
Melihat 2 teman Dean keluar lagi, pengawal Jason memilih menutup pintu kabinnya dan tidak ikut campur. Pintu kabin kapten juga ikut ditutup.
Meski kalah jumlah, penghuni kabin tengah itu tak kenal takut.
"Kalian mau main keroyokan?" tanyanya sinis.
"Keroyokan? Hahahaa...."
Sunil dan teman-temannya tertawa mendengarnya.
"Cuma untuk menghadapi cacing macam kalian, harus keroyokan? Hahahaa... lucu sekali!" kata Sunil menghina.
Para pria bau itu terlihat sangat marah disebut sebagai cacing. Ini penghinaan luar biasa. Tak ada orang yang tak takut mendengar nama organisasi mereka. Siapa yang tak takut mendengar The Black Skull Sword di wilayah ini? Hanya dengan menunjukkan gagang pedang berukir tengkorak hitam saja, orang-orang sudah menyingkir ketakutan!
"Cuma butuh aku saja, untuk melawan kalian bertiga!" Sunil melangkah ke dek yang lebih leluasa.
Kelompok pria bau itu saling pandang dengan temannya. Sementara yang seorang lagi tak henti merintih di lantai. Ketika yg satu mengangguk, keduanya lantas datang bersama untuk menghadapi Sunil.
"Kalian sangat sombong!" teriaknya lantang.
"Jika dia mati, maka tak ada dendam antara kita. Jangan menyalahkan kami. Karena dialah yang menantang lebih dulu!" teriakannya keras, agar dapat didengar oleh semua orang.
Sunil masih tersenyum sinis. Tapi mulai bersiap untuk bertarung. Dean melihat gelagat Sunil yang terlihat ingin bermain-main dulu.
"Sepertinya akan ada pertunjukan bagus nih!" ujar Dean keras.
Hal itu membuat Indra dan Michael ikut keluar juga. Mereka berjejer rapi sepanjang kabin, melihat ke tengah-tengah dek, dengan pandangan bertanya.
"Dan jika kalian kalah, maka tak ada dendam juga antara kita!" Balas Sunil percaya diri.
"Ayo mulai! Jangan banyak omong kosong!" kata Sunil tajam.
"Keluarkan pedangmu, agar kami tidak disangka menindas orang lemah!" kata salah satu pria bau itu.
"Oh, harus pakai senjata ya? Sebentar...," kata Sunil sambil garuk kepala. Dia berdiri santai lagi menoleh pada Dean.
"Dean, aku tau kau ahli menggunakan senjata. Tolong pinjamkan aku salah satunya," ujar Sunil.
Dean mengangguk, lalu berjalan mendekat. Dikeluarkannya seluruh koleksi senjatanya itu. Beragam model senjata melayang di udara.
Dua orang bau itu sangat terkejut.
'Apa-apaan ini? Dia ahli menggunakan senjata sebanyak ini?' keduanya mulai khawatir.
Kapten yang mengintip dari lubang di pintu juga terkejut.
'Keluarga Ketua kota Pelabuhan memang sangat misterius. Bagaimana segala senjata itu bisa muncul tiba-tiba? Dan dia ahli menggunakan semuanya?' pikirnya tak percaya.
Dan 3 orang pengawal Jason membeliakkan mata dari sela pintu kabin yang dibuka sedikit.
__ADS_1
"Ahh... itu!" gumam ketiganya. Berbagai spekulasi tentang kelompok Dean, muncul di benak mereka.
'Ternyata mereka bukan orang biasa yang bisa diprofokasi. Sungguh si Jason itu sangat bodoh sudah menyinggung mereka' pikir Brian.
"Ahh, pisau pendekmu ini sudah sering dipakai masak oleh Dewi, ku rasa sudah kurang tajam. Yang ini biasa digunakan untuk membersihkan rumput di kebun...." Sunil mengomentari tiap senjata yang dimiliki Dean.
...Senjata-senjata sebagus itu dipakai untuk masak? Untuk membersihkan rumput?...
Yang mendengar kata-kata Sunil jadi merasa tertekan dan melirik senjata di pinggang masing-masing. Apa mereka juga akan berubah fungsi jika dipegang oleh kelompok Dean? Sungguh tak terbayangkan pedang dipakai untuk mengiris bawang dan cabai.
"Cepat! Jangan buang-buang waktu kami yang berharga!" teriak salah seorang bau itu dengan kesal.
Dia merasa terhina melihat dan mendengar kata-kata Sunil saat memilih senjata.
"Oh, baiklah... tampaknya kalian sudah tak sabar untuk mati."
Sunil menggenggam toya dari kayu besi hitam yang biasa digunakan untuk latihan bagi anak-anak muda bangsanya. Ini hanya senjata untuk tanding bela diri. Hanya untuk mencari keringat. Bukan untuk membunuh orang.
"Kau yakin mau menggunakan itu?" tanya Dean.
"Yahh... aku ingin berolah raga sebentar, mencari keringat," balas Sunil. Dean lalu menyimpan semua senjatanya yang lain, dan berjalan kembali ke tempat teman-temannya dengan santai.
"Alan, kau rugi, karena tak bisa ikut bersenang-senang di sini." Sunil tersenyum ke arah Alan yang membalas dengan wajah sebal.
"Hahahaa.. jangan harap kau bisa menggantikanku saat ini...." Sunil terlihat sangat bersemangat sekarang.
Dua orang bau itu saling pandang. Lalu mengeluarkan pedang mereka yang sangat tajam. Keduanya bersiap dan mengambil posisi lebih ke kanan dan kiri Sunil.
Sunil mulai bersikap serius. Dipegangnya toya dengan dua tangan dan diarahkan ke depan. Bersiap menerima serangan.
"Hiaattt!"
Salah satu pria melompat maju dengan mengacungkan pedangnya ke atas, lalu menebas ke arah kepala Sunil.
Takkk!
Sunil menangkis mata pedang dengan toyanya yang bergetar kuat. Orang itu merasakan tangannya seperti disetrum dan membuatnya mati rasa. Pedang yang digenggamnya masih bergetar di tangannya yang gemetar.
Sunil tersenyum. Dibiarkannya orang itu beristirahat sejenak. Lalu dialihkannya pandangan pada yang seorang lagi dan bersiap.
Tak menunggu lama, oleh karena emosi melihat temannya belum bisa menguasai diri. Dia menyerang dengan ganas.
"Hiatt... hiatt!"
Lompatan orang itu sedikit lebih tinggi. Dia mengarahkan pedangnya ke arah pundak Sunil. Sunil menangkis mata pedang itu dengan toya. Tapi ternyata itu hanya tipuan. Karena pangkal pedang bebentuk tengkorak itu justru telak menghajar dagunya.
Sunil refleks membalas dengan pukulan tangan kirinya. Memukul ke arah pinggang orang itu.
"Krakkk!"
__ADS_1
Bunyi tulang berderak terdengar jelas. Orang itu langsung jatuh tertelungkup di lantai, dengan muka pucat.
"Sial! Beraninya kau memukul wajah tampanku!" bentak Sunil emosi.
"Heheheee...." Alan terkekeh di dekat kabin. Temannya yang lain tersenyum mendengar kata-kata Sunil.
"Beraninya dia melanggar aturan memukul wajah. Lemparkan saja dia ke laut!" teriak Alan memprovokasi.
"Ya! Lemparkan saja ke laut! Tidak tau aturan!" teriak salah seorang pengawal Jason tanpa sadar.
Semua orang mengarahkan pandangan ke pintu kabin itu, yang kini sudah terbuka lebar. 5 orang itu menonton pertarungan dengan antusias.
"Hei... apa kau dengar? Itu permintaan penonton. Apa yang harus ku lakukan? Apa harus ku tolak suara terbanyak?" tanya Sunil pada pria yang sedang berusaha untuk duduk itu.
Tulang pinggulnya mungkin patah akibat pukulan Sunil tadi. Dan rasanya panas, seperti ada bibit api di dalam sana yang menggerogoti daging dan tulangnya. Dia mengatupkan mulut untuk menahan agar rintihannya tak terdengar. Wajahnya memerah menahan amarah pada Sunil.
Temannya mendekat.
"Apa kau baik-baik saja?" tanyanya. Orang itu sudah bisa menguasai rasa kebas dan kesemutan di tangannya.
"Jangan sampai terkena pukulan tangannya. Itu kuat seperti palu besi!" bisik orang yang masih terbaring.
Pria itu mengangguk.
"Kau menyingkirlah dulu," ujarnya sambil menyeret temannya sedikit menjauh.
"Kenapa kau seret dia menjauh? Bukannya ini pertarungan hidup dan mati?!" teriak Jason dari arah kabin.
Dia masih menyimpan dendam atas pemukulan yang dia dan pengawalnya dapatkan beberapa hari sebelumnya.
"Biarkan saja. Orang itu sudah pasti mati!" ujar Alan santai. Dia tersenyum senang.
"O, kau terlalu cepat memukulnya. Musuhmu berkurang dengan cepat. Jadi kurang seru. Aku saja belum berkeringat!" ejek Alan dari arah kabin.
"Bagaimana mungkin kau bisa berkeringat hanya dengan menonton di sini. Ada-ada saja." celetuk Michael.
"Maaf, jika pertunjukan kurang seru. Itu pukulan otomatis karena wajahku dipukulnya."
Sunil masih saja menyahuti Alan.
"Hei! Fokuslah dengan pertarungan kita! Jangan harap bisa mengalahkanku dengan mudah. Aku takkan memberimu ampun!" teriaknya kesal, karena diremehkan.
Belum pernah dia diremehkan begini sejak bergabung dalam organisasi The Black Skull Sword. Dia merasa sangat terhina.
"Baiklah... sesuai permintaanmu saja."
Sunil bersiap-siap lagi. Kali ini dia lebih waspada. Jangan sampai terkecoh siasat lawan. Bagaimanapun, lawannya adalah orang yang biasa bertarung menggunakan senjata.
******
__ADS_1