PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 83. Tekad Sunil


__ADS_3

Pagi ini tak ada kegiatan di pondok. Keenam orang itu berkumpul di mulut gua yang kemarin dibuka Dean. Widuri, Nastiti dan Dewi terdiam melihat pemandangan gunung batu gersang kecoklatan di depannya. Dari ketinggian itu hanya ada sedikit titik-titik hijau yang diperkirakan hanyalah semak belukar yang memang tumbuh di tempat tandus, atau sejenis kaktus.


Widuri mundur dari mulut gua dan mencari tempat untuk duduk. Mulut gua itu terlalu tinggi dari permukaan. Kepalanya sedikit berkunang-kunang melihat ketinggian itu.


"Jadi bagaimana pendapat kalian?" Sunil bertanya untuk membuyarkan keheningan yang mengendap.


Widuri mengangkat kepalanya lalu memandang semua temannya. Dia menghela nafas lalu menghembuskannya perlahan hingga bibirnya membentuk huruf O.


"Tantangan pertama adalah cara turun menuju neraka itu. Apa kalian sudah memikirkannya?" Widuri menatap Alan, Dean dan Sunil bergantian.


Mulut Dean bergerak untuk bicara, tapi tangan Widuri mengambang di udara memintanya diam. Dean segera menutup mulutnya dengan patuh.


"Tantangan kedua adalah air. Tanpa air, kita bisa mati dalam beberapa hari. Kalian punya solusi?"


"Tantangan ketiga adalah makanan. Tanaman umumnya jelas tak bisa tumbuh di sana. Jadi jangan harap menemukan binatang ternak. Yang ada mungkin hanya ular, kalajengking, singa atau cheetah dan sejenisnya. Apa kalian yakin persiapan keamanan kita memadai? Jangan-jangan kita yang akan jadi makan malam mereka." Widuri menatap ketiga pria itu tajam.


Alan dan Sunil terdiam mendengar perhitungan matang Widuri hanya dengan melihat sekilas gurun itu.


"Tantangan keempat adalah..." Dewi ikut bersuara.


Semua menoleh ke arahnya, menunggu kelanjutan kalimat yang menggantung itu.


"Bagaimana cara membawa semua hewan ternak itu turun. Karena dinding gua batu ini sangat tinggi." Dewi menyelesaikan kalimatnya.


"Aku bisa mengusahakan untuk membuat tangga batu agar kita bisa turun. Tapii..." Dean menggantung kalimatnya sambil mengamati ekspresi tak sabar teman-temannya.


"Tapi membawa hewan ternak yang biasa di padang rumput untuk menuruni tangga batu, pasti gak mudah kan. Mereka jelas bukan kambing gunung yang bisa mendaki bukit terjal." Nastiti menimpali.


Dean mengangguk sambil mengacungkan jempol tangannya ke arah Nastiti.


"Ternak kita bukan cuma domba hloo. Ada ayam dan kelinci juga," sambung Dewi.


"Aku sebenarnya bisa membawa mereka dengan cara melayang saat kita berjalan. Tapi aku kan harus fokus membuat tangga batu. Tak boleh ada kesalahan tentang itu. Atau kita semua akan jatuh ke bawah sana." Alan menjawab.


"Jika.. jika misal ada satu roh pelindung, bisakah dia membantumu?" tanya Sunil ragu.


"Dia bisa membantu mengangkat hewan ternak atau hal-hal yang tidak muat dalam tempat penyimpananku." Dean mengangguk yakin.


"Dia juga kuat bukan? Artinya ada cukup orang terlatih untuk menghadapi medan yang ganas." Sunil menyimpulkan.


Dean mengagguk mengiyakan.


"Aku bersedia meneteskan darahku pada salah satu pelindung," kata Sunil mengejutkan teman-temannya.


"Apa mereka orang yang baik Dean?" tanya Sunil pada Dean.

__ADS_1


"Sejauh yang ku ingat, selama aku mengenal mereka dalam beberapa waktu itu, mereka cukup baik dan bertanggung jawab." Dean berusaha mengingat-ingat.


"Itu sudah cukup. Selama dia orang baik, maka dia akan terus melindungi tim kita, meskipun misalnya aku mungkin akan tertidur selamanya di bawah dominasinya." Sunil berkata yakin.


"Orang baik tentu harus tau diri, bahwa mereka sudah mati dan hanya menumpang di tubuh orang lain. Mestinya dia tidak akan menguasai sepenuhnya. Kalau sikap dominasinya keluar dan merugikanmu, artinya dia bukan orang yang baik." Timpal Nastiti lugas.


"Biarkan ku coba. Bagaimanapun aku ingin berkontribusi dalam perjalanan kita. Aku sudah memikirkannya semalaman." Sunil sudah bertekad.


"Kalau begitu, kita kembali ke ruang transmisi. Jasad mereka ada di sana."


Dean bangkit dan berjalan melewati pintu gua. Menunggu semua temannya masuk, lalu kembali menutup pintu gua itu dengan rapat.


Mereka berjalan menyusuri lorong gua yang gelap tanpa penerangan selama beberapa waktu. Hingga akhirnya menemukan cahaya redup kristal cahaya yang diletakkan untuk menandai ruang penyimpanan.


Tak setelah berbelok, mereka sampai di ruang bak air tempat satu jasad diletakkan di atas bak batu disamping cucuran air. Mereka berhenti di situ. Sunil mengamati sosok itu dengan seksama.


"Siapa namanya?" tanya Sunil.


"Dia O," jawab Dean.


"Dia yang tewas sambil duduk bersandar bukan?" tanya Alan memastikan.


"Ya." Dean mengangguk.


Sunil menyentuh tubuh dingin dan kaku itu.


"Dean, bantu aku," panggil Sunil.


"Sebaiknya kita menjauh dulu. Tempo hari A bisa menerbangkan Sunil dan Alan begitu dia bangun."


Widuri memperingatkan teman-temannya. Mereka bergerak mundur ke arah pintu.


"Kau siap?" tanya Dean.


Sunil menyodorkan tangannya. Dean mengarahkan tangan Sunil ke atas kepala jasad itu lalu melukai sedikit jarinya dengan pisau. Mereka berdua menatap darah yang langsung keluar dari jari, berkumpul, lalu menetes jatuh. Jatuh tepat di kening jasad O yang segera menimbulkan reaksi. Suatu pola terbentuk di kening dan wajah O akibat darah itu.


Dean melihat samar cahaya kebiruan terpancar dari wajah O. Dia menjauh dari sisi Sunil, menunggu reaksi selanjutnya.


"Apa yang terjadi? Dimana Sunil?" pekik Dewi saat melihat cahaya biru menyelubungi Sunil hingga hanya terlihat samar siluetnya.


"Aaaarrggghhhhhh...!"


Teriakan kesakitan Sunil menggema di seluruh gua itu, membuat yang mendengar bergidik ngeri.


Cukup lama baru sinar itu memudar dan Sunil jatuh terkapar di lantai tak sadarkan diri. Dean segera menampung cucuran air dengan cangkir batu yang ada di situ. Sementara Alan membenarkan posisi Sunil agar bisa berbaring dengan benar.

__ADS_1


Dean meminumkan air di cangkir ke mulut Sunil pelan-pelan. Setelah itu, mereka menunggu reaksi Sunil dengan sabar. Cukup lama mereka menunggu hingga merasa bosan. Terlebih lagi mereka sadar bahwa Sunil akan tertidur begitu rupa jika tubuhnya sudah sangat kelelahan dan mengantuk.


"Ughh.."


Terdengar suara erangan kesakitan. Sunil memegang kepalanya dengan kening mengerut.


"Sunil, bagaimana keadaanmu?" tanya Widuri khawatir. Dia masih ingat bagaimana reaksi Dean pertama kali setelah dimasuki roh A.


Sinar biru sekilas muncul di mata Sunil. Dean menyadari itu.


"Minum dulu O" Dean membantu Sunil bangkit dari tidurnya agar bisa minum dengan baik dan sadar sepenuhnya.


"A?" kepalanya menoleh ke belakang, mencari sumber suara yang dirasanya akrab.


"Ya, ini aku." Dean menggeser duduk agar Sunil bisa melihatnya dengan jelas.


Sunil menatap Dean dengan ekspresi keheranan.


"Kau? Apa yang telah terjadi?"


Sunil mulai menyadari bahwa di situ tak hanya ada Dean, tapi 4 orang lain menatapnya cemas.


"Aku sudah tewas O. Kau dan Z juga begitu. Dunia sudah lama berubah." Dean menjelaskan dengan hati-hati.


Sunil sangat terkejut. Tapi kemudian air mukanya kembali tenang.


"Aku mengerti. Aku dan Z melihat sendiri dunia ini dan yang lainnya saling berbenturan." O menunduk.


"Jika aku sudah tewas, lalu dimana jasadku?" tanya Sunil.


Alan menunjuk meja batu di sampingnya. Sunil segera berdiri dan memandang jasad kaku di meja batu itu.


"Kau sudah merapikan pakaianku yang compang camping. Terima kasih A." Sunil tersenyum tulus. Dean menepuk pundaknya halus sambil tersenyum hangat.


"Tubuh Z dimana?" O tiba-tiba ingat dengan temannya.


Dean melangkah menuju ruang transmisi diikuti O. Dean berhenti sejenak.


"Kau tak ingin membaca ulang memori yang tersimpan di perangkatmu?" Dean mengingatkan.


"Ah, ya.. Aku lupa."


O berbalik menuju meja batu dan melepaskan tanda bintang yang merekat di bagian dada jubahnya. Lalu men .yusul Dean masuk ruang transmisi.


O meletakkan labelnya pada panel batu kecil di tengah ruangan itu. Ribuan data muncul, mengambang di depan Dean dan O. Keduanya membaca semua data itu dengan serius. Alan memperhatikan semua huruf yang melayang di cahaya biru itu tak mengerti.

__ADS_1


Widuri. Nastiti dan Dewi menunggu perkembangan Sunil dengan sabar. Berharap penyatuan roh O dapat menambah kekuatan tim mereka untuk menjelajah area neraka di bawah gua sana.


***


__ADS_2