
"Di sini saja."
Leon menunjuk ke semak di balik pohon.
Jane menurut. Dimanapun tak masalah. Karena dia sudah tak dapat menahannya lagi.
"Kalau ada apa-apa, berteriak saja. Aku menunggumu di situ," ujar Leon.
"Heemmm."
Jane segera jongkok, begitu Leon jalan menjauh. Makanan yang tadi diantar pelayan tuan Ammar, telah membuat perutnya penuh.
Leon melihat-lihat sekitar. Begitu banyak gerobak yang diparkir untuk beristirahat di lapangan itu.
"Banyak juga yang ingin mengadu peruntungan di kota itu," gumamnya.
"Eh, itu... kok mirip dengan gerobak yang membawa Silvia?"
Leon terkejut, melihat satu gerobak yang letaknya cukup jauh dari tempatnya berdiri. Dari kejauhan, gerobak itu terlihat sama. Sama-sama diberi penutup. Leon ingin memeriksa, tapi kemudian dia ingat Jane yang sedang menyepi di semak-semak. Langkahnya terhenti.
Dengan rasa tak sabar, dia menunggu Jane selesai. Diamatinya terus gerobak itu. Menunggu pertanda, bahwa kecurigaannya benar. Leon menunggu gerobak itu bergoyang. Tapi gerobak itu diam saja di tempatnya.
"Apa Silvia tidur? Pingsan???"
Pikiran buruk menghantui kepala Leon. Dia sudah tak sabar untuk memeriksa.
*
*
A few moments later.
"Aku sudah selesai."
Suara Jane terdengar mengiringi langkahnya. Tapi dia langsung tersentak kaget, karena Leon menarik tangannya cepat. Dengan sedikit terhuyung, Jane mengikuti langkah lebar Leon.
"Gerobak kita arah sana...."
Ucapan Jane diabaikan Leon sepenuhnya. Kecepatan langkahnya tak dikurangi sedikitpun. Dia sudah tak sabar untuk melihat Silvia.
Tapi, di jarak 10 meter dari gerobak, dia berhenti dan menarik Jane untuk berlindung di balik pohon.
2 orang penjaga barusan melewati tempat itu dan mengawasi keadaan sekitar.
"Bagaimana bisa ada penjaga? Kemarin, tak ada seorangpun yang menjaganya," gumam Leon.
"Apa yang kau bicarakan? Penjaga apa?" Jane bertanya dengan suara rendah.
Leon kembali ingat tentang Jane yang ditariknya pergi.
"Jane, kemarin aku melihat seseorang dikurung dalam gerobak. Seorang wanita...."
Leon akhirnya menceritakan kejadian pada malam sebelumnya. Mata Jane membesar mendengarnya. Itu sebabnya Leon terus bertingkah aneh dan mengumpat bodoh sepanjang jalan.
Jane akhirnya ikut mengawasi gerobak bertutup itu. Dia menggeleng.
"Kau tak mungkin bisa memeriksanya. Penjaganya terus saja berputar-putar di situ."
"Ini aneh. Kemarin malam, tak ada seorang penjagapun. Bahkan meskipun Silvia sangat berisik dan menggoyang-goyangkan gerobak itu."
Leon terus memikirkan ketidak samaan tersebut.
"Mungkin itu gerobak yang berbeda," tukas Jane.
__ADS_1
Tapi Leon menggeleng, membantah perkataan Jane.
"Mungkin dia tertidur atau pingsan? Atau mereka memukulinya sepanjang jalan karena terlalu berisik? Atau dia sudah mati?!"
Jane: ??? 😮
Leon merasa ngeri sendiri dengan bayangan di kepalanya. Dengan kesal, ditutupnya mata dengan kedua tangan untuk mengusir bayangan buruk itu.
"Untuk apa mereka membawanya dengan susah payah, jika hanya ingin membunuhnya?" celetuk Jane.
Leon melihat Jane dengan tatapan aneh. Kepalanya sedikit dimiringkan. Matanya menyipit.
'Sejak kapan wanita ini begini pintar? Atau aku saja yang tidak mengamatinya dengan benar?' batin Leon.
Keduanya kembali mengamati gerobak itu dari balik batang pohon.
"Kau harus yakinkan dirimu dulu. Ingat-ingat dulu bentuk gerobak yang kemarin. Karena semua gerobak kafilah pasti berpenutup, untuk menghindari butiran pasir yang diterbangkan angin."
"Kau benar."
Leon mengakui pemikiran Jane. Lalu dia mencoba membayangkan lagi. Jika gerobak dengan kerangkeng ditutup kain, maka bentuknya harus kotak, dan cukup besar.
Leon kembali memperhatikan gerobak di sana. Bentuknya juga sama kotak, dan ukurannya cukup untuk seseorang duduk di dalamnya. Hanya saja, gerobak ini tidak bergoyang-goyang seperti kemarin.
"Jane, aku harus memeriksa ke sana. Aku tau ini beresiko. Jadi, sebaiknya kau kembali ke tempat kita...."
"Tidak! Jangan lakukan itu!" Mata Jane membulat khawatir.
"Aku harus memastikan di sana ada Silvia atau tidak. Dan karena penjagaannya ketat, sebaiknya kau kembali ke gerobak kita. Jika terjadi sesuatu padaku, kau tak perlu terlibat. Lanjutkan perjalanan dan bisnis di kota itu. Tuan Ammar, pemimpin kafilah akan kembali 10 hari setelahnya. Kau bisa kembali ke rumah, bersama rombongannya."
Penjelasan Leon ini menandakan keputusannya sudah bulat. Jane menatap dengan matanya yang sedih.
"Aku harus menolong temanku, Jane. Jika ada yang menanyaimu tentang ini, katakan saja tidak tau. Dan ini sisa uang yang ku pegang. Untuk bekalmu di sana."
Leon menyerahkan kantung uangnya yang kempis ke tangan Jane. Jane masih menggeleng. Tapi Leon mendorong tubuhnya menjauh.
Tak dipungkiri, hatinya sakit melihat Jane berjalan pergi sambil menunduk. Dia menyadari, jika wanita itu mungkin sedang menangis.
Leon berbalik dan kembali mengamati gerobak. Mengawasi keadaan, dan mencari kesempatan untuk mendekat.
"Penjaga melewati barisan gerobak tiap 20 menit. Harusnya cukup untuk memeriksa tanpa ketahuan. Lalu masuk kolong gerobak dulu, sebelum kembali ke sini."
Leon mereka-reka rencananya untuk mendekat dan melarikan diri.
Seorang penjaga kembali lewat. Leon berjalan mengendap sambil jongkok. Perlahan-lahan mendekati tempat itu. Bayangan gelap pohon dan rumpun semak, berhasil menutupinya.
Tinggal 2 meter lagi. Dan antara dia dengan gerobak itu, sudah tak ada penghalang apapun. Dia bisa dengan mudah ketahuan, bahkan jika ada yang mengawasi dari jauh.
Leon melihat kaki penjaga yang tadi berkeliling, berada di ujung barisan gerobak ini. Tak lama lagi dia akan kembali ke sini.
Leon bergerak cepat mendekati gerobak bertutup itu.
"Silvia!" panggilnya dengan suara lirih.
Tak ada respon apapun dari dalam situ. Dengan tak sabar, Leon mencoba menyingkap kain penutup gerobak. Ini sedikit menyulitkan.
Leon merasa ada yang tak beres, tapi dia tak tau apa itu. Dicobanya terus untuk melihat ke balik penutup gerobak. Leon bahkan berusaha melepas tali ikatan penutup itu.
"Pencuri!"
Seseorang berteriak dari jauh.
Tubuh Leon langsung kaku mendengar teriakan itu. Dia langsung melepaskan tangannya dari kain penutup yang masih terikat kuat.
__ADS_1
Para penjaga dengan cepat berkumpul dan mengarahkan pedang ke arahnya.
"Tangkap!"
Perintah itu membuat 2 orang penjaga mendekat. 3 orang lainnya tetap mengacungkan pedang ke arah Leon.
"Silvia...! Ini aku Leon. Jika kau ada di dalam, beri aku tanda!" teriak Leon saat diringkus para penjaga itu.
Salah seorang penjaga itu mengernyitkan dahinya. Tapi dia tetap menyuruh anggotanya untuk membawa Leon pergi.
Leon segera ditarik, dibawa pergi menghadap pemilik gerobak yang tadi diintipnya. Ketua pengawal itu bicara pada seseorang di depan sebuah tenda.
Orang itu memanggil dari luar tenda, dan mengatakan peristiwa yang baru saja terjadi.
"Bereskan saja dia. Tak ada ampun bagi pencuri!"
Kata-kata itu dilontarkan cukup keras untuk bisa didengar Leon.
"Baik tuan."
Penjaga di depan tenda langsung melambaikan tangan, menyuruh para pengawal itu pergi. Mereka sudah mendengar sendiri perintah tuannya.
"Tak ada ampun untuk pencuri hah?!" teriak Leon keras.
Penjaga menarik paksa Leon dari sana.
"Kau bahkan menculik Silvia! Kau lebih keji dari pencuri!" teriak Leon marah.
Para penjaga itu mengangkat tubuh Leon bersama-sama, agar mudah dibawa pergi.
"Tunggu!"
Suara itu bersaing dengan keriuhan usaha Leon yang mencoba melepaskan diri dan berteriak-teriak. Penjaga di depan tenda mendekati mereka.
"Tuan bilang tunggu!" teriaknya marah.
Para penjaga itu langsung melepaskan pegangannya dari tubuh Leon.
Brukk!
Leon jatuh terhempas di tanah. Dia segera mencoba bangun dan kembali berteriak.
"Kau keji! Kau menculik temanku Silvia lalu menuduhku pencuri? Aku hanya ingin membebaskannya darimu. Brengsek!"
Leon meluapkan semua kemarahannya.
Orang-orang mulai ramai mendekat. Mencari tau apa yang terjadi. Dan bergosip.
"Siapa namamu?" Suara dari dalam terdengar.
"Namaku Leon! Jangan lupakan itu. Karena setelah kalian membunuhku, aku akan menghantuimu sepanjang hidupmu!" teriak Leon emosi.
"Bawa dia masuk!"
Para pengawal itu bingung. Tapi penjaga yang di pintu langsung menyeret Leon yang bingung, ke arah tenda.
"Bubarkan para penonton itu," kata penjaga itu pedas.
"Ya!" jawab salah satu penjaga.
Pintu tenda dibuka. Leon di dorong masuk. Seorang pria tampan sudah duduk menunggunya di sana dengan tatapan tajam.
Leon ternganga. Suaranya hilang. Lidahnya kelu seketika.
__ADS_1
'Bagaimana bisa dia?' pikirnya bingung.
******