PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 409. Tak Semudah Pemikiran


__ADS_3

Pukul tujuh malam, mobil Astrid sampai di rumah yang tampak kumuh di sebuah kompleks lama. Dia meragukan Dean tinggal di sini. Menurutnya, rumah ini sama sekali jauh dari gaya hidup Dean.


Dyah keluar dari rumah membukakan pintu pagar. "Masuklah," ujarnya.


Seorang tetangga melintas. "Sudah berencana untuk tinggal di sini, Mbak?" tanyanya, melihat halaman rumah yg sudah tertata rapi.


"Iya, pak, sesekali ingin ke sini dan beres-beres sedikit," sahut Dyah.


"Bagus itu. Sayang rumahnya kalau ditelantarkan," ujarnya. "Mari, Mbak," pamitnya kemudian, melihat Dyah sedang menerima tamu.


Mobil Astrid akhirnya masuk ke parkiran di samping taman kecil. Dia keluar dan membuka pintu penumpang belakang, mengambil satu tas berisi permintaan Dean sebelumnya, serta satu tas goodie bag.


Keduanya masuk rumah. "Mereka ada di ruang makan sekarang. Anda juga bisa ikut makan," tawar Dyah.


Di dekat meja makan itu, Astrid kebingungan. Yang mana Dean diantara orang-orang berambut tak terurus ini? "Itukah sebabnya dia bilang seperti tak mengenal alat cukur? Ada apa ini sebenarnya?" pikirnya.


"Maaf, terus terang saja saya sudah lelah. Ini sudah diluar jam kerja saya. Jadi tolong jelaskan, yang mana Tuan Dean Whitman?" tanya Astrid tegas.


Dean jadi tertawa kecil mendengarnya. "Kau tak sabaran sekali!" ujarnya.


Astrid langsung menoleh padanya. Dia mengenali suara itu. "Boss?" Matanya membesar, menyelidiki wajah Dean yang kini ditumbuhi brewok dan kumis tebal.


"Berikan alat cukurku, biar kubereskan ini semak belukar!" candanya sambil mengambil alih tas yang dipegang Astrid.


"Oh ya, ini istriku, Widuri!" ujar Dean, memperkenalkan.


"Widuri? Nama itu...." Astrid tak meneruskan ucapannya.


"Silahkan duduk dulu, sambil menunggu Dean. Ayo...." Dokter Chandra menawarkan kursi dengan ramah.


Astrid duduk, kemudian semua yang ada di situ memperkenalkan diri. Hal itu membuatnya terkejut. "Kalian ... penumpang pesawat itu!" ujarnya yakin.


"Ya! Pesawat itu karam di antah berantah. Banyak yang tewas. Beberapa yang selamat melanjutkan perjalanan. Tapi seiring waktu berlalu, yang bisa kembali hanyalah segelintir orang!" Dokter Chandra bicara dengan nada sedih.


"Tapi, pesawat itu bahkan belum ditemukan! Bagaimana kalian---"


"Nanti akan kami ceritakan!" Niken menenangkan Astrid yang mulai kebingungan lagi.


"Bagaimana penampilanku sekarang?" Dean muncul tiba-tiba. Wajahnya kembali klimis dan ketampanannya muncul.


"Boss!" seru Astrid ternganga. Meski rambut panjang Dean masih ada, tapi wajah itu, jelas adalah wajah atasannya.


"Kukira suamiku yang paling tampan...," celetuk Niken, menggoda Indra. Widuri tertawa mendengarnya


"Maksudmu, aku tidak tampan lagi?" Indra cemberut.


"Membandingkanmu yang seperti ini, dengan Dean yang seperti itu, aku tidak tega. Jadi coba bersihkan juga wajahmu, agar bisa kulihat dengan jelas!" ledek Niken.


"Kau ini!"

__ADS_1


Tapi Indra pergi juga ke kamar mandi, untuk membersihkan wajahnya agar sedap dipandang.


"Bagaimana bisa seperti ini, Pak?" tanya Astrid tak mengerti.


Akhirnya Indra menceritakan apa yang mereka alami. Berkali-kali Astrid menggeleng tak percaya. Tapi ketika Indra menunjukkan api dan petir kecil di tangan dan jarinya, Astrid terperangah.


"Seperti inilah hasil perjalanan kami!" ujar Dokter Chandra.


"Kalau kau masih tidak percaya, Dean mungkin bisa membuatmu terbang dulu, untuk membuktikan keajaiban yang kami dapatkan dalam perjalanan itu," timpal Indra.


"Kau mau terbang?" tanya Dean. Dia menggerakkan tangannya ke atas. Sekarang kursi yang diduduki Astrid sudah melayang setinggi satu meter dari lantai.


"Tidak! Turunkan aku. Aku percaya! Sejak tadi siang Anda mengingatkan tentang Luke, saya yakin yang menelepon saya adalah Anda!" aku Astrid.


"Itu karena aku memberimu perintah dari bandara! Dan tak seorangpun yang mengetahuinya!" Dean mengangguk, kemudian menurunkan kursi itu lagi.


"Sekarang, apa yang harus kita lakukan?" tanya Astrid.


"Tolong hubungi orang tua Widuri."


Dean mengalihkan pandangan pada Widuri. "Siapa yang ingin kau temui pertama kali?" tanya Dean lembut.


"Mama!" jawab Widuri.


"Ini alamat rumahnya. Bujuk dia agar bisa dibawa ke sini. Terserah bagaimana caramu menjelaskannya!" Dean menyerahkan alamat rumah orang tua Widuri, dan rumah pribadinya.


"Baik, akan saya coba!" Astrid menyanggupi.


"Baiknya kita bereskan satu-persatu!" kata Indra.


"Baiklah kalau begitu. Sekarang saya pamit pulang lebih dulu. Ini sudah sangat malam," ujar Astrid.


"Baik. Berhati-hatilah di jalan!" pesan Dean.


"Baik, pak!"


Astrid pergi diantar Dyah yang kembali mengunci pintu pagar.


"Kau tidak pulang ke rumah?" tanya Dokter Chandra pada Dyah.


"Tadi Dyah sudah ijin mama menginap di rumah teman," sahutnya.


"Baiklah. Sekarang kita bisa beristirahat. Besok hari masih panjang!" kata Dokter Chandra.


"Dyah bisa tidur di kamar bawah! Nanti papa tidur dengan kasur lipat, di depan tivi!" tambah Dokter Chandra lagi.


"Apakah tidak apa-apa tidur di depan pintu teleportasi?" tanya Dyah khawatir.


"Selama kau tidak berniat ke sana sendirian, tidak akan ada masalah!" sahut Dokter Chandra.

__ADS_1


"Pesawat yang salah masuk jalur transportasi saja, bisa karam dibuatnya. Bagaimana tubuh manusi biasa bisa melewati jalur teleportasi dengan aman?" tambah Indra.


"Oke, Aku mengerti!" Dyah mengangguk.


Malam semakin larut. Kompleks itu sepi dan lelap dalam buaian mimpi.


*


*


Keesokan harinya, barulah siang hari, Astrid memberi kabar. Dia telah mengunjungi kediaman orang tua Widuri, tapi tak ada seorangpun di situ. Jadi sekarang Astrid sedang meluncur ke rumah pribadi Widuri.


"Pa, bagaimana kalau papa dan yang lainnya mengatakan bahwa kalian semua tidak jadi menaiki pesawat itu?" saran Dimas siang itu.


"Jika kami kembali sehari setelah kejadian, alasan itu mungkin bisa lebih masuk akal. Sekarang tidak bisa lagi."


"Pihak maskapai tidak akan senang. Mereka telah mengeluarkan biaya banyak untuk membawa keluarga-keluarga penumpang yang berada di luar negri, ke sini. Belum lagi nanti ada tuduhan asuransi dan segala macam. Justru berbahaya!" tolak Dokter Chandra.


"Jadi, bagaimana lagi? Cara yang dilakukan sekarang ini juga rumit dan beresiko!" kata remaja itu.


"Kau benar. Itu sebabnya kami hanya menghubungi orang-orang yang sangat bisa dipercaya," sambung Dean.


"Jika tak memungkinkan, maka kami akan menunggu beberapa eaktu lagi dan pura-pura baru kembali!" Indra menambahkan.


"Baiklah ... kurasa, alasan itu jauh lebih masuk akal. Tunggu dua bulanan, maka kalian sudah bisa kembali!" Dimas mengangguk.


"Atau...," ujar Dokter Chandra.


"Atau apa?" tanya Niken.


"Atau kita mengikhlaskan kehidupan kita yang di sini!" tutur Dokter Chandra.


"Apa maksudnya utu?" Dimas terkejut.


"Maksud Papa adalah, kehidupan sosial kita di sini, harus dilepaskan. Biarkan saja mereka mengsnggap kami sudah tewas atau hilang. Asalkan keluarga mengetahui bahwa kami masih ada!" jelas Dokter Chandra.


"Aku masih belum mengerti maksud Papa. Tapi yang aku tahu, Mbak Dyah tidak akan membiarkan Papa pergi dan menghilang lagi! Dia pasti akan membuat keributan dan membeberkan masalah ini, agar semua orang bisa mempercayai kisah kalian semua!" kata Dimas yakin.


"Kalian sudah tahu dan bisa menerima. Lagian pintu teleportasi juga ada di sini. Jadi papa mau pergi ke mana lagi?" Dokter Chandra bertanya balik.


"Kukira ... Papa mau menghilang dari hidup kami!" katanya dengan mimik lucu.


"Bagaimana menurut kalian rencana itu?" tanya Dokter Chandra. Dia tak bisa memutuskan sepihak, karena ada banyak orang lain yang terlibat.


"Jika langkah ini tak berhasil, kita harus diskusikan dengan yang lain dulu, sebelum membuat keputusan!" Dean mengutarakan pemikirannya.


"Jika kita memang dianggap sudah tewas, justru kita bisa menyamar datang dan pergi ke dunia ini. Rasanya itu jauh lebih baik dan tidak perlu repot untuk menjelaskan!" timpal Indra.


Widuri diam membisu. Keinginannya bertemu kedua orang tuanya masih sangat besar. Tapi mereka semua mungkin akan dalam bahaya jika segala sesuatu tidak berjalan lancar. Widuri menjadi bimbang.

__ADS_1


Sejak peristiwa itu, dia sangat ingin pulang dan membuatnya terus bertengkar dengan Dean. Dan sekarang, semua tak semudah pemikirannya.


********


__ADS_2