman bahwa kita ingin membeli perahu untuk digunakan pergi ke tempat cahaya di laut." Jelas Robert.


"Jadi, kita harus menunggu lagi dong." Sambung Leon.


"Ya gak apa-apa nunggu lagi. Belajar bersabar sedikit." Dokter Chandra menimpali.


*


*


Menjelang sore, seorang pria dengan badan terbuka datang ke kediaman ketua desa. Diperhatikannya tamu-tamu ketua desa yang berpostur tinggi besar jauh diatas bangsa mereka. Mereka bicara dengan pengawal yang membawa mereka menemui ketua desa.


Tak lama Ribert dipanggil ketua Dea. Bersama dokter Chandra, mereka menemui ketua desa.


"Ini salah seorang nelayan yang ingin menjual kapalnya. Dia ingin tau berapa harganya." Kata ketua desa.


"Ketua desa pasti lebih tau berapa harga pasaran perahu atau kapal di sini. Lagi pula, kita belum lihat perahunya, jadi belum bisa kasih harga pasti." Robert menjawab bijak.


"Saya tau kapalnya. Dan itu cukup besar serta lumayan bagus. Dia selalu pergi setidaknya dengan 8 orang jika melaut." jawab ketua kota.


Jadi menurut anda berapa harga pasarannya?" Tanya Robert ingin tau.


"Antara 80 sampai 100 koin perak." Jawab ketua Desa cepat.


"Kalau begitu, coba tawarkan harga antara 130 sampai 150 koin perak." Kata Robert.


"Hah!" Ketua desa dan ketua pengawal terkejut.


"Apakah itu terlalu murah?" Robert khawatir. Jika terlalu mahal, mereka juga tak punya cukup uang.


"Bukankah artinya kau menawarkan harga lebih tinggi dari pasaran?" Ketua desa bertanya hati-hati, takut Robert yang salah memberi harga.


"Oh, itu. Kami bermaksud membeli perahu tanpa menyusahkan warga anda. Jika kami membeli seharga pasar untuk perahu lama, bukankah mereka jadi tidak bisa membeli perahu baru?" Jawab Robert.


"Dan berdasarkan pengenalan singkat pagi tadi, penjual perahu itu bukan orang yang mudah. Dia mungkin akan menjual perahu lebih mahal jika tau kami yang membeli perahu nelayan itu."


Sambung Robert lagi: "Lagi pula, mungkin akan butuh beberapa waktu sampai mereka bisa melaut lagi. Jangan sampai karena membantu kami, mereka jadi tak punya uang untuk memberi keluarga makanan."


Ketua desa dan ketua pengawal saling berpandangan. Tak menyangka ada pembeli perahu yang berpikir begitu panjang rumit.


"Baiklah." Ketua desa lalu bicara dengan si nelayan. Tak lama matanya berbinar dan kepalanya mengangguk-angguk.


"Dia setuju anda melihat kapalnya lebih dulu, agar bisa menentukan harga pasti." Kata ketua desa.

__ADS_1


"Ayo kita lihat ke tempatnya." Robert berdiri. Dokter Chandra dan Indra diajaknya untuk ikut menilai kapal yang mau dijual itu.


*****


__ADS_2