
Mereka mendiskusikan temuan tadi saat sarapan.
"Jika memang pemilik rumah ini telah pergi melintasi celah dunia, maka rumah ini tak lagi punya pemilik. Aku lebih suka tinggal di sini saja. Kita bisa berkebun untuk bertahan hidup," ujar Mattew.
"Kau tidak ingin keluar dari tempat ini?" tanya Kenny tak percaya.
"Dunia di luar sana juga belum pasti kan? Seperti dulu Laras dan Liam tiba-tiba muncul di tengah arena perang. Bukankah itu hanya akan membahayakan anak-anak?" Mattew menjelaskan pemikirannya.
"Ini..." Kenny tak bisa mendebat lagi. Yang dikatakan Kenny benar adanya.
"Jika kalian ingin tinggal di sini, Maka kami akan bantu sebisanya. Sambil menunggu punggungku pulih, lebih baik kita siapkan kebun baru untuk kalian bertahan hidup." kata Laras.
"Hemmm.. tentang kebun. Ku kira lebih baik kalian buat area kebun baru di luar tembok kota. Sepertinya di sana lebih subur." saran Liam.
"Benarkah? Itu bagus." Sambut Mattew.
"Memangnya kenapa kalau tanam di sini?" tanya Laras.
"Setelah memeriksa sepagian tadi, aku merasa ada yang janggal.dengan kota ini." Ujar Liam.
"Janggal bagaimana?" Laras dan Mattew bertanya serempak.
Kota ini seperti tak pernah diguyur hujan. Lihatlah debu yang menumpuk tinggi di seluruh kota." jelas Liam.
"Justru kalau tak ada hujan, bagusnya buat kebun yang dekat dengan rumah ini. Biar bisa disirami dengan air bekss cuci sayur atau mencuci baju ataupun bekas mandi." Bantah Laras.
"Aku gak tau darimana sumber air rumah ini. Tapi pastinya sangat cukup. Hingga bisa dipakai untuk membuka sedikit kebun. Tapi di seantero kota ini, tak ada satupun pohon yang tumbuh. Bahkan lumut atau rumput merambatpun tak ada." Jelas Liam sabar.
"Jadi, hanya di rumah ini yang masih bisa menanam sesuatu?" gumam Laras.
"Benar-benar aneh,' celetuk salah seorang gadis.
"Tapi mungkin saja, jika semua rumah di sini dibersihkan, kita bisa menemukan sumur-sumur lain." Kata Mattew.
"Hemmm.. mungkin juga. Tapi jelas kotor sekali. Karena sudah tertimbun debu reruntuhan begitu lama." Liam mengangguk setuju dengan kemungkinan itu.
"Ah, sudah.. sudah. Kita diskusikan lahi nanti. Pikirkan pelan-pelan semua kemungkinan," Laras menghentikan diskusi hari itu.
"Kita harus diskusikan ini dengan mereka sebelum kita pergi." bantah Liam.
"Ya aku tau. Jadi kita juga jangan pergi sekarang. Beri mereka waktu untuk memikirkan semua kemungkinan dengan tenang. Bisa kan?" kata Laras.
"Lagi pula, punggungku masih sakit. Hanya akan jadi bebanmu di perjalanan." tambah Laras lagi.
"Jangan bicara begitu. Kau bukan beban untukku. Kau menyakiti hatiku." Liam bangkit dan meninggalkan diskusi itu.
__ADS_1
"Liam!" Laras memanggil Liam yang berjalan keluar rumah.
"Biar ku temani dia memeriksa di luar." Kenny segera menghilang juga di balik pintu.
"Aku tidak bermaksud menyakitinya." gumam Laras lirih.
"Sudah. Mungkin Liam hanya sedang banyak pikiran saja. Beri dia waktu." ujar Mattew.
"Ayo kita lihat halaman belakang. Mungkin bisa kita tanami dengan ubi juga. Itu penting untuk bertahan hidup." Mattew mengajak para gadis remaja dan anak-anak pergi.
Laras memilih duduk di bangku dekat jendela yang menghadap halaman depan. Matanya melihat kebun. Tapi pikirannya kemana-mana.
'Jika Robert yang menghadapi situasi ini, apa kira-kira yang akan dilakukannya?' pikir Laras.
'Tadi kenapa Liam menyarankan berkebun di luar tembok yah? Apa alasannya? Bodoh, kenapa gak ku tanya tadi?' pikirnya jengkel.
"Jika menanam di dalam kota yang kering begini, maka harus disiram berkali-kali dengan air. Itu memang merepotkan." Laras bicara sendiri.
"Liam benar, Sumber air rumah ini belum diketahui. Itu harus diselidiki."
Laras bangkit dari duduknya dan berjalan terbungkuk-bungkuk. Di halaman belakang, Mattew mengatur warga desa yang tersisa untuk mengolah tanah. Mereka membuat bedengan panjang mulai dari tembok rumah dekat kolam ikan, melewati barisan kandang kosong hingga ke dekat tangga menuju atas.
"Mattew, tidakkah perlu membuat sedikit jalur jalan di tengah-tengah nedengan panjang itu? Biar lebih muda melintas ke sebelah sana." Saran Laras.
"Ku rasa kau benar. Oke."
Mattew lalu memotong bedengan sayur di tengah-tengah. Membuat sedikit area untuk berjalan. Jadi jika ingin merawat tanaman belakang, tidak perlu berputar terlalu jauh.
"Nona Laras mau kemana?"
Seorang gadis remaja menghampiri Laras yang berjalan terbungkuk-bungkuk.
"Panggil Laras saja, atau kak Laras. Oke? Aku mau ke kamar mandi." jawab Laras.
"Mari ku bantu."
Gadis remaja itu membimbing tangan Laras menuju kamar mandi. Postur Laras saat berjalan, tak lepas dari pengawasan Mattew. Dia terlihat khawatir.
Lalu dia berjalan menuju gudang. Memeriksa tempat dimana Laras jauh kemarin. Benda keras apa yang dibenturnya.
Dengan sedikit membersihkan gudang, akhirnya Mattew menemukan sebuah kotak kayu hitam dan tua di bawah tumpukan jerami. Mattew mengambil kotak kayu itu. Memperhatikannya sejenak. Itu tampak sangat tua, tapi kayunya sekeras besi. Memiliki ukiran dengan simbol-simbol yang tak dimengertinya. Karena tak tertarik, Mattew lalu menyusunnya di rak yang menempel dinding.
'Itu mungkin milik penghuni rumah ini. Jatuh dari rak dan terselip diantara jerami yang berserakan.'
Mattew melanjutkan membersihkan gudang. Ada 3 ikat besar wool yang belum diolah. Beberapa lembar kulit binatang yang mungkin ikut jatuh bersama Laras. Dan jerami yang berserakan setelah ditimpa Laras.
__ADS_1
"Tunggu! Dari mana asal jerami ini? Disini tidak ada sawah atau ladang gandum." Mattew terheran-heran.
"Ada apa?" tanya Laras yang sudah kembali ke rumah.
Mattew menunjukkan jerami di tangannya.
"Dari mana asal jerami ini?"
"Hah??" Laras tersentak. Mattew benar. Tak ada sawah atau ladang gandum di sini. Jadi dari mana asal jerami ini?
"Coba lihat kendi-kendi di rak itu. Adakah bibit gandum atau padi di situ?" kata Laras.
Mattew segera memeriksa semua kendi dan botol gerabah yang tersusun di rak yang menempel tembok.
"Apakah ini?" Mattew membawa satu kendi ukuran sedang. Dia telah mengeluarkan sedikit isinya di telapak tangan dan menunjukkan pada Laras.
"Ini benih padi. Hebat sekali. Mungkin pemilik rumah ini menanam bergantian di kebunnya." wajah Laras terlihat gembira.
"Kita bisa menanamnya di lahan yang baru kalian bersihkan." Kata Laras lagi.
"Kau bisa mengajariku cara menanamnya?" tanya Mattew.
"Aku bukan ahlinya. Tapi ku rasa bisa. Atau nanti kita tanya Liam dan Kenny saat mereka kembali." jawab Laras.
"Oh ya, tapi sebelum mulai menanam ini, kalian harus membuat lahan itu cukup basah lebih dulu. Padi menyukai lahan basah." saran Laras.
"Baik. Air bekas mandi dan membersihkan sayur akan disiramkan ke sana. Apa itu cukup?" tanya Mattew.
"Pada dasarnya padi menyukai lahan yang benar-benar basah. Setidaknya kau buat tanah itu becek. Sangat becek untuk awal penanaman. Harus rajin disiram." Imbuh Laras.
Biarkan Mattew saja yang memikirkan caranya. Laras tak ingin pusing. Punggungnya sangat sakit. Dia ingin berbaring di kamar.
"Aku istirahat dulu." kata Laras. Dia berjalan terbungkuk-bungkuk ke kamar.
"Perlu bantuan?" tanya Mattew iba. Dia bisa merasakan bahwa itu pasti sakit sekali.
Laras tak menjawab. Dia hanya menggoyangkan tangannya tanda tidak perlu dibantu.
"Ahh, sakit banget. Apakah cedera punggungku parah? Kena tulang punggungkah?" gumam Laras sambil mendesis kesakitan.
"Untung kasur ini sangat empuk." Laras tidur menyamping karena punggungnya tak bisa tersentuh apapun, atau dia akan merasakan nyeri yang hebat.
"Andai ada dokter Chandra di sini. Kenapa kami jadi terpisah-pisah?" wajahnya menyiratkan kesedihan yang dalam saat mengingat semua teman seperjalanannya.
*****
__ADS_1