PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 53. Diculik


__ADS_3

Sejak siang hingga sore, Dean sibuk membuat tungku untuk mencairkan biji besi. Sunil dan Alan memanen gandum sekaligus menyerahkan jeraminya pada Dean. Jerami itu digunakan Dean sebagai campuran lempung untuk membangun tungku agar lebih kuat. Dean juga melilitkan tali dari tanaman rambat yang ditemukannya ke sekeliling dinding tungku untuk menjaga tunggu tak mudah pecah karena suhu panas.


Setelah ukuran tungku itu dianggap Dean cukup, mereka memasukkan cukup banyak daun kering dan kayu kayu ke dalamnya untuk dibakar. Lalu meninggalkan tempat itu dan kembali ke gua sebelum hari mulai gelap.


Mereka tiba di gua saat warna jingga di langit telah hilang.


"Aku mandi dulu," kata Dean menyambar kristal cahaya dan ranselnya yang berisi pakaian lalu menghilang di mulut gua.


Alan dan Sunil juga menyusulnya setelah menyerahkan ikatan tangkai gandum yang dipanen siang itu.


Para wanita duduk dekat perapian. Mereka terlambat membakar roti karena keasikan bermain. Hingga lupa bahwa bulir gandum itu harus ditumbuk dulu untuk mengupas bijinya sebelum ditumbuk lagi menjadi tepung. Beruntung petang ini para pria juga terlambat kembali.


Saat makan malam..


"Kalian tau? Tadi pagi waktu kami ke kebun sayur, Widuri bisa memeluk dan mengelus 2 ekor domba hloo." Dewi tak sabar menyampaikan berita besar itu.


"Oh ya? Berarti sudah jinak dong?" tanya Alan lagi.


"Kedua domba itu cuma mau didekati Widuri. Tapi tidak suka padaku dan Dewi," jelas Nastiti.


"Widuri, kamu mungkin bisa menjinakkan yang lain juga." Alan memberi semangat.


"Untuk apa?" tanya Widuri, memancing reaksi Dean, tapi Dean diam seribu bahasa.


"Biar kita bisa minum susu, biar kuaattt," sahut Nastiti jenaka.


Yang lain tertawa mendengar nada suara Nastiti yang lucu. Tapi tidak dengan Widuri dan Dean yang terlihat sangat menikmati makanannya.


"Aku gak suka minum susu." Widuri menjawab enteng.


"Susu bisa dibikin jadi mentega, yogurt, keju. Mentega bisa menggantikan minyak goreng untuk menumis sayur, bisa untuk melembutkan roti juga." Sunil yang akhirnya buka suara.


Widuri mangkel karena Dean terlihat cuek, padahal dia sudah ingin mencairkan suasana agar bisa berbaikan. Tampang Widuri yang seperti kain kusut itu tampak oleh Nastiti. Seketika muncul keisengan Nastiti, tapi sebelum dia buka suara, Dewi sudah menyikutnya dengan cukup keras.


"Aduuuhhhh, apa salahku?" Nastiti memelototi Dewi. Perutnya ngilu kena sikutan tadi.


Tapi Dewi hanya menggeleng sambil terus makan. Tak ada jawaban sama sekali. Alan, Sunil dan Widuri menatap keduanya dengan pandangan bertanya. Tapi Dewi tetap bersikap santai seolah tak terjadi apapun. Hal itu membuat Nastiti akhirnya berpikir, lalu duduk lagi dengan tenang dan lanjut makan.


"Aku istirahat duluan. Nanti kalian bangunkan saat giliranku jaga." Dean berdiri dari duduk, mencuci tangannya lalu menjauh mencari batu besar yang banyak terdapat dalam gua itu.


Widuri menghembuskan nafasnya kasar. Dia ingin sekali berteriak malam ini. 'Laki-laki itu tidak tau diri sekali' geram Widuri dalam hati. Wajahnya memerah menahan marah. Makanan yang ditelannya terasa seperti duri di tenggorokannya.


Alan, Sunil, Dewi dan Nastiti saling berpandangan. Mereka mengerti dan mengangguk dalam diam. Malam ini perang dingin ternyata masih berlanjut. Rencana gencatan senjata Widuri tampaknya terbaca oleh Dean dan ditolak mentah-mentah.

__ADS_1


Semua menyelesaikan makan malam dengan cepat, sebelum bom perang meletus dan merusak suasana.


***


"Aduh!" Robert terjungkal karena kakinya terbelit satu sama lain.


Robert menghentikan langkah, mencari tempat untuk duduk dan beristirahat. Dadanya terasa bergemuruh sejak tadi. Hal itu membuatnya gelisah dan pikirannya tidak fokus.


"Ada apa? Kau tersandung?" tanya Gilang khawatir.


"Aku hanya tersandung. Tapi perasaanku sudah tidak nyaman sejak sebelum kita berangkat. Hanya saja aku tak tau kenapa," jawab Robert jujur.


"Apa kau khawatir meninggalkan anggota tim? Disana kan ada banyak pria yang menjaga." Gilang tak mengerti.


"Entahlah. Mungkin juga bukan karena itu," akhirnya Robert menghela nafas panjang berkali-kali untuk meredakan degub jantungnya yang berdentam keras.


"Kita istirahat sebentar, lalu kembali ke shelter. Mudah-mudahan bisa mencapai tempat kita menginap tadi malam sebelum hari gelap."


Robert akhirnya membuat keputusan. Hatinya tak kan bisa tenang jika tidak memastikan keadaan anggota tim lebih dulu.


"Kalau begitu, kita kembali sekarang saja. Jika tidak, maka kita bisa tersesat di kegelapan hutan," kata Gilang yang lalu kembali berdiri dari duduknya.


"Baiklah. Ayo."


***


"Apa kau yakin?" dokter Chandra memastikan lagi rencana Indra.


"Ya," jawab Indra pendek.


"Disana bahaya In. Kita tidak tau ada berapa orang yang dibawa kapal layar itu." Laras mencegah Indra.


"Aku cuma mau memeriksa keadaan Michae, Marianne dan Toni. Cuma itu kok," Indra meyakinkan teman-temannya.


"Jangan sampai ketahuan mereka. Nanti dilukai sama orang-orang kasar itu." Silvia mengingatkan.


"Oke. Aku berangkat sekarang. Kalian jangan kemana-mana, nanti susah mencarinya."


Setelah melihat situasi, segera kembali In." Dokter Chandra mengingatkan lagi.


Indra mengangguk lalu melangkah pergi dengan mengendap-endap. Teman-teman satu tim memperhatikan tubuh Indra yang lama-kelamaan menghilang di balik semak.


"Jadi bagaimana kita malam ini?" tanya Niken sambil melihat mereka satu persatu.

__ADS_1


"Kita terpaksa tidur di tempat terbuka ini jika tidak ada kabar baik dari Indra." Leon yang akhirnya menjawab.


"Baik, sebentar ku cari beberapa kayu bakar untuk perapian." Liam mengambil inisiatif.


"Kita butuh air. Taukah kalian sumber air terdekat?" tanya Laras.


"Leon dan dokter Chandra menggeleng lesu.


"Lahh, kita lupa hloo bawa panci dan teko air." Niken membongkar ranselnya dan memang tidak membawanya.


Mereka jadi lesu. Gara-gara terburu melarikan diri, barang penting malah terlupakan.


Dokter Chandra berdiri mengajak Leon pergi.


"Ayo kita petik beberapa buah mangga saja untuk menghilangkan haus."


"Kalian jangan kemana-mana." Dokter Chandra memperingatkan para wanita dan dibalas dengan anggukan patuh.


**


Indra sudah melihat atap shelter. Diperhatikannya tempat itu dengan seksama. Hening. Sunyi. Langit sore yang sewarna tembaga mulai muncul di horizon. Dengan hati-hati Indra merangkak makin dekat ke shelter. Dia bisa lihat perapian yang kini tak lagi menyalakan api.


Baru saja Indra ingin maju lagi saat telinganya mendengar suara orang berbicara yang tidak dimengertinya. Dengan cepat Indra kembali tiarap.


Tapi tak lama berselang, suhu di sekitar terasa panas. Indra mengangkat kepalanya dari tanah untuk melihat. Dia terkejut saat melihat lidah api membakar kedua shelter yang mereka bangun dengan susah payah.Orang-orang asing itu tertawa sebelum menghilang di balik tebing.


Indra duduk terhenyak melihat tempat berteduh mereka yang biasanya tenang dan damai perlahan hilang dalam selimut api. Rasa panasnya bahkan dirasakan Indra hingga ke hatinya. Ya. Indra sangat marah pada dirinya sendiri, karena tak memiliki kekuatan untuk melawan musuh.


Setelah suara-suara dibalik tebing tak terdengar lagi, Indra mengendap-endap melalui tepi sungai untuk melihat apa yang terjadi di pantai. Indra tiba dekat rumpun bakung di tepi tebing. Perlahan menguak daun-daun bakung dan menyembulkan kepalanya untuk mengamati situasi pantai.


Yang pertama dilihatnya adalah bubu ikan di kolam air terjun sudah terjungkal di atas pasir. 'Mereka pasti mencari persediaan makanan dan air ke sini' pikir Indra.


Lalu matanya menoleh ke arah suara sayup dekat bibir pantai sebelah kanan. Beberapa orang memuat sesuatu ke dalam 3 perahu kecil yang ada di pantai. 4 orang lainnya menyeret 2 orang yang tak berdaya ke arah perahu. Mereka lalu mengayuh menuju kapal layar besar yang menunggu di lautan.


"Yang rambutnya pirang keperakan itu Marianne. Yang seorang lagi tampak seperti Michael," guman Indra pelan.


"Lalu dimana Toni? Di pantai juga tidak terlihat. Apa dia sudah dibawa lebih dulu?" Indra bergegas mengecek area shelter yang porak poranda. Ditendangnya gerabah yang memang sudah dihancurkan oleh orang-orang asing itu hingga terpental ke arah perapian.


"Eh, itu ada yang ditinggalkan." Indra berjalan ke arah tubuh yang tergeletak diam itu. Tampak pakaiannya dinodai warna darah yang mulai mengering. Sejarak 3 kaki, Indra mengenali orang yang berlumuran darah itu.


"Ini Toni. Berarti yang dibawa tadi itu benar Marianne dan Michael," gumamnya. Indra berjongkok untuk memeriksa nadi dekat leher Toni dengan jarinya. Tak ada gerakan. Tubuh Toni bahkan sudah terasa dingin, jadi menurut Indra, Toni sudah tewas.


Indra memperhatikan lagi sekitarnya sebelum pergi. Dia harus mengabari teman-temannya lebih dulu tentang keadaan shelter, baru berdiskusi untuk mengambil langkah selanjutnya.

__ADS_1


***


__ADS_2