PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 358. Putri Jenderal Panah Pembunuh.


__ADS_3

"Apakah karena itu, makanya Penguasa ingin mencoba busur itu? Dia mungkin meragukan busur dan panah ini asli. Tak mungkin adiknya masih ada di dunia ini!" pikir Dean.


Dokter Chandra terlihat berbeda ketika busur itu diangkatnya. Siapapun bisa merasakan kharisma yang keluar saat melihatnya. Seakan-akan itu pria berbeda. Hanya Dean dan Robert yang tahu, bahwa yang menarik anak panah itu adalah Penguasa Cahaya.


Sshhuuuuuutt!


Anak panah itu melesat secepat kilat menuju papan bidik. Begitu cepatnya, hingga tak tertangkap oleh mata para penonton. Yang mereka dengar hanyalah suara anak panah membelah anak panah sebelumnya, dan menancap tepat di tengah-tengah bulatan.


Tempat itu hening sekejap, karena terpukau dan rasa tak percaya. Namun kembali riuh dengan berbagai pujian tan suara tawa.


"Hebat! Hebat sekali. Pak tua bisa mengalahkan pemilik busur!"


"Jika kau ingin menjual, jual saja padanya. Dia ahlinya. Dia pasti akan merawat barang warisanmu!" bujuk yang lain.


Dokter Chandra terkejut.


"Ini benda warisanmu? Kenapa kau jual?" tanya dokter Chandra ingin tau.


"Ibuku sakit keras. Kami hanya punya benda ini di rumah. Benda berharga satu-satunya yang dimiliki ibu." Pria muda itu menunduk.


"Aku seorang dokter. Mari kita ke rumahmu dan memeriksa penyakit ibumu," putus dokter Chandra.


Dean ingin protes dan mengingatkan tujuan mereka. Tapi Robert sudah mencegahnya.


"Kita ikuti dulu. Penguasa pasti ingin tau tentang adiknya!"


"Benarkah? Baik, mari ke rumahku. Beruntung sekali aku keluar hari ini. Akhirnya bisa bertemu seorang dokter." wajah pria muda itu penuh rasa terima kasih.


"Wah, beruntung sekali, kau."


"Dokter tua ini kelihatannya baik." "Semoga ibumu segera sembuh!"


Berbagai komentar diucapkan para penonton yang mulai bubar, karena pertunjukan sudah selesai.


Pria muda itu membenahi lapak jualannya yang hanya membentangkan selembar kain usang. Kain itu kembali membungkus busur dan anak panah dengan rapi. Lalu disandangnya di punggung. Diambilnya papan bidik dan merapikannya dengan tali. Papan itupun dijinjingnya di tangan.


"Mari!" ajaknya pada dokter Chandra. Dokter Chandra, Robert dan Dean mengikutinya dari belakang.


"Rumahmu jauh juga," komentar Robert. "Apa kau tak khawatir meninggalkan ibumu yang sakit, sendirian?"


"Tak ada pilihan. Kami miskin. Dan kuharap tadi benda ini bisa cepat terjual. Jadi aku bisa membeli obat!" jawabnya.


Mereka berjalan melewati pasir yang muncul di permukaan laut. Pria itu ternyata tinggal di pulau lain.


"Sudah dekat," ujarnya dengan senyum penuh rasa bersalah.


Mereka masih harus mendaki sedikit ke arah perbukitan. Tempat ini tak cocok ditanami. Tanahnya sangat sedikit dan mengandung batu serta basir. Hanya ada sedikit pohon sebangai penanda pulau yang berpenghuni, serta pohon-pohon kelapa di beberapa tempat.


Pria muda itu membuka sebuah pintu pagar tua dan reot. Dokter Chandra menggelengkan kepalanya prihatin.

__ADS_1


"Ibu, aku kembali!" teriak si pria dari halaman.


Kemudian dia membuka pintu rumah. Rumah dengan setengah batu dan bagian atasnya dari kayu yang tak kalah tua dengan pagarnya. Dindingnya hitam pudar. Entah memang aealnya dicat hitam, ataukah hitam termakan usia.


"Mari masuk," ajaknya sopan. Papan bidik disandarkannya di dinding. Tapi bungkusan busur panah itu, dibawanya ke dalam kamar satu-satunya.


"Apa ibumu di dalam?" tebak dokter Chandra.


"Ya. Biar kubereskan sebentar," ujarnya.


Dokter Chandra mengangguk. Dia dan Dean serta Robert, berdiri dan menunggu di tengah rumah. Tak butuh waktu lama, pria itu keluar lagi.


"Anda bisa menetiksanya," ujarnya penuh harap.


Dean, Robert apakah kalian masih punya air abadi?" tanya dokter Chandra.


"Ini, Dok!" Robert menyodorkan kendi tenpat airnya. Dokter Chandra menerima botol itu dan masuk ke ruangan.


Matanya meneliti wanita tua yang terbaring lenah di tempat tidur lusuh dan reyot. "Dia tak mirip adikku," batinnya.


Dokter Chandra duduk di kursi satu-satunya yang ada di rumah ini. Mungkin digunakan pria itu untuk memudahkannya merawat ibunya. Dokter Chandra mengeluarkan stetoskop dan memeriksa dadanya. Diantara pemeriksaannya, Dokter Chandra juga membiarkan penguasa memeriksa sendiri wanita itu.


"Dia bukan keturunan Bangsa Cahaya," Penguasa memastikannya. "Dia hanya menderita penyakit tua. Anak muda itu harus bersiap dan merelakannya." tambah penguasa.


Dokter Chandra meneruskan pemeriksaannya hingga selesai.


"Kau, bantu aku meminumkan obatnya!" panggil dokter Chandra.


Dokter Chandra menyerahkan sebutir pil ke tangan pria itu. Deangan ragu dia memasukkannya ke mulut ibunya. Lalu dokter Chandra mengangsurkan kendi air untuk diminumkan pada wanita itu. Pria itu menurut, dan memberi minum ibunya dengan air kendi. Lalu tubuh ringkih itu dibaringkan kembali ke tempat tidur.


Dokter Chandra keluar dan menunggu. Pria itu keluar dan bergabung dengan Robert serta Dean.


"Penyakit ibumu tak ada yang bisa menyembuhkan...."


"Apa?" Pria itu tampak tak senang mendengarnya. "Bukankah Kau seorang Dokter?" Suaranya meninggi.


"Tapi Dokter tidak dapat menyembuhkan penyakit tua. Berapa usia ibumu?" tanya dokter Chandra.


"Sembilan puluh lima tahun. Mungkin lebih." Pria itu menunduk lesu.


"Apa kau bukan putra kandungnya?" tebak dokter Chandra.


"Bagaimana anda bisa tahu?" tanyanya heran.


"Kalian tidak mirip!" tandas dokter Chandra.


Kata penonton tadi, pedang itu warisan siapa?" desak dokter Chandra.


"Warisan nenek," jawabnya lesu.

__ADS_1


"Kau pernah bertemu nenekmu itu?" selidik dokter Chandra lagi.


"Tidak pernah. Ibu bilang, nenek menghilang saat dia mencapai usia empat puluh tahun. Ibu sudah mencari ke mana-mana, tapi tak menemukannya. Warga desa juga ikut mencari hingga seminggu. Tapi tak ada hasil. Sejak itu ibu hidup sendiri." jelasnya.


Dan ibumu juga bukan putri nenekmu, bukan?" terka dokter Chandra lagi. Kali ini pria muda itu benar-benar terlompat mundur.


"Anda siapa? Bagaimana bisa tau tentang itu?" tanyanya waspada.


"Kenapa kau ketakutan? Apakah kau menyembunyikan sesuatu?" tanya Robert heran.


"Apakah kau mewaspadai semua orang? Kau khawatir ada yang menemukan kalian? Kau takut pada siapa?" Dean mencecarnya dengan banyak pertanyaan.


"Ughh!" terdengar suara keluhan dari dalam. Pria itu memburu masuk kamar.


"Ibu! Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit? Katakanlah. Sudah lama sejak terakhir aku mendengar suaramu, ibu. Katakanlah sesuatu. Aku membawa dokter ke sini. Kau akan baik-baik saja," ujarnya penuh pengharapan.


Ibunya mencoba mengangkat tangannya dan diletakkan di kepala anaknya. "Jangan menangis. Anak baik, jangan menangis," ujarnya sambil mengusap-usap kepala pria muda di hadapannya.


"Maaf, jika aku lancang bertanya. Apakah kau mengenal wanita pemilik Panah Pembunuh itu?"


Pertanyaan dokter Chandra, sontak mengejutkan dua anak beranak itu.


"Kau ... si-sia-pa? A-ku tak me-nge-nalmu!" ucapnya terbata-bata.


Dokter Chandra mengabaikan anak beranak itu sepenuhnya. Matanya mulai bersinar. Dan itu menakutkan bagi keduanya.


"Katakan, bagaimana kau bisa memiliki busur panah itu!" desis suara Penguasa. Dean dan Robert bahkan sampai merinding merasakan aura yang keluar dari tubuh dokter Chandra.


"I-ibu-ku per-gi dan mening-galkan-nya begi-tu saja! Dia tak per-nah kem-bali." Suaranya yang lemah dan terbata, masih terdengar oleh telinga dokter Chandra yang tajam dan sensitif.


"Kau bukan putri adikku!" sergah dokter Chandra kasar.


Anak beranak di tempat tidur itu makin terkejut mendengar kata-kata dokter Chandra.


"Adik?" Pria itu tersenyum sinis.


"Anda kakak nenekku?" tak mungkin!" ujarnya yakin.


Dokter Chandra mengalihkan pandangan pada anak muda itu. "Apa kau mengenal nenekmu?" tanyanya pedas.


Tangan dokter Chandra mengarah ke bungkusan busur dan anak panah, yang menempel di dinding. Benda itu segera lenyap di ruang penyimpanan.


"Hah?!" Dua orang itu terlihat sangat terkejut. Tapi si ibu tua itu terlihat mengulas senyuman tipis.


"Ak-ku i-ngat ib-bu ju-ga bisa meng-hilang-kan benda-benda," ujarnya dengan suara sendu.


"An-da bang-sa yang sama de-ngan-nya," wanita tua itu mengangguk pecaya.


"Ibu, bisa saja dia orang jahat yang dihindari nenek!' tolak si pria tak percaya.

__ADS_1


*******


__ADS_2