
Dari keterangan Vivian, dia bermaksud datang untuk meminta bahan makanan. Dan bertanya apakah Kang dan Robert masih ingin mencari celah penghalang di hutan berburu.
Tapi dia terkejut melihat makhluk asing terbang mengitari lembah. Hal itu membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh ke semak-semak.
Kemarin, Kang dan Robert sudah mengantarkan sedikit gandum dan sayuran segar. Juga mengabarkan kalau Vivian terluka dan sedang dirawat.
Tapi Maya dengan dingin berkata,
"Dia adalah jaminan kami. Kalian boleh melakukan apapun padanya."
"Hei! Nyonya, kami tidak melakukan apapun! Dia jatuh di lembah dan sayapnya cedera. Itu sebabnya kami berbaik hati merawatnya." Robert berusaha meluruskan kesalahpahaman.
"Tak masalah. Lakukan saja yang menurut kalian perlu," balas Maya tak acuh.
Ekspresi Kang sudah tidak baik. Wajahnya memerah menahan amarah.
"Kau...! Ibu macam apa kau ini! Kalau bukan karena dia yang datang meminta bahan makanan sampai jatuh begitu, kami tidak akan sudi mengantarkan semua ini!" ujar Robert marah.
Robert meletakkan jari Kang di dahinya, untuk menyampaikan isi pikirannya. Kang mengangguk setuju.
"Nyonya, jika sikapmu tidak berubah baik terhadap Vivian, maka bantuan ini adalah yang terakhir. Kami akan menjaga Vivian seterusnya!" kata Robert tegas.
Maya bergeming. Dia hanya menatap Robert tak peduli.
Sekelompok wanita itu terkejut mendengarnya. Tapi Kang dan Robert tidak memberi mereka kesempatan untuk bicara lagi. Keduanya telah pergi.
"Maya, bagaimana ini?" tanya mereka panik.
"Apanya yang bagaimana? Jika tak mau kelaparan, mulailah mengurus tanaman dan ternak. Kita harus mulai berhemat. Aku akan mencari bahan makanan lain di hutan." Maya pergi meninggalkan teman-temannya.
*
*
Kang merawat Vivian dengan telaten. Sesekali Robert menyapa dari pintu kamar.
Di hari ke tiga, cedera Vivian mulai pulih. Dia bermaksud untuk pulang ke rumahnya. Tapi Kang masih menahannya dengan dalih cederanya.
Selesai sarapan, mereka masih duduk di teras rumah. Robert menjelaskan apa yang terjadi di hari sebelumnya dengan Maya.
Vivian terdiam. Dia sama sekali tidak terlihat sedih. Justru bibirnya mengulas senyuman samar. Dia mungkin menilai Maya dari sudut pandang berbeda.
"Tidak apa. Maya bukanlah orang jahat. Kalian salah," bela Vivian.
Robert menatapnya tak percaya. Dia masih ingin mendebatnya. Tapi getaran lembut dan samar melewati telinganya. Robert memejamkan mata dan berkonsentrasi.
Kang berdiri. Telinganya lebih sensitif. Kepalanya mendongak ke arah belakang rumah. Dia melangkah cepat dan mencari.
Vivian tak mengerti apa yang sedang terjadi, dan ingin bertanya. Tapi Kang sudah menghilang, sementara Robert seperti sedang membutuhkan keheningan.
Tiba-tiba terdengar teriakan mengagetkan!
"Deaaaannnn!"
Robert sangat terkejut. Dia segera berdiri dan berlari mencari asal suara itu ke padang rumput di bagian belakang rumah itu.
'Dean?' pikirnya kebingungan. Dia jelas mendengar kata Dean barusan.
Baru sampai belakang rumah, Robert melihat Kang yang sudah berubah wujud terbang di depan seseorang yang juga sedang mengambang antara permukaan tanah dan langit. Mereka saling menatap dengan waspada.
"Itukah yang dikatakan Kang orang yang bisa terbang tanpa sayap? Itu tak mungkin Dean" gumam Robert.
Robert tak mungkin ke sana. Karena posisi orang asing itu justru lebih dekat dengan Robert. Jadi dia berusaha diam dan tidak menarik perhatian. Namun sayangnya Kang sudah melihatnya muncul.
__ADS_1
Dengan khawatir, Kang segera melewati orang asing itu untuk melindungi Robert. Ditariknya tangan Robert agar naik ke punggungnya.
Tak lama muncul Vivian. Dia takut mendekat, karena ada orang asing dan makhluk besar mengerikan yang waktu itu dilihatnya di atas lembah.
"Robert, kenapa kau di situ? Apa mereka menjahatimu? Dimana Kang?" teriak Vivian dari kejauhan.
Semua yang ada di situ menolehkan pandangan padanya.
Orang asing itu mendekati Vivian.
"Robert? Siapa Robert? Dimana?" tanyanya tak sabar.
Tapi makhluk hijau besar berkaki empat itu menghalanginya mendekati Vivian. Gadis itu juga terpekik karena terkejut.
"Vivian, tenanglah. Aku tidak apa-apa. Kembalilah ke rumah!" perintah Robert.
"Robert, is that you? I'm Dean from Quebec. Do you remember?" tanya Dean yang melihat seseorang berada di punggung makhluk hijau itu.
"Dean, is that really you?" Suara Robert terdengar riang.
"Kang, dia temanku. Teman dari masa depan," Robert berkata dengan gembira.
"Kang???"
Terdengar suara seorang wanita. Ketiga lainnya menoleh pada wanita bersayap putih itu. Tampak jelas ekspresinya yang terkejut.
"Vivian, nanti ku jelaskan," kata Robert dengan rasa bersalah.
Tapi gadis itu sudah mundur.
"Aku... aku harus pulang...," katanya lirih.
Vivian langsung terbang menjauh menuju arah lembah. Robert tak bisa berbuat apa-apa. Kang juga tak beranjak ingin mengejarnya.
Tapi Kang menggeleng. Tak ada gunanya menjelaskan. Jika gadis itu tak menyukai bentuk aslinya, maka biarkan dia pergi.
"Ehemm... apa aku jadi penyebab semua ini?" Suara Dean memecah kebuntuan.
Robert kembali tersadar.
"Kang, kau tak usah khawatir. Dean temanku. Dia orang baik. Kau bisa turunkan aku sekarang," ujar Robert.
Tapi Kang justru terbang hingga halaman depan rumah mereka, lalu menurunkan Robert di sana.
Dean melihat ke arah atas, tempat tadi dia jatuh karena terkejut melihat Kang. Sunil sudah tak ada di sana.
'Dia pasti sudah kembali ke rumah dan membuat berita yang menggemparkan' batin Dean.
Tapi lupakan dulu itu. Dean ingin tau keadaan Robert. Dan makhluk itu? Baru kali ini Dean melihat makhluk mitologi kuno seperti itu. Dean melesat ke arah yang tadi dituju Kang.
Di halaman depan sebuah rumah semi permanen, makhluk hijau besar itu masih menunggunya. Dean melayang turun perlahan dan menjejakkan kaki di tanah.
"Dean, kau hebat sekali. Bagaimana kau bisa terbang seperti itu?" tanya Robert antusias.
Dean hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Robert yang sebelumnya berwibawa, kini tak berbeda dengan Alan.
"Apakah Alan membuat sebuah alat agar kau bisa terbang? Coba tunjukkan padaku."
"Hahahaa...." Dean tertawa tanpa menjawab.
"Ku lihat kau hidup bahagia dan berkecukupan di sini." ujar Dean sambil mengedarkan pandangan.
"Ah, apa yang kau katakan. Ayo ku kenalkan pada penolongku. Ini Kang. Keluarganya yang menjaga tempat ini turun-temurun." kata Robert.
__ADS_1
"Hallo Kang. Aku Dean, teman seperjalanan Robert. Tapi kami terpisah karena aku jatuh di gua." Dean memperkenalkan dirinya.
Kang menggeram dan mengangguk.
"Dia menerima perkenalanmu," ujar Robert menjelaskan.
"Mari duduk. Biar ku buatkan makanan untukmu," ajak Robert.
""Terimakasih, mungkin nanti. Aku senang bisa menemukanmu. Tapi aku tak bisa berlama-lama. Sunil pasti kembali ke rumah dan sudah membuat panik semua orang karena aku jatuh ke sini." ujar Dean.
"Sunil? Kau bersama dengannya?" tanya Robert tak percaya.
"Ya, aku berdua dengannya memeriksa tempat ini. Tapi tadi aku terkejut melihat temanmu Kang. Hingga tergelincir jatuh ke mari," jelas Dean.
"Jadi aku harus kembali sekarang. Nanti kita bisa berjumpa lagi," ujar Dean lagi.
"Apa maksudmu? Aku sudah berhari-hari mencari jalan keluar bersama Kang. Tapi kami tak bisa menemukannya!" bantah Robert.
"Aku sudah membuat beberapa tes dengan domba, kelinci dan ayam. Tapi tadi ayam itu berhasil kembali dengan utuh. Ku kira di situ adalah celah 2 arah." Dean menjelaskan asumsinya.
Jadi domba putih itu kau yang memasukkannya ke mari?" Robert tersenyum lebar.
"Kenapa?" tanya Dean.
"Aku yang memotong talinya dengan ini." Robert menunjukkan pisau besarnya.
"Benarkah?" Mata Dean membesar.
"Bagaimana dengan kelinci?" tanya Dean.
Robert menggeleng.
"Kami tak tau soal kelinci."
"Baiklah, biar ku pastikan dulu. Apakah celah tadi benar-benar celah 2 arah," kata Dean.
Ketiganya kembali ke padang rumput. Robert naik ke punggung Kang yang terbang melayang memperhatikan langit.
Kang menunjuk ke satu titik. Robert bisa mendengar resonansi getaran dan rambatan bunyi di udara. Itu sangat dekat.
"Kang, apakah ada sesuatu di luar situ?" tanya Robert. Kang mengangguk.
"Dean, ku rasa Sunil kembali. Kang bisa melihat menembus penghalang ini," jelas Robert.
"Wahh, hebat sekali." Dean melihat Kang dengan kagum.
Dean mendekat dan bersiap untuk mencoba bagian penghalang transparan yang ditunjuk Kang. Tapi tiba-tiba muncul kepala Sunil.
"Dean! Apa kau baik-baik saja?" teriaknya gembira.
"Ya, aku baik-baik saja. Minggir dulu. Aku mau coba keluar," ujar Dean.
Kepala Sunil menghilang bersama teriakan Robert.
"Suniiiillll!"
Dean menyusul masuk ke celah tersebut. Kepalanya menyembul keluar. Perlahan dia hilang dari pandangan Robert dan Kang.
"Kau lihat Kang? Itu jalan keluarnya! Siapa yang mengira jika celahnya ada di atas? Hahahaa...." Robert sangat gembira.
Kang menatap kosong tempat itu. Berbagai pikiran berkecamuk dalam benaknya. Kenapa ribuan tahun lalu, dia dan ayahnya tak berpikir hingga kesana?
******
__ADS_1