
Silvia terbangun dan merasa punggungnya pegal. Posisinya duduk menelungkup memeluk bantal. Di kereta itu hanya ada dia saja.
'Sudah berapa lama aku tidur begini?' pikirnya sambil meregangkan otot yang pegal.
Dia ingin keluar mencari pria itu. tapi matanya melihat kain penutup wajah disampingnya. Silvia memakainya tanpa ragu. Lalu dia menunduk dan membuka tirai penutup pintu kereta.
"Kau sudah bangun?" tanya Mustafa dengan terkejut.
Mustafa ternyata duduk di tempat kusir kereta duduk.
"Ya. Tubuhku pegal-pegal di dalam. Lagipula aku ingin buang air." Ujar Silvia dengan suara rendah.
"Ayo ku temani." Mustafa melompat turun dari kereta. Dipanggilnya seorang pengawal untuk menemani meteka berdua.
Silvia melihat belasan pria duduk dekat kuda masing-masing sambil mengelilingi api unggun.
"Apakah kota masih jauh?" tanya Silvia.
"Ya." jawab Mustafa singkat.
"Tidakkah bermalam di gurun seperti ini berbahaya?" Terdengar jelas suata khawatir Silvia.
"Di sini saja." kata Mustafa.
"Ngapain di sini?" Silvia bertanya heran. Pertanyaannya dan jawaban Mustafa tak cocok.
"Kau tak jadi buang air?" Mustafa bertanya balik.
"Ah, iya. Tapi kenapa kau ikut?" Silvia merasa canggung.
"Tempat ini berbahaya. Kami akan berbalik. Kau lanjutkan saja." Mustafa menyerahkan selembar daun kering yang fungsinya untuk membersihkan setelah buang air.
Silvia benar-benar merasa canggung dengan situasi itu. Tapi dia sudah tak tahan lagi. Jadi dia segera jongkok setelah yakin bahwa pengawal dan Mustafa berdiri membelakanginya dan berjaga dengan serius.
*
*
"Kau belum makan malam. Aku menyisakan sepotong roti dan sekerat daging panggang dingin. Kau bisa makan dengan tenang di dalam kereta." kata Mustafa.
"Aku ingin stretching dulu. Badanku pegal-pegal sekarang. Letakkan saja makanannya di kereta."
Silvia mulai menggerakkan anggota tubuhnya. Berputar kanan kiri, membungkuk dan lain-lain. Dia tak menyadari tatapan aneh semua pengawal itu.
Bahkan Mustafa hanya bisa ternganga melihat keberanian Silvia. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Mustafa menyadari bahwa gadis di depannya berbeda dengan gadis lain yang pernah ditemuinya di berbagai kota.
Setelah tubuhnya kembali rileks, Silvia berbalik.
"Aku mau istirahat di dalam kereta."
"Ya. Makan dan istirahatlah. Ini minuman. Jangan habiskan. Masih besok siang baru kita berjumpa kota lain." Mustafa mengingatkan.
Silvia mengangguk, lalu masuk ke dalam kereta. Mustafa kembali duduk di kursi kusir dan beristirahat di situ.
'Dari mana gadis ini berasal? Dia tidak seperti gadis-gadis bangsa kami yang bermata besar' pikirnya.
*
*
Malam berlalu dengan damai. Mereka sudah berkemas saat cahaya di ufuk masih berwarna lembayung. Ketika cahaya cemerlang matahari muncul, rombongan kereta kuda itu telah siap untuk berangkat.
"Apakah rumahmu ada di kota yang kita tuju?" tanya Silvia membuka pembicaraan.
Suasana di kereta terasa kaku jika dua orang itu saling berdiam diri.
"Tidak. Masih satu kota lagi baru bertemu kota tempat tinggalku." jawab Mustafa ramah.
"Hanya ada kurma dan susu asam untuk sarapan. Makanlah." Mustafa mengangsurkan sepiring kecil kurma dan semangkuk susu asam.
Silvia mencicipi susu kental itu.
__ADS_1
"Ini yogurt." celetuk Silvia. Ekspresinya menunjukkan bahwa dia sangat menyukai menikmati kurma dengan yogurt.
"Aku baru tau rasa kurma bisa seenak ini jika dimakan dengan yogurt."
Silvia diam sejenak sambil mengernyitka dahinya.
"Atau, mungkin yogurt jadi lebih nikmat jika dimakan bersama kurma?" Dia tertawa kecil.
Mustafa tak mengerti apa yang dikatakan Silvia. Tapi melihat gadis itu bahagia, dia sudah senang.
*
*
Tepat siang hari mereka memasuki tembok kota. Rombongan itu terus menuju penginapan yang biasa mereka gunakan saat tiba di kota ini.
"Selamat datang kembali tuan." Sapa pelayan penginapan dengan ramah.
Mustafa mengajak Silvia duduk di salah satu ruang tertutup. Para pengawalnya mengambil ruang kosong lain. Pelayan penginapan menghampiri Mustafa.
"Apakah anda ingin disiapkan kamar seperti biasa Tuan?" Senyum pelayan itu terus terkembang.
"Ya. Dan tambahkan satu kamar juga untuk dia. Sebelum itu, siapkan makanan dulu. Kami sangat lapar. Juga untuk para pengawal itu." Mustafa melakukan pemesanan dengan cepat.
"Baik tuan. Akan segera saya siapkan."
Pelayan itu keluar ruangan dan segera terdengar beberapa tepukan tangan. Keadaan tiba-tiba riuh di luar sana. Para pelayan bergegas menyiapkan makanan, minuman dan kamar untuk tamu istimewa mereka.
Mustafa tak mempedulikan suasana ramai di sekitarnya. Dia membuka jendela kamar itu agar udara segar bisa masuk dan keluar dengan leluasa.
*
*
Setelah menikmati makanan, Mereka menuju kamar yang telah dipesan. Seorang pengawal membawa kotak perlengkapan milik Silvia.
"Kau beristirahatlah sebentar. Petang nanti akan ku ajak kau melihat-lihat kota persinggahan ini." Ujar Mustafa.
*
Tok tok tok.
Silvia membuka mata.
"Siapa?"
"Saya pelayan nona. Tuan Mustafa meminta saya untuk membantu anda bersiap." Terdengar suara halus seorang wanita.
"Masuk."
Silvia tau dia tertidur pulas sebelum membersihkan tubuhnya.
"Bisakah kau menyiapkan air mandi untukku?" Tanya Silvia saat pelayan itu menutup pintu.
"Bisa nona."
Dia melangkah ke panel pembatas ruangan. Mempersiapkan beberapa hal di situ.
Silvia mengambil pakaian gantinya dan disampirkan ke panel pembatas ruang itu.
"Silahkan nona." gadis itu menunduk. Lalu merenggangkan kayu panel agar bisa menutupi area mandi itu sepenuhnya.
Tangan pelayan itu terampil dalam membersihkan kulit dan kepala Silvia. Seperti seorang expert. Silvia merasa ketengan otot yang dirasakannya berkurang.
"Anda kelelahan. Otot akan menegang sebagai efek dari perjalanan jauh. Pijatan kepala, kaki dan seluruh tubuh dapat merangsang rasa bahagia." kata pelayan itu bijak.
*
*
"Anda cantik sekali." puji pelayan itu dengan tulus.
__ADS_1
Silvia hanya menanggapi dengan senyuman.
"Mari temui tuan Mustafa. Dia sudah menunggu terlalu lama." Ajak Silvia.
Mereka menyusuri lorong, lalu melewati beberapa kamar. Hingga tiba di hall dan Mustafa tak bisa melepaskan pandangannya dari Silvia.
Silvia mengenakan gaun hijau tua dengan motif tradidional warna putih di bagian bawah. scraf hijau muda tersampir di bahunya yang putih pualam. Sebuah belt dengan ornamen kuning keemasan menjaga kedudukan scraf pada pinggangnya.
"Tuan, nona anda sudah siap."
Pengawal pria mengingatkan Mustafa agar tidak terpaku lebih lama lagi.
"Apakah kereta sudah siap?" tanya Mustafa gugup.
"Naik kereta tuan? Akan segera saya siapkan." Pelayan penginapan bergerak cepat.
"Tidak perlu," cegah Silvia.
"Bukankah kita hanya akan berjalan-jalan di kota saja?" Tanya Silvia meyakinkan.
"Tapi, kulitmu belum bisa terkena hawa panas," Mustafa khawatir.
"Kita pakai cadar ini lagi saja." Silvia menunjukkan penutup wajahnya yang tadi.
Mustafa melihat cadar biru di tangan Silvia jadi merasa ada yang salah. Keningnya mengerut memikirkan apa yang salah.
"Saya akan ambilkan cadar yang sesuai tuan." pelayan wanita yang tadi melayaninya mandi, segera memahami situasi.
"Ah, ya. Warna kain itu tak cocok dengan pakaianmu." Mustafa menjentikkan jarinya. Dia puas dengan kecerdasan pelayan wanita tersebut.
Tak lama, pelayan wanita membawa 2 buah cadar. Warna hijau tua dengan rumbai manik keemasan dan warna kuning pasir dengan rumbai manik warna merah.
Mustafa mengambil cadar kuning itu dan memasangkannya pada Silvia. Kemudian keduanya berjalan beriringan. Beberapa pengawal mengikuti dari belakang dan depan.
Silvia melihat kota itu dengan antusias. Tempat yang sangat menarik menurutnya.
"Apa kau ingin membeli sesuatu?" tawar Mustafa.
"Ada deretan toko perhiasan cantik di dekat dinding kota. Bagaimana jika kita melihat ke sana?" Katanya lagi.
"Baiklah." Silvia tersenyum. Dia berjalan di sisi Mustafa yang sengaja memperlambat langkah kakinya.
Dan tembok kota itu memang tak terlalu jauh dari posisi mereka. Di sisi kanan berjejer rapi toko-toko. Sementara di sisi kiri jalan diisi dengan gerobak-gerobak kafilah dagang.
Mustafa menunjukkan banyak ragam perhiasan pada Silvia. Tapi Silvia tak terlalu tertarik dengan hiasan rumit yang dijajakan. Dia tak tau apa fungsi benda-benda itu. Karena perhiasan yang Silvia tau hanya berkisar pada cincin, anting, gelang dan kalung saja. Silvia takjub melihat hiasan baju dan rambut yang beraneka ragam.
Silvia mengamati semua toko yang berjejer rapi itu. Di depan pintu tiap toko ada tanda yang digambar di situ. Meski tak mengerti apa arti tanda dan gambar itu, tapi Silvia tau satu hal penting.
'Peradaban mereka sudah sampai pada tahap bahasa penulisan. Luar biasa,' batin Silvia.
'Andai seorang arkeolog mengalami perjalanan ini, dia pasti bisa melompat-lompat kegirangan dan mencatat semua temuan ini.' pikir Silvia sambil tersenyum.
Tiba-tiba raut wajahnya berubah. Lalu terlihat khawatir. Silvia berjalan cepat, nyaris berlari untuk mengejar sesuatu. Dia melihat ke kanan-kiri dengan panik. Yang dilihatnya tadi sudah hilang dari pandangan.
"Apakah aku berhalusinasi? Mungkinkah hanya mirip, seperti Mustafa yang mirip Ethan?" gumamnya sedih.
"Ada apa?" Mustafa telah menyusul di sampingnya.
"Jangan berlarian sendiri di kota. Kau bisa hilang," Mustafa mengingatkan dengan wajah khawatir.
"Aku seperti melihat temanku. Tapi dia hilang di keramaian." Mata Silvia berkaca-kaca.
"Siapa namanya? Biar para pengawal yang mencari." bujuk Mustafa.
"Leon. Namanya Leon." Kata Silvia penuh harap.
Mustafa berbicara dengan seorang pengawalnya. Lalu pria itu pergi.
"Mereka akan memeriksanya. Jadi lebih baik kita kembali saja. Sebentar lagi waktunya makan malam." Ajak Mustafa lembut. Silvia mengangguk.
Cahaya petang yang jingga kemerahan bersaing keindahan dengan langit yang biru gelap. Toko-toko telah menutup pintunya. Beberapa lampu juga telah dinyalakan. Sebentar lagi pasukan bintang akan menguasai langit. Bertanding keindahan dengan sang bulan.
__ADS_1
*****