PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 305. Pilihan Leon


__ADS_3

Dean dan anggota timnya sibuk bekerja. Sulaiman membawa yang lain menuju kebun sayuran dan membantunya merapikan kembali bedeng sayur yang mulai terlantar. Mereka bekerja sambil mengobrol. Sesekali menanyai Sulaiman tentang putranya atau masa kecilnya di pulau ini.


Sementara Dean, yang luput dari pantauan Sulaiman, justru dapat bekerja lebih leluasa dengan kemampuannya. Dia dengan cepat memotong dan memindahkan hasil panen ke pinggir jalan. Lalu Dokter Chandra mengikat batang-batang padi itu jadi ikatan yang mudah diangkut.


Dengan kemampuan itu, pekerjaan mereka lebih dahulu selesai. Dean berpikir untuk sekalian membantu Sulaiman mengolah tanahnya agar mudah ditanami. tapi rumpun padi yang tersisa masih cukup tinggi.


"Alan, bisakah kau ke sini sebentar?" panggil Dean dengan transmisi suara.


"Oke!" sahut Alan.


Dean membantu dokter Chandra sambil menunggu Alan.


"Perlu bantuan apa?" tanya Alan.


"Bisakah kau membakar semua rumpun padi yang kering itu?" Dean menunjuk ke sawah.


"Bisa."


Alan lalu terbang rendah dan mulai membakar rumpun padi di tanah gersang itu. Dia membakar dari area paling belakang. Dalam 15 menit, semuanya sudah terbakar.


"Bagus sekali," puji Dean.


"Perlu bantuan apa lagi?" tanya Alan menawarkan diri.


"Hemm ... ini tinggal menyiraminya dengan air laut, setelah semua terbakar habis," ujar Dean.


Keduanya kembali membantu dokter Chandra mengikat batang-batang padi. Dalam sepuluh menit, semua pekerjaan itu selesai.


"Kurasa sudah waktunya menyirami sawah kering ini," ujar Alan.


"Ayo," ajak Dean.


Keduanya terbang ke pantai. Pantai di sini sangat indah, dengan pasirnya yang putih. Hanya agak kurang bersih saja, karena tak ada orang yang merawatnya serta membersihkannya dari sampah yang dibawa ombak.


"Tempat yang indah. Jika bukan ingin memastikan keadaan keluargaku di rumah, kurasa, aku ingin tinggal di sini saja. Berkebun seperti Pak Sulaiman, atau membangun tempat wisata snorkeling atau surfing," ujar Alan.


"Kau bisa kembali nanti. Sekarang kita bereskan dulu pekerjaan ini," ajak Dean.


Alan mengangguk. Mereka mulai menarik air laut dan membawanya ke arah sawah kering itu. Sawah yang sedang terbakar itu segera disiram dengan air laut.


"Masih kurang," ujar Alan.


"Ya, harus sampai cukup basah, agar aku bisa membantu membalikkan tanahnya," tambah Dean.


Keduanya terbang lagi ke laut.


Mereka bolak-balik hingga empat kali, barulah tanah itu cukup lembab untuk bisa dicangkuli.


"Apa kau masih butuh bantuan?" tanya Alan.


"Tidak. Aku bisa melakukan ini sendiri," jawab Dean.


"Oke! Aku kembali ke sana." Alan menunjuk ke kebun sayur.


Dean mengangguk. Dilihatnya Alan terbang rendah hingga halaman depan rumah. Lalu berjalan menuju kebun belakang.


Dean melanjutkan kerjanya. Dia mengeluarkan peralatan berkebun miliknya. Dan dengan cekatan mencangkul dan membalikkan tanah lembab di seluruh area.


Lewat tengah hari, para wanita sudah kembali. Tugas membersihkan rumah sudah selesai. Tinggallah tumpukan kain kotor dan usang menunggu dibersihkan di belakang rumah.


Robert dan Sunil juga sudah selesai membetulkan pintu rumah yang rusak. Yang lain ikut berkumpul dan beristirahat. Alan membawa banyak sayur dan bumbu masak pemberian Sulaiman. Itu upah mereka karena membantunya membereskan kebun. Semuanya senang.


Para wanita mulai memasak. Dean juga ikut duduk di tepi jalan, untuk beristirahat. Tumpukan padi berderet rapi di satu sisi jalan.


Sulaiman berjalan menuju ke arah Dean, setelah merasa puas dengan pintu rumahnya. Dalam perkiraannya, memanen padi seluas itu hanya dengan tenaga dua orang, mungkin harus sampai besok sore baru selesai.

__ADS_1


Tapi dia terkejut melihat hamparan pagi itu telah lenyap. Semua hasilnya telah berjejer rapi di tepi jalan. Siap untuk diangkut ke dalam rumah.


"Pekerjaanmu cepat sekali. Kau cocok jadi petani," puji Sulaiman.


"Teman-temannya tertawa mendengar pujian Sulaiman.


"Bukankah A memang bekerja sebagai penjaga kebun?" pikir teman-temannya geli.


Sulaiman langsung membagi hasil panen untuk Dean dan kawan-kawannya sesuai kesepakatan.


"Terima kasih," ujar Dean senang.


"Biar kami bantu membawanya ke rumah," tambahnya lagi.


Sulaiman mengangguk.


"Ya ... taruh saja di ruang depan," katanya.


"Bukankah sebaiknya ini digantung? Dengan cara itu, gabahnya akan lebih awet."


Robert menyela pembicaraan. Dia ingat pengalaman bersama Kang. Dengan cara itu, Kang bisa menyimpan hasil panennya lebih lama.


Saya tidak tau cara itu. Tidak ada alatnya juga," jawab Sulaiman jujur.


"Biar nanti kami lihat, apa yang bisa dilakukan," putus Robert.


"Baiklah. Terima kasih kalau begitu." Sulaiman tersenyum senang.


"Jika musim hujan tiba, baru padi bisa ditanami lagi. Sekarang, tanah ini hanya—"


Kata-kata Sulaiman terhenti. Dia terpaku melihat area sawahnya. Matanya membesar tak percaya. Hingga dia melangkah turun. Tanah itu tidak basah. Tapi cukup lembab untuk bisa dicangkuli.


"Kau ... kau mencangkulinya sekalian?" tanyanya tak percaya.


"Yah, tanahnya lumayan lembab, jadi ku pikir sekalian membantumu membalikkan tanah," sahut Dean.


Sulaiman berjongkok dan mengambil segumpal tanah. Lalu mengangguk heran.


"Memang lembab," katanya lirih.


"Baiklah. Terima kasih bantuannya."


Sulaiman naik kembali ke jalan. Lalu mengambil dua ikatan gabah lagi dan di serahkan pada Dean.


"Ini upahmu," katanya sambil tersenyum hangat.


"Benarkah? Terima kasih banyak." ujar Dean gembira.


"Sebenarnya aku cukup terkejut melihat tanah ini masih lembab. Di kebun saja sudah mulai kering kerontang," ujarnya.


"Apakah tanaman akan rusak jika tanah kering begini?" tanya Indra


"Tentu saja. Jika tengkulak itu datang tepat waktu, maka aku tidak perlu capek menyirami area kebun sayur seluas itu," gerutu Sulaiman.


"Bagaimana jika kami bantu panen?" tawar Robert.


"Masalahnya bukan cuma tenaga panen. Tapi juga tempat penyimpanan. Aku tidak punya tempat penyimpanan khusus," katanya menjelaskan.


Akhirnya Robert mengerti. Dia tak mendesak lagi.


"Makanan sudah siap," teriak Niken.


Semuanya makan dengan lahap dan gembira.


"Dean, boleh aku bicara?" Leon mengangkat tangan.

__ADS_1


"Ya, katakan saja." Dean mempersilakan Leon bicara.


"Ehemmm ...."


"Aku dan Jane memutuskan untuk tinggal di sini saja—"


"Apa?"


Seruan terkejut Indra menghentikan kata-kata Leon.


"Biarkan Leon selesaikan kalimatnya dulu," tegur dokter Chandra.


"Lanjutkan, Leon," ujar Dean.


"Yah, kalian tau, dulu kami hidup di pinggir pantai sebagai nelayan. Dia juga yang menyelamatkan aku ketika terdampar."


Leon menoleh ke arah Jane.


"Dan Jane bilang, dia sudah jatuh cinta dengan tempat ini. Tidak terlalu ramai, dekat laut, dan masih bisa berkebun seperti ini. Dia ingin tinggal di sini," jelas Indra panjang lebar.


"Tuhh kan ... bukan cuma aku yang ingin tinggal di sini," celetuk Alan.


"Kau juga?" Indra benar-benar tak percaya.


Alan mengangguk sambil tersenyum.


"Tapi, aku harus mencari tau tentang keluargaku dulu. Setelah semuanya beres, barulah aku kembali ke sini," jelas Alan sambil tersenyum. Tampaknya dia sudah merencanakannya dengan matang.


Dokter Chandra bertanya pada Leon. "Lalu kalian bagaimana? Mau balik ke Jakarta dulu, atau ...."


"Aku bukan dari Jakarta. Aku sudah tak punya keluarga yang perlu dicari. Jane juga tak punya keluarga. Jadi, kami hentikan perjalanan kami sampai di sini saja."


Leon juga ternyata sudah membuat keputusan bulat.


Mata Niken membulat. Dia tak percaya. Dipegangnya bahu Jane dan mencari kebenaran.


"Apa ini benar keinginanmu? Atau Leon yang memaksamu?"


"Hei!" teriak Leon protes.


Jane tersenyum manis. "Kau yang kemarin menunjukkan keindahan tempat ini. Dan aku menyukainya."


Jawaban Jane telak mengenai jantung Niken. Dia terdiam. Memang benar, dia yang dengan antusias menunjukkan segala hal baru tentang kebun pada Jane. Memang maksudnya agar Jane mencintai tempat ini dan tidak sedih berada jauh dari tempat asalnya.


"Tapi ...."


Niken tak lagi bisa menemukan kata yang tepat untuk diucapkannya.


Kemudian dipeluknya Jane erat.


"Baiklah ... asalkan kau bahagia, maka kami akan turut bahagia," kata Niken akhirnya. Matanya mengembun basah.


Widuri dan Marianne ikut memeluk keduanya. Semua melihat dengan haru. Perjalanan panjang ini sudah hampir berakhir. Mereka pada akhirnya akan kembali pada keluarga masing-masing. Perpisahan memang tak terelakkan.


"Hei, sudahlah. Bukankah tempat ini masih Indonesia? Kita bisa mengunjungi mereka jika rindu. Bukankah pulau ini sangat cantik untuk dijadikan tempat berlibur?" hibur Dean.


"Yaahh ... kau benar. Harusnya kita bahagia jika salah seorang dari kita bahagia. Iya kan?" Robert menambahkan.


"Bagaimana Pak Sulaiman. Apakah anda mengijinkan teman kami dan istrinya ini tinggal di sini?" tanya dokter Chandra.


Sulaiman tersenyum lebar.


"Tentu saja. Sudah lama saya tak punya tetangga. Hahahaha ... nanti kita bisa mengobrol dan memancing bersama," ujarnya gembira.


Yang lain tersenyum lega. Sulaiman tak keberatan, itu sudah cukup. Yang lainnya dipikirkan nanti.

__ADS_1


*******


__ADS_2