PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 186. Adu Argumentasi


__ADS_3

Gadis itu menemukan Kang yang terluka tangan dan kakinya.


"Temanmu di sini!" teriaknya dari balik semak berbunga.


"Kang!"


Robert mempercepat geraknya untuk menjumpai Kang.


"Kau terluka. Apakah kau masih bisa membawa kita kembali ke pondok?" tanya Robert.


Kang menyentuh dahi Robert. Dia khawatir jika para gadis itu mengetahui tentang kompleks makam.


"Baiklah. Kami bisa kembali ke pondok kami. Terima kasih sudah menemukan temanku." Robert berkata sopan agar gadis itu pergi.


Walaupun Robert merasa membutuhkan bantuan saat ini, tapi dia harus menghormati tugas dan kewajiban Kang untuk menjaga kompleks makam. Jadi tak ada pilihan selain mengusir gadis itu pergi.


"Di mana kalian tinggal? Tak ada satu pondokpun terlihat di lembah ini." Gadis itu melihat ke sekeliling.


"Oh, kami tinggal di hutan sana." Robert menunjuk ke atas tebing.


"Heh. Dengan kondisi ini kau yakin bisa membawa temanmu naik ke sana?" Tatapan gadis itu penuh penghinaan.


"Bukan urusanmu bagaimana kami naik." sergah Robert sebal.


Tapi kemudian 4 orang teman gadis itu muncul. Wajah mereka tak bersahabat.


"Kau kira kami akan melepaskan orang yang telah mengetahui keberadaan kami?" ucapnya dingin.


Robert terperangah. Empat buah tombak diarahkan pada dirinya dan Kang. Bahkan gadis yang pertama itu juga terkejut melihat situasi saat itu.


Robert melihat ke arah Kang. Temannya itu tetap sangat tenang. Robert kemudian menyadari bahwa sebenarnya mudah bagi Kang untuk mengatasi para gadis itu. Dia hanya tak ingin menyakiti mereka.


"Jangan berkata begitu. Bisa menimbulkan salah faham. Apa salahnya bertemu orang lain di dunia kita yang sempit ini? Kita bisa berteman dan jadi tetangga yang baik." Robert mencoba mendinginkan situasi.


"Bukankah di dunia kecil ini hanya ada kita saja? Apa yang kalian berdua takutkan?" tambah Robert.


Para gadis itu meragu sesaat. Mereka saling pandang dan mungkin sedang berdiskusi melalui telepati antar mereka.


Robert memanfaatkan kesempatan itu untuk membalut luka di kaki dan tangan Kang. Robert menyobek kain bagian bawah bajunya. Lalu dia membebat kakinya yang terkilir. Rasa nyerinya sampai ke ubun-ubun.


"Ssshhh," desisan Robert mengganggu diskusi kelima gadis itu.


Seorang diantara mereka yang tampaknya dianggap dianggap pemimpin kelompok, memberi perintah. Keempat lainnya akhirnya melakukan keinginannya. Bahkan gadis pertama itu akhirnya menuruti dengan enggan.


Dua orang memegang Kang dan membawanya terbang.


"Kang!" teriak Robert panik.


"Kau berisik sekali." Desis gadis yang pertama dilihatnya itu.


Robert juga diangkat 2 gadis dan terbang menyusul Kang.


"Mau kalian bawa kemana kami?" protes Robert. Dia terus bergerak-gerak ingin melepaskan diri dan membuat dua gadis itu kesulitan. Mereka melepaskan Robert begitu saja dan membuatnya meluncur jatuh ke arah sungai.


"Aaahhhhhhhh," teriakan nyaring Robert memenuhi lembah dan menggema di tebing.


Byuuurrrr.


Robert jatuh di air yang cukup dalam. Dia berusaha untuk berenang ke tepian.


'Hah. Gadis-gadis ini sangat sadis' batin Robert.


Dua gadis itu memandang sinis pada Robert. Lalu menjemput dan membawanya terbang menyusul ketiga teman mereka. Kali ini Robert tak bersuara lagi.

__ADS_1


Dugaan Robert tentang tempat tinggal para gadis itu benar adanya. Mereka tinggal di puncak tebing yang satunya lagi. Kang dan Robert dibawa terbang jauh memasuki hutan.


'Ternyata luas juga area tebing ini' pikir Robert.


'Aku harus mencari cara agar bisa memeriksa area perbatasan mereka' Robert memikirkan beberapa hal dalam benaknya.


Kang dan 3 gadis lain sudah menunggu di depan sebuah bangunan indah.


'Mirip kastil orang-orang Eropa' pikir Robert setelah mengamati bangunan itu.


Brukk!


"Akhh."


Robert mengaduh saat tubuhnya dilempar ke jalanan berbatu. Kakinya yang terkilir jadi semakin sakit.


"Kalian para gadis tapi sikapnya kasar sekali. Tak punya hati." umpat Robert dengan marah.


Robert merangkak mendekati Kang.


"Mereka tak perlu dikasihani Kang. Aku khawatir aku akan mati di sini," bisik Robert sambil menahan sakit.


Kang meletakkan jarinya di dahi Robert. Robert merasakan hawa hangat di keningnya. Cepat-cepat ditariknya kepala ke belakang.


"Jangan membagi tenaga dalammu untukku. Jika kau lemah, maka kita berakhir di sini." Bisik Robert.


"Apa yang kalian rencanakan heh?"


Ucap gadis yang seperti pemimpin itu.


"Apa maumu sebenarnya? Bukankah kami tidak mengganggumu?" Tanya Robert berani.


"Kalian menganggu kesenangan kami. Kalian pasti mengintip kami mandi." Tuduhnya telak.


"Kami hanya jatuh dari tebing. Bukan ditolong, malah mau kalian hukum dengan tuduhan sepihak? Hahahaa.." Robert tertawa mengejek.


Kelima gadis itu tertegun. Mereka menyadari bahwa selama terperangkap di dunia itu, mereka memang hidup damai.


"Apa kalian mengetahui keberadaan kami?" tanya gadis pertama yang dilihat Robert.


"Tentu saja. Kami juga tau kalian pasti tinggal di tebing ini. Karena area tebing sana sudah kami jelajahi semua."


"Tapi kami jarang keluar dari sini. Bagaimana kalian tau tentang kami?" tanyanya tak percaya.


"Huh.. mudah sekali. Tiap kali pelangi muncul, kalian pasti mandi di sungai di lembah itu." Jawab Robert tangkas.


"Berarti benar kalian memang mengintip tadi. Tak bisa dimaafkan!" teriak pemimpin para gadis dengan wajah merah.


Keempat temannya segera mengacungkan tombak dengan ekspresi mengancam.


"Hei, tunggu dulu. Jangan cepat membuat kesimpulan sendiri. Kau juga harus dengar pembelaan orang lain!" Suara Robert meninggi. Dia sudah tak sabar sekarang.


"Kau tau, ladang bunga di lembah itu? Itu milik kami. Kemarin kami baru memanen sebagian, lalu turun hujan. Tadi kami ingin memanennya lagi. Tapi saat menuruni tebing, kami jatuh. Tanah licin akibat hujan." Robert sangat pandai merangkai kata-kata argumen.


"Cih! Itu kan hanya perkataanmu!" Pemimpin para gadis itu mencemooh.


"Kau bisa kembali ke sana dan memeriksa. Betul tidak kalau sebagian tanaman itu sudah kami panen." Kata Robert.


"Ah, tadi saat mencari orang itu, aku ingat bahwa dia jatuh di bagian ladang yang sudah dipotong."


Wanita pertama itu memberi kesaksian. Tapi dia justru mendapat tatapan tajam dari pemimpin mereka. Lalu gadis itu menunduk dalam, menyadari kesalahannya.


Tapi Robert tak menyia-nyiakan pernyataan itu.

__ADS_1


"Nah. Kau dengar sendiri kan. Untuk apa aku berbohong."


"Atau, sebentar.."


Robert mendekati Kang.


"Kang, bisakah kau keluarkan sebagian hasil panen kita kemarin? Itu mungkin bisa jadi bukti ketidak bersalahan kita." Pinta Robert.


Kang mengibaskan tangannya. Lalu di depan semua orang kini menumpuk bunga-bunga putih yang kemarin mereka panen. Para gadis itu tidak bisa lagi berkutik. Bunga-bunga itu memang masih terlihat baru dipetik.


"Untuk apa tanaman ini? Apa untuk menghias rumah kalian? Bunganya cantik sekali." salah seorang gadis meraih setangkai bunga-bunga putih kecil itu.


"Hah. Itu untuk kami makan. Kau pikir untuk apa punya ladang jika hanya mengharapkan bunga?" Ejek Robert pedas.


"Benarkah? Ini benar bisa dimakan? Bagaimana caranya?" tanya gadis lain antusias.


"Kang, simpan lagi semua ini," perintah Robert.


Kang langsung mengibaskan tangan, dan semua tumpukan bunga tadi lenyap dari pandangan.


"Hei. Beri kami sedikit!" cetus salah seorang diantara mereka.


Robert dan Kang terkejut dengan reaksi itu. Keduanya saling memandang.


"Ehemm.. kami bisa saja memberi kalian persediaan ini. Tapi kami harus bebas dari tuduhan. Kalian harus mengobati luka kami dulu. Setelah itu kami akan pergi." Tawar Robert.


"Cuma orang bodoh yang mendengarkanmu. Kalau kami menahan kalian, maka kami bisa bebas mengambil semua tanaman di lembah." Pemimpin para gadis itu menyeringai licik.


"Yeah.. terserah saja. Jika kalian melewati batasan yang kami miliki, kami juga bisa membalas. Kami hanya bersikap baik pada yang baik. Lagi pula, kalian tak tau cara mengolahnya. Tinggal mati saja jika caranya keliru. Hahahaa.."


Robert tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya. Kang ikut tersenyum lebar melihat kecerdikan Robert.


Para gadis itu terkejut. Seorang gadis yang tadi memegang setangkai bunga dan telah mencoba memakan bunga itu, segera menyemburkan semua isi mulutnya.


Pphuuihhh!


Teman-temannya terkejut melihat bunga-bunga putih yang baru dikunyah berserakan di jalan berbatu. Gadis lain segera pergi dan kembali dengan semangkuk air.


"Bersihkan mulutmu. Berkumur-kumur. Ayo.." mereka sangat panik. Wajah gadis itu penuh keringat saking takutnya keracunan.


Tapi Robert dan Kang hanya memandang dengan sebelah mata. Robert bisa melihat bagaimana gadis itu menjadi sesak nafas. Dan keringatnya sebesar biji jagung hingga membasahi seluruh tubuhnya.


"Katakan! Apa obatnya!" teriak pemimpin itu marah.


"Obatnya ada di rumah kami. Kalian harus bebaskan kami dan lupakan kesalah pahaman ini. Kita berdamai, baru kami akan memberimu obat." Jawab Robert tegas.


Ggrrhhh!!!


Wajah pemimpin itu memerah menahan murka. Tapi dia tak bisa terus menahan kedua pria, demi keselamatan temannya.


"Bagaimana aku bisa mempercayai kalian tentang obat itu?" tanyanya dengan suara tertahan.


"Kami kan tidak bisa jalan. Jika dipaksapun, mungkin 3 atau 4 hari baru bisa kembali mengantarkan obat. Jadi bagaimana jika 2 orang dari kalian membawa kami terbang pulang ke rumah. Setelah itu mereka bisa kembali dengan obat. Bukah itu lebih cepat?" Tawar Robert.


"Hemm.." Pemimpin kelompok itu berpikir sejenak, lalu mengangguk.


"Pergilah. Kalian bebas kali ini. Tapi tidak ada lain kali. Kau, kau antar mereka dan bawa obatnya!" Perintah pemimpin itu.


"Tidak. Aku akan memilih sendiri yang membawa kami. Aku tak mau nanti dilempar ke bawah seperti tadi. Kalian orang-orang sadis," Robert menggeleng.


"Terserah. pilih saja." Katanya putus asa.


"Kau, kau! Ayo cepat bawa kami pulang. Atau nyawa temanmu tak bisa tertolong lagi!" Teriak Robert dengan suara keras.

__ADS_1


Dua gadis itu melesat cepat membawa dua pria menuju tebing. Robert dan Kang tersenyum penuh kemenangan.


*****


__ADS_2