PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 127. Kematian Tetua Klan Penyihir


__ADS_3

Lepas petang hari, kediaman tetua terlihat makin ramai. Beberapa rombongan datang dan dilayani dengan baik. Setelah bertemu tetua, mereka diarahkan ke ruangan lain untuk menunggu semua undangan datang.


Pangeran Edric dan putri Leonora tak beranjak dari kamar tetua sejak siang. Mereka selalu berada di sisinya dan memeluk tubuh ringkih itu.


"Kakek buyut, bagaimana jika aku merindukanmu nanti?" Mata putri Leonora sudah bengkak karena tak henti menangis.


"Edric akan menjagamu. Tinggal kalian berdualah keturunanku. Tetaplah saling mengasihi seperti saat kalian kecil. Dimana suamimu? Apa dia tak ingin mengucapkan perpisahan padaku? Apa harus ku jewer telinganya?"


"Kakek buyut! Kami bukan anak kecil lagi." tukas putri Leonora sambil cemberut.


"Hahaha.. kau selalu jadi putri kecilku. Kesayanganku." Tetua terkekeh melihat tingkah cicitnya itu.


"Kakek buyut."


Tuan Felix, Glenn dan Angel masuk ruangan. Ketiganya menunduk hormat lalu mendekat ke sisi pembaringan. Tuan Felix mencium tangan tetua.


"Apakah kakek buyut masih ingat dengan Glenn putraku? Ini istrinya." Tuan Felix memperkenalkan Angel.


"Kakek buyut." Glenn mencium tangan keriput itu. Angel mengikuti melakukan hal yang sama.


"Apakah dia wanita yang bersama dokter itu? Dia cantik sekali." Tetua memuji Angel.


"Terima kasih kakek buyut. Dia memang berasal dari dunia lain itu." Glenn menjawab.


"Tidak apa. Tidak apa. Selama kalian saling mencintai, maka itu akan baik."


"Apakah semua undangan sudah hadir?" tanya tetua.


"Sudah kakek buyut. Tinggal menunggu waktunya dan kesiapan kakek saja." jawab pangeran Edric.


"Leonora, bawa suamimu beristirahat lebih dulu. Dan panggilkan dokter serta tabibmu itu ke sini." perintah tetua.


"Baik kakek buyut."


Putri Leonora membawa keluarganya ke ruangan di sebelah kamar tetua. Lalu menyuruh seorang pelayan untuk memanggil dokter Chandra dan tabib Michfur.


*


Semua orang sudah berkumpul di kamar tetua klan. Ada 5 tetua lain, Istri pangeran Edric juga guru sang pangeran yang biasa membimbing dan membantunya melakukan urusan pemerintahan. Beberapa orang penting lain termasuk tuan Felix dan Glenn yang mewakili klan Elf. Juga tabib Cyrill, tabib Michfur dan dokter Chandra yang bersiap menghadapi segala kemungkinan yang mungkin dialami pangeran Edric saat tetua mewariskan kekuatannya.


Acara pertama adalah pelantikan pangeran Edric menjadi raja klan penyihir. Semua tetua setuju dan merasa memang sudah saatnya. Maka mereka melakukan ritual pengangkatan.


Pangeran Edric meneteskan darahnya pada sebuah tongkat tua berwarna kehitaman yang menjadi simbol kekuatan klan mereka. Tongkat itu membiaskan cahaya terang ke seluruh ruangan saat darahnya meresap dan membentuk pola di sekeliling tongkat. Lalu cahaya itu melingkupi tubuh pangeran Edric dan lenyap saat tongkat itu meluncur ke tangan sang pangeran. Semua orang terlihat gembira. Ritual pengangkatan raja selesai karena tongkat lambang kepemimpinan itu bersedia menerima pangeran Edric.


Tetua yang berada di tengah mulai bicara:


"Ritual berlangsung sukses. Dengan ini pengangkatan raja baru sudah selesai. Waktunya memasang mahkota dan pemberian gelar."

__ADS_1


Lalu tetua lain maju, memasangkan mahkota pada kepala raja mereka yang baru. Kemudian tetua itu membuka selembar kertas.


"Kami memberi gelar pada Yang Mulia Raja Edric Linford dengan gelar Raja Bintang Bellatrix."


Lalu semua orang, tetua, pelayan, tabib Cyrill dan putri Leonora berjongkok ke arah sang raja baru.


"Hormat kepada Yang Mulia Raja Bintang Bellatrix. Semoga yang mulia panjang umur." Seru mereka hampir serempak.


"Bangkitlah," ucapnya.


"Terima kasih untuk para tetua." sang raja menganggukkan kepalanya sedikit.


"Kakek buyut, aku sudah menjadi raja seperti keinginanmu. Bisakah tak perlu mendapat warisanmu? Aku tak mau kehilanganmu." Digenggamnya tangan tua itu ke pipinya. Matanya akhirnya basah.


Tetua tersenyum sabar. Diusapnya pipi cicitnya itu.


"Sekarang giliranmu yang berjuang. Aku ingin kembali ke bintang-bintang."


Tetua memberi isyarat. Seorang pelayan datang membawa sebuah kotak. Kotak itu dibuka di depan sang raja.


"Ini yang tersisa dari bangsaku. Ku serahkan padamu. Jika kau menemukan tanda seperti ini, periksalah jika kau mau. Mungkin mereka adalah keturunan dari saudara-saudara sebangsaku"


"Bagaimana jika mereka bukan orang baik? Apakah aku tetap harus berteman?" tanya sang raja.


Tetua menggeleng.


"Cukup sekedar kau tau. Tapi jika ada dari mereka yang kesulitan dan kau bisa membantu, maka bantulah."


"Setelah aku mewariskan kekuatanku, kau akan mengetahuinya sendiri. Kau akan melihat semburat cahaya di sekeliling tubuh mereka. Atau mungkin kau akan melihat cahaya di mata mereka. Setelah pewarisan, kau akan mengetahui banyak tanda yang bisa kau kenali. Ada banyak ilmu untuk memajukan masyarakat di klan ini. Berhati-hatilah jika kau bertemu mereka yang matanya bercahaya merah, biru dan oranye." pesan tetua.


"Apa mereka orang jahat dan berbahaya?" tanya sang raja.


"Bukan karena itu. Tapi sinar mata seperti itu bisa membakarmu hingga hangus." Jawab tetua.


"Baik kakek buyut. Aku akan mengingatnya," jawab sang raja untuk menenangkan kekhawatiran pria sepuh itu.


"Tabib, setelah aku mewariskan kekuatanku, berikan dia obat ini untuk menguatkan jiwanya." tetua menyerahkan botol kecil berwarna putih ke tangan tabib Cyrill.


"Baik tetua," jawab tabib Cyrill.


"Sudah waktunya," kata tetua.


Raja yang baru diangkat itu diminta duduk di tempat tidur. Berhadapan dengan tetua yang duduk bersandar pada kepala tempat tidur.


"Kita mulai. Jangan lawan. Tutup saja matamu." Tetua mengulurkan tangan tuanya ke kening sang raja.


"Pegang tanganku. Tahan agar tidak terlepas hingga selesai."

__ADS_1


"Iya, kakek buyut." jawab sang raja.


Ruangan itu hening. Cahaya putih susu mengitari dua orang di atas tempat tidur. Tubuh tetua bergetar. Tubuh sang raja jg bergetar halus. Tapi ditahannya tangan tua itu agar tetap menempel di keningnya.


Hampir setengah jam peristiwa itu berlangsung. Lalu cahaya putih susu itu berpindah ke tubuh sang raja sepenuhnya. Tangan tetua masih menempel di kening sang raja. Digenggamnya erat dengan linangan air mata. Hingga rasa hangat itu lenyap dan genggaman itu terlepas. Keduanya pingsan.


Tabib Cyrill segera meminumkan obat di botol yang diberikan tetua sebelumnya pada raja baru mereka.


"Kakek.. kakek buyut.." Putri Leonora terus memanggil-manggil kakeknya. Dokter Chandra mengeluarkan alat sederhana pengganti stetoskop buatan Robert. Dicobanya untuk mendengar detak jantung tetua. Antara ada dan tiada. Sangat lemah.


"Temanilah saat-saat terakhir beliau." Dokter Chandra bangkit dan memberi tempat pada keluarga tetua untuk mengucapkab perpisahan.


"Bagaimana dengan yang mulia raja?" tanya dokter Chandra pada tabib Michfur.


"Tabib Cyrill sedang mencoba menyadarkannya." Matanya tak lepas dari tempat tidur lain yang dipakai untuk merawat sang raja.


"Aku tadi pagi mendapat sedikit transfer ingatan tetua. Itu sudah membuat otakku panas. Tak terbayangkan reaksi tubuh yang mulia menerima warisan seluruh kekuatan tetua." kata dokter Chandra.


"Tetua bagaimana?" Tanya tabib Michfur.


"Dia kehabisan energi kehidupan. Semua kekuatan jiwanya sudah diserahkannya pada yang mulia. Kita hanya menunggu waktu. Kau bisa memeriksa jika mau." kata dokter Chandra.


Tabib Michfur mendekati ranjang tetua.


"Ijinkan saya memeriksa tetua," katanya pada Glenn.


"Ya. Tolong periksalah."


Glenn sedih melihat ibunya yang terus menangis.


Tabib Michfur memeriksa denyut nadi tetua. Dia tak merasa yakin.


"Dokter Chandra, bisakah anda ikut memeriksa?" panggil tabib Michfur.


"Tentu saja."


Dokter Chandra mendekat lalu menggunakan alatnya untuk mendengarkan detak jantung tetua. Diyakinkannya dirinya dengan tes lain, dengan meletakkan telinganya di dada ringkih itu. Lalu memeriksa mata yang setengah terbuka itu. Mulut yang setengah terbuka.


Tabib Michfur dan dokter Chandra berpandangan. Tabib Michfur menggeleng suram. Dokter Chandra tau bahwa kesimpulannya sama.


"Bagaimana dok?" tanya tuan Felix.


"Beliau sudah tiada," jawab dokter Chandra.


Kepalanya menunduk sedih. Manusia dari bintang itu telah menutup kisah kehidupannya. Dia meninggalkan beberapa legasi. Keinginannya menjadi guru bagi bangsanya, ditunaikannya di dunia ini. Mengajarkan ilmu baru dan kemajuan nyata bagi klan penyihir.


"Berbahagialah bersama bintang-bintang di sana tetua." gumam dokter Chandra.

__ADS_1


Malam itu seluruh klan dilanda kesedihan. Pemberitahuan bahwa leluhur mereka telah tiada benar-benar mengejutkan.


Hujan gerimis turun meningkahi isak tangis di penjuru negeri. Mereka bersiap untuk pemakaman sang leluhur legendaris dan paling dicintai rakyat.


__ADS_2